Hospital with Logan Henderson.

hari hari biasa setelah kencan pertamaku dengan logan berjalan biasa. kami tidak terlalu menunjukkan kemesraan kami disekolah. dikelaspun bahkan kami duduk berjauhan, kami hanya bertemu dan bersama saat makan siang atau pulang sekolah sehabis ekskul. Hari ini dikelas logan duduk dibelakangku, dia menggodaku sedikit dengan menarik kuncir kudaku dan ketika aku menoleh dia hanya menjulurkan lidahnya kepadaku. “logan, kau harus berhenti menggodaku seperti itu!” kataku pelan sambil membetulkan kunciranku, dia hanya tersenyum. “memangnya tidak boleh menggoda kekasihku sendiri?” tanyanya. Aku berbalik lagi menghadapnya, “kekasiihmu?aku bahkan tidak yakin orang2 dikelas ini tau mengenai kita..” jawabku ketus. Dia menegakan dudukny dan memandangku bingung, “apa maksudmu?” tanyanya. Aku menghela nafas, sebelum menjelaskan- guru kami, sudah masuk kekelas dan menerangkan beberapa materi. Logan masih berusaha memanggilku, aku tidak menoleh karena sedang sibuk mencatat. Saat logan memanggilku untuk kedua kalinya, tiba2 lampu kelas kedip-kedip dan barang2 yang ada dimeja berjatuhan di lantai. meja kelas bergoyang goyang, aku membereskan barang-barangku dan menatap logan panik. Gempa! “ayo semuany, keluar dari kelas..” guru kami dengan suara panik menyuruh kami keluar dari kelas sambil mengepak buku2nya. Logan menarik tanganku untuk berlari, kami berdesak2an lari menuju pintu keluar. Saat menuju koridor, lampu mulai berkedip kedip lagi. Tanganku terlepas dari tangan logan dan aku tersungkur jatuh. Aku lihat logan berhenti untuk berbalik meraihku, aku tidak bisa bangun, terinjak oleh anak2 lain dan saat itu pula gempa makin besar dan lampu koridor menimpa kaki kiriku. Aku meringis kesakitan dan logan berhasil mencapaiku dia menyingkirkan lampu yang menimpa kaki, memapahku untuk bangun ditengah orang” yg berlarian. Aku meringis saat logan membantuku berdiri. ” logan, kakiku sakit tidak bisa kugerakan..” kataku sambil setengah menangis. Dia tidak berkata apa2 dan langsung menggendongku. ”kau tidak akan apa-apa.. Aku bersamamu oke?” bisiknya pelan. Aku mengalungkan tanganku dilehernya. Dia menggendongku keluar dari sekolah menuju taman pelataran yang luas, dimana juga penuh oleh orang2. Gempa mulai berkurang dan saat orang terakhir keluar dari gedung, yaitu kepala sekolah- gempa berhenti. Suasana menjadi sunyi. ” sudah berhenti..” kataku pelan masih sambil memeluknya. Dia memandangku tersenyum. Semua orang berceloteh lega dan suasana taman menjadi riuh. Mereka duduk ditaman sambil bercerita satu sama lain. ” kupikir aku akan mati..” ujarku, logan tertawa mendengarnya, “aku tidak akan membiarkan itu terjadi..” jawabnya, aku tersenyum mengingat dia membuktikannya. Dia sudah berada didepan tadi, dan saat tangan kami terlepas, dia kembali untuk menyelamatkanku. ” kakiku sakit..” kataku. Dia melirik kakikku lalu menurunkanku dirumput. Aku meregangkan kakiku sambil meringis. “kita kedokter ya?” aku menggeleng. Aku takut dokter. Mereka selalu membawa kabar buruk ketika orang datang, aku tidak lg mengindahkan bahwa mereka menyembuhkan orang. ” (yn) kakimu bisa saja patah, kalau tidak diobati nanti jdi lbih parah..” ujar logan sambil memegang pundakku. Aku tahu itu. Justru aku takut kerumah