First - 1


Pernahkah aku merasakan jatuh cinta? Jawabannya adalah tidak.
Aku adalah anak perempuan yang paling aneh, begitulah setidaknya kata kakak perempuanku, Naomi.
“Kau ini wanita, masa iya tidak ada satupun cowok yang kau taksir?” tanyanya setiap kali aku  hanya membaca buku atau menonton televisi bersama mum saat hari Jumat malam sementara dirinya selalu keluar berpesta dengan para senior yang tampan.
Jawabanku biasanya hanyalah mengangkat bahu, atau hanya memandangnya beberapa saat dari atas kebawah, berusaha memberikannya tatapan sejijik mungkin kearahnya dan melengos begitu saja sampai akhirnya Naomi memutar bola matanya dan berhenti mengangguku.
Biasanya setelah itu, mum hanya menoleh kearahku dan berkata, “Kalau kau ada acara pergi dengan temanmu atau para lelaki, pergilah..” kata mum dengan senyum paling tulus yang aku pernah lihat.
“Mum, aku  tidak akan membiarkan mum sendirian..” ujarku biasanya sambil menggenggam kedua tangannya. “Aku tidak akan membiarkanmu sendirian, ayo kita nonton acara model yang terkenal itu. Siapa  jagoanmu yang pirang itu?”
“Tifanny..”
“Oh ya, Tifanny..”jawabku. aku benci dia, tambahku dalam hati.

[]