sakit. “mau ya? aku antar..” katanya lagi, aku menatapnya lemas, ”kau akan baik baik saja..” dia meyakinkanku. Aku menunduk untuk melemaskan kakiku yang sakit, tapi rasanya tambah ngilu dan aku meringis lagi.. Sudah jelas aku harus kedokter. * aku sudah duduk diranjang menunggu dokter datang untuk membawakan hasil pemeriksaanku. Logan duduk disampingku, menggenggam tanganku sambil menghiburku sedikit. ” kakimu masih sakit?” aku mengangguk sedih. Dia menepuk2 kepalaku lalu mencium keningku untuk menenangkan. Dokter lalu datang dan menyibakkan tirai ruangan, logan bangkit dari dudukny dan berdiri disamping dokter yang sedang mengamati catatannya.. ” selamat sore, nona..” katanya sopan sambil tersenyum- aku jga tersenyum. Dia berdehem, “sepertiny kau tidak bisa menggerakan kakimu untuk beberapa minggu kedepan..” katanya menjelaskan, aku langsung memandang logan- logan tersenyum menenangkanku. “oya?” tanyaku, dokter itu maju beberapa langkah kearahku. ”kakimu patah, ada tulang yg bergeser dan memar..” katanya sambil memeriksa catatannya lagi. Aku menelan ludah, takut. “jadi, saya sarankan untuk menginap disini dulu ya.. supaya kamu tidak kemana2 juga..” katanya. Oh tidak tidak tidak! Jangan menginap! “bisakah rawat jalan saja dok?” tanyaku buru2, dokter itu menutup catatannya dan tersenyum kearahku. “jangan takut, kau akan baik baik saja..” katanya, lalu pamit keluar. Begitu dokter itu keluar aku memandang logan lemas, logan langsung memelukku. “aku akan bersamamu sampai kau keluar..” katanya berbisik. Aku mempererat pelukanku. * logan kembali tengah malam saat aku sedang menonton tivi. Aku mematikan tivi saat logan datang. Dia membawa satu tas lalu menaruhnya diatas ranjangku. “ini pakaianmu.. ada juga beberapa pakaianku..” katanya. aku membuka tasnya dan menemukan jaket kesayangannya, aku mengambilnya “boleh aku pakai ini?” tanyaku, dia tersenyum mengangguk. Aku memeluk erat jaketnya lalu bersandar. Tanganku diinfus, entah kenapa padahal cuman kakiku yang sakit. Katanya aku trauma dan badanku lemas. Aku nurut saja, mereka dokter. Logan duduk ditepi ranjangku. ” terimakasih kau menyelamatkanku..” kataku tersenyum kepadanya. Dia duduk semakin dekat denganku dan ikutan bersandar. “tidak masalah..sudah tugasku kan sebagai pacarmu..” katanya. Aku menonjok bahunya. “pacar apanya? kau saja jarang bicara denganku disekolah..” ujarku, logan menatapku. “benarkah?” tanyanya. Aku memandangnya tidak percaya. Dia tidak merasa. ” ya!” kataku setengah berteriak. ”logan, kita hanya berbicara saat makan siang dan saat pulang- atau disela2 pelajaran. Kau tidak pernah duduk disebelahku atau mengajakku melihatmu latihan basket..” kataku kesal. Aku menghela nafas, “dan buku biologiku belum kau kembalikan..” tambahku, dia tertawa. “aku minta maaf kalau begitu..” katanya, “kau bahkan tidak pernah mengajakku makan malam romantis atau apa!” ujarku lagi. Dia diam. aku cemberut masih sambil mendekap jaketnya. Dia meraih daguku dan tersenyum padaku ” maaf ya, aku tidak sadar..” katanya. Aku tidak kuat menatap wajahnya yang memelas seperti itu. Aku hanya mengangguk pelan, dia mencium keningku. “kakimu masih sakit?” tanyanya. Aku mencoba menggerakan kakiku. “sedikit..” jawabku sambil mengurut2 pergelangan kakiku pelan2. “soal bukumu, akan kukembalikan setelah kencan kedua kita ya..” katanya, aku mendecak kesal. ” harusnya kan lusa! tp skrg lihat kakiku..” kataku menunjuk kakiku marah, logan ikutan menoleh kakiku, “tidak bisa berjalan! Errrgh!” aku jdi geram sendiri. Harusnya lusa kami sudah kencan kedua, entah kemana aku masih belum tahu- tapi aku sangat senang, dan skrg smuany hancur.. Gara2 gempa sialan itu kakiku jadi begini. ” kita bisa melakukannya kapan2..” aku mendecak, bangun dari posisiku yang duduk bersandar jadi duduk tegak. Logan sedang duduk disofa disebelah ranjangku dekat jendela. ” kalau kau ingat..” tambahku, logan mengerutkan dahinya tidak mengerti maksudku. “apa maksudmu?” tanyanya. Aku menyingkirkan jaketku lalu memandangnya serius. “kau bahkan tidak ingat kemarin hari apa kan?” tanyaku. Dia kelihatan seperti berpikir “rabu?” katanya ragu2. Aku mendecak kesal lalu tidur membelakanginya. Aku kesal. Ya, kemarin adalah hari ulangtahunku- dan dia lupa. SAMA SEKALI! Dia bahkan tidak menyinggung2ny smpai skrg, sudah bagus aku mau bicara dengannya. * Aku bangun dan logan sudah duduk menonton tivi di depan kakiku. Aku menendangnya pelan dan dia menoleh lalu tersenyum. Dia mendekatkan posisinya kepadaku. ” selamat pagi..” katanya ” selamat pagi..” jawabku mengalungkan tanganku dilehernya. Dia menempelkan hidungnya ke hidungku dan menggesekannya. Aku tertawa. “tidurmu nyenyak?” tanyanya sambil menggeser posisi jdi duduk disebelahku, dia mengambil nampan makanan yang ada disebelah ranjang dan mulai menyendokan bubur dan mengarahkannya kepadaku. ” logan, aku bukan akan kecil lg..” kataku tersipu, logan tetap memaksaku untuk membuka mulut dan akhirnya aku mau tidak mau membuka mulutku. Dia menyuapiku sampai makanannya habis, dan aku minum. “kapan aku bisa plg?” tanyaku, dia menaruh mangkuk dimeja lalu mengelus kepalaku. “ lusa katanya..” katanya pelan, aku mengeluh- “kenapa tidak sekarang sih? Kakiku baik-baik saja kok..” ujarku, “nih lihat..” ujarku sambil menggerakkan kakiku, tapi nyatanya masih agak ngilu. Aku tidak peduli karena aku mau pulang. Aku meringis sedikit dan logan memandangku, “kakimu masih sakit..” katanya tanpa membiarkan aku menjelaskan lagi, dia menciumku tepat dibibir, menyuruhku diam. “ semoga cepat sembuh..” katanya sambil tersenyum. Aku juga ikutan tersenyum dan memeluknya sebentar. “ kau tidak bosan kan menemaniku terus?” tanyaku, dia menggeleng, “sampai kapanpun aku mau..” katanya, aku tertawa mendengarnya. * Malamnya aku memutuskan untuk jalan jalan kesekitar rumah sakit pelan-pelan karena aku tidak bisa tidur dan logan tidak ada dikamar. Aku mencopot sambungan infus yang dipasang ditanganku dan melangkah perlahan. Suasana rumah sakit sepi jam segini, karena memang sudah tengah malam juga. Hanya terlihat suster yang terkadang berkeliaran disekitar beberapa koridor, aku perlahan berjalan melewati ruangan mereka dan langsung menuju pintu keluar yang menghubungkan dengan taman. Hanya ada suara jangkrik ditaman, kututup pintu kaca tersebut dan aku melihat logan sedang duduk dirumput dekat dengan lampu taman sambil memegang sebuah cup kopi. Aku perlahan mendekatinya dari belakang lalu menutup matanya dari belakang. Dia tertawa, masih dengan mata tertutupnya dia menaruh cup kopinya direrumputan dan