Seperti hari sekolah biasa, Naomi dan aku pergi bersama-sama kesekolah. Aku agak risih sebenarnya harus satu sekolah dengannya. Kebanyakan orang membandingkan kami. Disetiap awal semester aku selalu mendengar “Oh, kau adik Naomi? Benarkah?” ugh. Maksudku, aku tahu aku tidak seperti dia. Mengenakan make-up dan sepatu hak tinggi, juga baju-baju berbelahan pendek yang bisa membuat para lelaki melihatmu tanpa berkedip, tapi setidaknya aku tidak usah mengulang kelas aljabar tahun ini seperti Naomi yang membuat dirinya satu kelas denganku tahun ini. Haha- aku akan mempermalukannya.
“Oke, Haley- dengar, kita tidak bicara dikelas. Kau tidak tahu siapa aku dan aku tidak tahu siapa kau..”
“Tapi semua orang tahu aku ini adikmu, dasar idiot..”ujarku datar. Naomi mengulum bibirnya sendiri.
“Seperti orang ingat kau saja—“ jawabnya sambil mengibaskan tangan lalu berjalan mendahuluiku dikoridor. “Pokoknya, duduklah menjauh dariku—“ dia hanya menoleh sedikit sambil mengatakannya lalu berlalu. Aku berdiri sendirian didepan pintu masuk berusaha untuk mengatakan kepada diriku bahwa semua akan baik-baik saja. Aku yakin, tidak.
Aku berjalan kedepan loker baruku ditahun keduaku di sma dan mengelusnya. Cat-nya masih baru, berwarna abu-abu muda dan ada nomor ‘23’ didepannya. Aku membuka lokerku tersebut dengan kunciku dan isinya masih kosong, jadi kumasukan beberapa buku dan bawaanku. Setelah itu aku hanya membawa beberapa buku hanya untuk pelajaran pertama sampai istirahat makan siang.
“Oh astaga. Bisakah aku mengganti jadwalku dengan kelas olahraga dihari pertama ini? Sungguh deh, matematika?” aku mendengar dari kejauhan seorang anak lelaki mengomel dengan gayanya yang serampangan kepada kepala sekolahku. Aku memperhatikan mereka tanpa aku sadari. Si anak lelaki terus menerus menunjuk-nunjuk jadwal kelas yang dipegangnya dan menuntut untuk menukar jadwalnya. Sang kepala sekolah berkacak pinggang menjelaskan bahwa kelas sudah ditetapkan dan tidak bisa diganti. Wajahnya sudah kelihatan tidak sabar, dan aku yakin beberapa menit lagi jika anak lelaki itu tidak berhenti mengoceh, dia akan terkena hukuman.
“Tukar saja jadwalku dengan siapapun. Demi Tuhan, aku tidak mau masuk kelas matematika! Setidaknya tidak pada hari pertamaku! Ini tidak—“
“Jika aku mendengar suaramu lagi berteriak kepadaku, kau akan terkena hukuman sepulang sekolah Tuan Meyers!”Wow. dia benar-benar sudah jengkel rupanya dengan anak lelaki itu.
“Aku tidak berteriak..” si lelaki itu memelankan suaranya, aku tak sengaja terkikik kecil, dia berteriak sepanjang dia bicara sedari tadi- dan dia kelihatan agak takut sekarang. “Aku hanya ingin minta kelasku dipindahkan. Bukankah siswa berhak mendapatkan hak-nya untuk belajar dan menimba ilmu disekolah ini, Pak? Nah, aku meminta hak-ku..”Sang kepala sekolah memijat keningnya, upaya-nya mengancam untuk menghukum anak lelaki itu kelihatannya sia-sia. Entah mengapa aku jadi tertarik. Aku bersandar dilokerku sambil mendekap buku-buku-ku dan mendengarkan.
“Austin Jonathan Meyers, ya- sebagai siswa anda berhak mendapat hak, tapi ini juga hak dari sekolah untuk membuatmu tetap tinggal dikelas matematika pada jam pertama. Percayalah, satu jam dan setelah itu kau bisa kekelas selanjutnya, yaitu kelas yang kau mau, olahraga-“ aku mengecek kelasku. Olahraga adalah kelas kedua-ku hari ini. Aku satu kelas dengannya.
“Aku mengerti hanya berbeda satu jam, Pak- tapi ini masih pagi dan menurut yang aku tahu, olahraga sangat penting dilakukan sebelum melakukan aktivitas lainnya..”
“Cukup!”Kepala sekolah berteriak agak keras sehingga membuatku dan seluruh orang yang ada disekitar kami menoleh dan tersadar bahwa dirinya dan lelaki itu ada diantara mereka sedari tadi. Lelaki itu agak terlonjak dan terkejut. “Jika aku mendengar satu kata lagi keluar dari mulutmu, maka kau akan bertemu denganku sepulang sekolah Tuan Meyers. Ini hari pertamamu disekolah ini dan kau kira kau bisa seenaknya saja mengatur apa yang sudah aku lakukan dengan sekolahku dan kurikulumku selama bertahun-tahun?”lelaki itu terdiam, tapi wajahnya masih menatap sang kepala sekolah dengan keras.
“Aku hanya meminta hak-ku, pak..”
“Laksanakan dahulu kewajibanmu kalau begitu. Masuk kekelas matematika, dan setelah itu kau bisa olahraga- seperti yang ada dijadwalmu..”lelaki itu hanya menatap datar kertas jadwal yang ada ditangannya. Bel sudah berbunyi dan aku terlonjak saat mendengarnya. Rupanya aku terlalu asik memperhatikan mereka. Astaga, aku benar-benar tidak punya kehidupan. Kulihat sang kepala sekolah akhirnya membiarkan lelaki itu berdiri disana sendirian dan dia masuk keruangannya. Orang-orang mulai sibuk mengambil buku mereka masing-masing dan mulai berhamburan masuk kedalam ruangan kelas. Aku masih seperti terhipnotis ingin tahu apa yang dipikirkan lelaki itu, diam sana, bersandar pada lokerku. Apakah dia marah? Aku tidak terlalu pandai membaca mimik wajah seseorang. Kulihat dia hanya memasukan kertas jadwal tersebut kedalam salah satu buku yang dibawanya lalu membetulkan letak ranselnya dan mulai berjalan dengan enggan.
Aku masih tidak sadar saat dia berjalan menuju kearahku sampai akhirnya dia melihatku sekilas dan berhenti, tepat didepan wajahku.
“Menurutmu apa yang akan kulakukan sekarang?” tanyanya tiba-tiba saat berada didepanku. Aku mengerjap dan diam beberapa saat, terlalu terkejut untuk bergerak dan membuka mulut. Aku hanya berdiri tegak disana dan menggigit bibir bawahku.
“Apa?”tanyaku masih dengan suasana bingung.
“Kau mendengarkan sedari tadi, aku melihatmu dari sudut mataku—“ dia menunjuk sudut matanya sambil tersenyum jahil. “Jadi, bagaimana menurutmu- aku harus apa?” katanya.
“Ke..” aku berdehem karena leherku tercekat. Apa yang aku lakukan? Aku sudah terlambat menuju kelas pertamaku. “Kenapa kau bertanya kepadaku?”
“Karena kau terlihat pintar- dan, kurasa kau sedikit peduli, karena kau mendengarkan perdebatanku dengan Simon tadi-“ dia bahkan tidak memanggilnya dengan kata ‘Pak Simon’ astaga.
“Kau salah. Aku hanya bosan..” jawabku datar. Dia mengangguk dan tersenyum menatapku.
“Bosan ya?”tanyanya. aku mengangguk. Dia maju kearahku dan menunduk untuk menatapku lebih jauh. Ya Tuhan, dari jauh dia terlihat biasa, tapi begitu sedekat ini, dia…
“Kau masih bosan sekarang?”aku mengerutkan dahiku. “Karena, kau masih disini- sementara kelas jam pertama sudah dimulai. Dan oh- sepertinya kau terlambat.. Lihat!”dia menyodorkan jam tangannya kearahku. Seketika aku tersadar. Aku membelakakan mataku dan berlari tanpa bilang apa-apa padanya.
“Sampai bertemu di kelas hukuman nanti!”teriaknya. Kudengar dari belakangku dia tertawa. Sialan, dia menertawaiku. Oh lebih menyebalkannya lagi, aku terlambat dihari pertamaku.

[]