memegang melepaskan kedua tanganku. Aku memeluknya dari belakang sebentar, lalu langsung duduk disebelahnya. “ tidak seharusnya kau keluar ruangan, (yn)..” katanya “ aku bosan… dan kau tidak ada disana, jadi aku mencarimu sekalian jalan-jalan..” Logan mengambil cup kopinya lagi lalu menyesapnya lagi, “kau mau?” dia menyodorkan cup nya kearahku. Aku mengambil cupnya dan menyesap sedikit kopinya. Aku meringis saat merasakan kopi itu dan buru-buru menyerahkan kopi itu lagi padanya. “tidak enak..” kataku sambil menjulurkan lidah. Dia tertawa melihatku lalu merangkulku. Aku menyenderkan kepalaku dibahunya lalu menatap langit. Banyak bintang bertaburan disana. logan melihat kearahku saat aku melihat bintang bintang tersebut. “ bagus kan?” tanyanya, aku mengangguk. “aku mau kebulan..” kataku. Dia tertawa kecil, “kau mulai ngaco..” jawabnya lalu meremas cup kopi tersebut yang sudah habis. Kami berdua diam, lalu menghela nafas berbarengan. Aku memandangnya. “ apa yang kau pikirkan saat ini?” tanyaku mendadak. Logan terlihat pura-pura berpikir, “apa yang kau pikirkan saat ini?” dia berbalik bertanya, aku memutar bola mataku. “aku bertanya lebih dahulu..” kataku. Dia duduk menghadapku. Kami duduk berhadap2an. “ bagaimana kalau kita ucapkan sama-sama..” katanya, aku mengerutkan dahi. “pada hitungan ketiga. Bagaimana?” tanyanya. Aku tertawa kecil lalu mengangguk. Kami mulai menghitung. “1..” kata logan “2…” sambungku. “3…” Aku sudah mau bicara tapi logan malah menciumku. Dia memegang kedua bahuku dan mendekatkan dirinya kearahku saat menciumku. Dia tersenyum saat kami selesai. “aku tidak mendengar apa ucapanmu..” kata logan jahil- aku mendorongnya menjauh sambil tertawa. “serius logan, aku bertanya apa yang kau pikirkan saat ini..” kataku “ aku serius..” katanya, “itulah yang aku pikirkan saat ini..” dia tersenyum sambil menunjukkan kedua lesungnya yang membuat aku tergila-gila. Wajahku jadi tersipu merah saat mendengar apa yang dia katakan. “well, oke..” aku tidak bisa berkata macam-macam. Dia tertawa mendengarku bicara. “jadi, giliranmu..” katanya. Oh iya, aku belum bilang apa yang aku katakan. “ ayo katakan (yn)….” Katanya, dia mengangkat satu alisnya, “atau….. lakukan!” lanjutnya sambil mengedip jahil kearahku- aku memukul bahunya dan dia berusaha menghindar. “ I’m so happy with you…” kataku sambil tersenyum, dia juga ikutan tersenyum “ awwwwwww!” dia pura-pura bersuara seperti anak kecil lalu memelukku. Aku membalas pelukannya lebih erat lagi. “ logan…” panggilku masih sambil memeluknya. “ya?” dia juga belum melepaskan pelukanku atau mengendurkannya. “ terimakasih sudah mau setia menemaniku…” kataku, dia mengangguk “ apapun untukmu..” dia lalu melepaskan pelukannya, “sekarang kau harus balik kekamar..” dia bangkit berdiri lalu langsung mengangkatku. Aku memekik sambil menendang nendang udara dan memukul dadanya. “ logan pelan pelan!!!” ujarku ketakutan dan kaget. dia hanya tertawa. Aku mengalungkan tanganku dilehernya lagi dan dia membawaku kembali kekamar. Sesampainya dikamar, dia menaruh aku diranjang dan merapihkan bajunya. “ selamat tidur..” katanya lalu mencium keningku. Aku menarik ujung bajunya tidak membiarkan dia turun dari ranjangku. Dia memandangku bingung. “ kau bisa tidur disini juga bersamaku…” kataku malu-malu, dia tertawa dan duduk lagi disebelahku “ itu yang kau mau?” tanyanya- aku mengangguk malu malu. “baiklah!” dia bertepuk tangan lalu berbaring disebelahku. Aku masuk kepelukannya dan menaruh kepalaku didadanya, dia memelukku. “ kau yakin suster tidak akan marah?” tanya logan, “aku tidak peduli..” jawabku. Dia mengangguk. Aku mulai memejamkan mataku dan merasakan tubuhku mulai menghangat dan aku mendekapnya lebih erat. “ (yn)..” kata logan. “hmmm?” jawabku masih dengan mata terpejam. “besok seharusnya kencan kita..” katanya pelan, aku mengangguk. “kita bisa ganti lain hari..” ujarku pelan. Dia mengusap ngusap kepalaku. “ and happy late birthday for you..” katanya. Aku langsung membuka mataku dan menegakkan kepalaku “ kau ingat?” tanyaku. “awalnya aku tidak terlalu..” dia meringis, “maaf.. tapi aku sadar dan… happy belated birthday…” ujarnya. Aku menciumnya dan mengusap wajahnya. “setidaknya kau ingat walau terlambat..” kataku, dia mengangguk, “ dan jangan melakukannya lagi..” kataku lalu aku tiduran lagi didadanya. Logan mendekapku lebih erat dan membuatku lebih nyaman. “dan maaf aku jarang menunjukkan kau pacarku disekolahan..” katanya lagi. Aku mengangguk lagi. “begitu kita kembali kesekolah dari renovasi, aku akan lebih banyak bersamamu, aku janji..” aku kembali mengangguk- mataku masih terpejam. Dia mengusap2 punggungku. “ tidurlah logan..” ujarku pelan. Dia mengangguk dan memelukku lebih erat dan dalam lagi. Tubuhnya melengkung kearahku dan aku berada didalam lengkungan tersebut terasa hangat dan nyaman. Nafasnya begitu terasa ditengkuk dan tubuhku, aku bisa mendengar detak jantungnya sedikit walau tidak terlalu kentara. Iramanya teratur dan aku suka mendengarkan detaknya, mendadak semua rasa sakit kakiku hilang- atau itulah yang aku rasakan, tapi bgitu aku menggerakannya sedikit untuk membuktikan bahwa kakiku sudah tidak sakit lagi, lagi lagi salah. Masih agak ngilu dan aku meringis pelan dan tidak menggerakan kakiku lagi. “ I love you..” katanya berbisik. “hmmmm..” jawabku. Dia tertawa pelan mendengarku menjawab bergumam. “hmmmm?apa itu hmmm?” ujarnya. “aku mencintaimu juga..” jawabku pelan. Dia memelukku lebih erat lagi. “selamat tidur…” ujarnya sambil mengecup keningku lalu dia bergumam sesuatu tetapi aku tidak bisa mendengarnya karena aku yakin aku sudah terlelap. * Paginya saat mengantarkan makanan, logan dimarahi karena tidur diranjang. Aku hanya tertawa melihat dia diomeli oleh suster dan aku tidak membelanya sama sekali karena lucu melihatnya diomeli oleh suster tua yang agak galak tadi dan saat suster itu keluar aku tidak berhenti berhentinya tertawa, walaupun aku saat makan juga- logan mencibir kearahku. “kau senang?” tanyanya- aku mengangguk lalu turun dari tempat tidur, bersiap untuk mandi. “kau tahu kan dia suster paling galak disini..” kataku. “ kau lihat cara dia berteriak?” tanya logan kepadaku, aku tertawa lagi sangat keras sehingga logan juga ikut tertawa. Suster tadi memang meneriaki logan agak keras dan aku sampai menahan tawaku untuk tidak tertawa melihat ekspresi logan yang sudah kelimpungan untuk minta maaf. “ ya, dan seharusnya kau lihat wajahmu saat dia menghardikmu..” kataku masih sambil tertawa. Logan menggeleng dan berjalan mendekatiku. “ asal kau