Hukuman sepulang sekolah. Brengsek, Naomi menertawaiku habis-habisan karena ini pertama kalinya aku kena hukuman sepulang sekolah. Dan ini adalah hari pertamaku. Astaga. Bisa kubayangkan dia pulang kerumah dan mengadu pada ibuku bahwa aku kena hukuman. Dan tidak kemungkinan dia akan mengarang cerita mengapa aku bisa dihukum. Hah, mum akan memarahiku- itu sudah pasti. Aku tidak mau mengecewakan mum.
Semenjak dad meninggalkan mum untuk wanita lain yang lebih muda 2 tahun yang lalu aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan pernah meninggalkan mum, sedikitpun dan tidak akan pernah walau sekecil apapun membuat mum kecewa. Mum wanita yang kuat, dia sudah tahu dad berselingkuh semenjak beberapa tahun yang lalu dan memutuskan untuk berusaha tegar dan tidak peduli demi aku dan Naomi.
Aku dan Naomi berhutang besar pada mum- karena itulah aku berjanji pada diriku sendiri bahwa sebisa mungkin setiap hari aku menemaninya disetiap aku ada kesempatan, walau aku lelah sekalipun.
“Dan kau terlambat lagi, Haley-“ suara Thomas, guru jaga hukuman sepulang sekolah hari ini di perpustakaan membuatku ingin berteriak kesal, tapi aku hanya berlalu dan mencari tempat duduk terdekat. Thomas mendekatiku dan memberikanku sehelai kertas penuh soal yang kurasa harus kujawab sebelum kelas ini selesai. Entahlah, aku tidak pernah mengalami kelas hukuman.
“Kerjakan dengan tenang, Nyonya Lydia yang akan mengawasi kalian..” aku melirik kearah Lydia, perempuan paruh baya penjaga perpustakaan kami dan tersenyum. Tidak masalah, aku kenal dengannya. Thomas meninggalkan ruangan. Kulihat sekeliling ada sekitar 10 anak yang ada. Bagus, aku berada didalam daftar 10 anak ternakal disekolah ini. Lydia membaca dengan tenang buku sejarah yang dipangkunya, sama sekali tidak memperdulikan kami.
Aku mulai membaca soalku dan tersenyum. Ini cukup mudah. Dengan cepat kutulis jawabanku dan berpindah  kenomor selanjutnya.
“Hei—“ seseorang pindah kesebelahku dan begitu aku menoleh, ternyata anak lelaki tadi. Dia seperti sehabis latihan basket, karena dia terlihat begitu berantakan dan kausnya basah. Menjijikan, dia bahkan belum mandi. Aku menegakkan dudukku begitu sadar dia duduk didekatku.
“Haha, kau kena hukuman juga..” ujarnya sambil menunjukku. Dia terlihat begitu puas tahu bahwa aku mengikuti kelas ini juga. Ini semua karenamu, ujarku dalam hati tapi aku hanya menghela nafas berusaha mengabaikannya, dan mulai membaca soal berikutnya. Lelaki itu ikutan membaca kertasku. “Wow, kau mengerti itu?”tanyanya sambil menunjuk jawaban nomor 1 yang sudah kujawab. Dia lalu menyalinnya.
“Hei!” aku menarik kertasku dan menutupinya dengan lenganku supaya dia tidak bisa menyontek. Lelaki itu kelihatan bingung. “Cari jawabanmu sendiri!” ujarku lagi lalu bergeser menjauh darinya. Aku mulai menulis lagi. Kuperhatikan dari sudut mataku lelaki itu memainkan pena dijari-jarinya sambil memandangku.
“Pelit sekali sih..”katanya. aku tidak membalas. Aku masih sibuk menulis untuk jawaban nomor 2 dan memikirkan jawaban yang lebih pasti. Beberapa saat kemudian lelaki itu menarik bangkunya dan mendekat kembali kepadaku.
“Kau tahu kan, ini bukan ujian- jadi kau bisa memberikan jawabanmu juga kepadaku. Tidak akan ada yang memeriksa jawaban kita. Ini hanya kelas hukuman..” katanya. aku berhenti menulis untuk memandangnya. Apa dia serius? Kita mengerjakan ini hanya untuk tidak diperiksa. “Kau tidak pernah mengikuti hukuman seperti ini ya?” dari raut wajahku bisa ditebak bahwa aku memang tidak pernah. Dia tertawa pelan lalu mengambil pena dari tanganku dan menaruhnya dimeja. “Santai saja, jawab saja semaumu beberapa saat sebelum Thomas datang- kau lihat anak-anak lain..”lelaki itu menoleh kebelakang, aku mengikutinya. Beberapa dari mereka malahan kebanyakan sibuk bermain dengan ponsel mereka, melamun dan ada yang tertidur. “Lihat, tidak ada yang peduli—“ katanya lalu meraih kertasku dan menumpuknya jadi satu dengan miliknya. Aku tidak menjawab apa-apa, melainkan hanya menurut saja. Sepertinya dia sudah sering mengikuti hukuman seperti ini. Dan sepertinya, dia juga benar- tidak ada yang peduli.
“Ngomong-ngomong, hei- kita bertemu lagi! Menyenangkan rasanya melihat wajah familiar dihari pertamaku disekolah ini!”dia terlihat tulus mengucapkannya. Dia gembira. Melihatku.
“Kau baru disini?” tanyaku pelan. Dia mengangguk antusias.
“Aku murid pindahan, kau tahu- kebanyakan sekolah tidak mau menerimaku karena- yeah, aku tidak mau sok sih, tapi aku nakal..” dia berkedip. Aku bergidik. Ugh. “dan sepertinya orangtuaku sudah putus asa, jadi mereka membiarkanku sekolah dimanapun yang aku mau—dan aku memilih sekolah ini..”
“Kau memilih Willand?”aku terkejut. “Kenapa? Maksudku, ini bukan sekolah paling oke dikota ini, kenapa kau memilih Willand?”tanyaku. dia tersenyum. Senyum paling aneh yang pernah aku lihat. Bibirnya mengerucut menjadi kecil dan aku hanya ingin menarik bibirnya dengan tanganku. Sungguh lucu. Oh hentikan, Haley. Naomi akan menertawakanku jika dia bisa membaca pikiran.