senang, aku tidak masalah…” dia terdengar tulus saat berbicara. Aku jadi merasa iba mendengarnya, aku mencubit pipinya. “uuuuu kau manis sekali..” kataku gemas, dia tertawa pelan. “ aku mandi dulu, kau tunggu disini..” kataku lalu mengambil handuk dan masuk kekamar mandi. * #loganpointofview Oke. (YN) sedang diruang rontgen untuk melihat kondisi kakinya. Aku tidak ikut bersamanya karena aku ingin merencanakan sesuatu untuknya malam ini. Hari ini seharusnya jadi kencan kedua kami, tapi semuanya gagal karena dia harus masuk rumah sakit. Tapi, bukan berarti aku tidak bisa mengadakan kencan disini kan? “oke, semuanya! Kalian sudah beli bunga tulip kesayangan (yn) kan?” tanyaku pada seorang suster yang sudah kutugaskan untuk membeli se-buket bunga khusus untuknya. Suster itu mengangguk, aku mengucapkan terimakasih dan dia kembali mendekor ruangan kamar ini menjadi sesuatu yang berbeda. Aku menghiasnya dengan berbagai macam bentuk lampu. Mulai dari yang setinggi aku yang berada tidak jauh dari pintu sampai yang paling kecil sekali banget diujung ruangan. Lilin2 tersebut disusun dari mulai yang kecil sampai yang besar mulai dari pintu masuk- yang besar sampai ujung ruangan- lilin yang paling kecil. Warnanya pun beragam. Dari yang paling besar sampai yang paling kecil tidak ada yang sama warnanya, lilin2 tersebut dipasang kiri dan kanan, lalu ditengahny ada taburan bunga2 mawar merah sepanjang jalan dan ditengah ruangan ada meja kecil yang sudah kupasang taplak merah dan dua bangku kecil yang kupinjam dari ruangan suster. Diatas meja tersebut sudah ada kue ulangtahun kecil dan sekotak pizza. Well, aku tidak bisa menemukan makanan yang lebih ringkas lagi, hanya ini yang ada diotakku. Aku sudah berganti baju mengenakan kemeja putihku dan dibalut dengan blazer hitam. Suster yang mendekor ruangan ini dengan bunga dimana-mana sudah hampir selesai dan mereka keluar. Sebentar lagi pas dia selesai dari pemeriksaan. Aku memandang sekeliling dan mulai menyalakan lilin2 tersebut. Butuh waktu beberapa menit untuk menyalakan semuanya, setelah selesai, aku mematikan lampunya, dan perfect. Suasanya redup dan hanya diterangi oleh cahaya lilin. Bunga bertaburan dimana-mana dan aku tersenyum puas. Aku mendengar derap langkah kaki mendekat pintu dan aku segera berdiri diposisiku dekat meja sambil memegang buket bunga ditanganku. * Logan memutuskan untuk tidak menemaniku me rontgen kakiku. Hasilnya baik, dan aku positive bisa pulang besok. Aku kembali kekoridorku dan lalu berjalan pelan pelan kearah kamarku. saat aku membuka pintu, langkahku terhenti. Aku melihat banyak sekali lilin dan bunga bertebaran disepanjang jalan. Aku melihat ada meja makan berserta kursi ditengah ruangan dan logan sudah berdiri didepan meja tersebut menghadapku dengan kemeja dan blazernya sambil menggenggam buket bunga. “ logan.. apa-apaan..” dia berjalan mendekatiku dan menyerahkan buket bunga kearahku. Aku menerimanya dan masih tidak mengerti memandangnya. Dia menyuruhku masuk agar dia bisa menutup pintunya. “ siapa bilang, kita gagal kencan hari ini?” ujarnya sambil mengajakku berjalan diantara bunga bunga dilantai dan diantara deretan deretan lilin. Aku memandangnya. “ kita masih bisa kencan disini..” katanya sambil merentangkan tangan- menunjukkan kamar ini secara tidak langsung lalu menatapku menunggu aku berbicara. Aku memandangnya bingung tapi tersenyum. Sebelum aku berbicara lagi, dia mengambil sebuah kue ulangtahun kecil bertuliskan HAPPY BIRTHDAY HONEY dengan angka 17 bertengger diatasnya. “ happy belated birthday, (yn)..” katanya “ oh, logan…” kataku senang dan mendekat kearahnya. “tiuplah..” katanya. Aku menyelipkan rmbut kebelakang telingaku lalu meniup lilinnya. Aku tertawa seusai aku meniup lilin. Dia menaruh kuenya diatas meja. Dia mengeluarkan sebuah kotak dari sakunya, “berikan tanganmu..” katanya, aku menjulurkan tanganku dan dia memegang tanganku. Dia mengeluarkan cincin dari kotak tersebut, aku menahan napasku. Cincinnya bagus sekali. Dia memasangnya dijari manisku. “cincin ini mungkin tidak seberapa harganya..” katanya masih sambil menggenggam tanganku. Aku mengangguk. “tapi cincin ini adalah sebuah janjiku padamu, bahwa suatu hari nanti-aku akan gantikan cincin ini dengan cincin yang lebih bagus..” ujarnya, aku tersenyum. “sampai hari itu tiba- cincin inilah yang akan berada dijari manismu…” dia mencium punggung tanganku, aku memeluknya senang. “oh logan, terimakasih…” kataku, “aku suka..” kataku lagi. “kau mengerti maksudku kan?” tanyanya polos, aku mengangguk senang “ yeah..” jawabku, “cincin ini akan selalu berada dijariku sampai kau menggantikannya dengan cincin pernikahan kita nanti..” kataku lagi, logan tertawa dan mengangguk. “ ayo kita makan..” katanya lalu menggiringku kemeja makan. Dia memundurkan bangku untuk aku duduk. Aku duduk pelan pelan dan dia memajukannya agar bisa dekat dengan meja. Dia lalu duduk didepanku. “ memang tidak banyak..” katanya, aku mengangguk. “sulit menemukan makanan cepat saji saat aku merencanakannya mendadak seperti ini..” akunya, aku tersenyum dan mengangguk lagi. Dia membuka kotak pizza tersebut dan membiarkan aku mengambilnya duluan. Aku mengambil sepotong pizza dan logan juga. Kami makan bersama dan ini cukup lumayan. “ jadi..” kataku, “saat kakiku dirontgen, ini alasanmu tidak ikut bersamaku?” tanyaku “ yeppp!” ujarnya lalu menelan pizzanya. Aku mengunyah pizzaku lagi sambil memandang sekeliling “ darimana kau mendapatkan berbagai macam ukuran lilin ini? Seluruh bunga..” aku masih memandang berkeliling, “dan buket ini?” kataku sambil menggoyang goyangkan buket bungaku. “dan terimakasih, aku suka buketnya..” kataku “ hanya buketnya?” “ dan pizzanya..” kataku “ seriously?” tanya logan “ dan lilinnya..” aku masih menggodanya- dia memandangku datar. “dan semuanya..” kataku akhirnya. Logan memasukkan pizzanya kedalam mulutnya dan tersenyum. “ terimakasih untuk semuanya..” kataku lagi “ tidak masalah.. aku hanya menepati janji untuk kencan kita..” “ dan bagaimana hasil rontgennya?” tanyanya lagi. “ oh, bagus! Aku bisa pulang besok..” kataku. Dia mengangguk senang “ aku senang kau sudah sembuh.. membaik..” ujarnya Aku menelan potongan pizza terakhirku lalu bangkit berdiri. “ hei, bagaimana kalau kita meniup semua lilin2 ini bersama-sama..” kataku. logan ikutan bangkit berdiri. Aku berjalan kesebelah kananku. “ aku bagian kanan, dan kau bagian kiri…” kataku “ oke.. dimulai dari belakang atau dari depan?” tanyanya. Aku memperhatikan lilin lilin yang berjejer tersebut. “ dari yang paling