“Kudengar, cewek disini cantik-cantik..” aku memutar bola mataku.
“Konyol sekali. Kau pindah kesini karena itu?” dia hanya menyunggingkan senyumnya kearahku. “Kau bodoh, sungguh- berikan kembali kertas dan penaku. Aku tidak mau mendengarkan orang sepertimu!” aku merebut kembali pena dan kertasku dan mulai mau menulis lagi.
“Terserah. Aku hanya akan duduk santai disini, melihatmu begitu panik menyelesaikan semua pertanyaan itu hanya untuk disia-siakan saja..”lelaki itu mengangkat kakinya keatas meja, sepatunya tepat disampingku dan aku menghela nafas pelan, berusaha untuk mengabaikan.
Menit-menit berlalu dan pertanyaannya menjadi semakin susah seiring dengan suasana yang semakin ramai. Siswa-siswi lain yang ada diruangan ini mulai mengobrol dan terkikik satu sama lain sementara lelaki yang ada disebelahku masih menatapku dengan jahil, berusaha menguji kesabaranku. Akhirnya pada pertanyaan nomor 10 aku berhenti, lalu memandangnya.
“Sudah menyerah?”tanyanya sambil mengangkat alis mengejekku. Aku mengulum bibirku berusaha mengatakan sesuatu. Aku tidak mau dia berpikir aku menyerah setelah apa yang aku katakan tadi bahwa aku tak ingin mendengarkan dia.
“Tidak- aku hanya lupa jawaban nomor-nomor selanjutnya..” aku bangkit berdiri lalu mengambil kertas dan penaku. “Aku mau mencarinya dibuku, permisi..”lalu aku berjalan angkuh mendekati rak-rak buku, terlihat sibuk mencari jawaban padahal aku hanya ingin membuatnya berpikir aku sibuk agar dia tidak lagi berada didekatku.
Tapi tidak berhasil. Begitu aku mengambil salah satu buku acak, dia berdiri dibelakangku dengan berkacak pinggang. Aku hampir terlonjak begitu melihatnya tiba-tiba disana. aku bahkan tidak kepikiran dia akan mengikutiku.
“Buku setebal itu? Untuk satu nomor? Sampai kapan kau akan selesai?”dia mendekatiku dan melihat buku yang sedang kupegang.
“Setidaknya aku mencoba!” aku melewatinya dengan kasar lalu duduk dilantai, membuka halaman demi halaman, berharap aku menemukan sesuatu untuk pura-pura kutulis. Setelah kulihat aku mengutuk diriku sendiri. Buku yang kuambil dan apa yang sedang ditanyakan dikertas tidaklah ada hubungannya. Aku terus membalik halaman demi halaman sementara lelaki itu berdiri didekatku, memperhatikan. Aku berdoa supaya dia akhirnya bosan dan meninggalkanku namun tidak. Dia malahan ikut duduk disebelahku dan melongok halaman yang sedang pura-pura kubaca. Aku bisa mendengar suara nafasnya didekatku. Dari sudut mataku aku lihat dia melirikku dan mengerutkan dahinya.
“Kau gila ya.. sudahlah..” ujarnya sambil terkekeh. aku hanya meliriknya lalu kembali membalik halaman lagi. “Bagaimana kau mau mencari jawaban tentang sejarah perang dunia kalau kau terus melihatnya didalam ensiklopedia tumbuhan..” dia membalik cover buku yang kupegang untuk melihat judulnya. “Tumbuhan dihutan tropis. Ha..” dia menaikkan alisnya, terlihat jahil ketika tahu aku hanya berpura-pura. Aku menutup bukuku dengan kasar lalu menatapnya lelah. “Dengar, manis- dia tidak akan memeriksa, jadi bagaimana kalau kau sedikit lebih tenang, hmm?” dia memanggilku ‘manis’ astaga. Aku tidak bisa memikirkan balasan menyakitkan yang tadinya mau aku siapkan begitu dia membuka mulutnya.
“Aku punya nama asal kau tahu. Jangan memanggilku dengan sebutan itu lagi dengan bibirmu karena itu menjijikan..”ujarku datar lalu menyelipkan beberapa helai rambut kebelakang telinga, mulai melihat kertas soal tadi dan menjawab seadanya, seingatku saja.
“Kau belum menyebutkannya, jadi bukan salahku aku memanggilmu begitu..” dia mengangkat bahu
“Kau bisa bertanya..” jawabku masih tidak melihatnya, masih mengira-ngira jawaban, aku hampir selesai walau aku yakin hampir separuhnya jawabanku agak mengacau. Lelaki itu menggeser duduknya mendekat kepadaku.
“Siapa namamu?” tanyanya. Aku berhenti menulis lalu menatapnya. Dia menunggu jawabanku.
“Aku tidak mau memberitahumu..” jawabku sambil tersenyum mengejek. Lelaki itu mengangkat dagunya sambil menyunggingkan senyum ‘oke, jadi begitu ya’-nya kepadaku. Dia lumayan, pikirku.
“Baiklah, sepertinya kau lebih senang dipanggil manis daripada namamu sendiri—“ ujarnya sambil menepuk pahanya sendiri. “Hei, apa namamu jelek sehingga kau malu memberitahuku?” dia bertanya lagi. Astaga, lelaki ini benar-benar tidak tahu bagaimana caranya diam.
“Lebih jelek dirimu-“ jawabku acuh tak acuh. Dia tertawa sendiri begitu mendengarku.
“Namaku Austin..” ujarnya mengenalkan dirinya sendiri sambil menyodorkan tangannya kearahku. Aku melihat tangannya lalu melihat kearah wajahnya. Dia menaikkan alisnya, mengirim kode bahwa dia menunggu jabatan tanganku. Aku sudah hampir selesai dengan jawabanku dan sejujurnya  aku sudah tidak tahu lagi harus menulis apa, jadi aku berhenti menulis dan menyambut tangannya.
“Lebih bagus namaku daripada milikmu..”kataku sambil menjabat tangannya. Dia tersenyum, senyumnya menular kepadaku dan aku juga ikutan tersenyum tanpa kusadari.
“Aku ragu. Kau tidak mau menyebut siapa namamu, bagaimana aku bisa yakin?” dia memiringkan kepalanya. Aku mengangkat bahu. “Eh kau sudah selesai dengan itu?” ujarnya sambil menunjuk kertas jawabanku.
“Yep. Aku menyelesaikannya, tidak peduli denganmu..”kataku sambil menjulurkan lidah
“Lihat saja nanti, kau kepala batu benar-benar, sudah kubilang tidak akan diperiksa..”
“Kau tetaplah menjadi anak nakal, aku- adalah anak baik..”
“Terserah..” Austin mengangkat bahunya acuh tak acuh, tapi lebih kearah mengejek. Mungkin dia ada benarnya, tugas ini tidak akan diperiksa, tapi tetap saja, aku tidak bisa percaya padanya. Dia anak lelaki yang rebel, atau sok rebel- aku tidak tahu yang mana, kemungkinan dia menganggap remeh semua masalah.
Aku melirik jam diponselku dan sudah hampir pukul 5 sore. Sebentar lagi kami boleh pulang. Mulai kurasakan perutku agak lapar karena aku tidak sempat makan sebelum mengikuti kelas hukuman ini.
“Jadi, kenapa kau ada disini?”tanyanya. Aku tersadar dia masih ada disini ketika dia mulai bicara lagi. Selama beberapa menit tadi dia tidak bicara dan aku baru sadar, ini adalah diam terlama yang pernah dia lakukan semenjak tadi.
“Semua gara-gara kau ngomong-ngomong..”kataku, “Aku jadi terlambat masuk kelas karena aku bicara denganmu..” aku mendorong bahunya sedikit dan dia goyah kesamping. Tapi dia hanya tersenyum. Tanpa penyesalan. Seakan dia bangga dia yang membuatku disini.
“Hei, jangan salahkan aku. Kau yang masih ada disana, diam seperti patung, tak bernyawa didepan lokermu saat semua orang sudah berhamburan masuk kekelas masing-masing..” dia membalasku. “Aku kan hanya berusaha sopan, mengajakmu bicara- dan lagi, kau yang penasaran dengan masalahku sampai lupa waktu. Nah, bukan salahku!” dia menjulurkan lidahnya kearahku. Aku hanya diam. Dia benar. Ini semua karena aku. Bodoh sekali, gara-gara penasaran dengan perdebatannya dengan Pak Simon tadi aku bahkan mengabaikan kelasku.
“Aku tetap akan menyalahkanmu apapun alasanmu..”
“Dan walau kau tahu aku benar?”katanya sambil nyengir.
“Aku tetap akan menyalahkanmu..”jawabku mengabaikannya. Dia tertawa pelan, kelihatan tidak keberatan dengan pernyataanku. “Jadi, kau tetap bolos mengikuti kelas matematika ya?” ujarku lagi mengingat aku belum bertanya alasannya dia disini, padahal hampir mungkin aku tahu alasannya.
“Kau masih ingat rupanya. Ya, matematika membuatku pusing. Angka, garis-garis. Ugh, aku tidak ingin menjadi ahli matematika. Itu membosankan..”
“Tidak begitu membosankan kok-“ ujarku. “Kau hanya harus memperhatikan lebih keras..”
“Oh, jadi kau salah satu anak jenius dan aneh disini, yang suka pada matematika- tidak punya teman dan selalu menyendiri begitu..” ujarnya sambil tertawa. Aku diam. Aku memang seperti itu. Beberapa saat aku tidak menjawab, Austin melihat kearahku dan raut wajahnya berubah menjadi tidak enak.
“Selamat, Tuan sok tahu. Tebakanmu benar..” jawabku datar setelah dia menatapku beberapa detik. Suasana jadi agak canggung. Austin tidak bicara lagi. Dan ini lebih lama daripada sebelumnya. Aku merasa damai saat aku tidak mendengar suaranya, walau hatiku agak terasa sakit dia berkata seperti itu.
Aku tahu bahwa aku memang aneh. Dan penyendiri, tapi begitu ada seseorang yang mengatakannya langsung kepadaku rasanya berbeda. Itu menyakitkan. Naomi sering mengejekku begitu, tapi aku tidak peduli, dia kakakku. Kami saudara dan aku tahu dia sayang padaku. Tapi Austin orang lain, dia baru kenal denganku, walau dia mengatakan yang sebenarnya tetap saja rasanya aneh.
“Oh..” setelah beberapa menit selang waktu diam hanya itu yang dia katakan. Dia juga agak kelihatan kaku jadinya. Tak lama Thomas masuk dan aku buru-buru bangkit dari dudukku berlari kecil menyerahkan kertas yang tadi sudah kujawab kepadanya, kulihat juga anak-anak lain dengan wajah tidak peduli memberikan kertas-kertas mereka. Kulirik kertas mereka, hampir semuanya hanya menjawab sekitar 5 atau 6 nomor dan Thomas sama sekali tidak bicara apa-apa. Austin menyerahkan miliknya, yang hanya diisi sampai nomor ketiga. Thomas meliriknya saat dia melihat kertas jawaban Austin.
“Kau hanya mengisi 3 nomor, Tuan Meyers..”
“Yeah. Lalu?”Austin mengerutkan dahinya. Aku mengambil tas dan buku-buku siap untuk keluar, tapi sekali lagi aku terpaku ingin tahu. Thomas memberikan kembali kertas jawabannya kepada Austin.
“Setidaknya kau harus isi 5 sampai 6 nomor, seperti anak-anak lain. Tapi sekarang aku berubah pikiran, selesaikan sampai selesai atau tidak kau tidak boleh pulang..” aku terkejut saat Thomas berkata seperti itu. Austin dengan enggan mengambil kembali kertas miliknya. Thomas duduk disalah satu bangku perpustakaan, menunggu Austin untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Kulirik Austin yang hanya tersenyum kesal. Aku menyerahkan pena yang masih ada ditanganku kepadanya.

“Selamat, manis. Tebakanmu benar..” ujarnya berkedip sambil mengambil pena ditanganku. Dia lalu berbalik dan duduk didepan Thomas dan mulai mengerjakan kertasnya.

- To Be Continued -

You, Me and The Symphony [1]

curhat sebentar : ini saya lagi gak posting Happily (N)ever After dulu dan memang lagi gak mood untuk melanjutkan, tapi akan segera dilanjutkan, saat saya libur semester nanti- dan dijamin, akan sampai habis. nah saya lagi bengong gitu ceritanya ya, ini tiba-tiba muncul ide cerita singkat, walau belum selesai (seperti biasa akan dipost sedikit dulu) saya harus nulis, kalo gak nanti keburu lupa- lupa dan akhirnya males untuk ditulis, memang udah gatel pengen dituangin sih ceritanya. gatau ini kelihatannya gimana, tapi ini ada sedikit dulu goresan cerita dari saya, cuman sepenggal sih- tapi kalau yang baca, atau lihat atau apapun, boleh komen tentang cerita ini, apa harus dilanjutkan atau dihapus. kalaupun mau dilanjutkan, harap bersabar yaa- maklum saya orangnya mood-mood-an, hahaha. okeh, sekian - G

Happily (N)ever After. Chapter One.


Putri Erica dengan menggunakan jubah berkerudung hitamnya berlari menembus gelap dan lebatnya hutan. Hujan mulai rintik-rintik membasahi jubahnya. Dia berusaha mengatur nafas, sambil berjalan cepat. Dengan lentera ditangannya, dia berusaha menemukan sebuah rumah sang penyihir, yang sudah terkenal didaerahnya. Akhirnya setelah sampai dipertengahan hutan, ia berhenti- dan memandang sebuah gubuk tua yang remang-remang hanya diterangi oleh lentera kecil diatas jendelanya. Erica menaiki tangga lalu membuka kerudungnya, dan menyurutkan api yang ada dilenteranya. Diletakannya lentera itu dilantai, lalu dia mengetuk pintu gubuk tersebut.
Sekali, dua kali- tidak ada yang membuka. Begitu yang ketiga, pintu dibukakan. Seorang nenek tua dengan pakaian gelapnya memandang datar wajah Erica yang terkejut. Ia baru pertama kali melihat sang penyihir, yang rupanya serupa dengan manusia. Sedari kecil Erica sudah banyak mendengar tentang penyihir dan sebagainya, tetapi dia belum pernah bertemu langsung.
“ Selamat malam, Putri Erica—“ sapa penyihir itu sambil tersenyum sinis kearah Erica yang nampak ketakutan. Erica tidak menyahut apa-apa, dia mempersilahkan Erica masuk, lalu menutup pintu. Erica memandang sekeliling ruangan gelap tersebut. Penuh pernak-pernik jaman dahulu dan banyak sekali buku-buku. Penyihir itu duduk disofa besarnya sambil melipat tangan, seakan tahu Erica ingin bercerita apa dan apa yang dia lakukan disini.
“ Well, kau tahu aku mau apa kesini..” kata Erica berdiri didepannya, tidak duduk dan tidak bergerak
“ Yep- bahkan aku sudah mempersiapkan apa yang kau butuhkan..” penyihir itu bangkit berdiri lalu berjalan dengan cepat kedalam, lalu keluar lagi sambil membawa sebotol kecil cairan hijau ditangannya. Erica melihat botol yang disodorkan itu kepadanya,
“ Kau mau aku minum itu?” tanya Erica dengan mimik jijik sambil menunjuk botol yang penyihir itu sodorkan kearahnya. 
“ Hanya ini caranya, sweetie—kau mau hidup bahagia dengan kekasihmu, bukan?” tanyanya. Erica menghela nafas. Ia berusaha menahan air mata mengingat kekasihnya yang sudah tewas itu. Cinta sejatinya. Erica mengepalkan kedua tangannya dengan sepenuh tenaga lalu mengambil botol kecil itu dari tangan si penyihir. Penyihir itu tampak puas sang putri percaya padanya.
“ Minumlah, Erica—“ ujarnya melewati Erica yang masih ragu mencium-cium aroma dari cairan tersebut dan seperti ingin muntah, dia buru-buru menutup mulutnya. Penyihir itu duduk kembali di sofa-nya. 
“ Kau berjanji, aku dan dirinya akan bahagia selamanya? Dia akan hidup lagi?” tanya Erica
“ Percayalah, Erica…” katanya berusaha meyakinkan sang putri. Erica akhirnya menutup mata dan hidungnya, lalu menenggak habis botol tersebut lalu dia batuk-batuk dan menutup mulutnya, menahan supaya tidak muntah. “ Bagus-“ ujar sang penyihir. Erica berusaha mengatur nafasnya lalu memandang sang penyihir tersebut.
“ Duduklah, Erica- kau mau aku buatkan makanan?” Erica menghela nafas dan dia duduk disebelah sang penyihir. Erica menggeleng.
“ Kau benar-benar yakin- aku bersumpah, jika ramuanmu ini tidak bisa membangkitkan Liam—“
“ Tenang saja, Erica- aku sudah berkali-kali membangkitkan orang mati—dan aku yakin, kekasihmu pasti akan kembali, dan kalian akan hidup bahagia, selamanya…” ujar sang penyihir, Erica mengangguk-angguk. “ Kue? Atau teh, Putri Erica?” tanya sang penyihir. Erica menghela nafas.
“ Teh- aku merasa mual..” jawabnya sambil memegang tenggorokannya yang terasa gatal.
“ Aku akan segera kembali—“ sang penyihir itu meninggalkan Erica sendirian diruangtamunya. Sang penyihir itu membuatkan teh dengan sedikit gula, begitu dia sampai diruang tamunya lagi, dia menemukan Erica sudah tertidur, dan penyihir itu tersenyum- tapi tidak sepenuhnya. Dia menaruh teh itu diatas mejanya lalu menyingkap rambut Erica, dia sudah tidak bernyawa. Penyihir itu menghela nafas.
“ Maafkan aku, Erica—“ katanya sambil mengusap rambut Erica yang panjang sebahu. “ Tapi aku tidak bohong, kau akan bertemu lagi dengan kekasihmu…..“ ujarnya tersenyum. “ Di lain waktu—“

*

“ Daaaaan, ini jadwal kelasmu semester ini—“ seorang bagian dari tata usaha memberikanku bertumpuk tumpuk kertas dan buku untuk hari pertamaku masuk sekolah disekolah baru. Aku mengucapkan terimakasih lalu memasukkan semua buku kedalam tasku lalu mengecek jadwal pertamaku hari ini. Geografi. Aku menghela nafas.
“ Here we go—“ aku menggumam sendiri lalu mencari kelas bertuliskan 204. Rupanya digit pertama menunjukan lantai dan dua digit terakhir menunjukkan ruangan kelas. Begitu sampai dikelas tersebut, aku menghela nafas lagi. Oh no. sudah banyak orang disana. semuanya memperhatikanku masuk kedalam dan berjalan menuju kursi kosong dibelakang. Aku benci menjadi murid baru. Apalagi saat masa sma- senior. Ini gara-gara ayahku yang harus berpindah tempat kerja ditahun terakhir aku akan lulus. Menyebalkan harus beradaptasi dilingkungan baru.
Aku duduk dipaling pojok belakang, jauh dari kerumumanan anak-anak yang asik bercerita dan berkumpul. Beberapa gadis berpakaian cheerleader, yang langsung bisa kutebak sebagai ‘penguasa’ sekolah ini terkikik sambil sesekali melihat kearahku. Aku membuang muka dan melihat kearah lain. Disisi lain aku melihat sekumpulan anak lelaki berbadan kekar. Bisa kutebak mereka anggota klub football. Mereka saling tertawa-tawa dan sesekali melihat kearah para gadis cheerleader. Tentu saja mereka sepaket.
Diantara kumpulan anak football tersebut, ada yang menarik perhatianku. Sesosok laki-laki yang sedari tadi tidak banyak bicara, hanya mendengarkan saja dan terlihat sangat datar. Rambutnya yang coklat keemasan dan matanya yang hijau- mengingatkanku pada seseorang. Dan sepertinya, aku pernah melihatnya sebelumnya. Tapi dimana ya?
Sadar karena aku perhatikan, lelaki itu menoleh kearahku- lalu dia tersenyum. Bibirnya yang berbentuk aneh tapi menarik meregang membentuk senyuman yang membuatku membalas senyumnya juga. Dan setelah itu, dia kembali mendengarkan temannya berbicara- dan aku, kembali memandang sisi lain- sampai bel masuk berbunyi.

*

Istirahat makan siang adalah yang paling buruk. Menjadi anak baru, sendirian dan tidak punya tempat duduk membuatku ingin pulang saja dan kembali kesekolahku yang lama. Aku mengambil tray makananku yang sudah diisi oleh makanan, puding dan minuman lalu bengong dipinggir ruangan, memantau apakah ada bangku yang bisa aku duduki- hanya untuk makan saja, tidak perlu berbicara dengan orang. Aku memandang kearah kiri, ada beberapa tempat disatu meja yang berisikan hanya 2 orang lelaki, dan satu perempuan. Mereka tidak berbicara- hanya makan. Mungkin mereka bisa menyisakan tempat untukku.
“ Hai- ini kosong?” tanyaku sambil menunjuk salah satu bangku yang kosong. Mereka mengangguk. “ Boleh aku duduk disini?” mereka mengangguk lagi. Aku tersenyum lalu dengan hati-hati menaruh makananku dan duduk.
“ Namaku Haley- kalau kalian ingin tahu—“ ujarku. Aku memandang mereka. Tidak ada jawaban, dan mereka tidak memandangku sama sekali. Aku lalu berdehem dan memutuskan untuk tidak bicara lagi, dan mulai memakan makananku. Kafetaria hari ini ramai, seperti kebanyakan kafetaria-kafetaria disekolah-sekolah kebanyakan. Dari cara melihat meja terisi dengan berbagai macam kelompok, bisa dilihat bahwa sekolah ini terdiri dari banyak kubu. Dan aku merasa takut kalau-kalau aku akan lulus disini tanpa teman dan kelompok sama sekali, aku memandang kearah teman-teman dimejaku.
“ Umm, so- siapa namamu?” tanyaku sambil menyenggol perempuan berkacamata dengan baju paling aneh yang pernah aku lihat. Dia memandangku, kikuk- diam sebentar lalu menjawab. “Reina—“ aku mengangguk dan menunggu dia bicara lebih jauh, tapi tidak. Dia tidak bicara lagi. Aku menoleh kearah sebelah Reina, kedua lelaki yang kelihatannya kembar itu, yang satu memakai kacamata dan sangat kurus- satu lagi tidak memakai kacamata, tubuhnya lebih berisi.
“ Kalian kembar?” aku bertanya polos dan mereka mengangguk.
“ Namaku Jake—“ ujar yang berkacamata, “ Dan ini kakakku, Luke—“ katanya memperkenalkan saudaranya. Aku melambaikan tangan, dan Luke hanya mengangguk melihatku. Oke. Mereka benar-benar kelompok paling suram yang pernah aku temui.
“ Hai- Umm, disekolah ini- kalian bergabung di grup apa?” tanyaku.
“ Kau tidak lihat, kami duduk disini?” Kata Reina. Aku diam. “ Ini meja untuk anak-anak yang tidak mempunyai grup—kami terbuang—“ ujarnya membuatku prihatin.
“ Kalian tidak terbuang—“
“ Oh, Haley- lihatlah sekelilingmu—“ kata Jake. Aku melihat sekeliling. “ Apa menurutmu kami tidak terbuang?” tanyanya lagi, aku tidak bisa bicara.
“ Well, jangan seperti itu- kalian bertiga kan berteman, selama mempunyai teman- kalian bukan kelompok yang terbuang—“ kataku. “ Hei! Aku bisa ikut kelompok kalian! Kita jadi berempat!” aku bertepuk tangan senang sendiri. Mereka memandangiku dengan bingung. “ Boleh kan?” tanyaku saat melihat ekspresi mereka.
“ Kau anak baru kan disini? Aku yakin, setelah kau beradaptasi nanti- kau akan meninggalkan kami dengan kelompok lain—“ ujar Reina
“ Tidak tidak- aku janji, aku tidak akan meninggalkan kalian. Aku sungguh takut disekolah ini sendirian…” aku terdengar seperti merengek. Mereka bertiga saling tatap-tatapan. “Pleaseeeee-“ tambahku lagi.
“ Baiklah- kau boleh bersama kami, kami akan melindungimu—“ ujar Reina sambil tersenyum. Aku spontan memeluk Reina yang terkejut tapi balas memelukku.
“ Yey! Oke oke, kalau begitu- sehabis ini kalian kelas apa?” tanyaku, sekarang sama sekali mengabaikan sekeliling dan makananku. Begitu juga dengan mereka.
“ Matematika, 302..” kata Jake
“ Geografi, 804..” kata Reina. Aku mulai mencari kertas jadwalku dan mencari jadwal selanjutnya.
“ Musik- auditorium..” kata Luke. Aku bersama Luke sehabis ini.
“ Sepertinya, kau jadi partnerku, Luke—“ aku berkedip kearahnya dan dia tersenyum
“ Oke-“ katanya lalu menengguk minumannya
“ Kau dari luar kota?” tanya Reina
“ Yeap. Aku kemari, ayahku ditugasi untuk bekerja disini- jadi, disinilah aku sekarang. Kau bagaimana?”
“ Stuck disini sampai mati—“ jawab Reina datar membuatku tidak berbicara banyak lagi
“ Kami berdua tinggal dibelakang sekolah ini—“ kata Luke. “ Ayah kami adalah tukang bersih-bersih disekolah ini dan ibu kami—“ Luke menunjuk perempuan yang sedang berdiri dibelakang tempat makanan. Aku mengangguk-angguk. “ Kami beruntung sekolah berbaik hati memberikan kami tempat tinggal dan sekolah gratis—“ lanjut Luke.
“ Mereka berdua jenius—“ tambah Reina, aku mengangguk-angguk.
“ Kapan- kapan, kita main kerumah kalian ya!” kataku
“ Sempit. Tidak bisa banyak-banyak orang—“ ujar Jake
“ Tidak apa-apa, asalkan sama-sama semuanya jadi lebih baik—“ balasku sambil berusaha membuka tutup cup puddingku. “ Bisa kalian ceritakan padaku- hal menarik apa yang biasanya terjadi disekolah ini, atau dengan kelompok-kelompoknya?” tanyaku setelah aku berhasil melepas tutup cup puddingku.
“ Hmm, disana—“ Reina menunjuk meja yang penuh dengan anak-anak yang berpakaian unik dan sangat berisik. “ Mereka sekumpulan seniman- ikut klub seni dan sebagainya, asik diajak bicara- tapi sangat tidak masuk akal jika kau lama-lama bicara dengan mereka—“ lanjutnya membuatku tersenyum.
“ Oke- disana, Hale—“ Luke menunjuk arah belakangku, sekumpulan anak-anak yang terlihat pintar, mejanya sangat diam walaupun mereka semua berbicara, “ Anak-anak pintar, gila teknologi dan kutu buku— aku cerdas, tapi tidak bisa bicara dengan mereka. Tidak bisa diajak bercanda..” sambung Luke.
“ Boleh kutebak yang ditengah itu?” tanyaku sambil melihat kearah meja tengah yang sangat ramai sedari tadi dengan tawa dan teriakan-teriakan mereka. “ Kelompok penguasa sekolah. Jahat, populer, tidak mau bergaul dengan yang lain—“ setiap kata