kecil..!” kataku sambil menunjuk. Logan mengangguk. Aku menaruh buket bungaku dimeja dan berlari kecil kebelakang, logan mengikutiku. Dia ada disisi sebelah kiri. “ siap?” tanyaku. Dia mengangguk. Jumlah dari semua lilin ini masing masing sisi ada 10 “ bagaimana kalau setiap sebelum lilin dimatikan, kita sama-sama menyebutkan harapan kita.. lilin pertama kau, kedua aku, ketiga kau- dan begitu seterusnya sampai ujung?” kata logan “ ide bagus!” kataku, “ayo mulai…” Lilin pertama- aku meniupnya, logan meniupnya- mati. “semoga aku dan kau panjang umur..” logan tersenyum. Kami maju selangkah menuju lilin kedua. Lilin kedua- logan meniupnya, aku meniupnya- mati. “semoga aku bisa ingat ulangtahunmu terus menerus..” katanya, “harus..” tambahku, dia tertawa. Kami maju menuju lilin ketiga. Lilin ketiga- aku meniupnya, logan meniupnya- mati- “semoga logan ingat ulangtahunku terus..” kataku, logan tertawa. Kami maju menuju lilin keempat. Lilin keempat- logan meniupnya, aku meniupnya- mati. “aku janji akan membawamu makan romantis suatu hari nanti..” katanya, aku mengangguk, “harus ditepati..” tambahku. Kami maju kelilin nomor lima. Lilin kelima- aku meniupnya, logan meniupnya- mati. “aku harap logan dan aku akan selalu bersama..” kataku sambil memandang logan. Kami maju kelilin nomor enam. Lilin keenam- logan meniupnya, aku meniupnya- mati. “aku ingin menghabiskan sisa hidupku denganmu..” kata logan menatapku dengan matanya yang hangat- aku tersenyum tersipu. Kami maju ke lilin nomor tujuh. Dibelakang kami benar benar gelap dan cahaya mulai redup redup karena sisa 4 lilin yang menyala. Lilin ketujuh- aku meniupnya, logan meniupnya- mati. “aku juga ingin menghabiskan sisa hidupku denganmu..” kataku tulus, logan tersenyum simpul. Kami maju lagi kelilin nomer 8. Cahaya penerangan sudah semakin sedikit dan beberapa saat lagi kami mendekati lilin yang paling besar. Lilin kedepalan- logan meniupnya, aku meniupnya- mati. “aku janji aku akan membahagiakanmu selama aku bernafas dan disampingmu..” katanya- aku hampir menangis sekarang mendengarnya. Kami maju ke lilin nomer 9. Hanya sisa 4 lilin yang menyala sekarang, aku harus berjalan hati hati dalam ruangan yang hampir gelap gulita seperti ini. Lilin kesembilan- aku meniupnya, logan meniupnya- mati. “aku ingin logan mengembalikan buku biologiku..” kataku bercanda, logan tertawa keras mendengarnya. “ya, aku janji…” katanya. Kami berjalan kelilin besar terakhir. Tinggal 2 lilin yang menyala saat ini. Satu disisiku, satu lagi disisi logan. Ruangan benar benar nyaris gelap gulita. aku meniupnya terlebih dahulu. Logan belum meniup lilin terakhirnya. Dia menghadapku dan menggenggam kedua tanganku. Mata kami saling menatap dicahaya yang super sangat amat minim ini dan jantungku berdebar sangat keras. “ tiup lilinmu..” kataku. dia lalu meniup lilinnya- mati. Keadaan sekitar kami total gelap gulita, dia masih belum menyebutkan permintaan terakhirnya. Aku bisa merasakan dia menyentuh wajahku dikegelapan dan sebelah tangannya merangkul pinggangku. Aku bisa merasakan hembusan nafasnya dikegelapan. “ aku akan menikahimu suatu hari nanti..” katanya, itu permohonan terakhirnya lalu dia mencium bibirku didalam kegelapan tersebut. #END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar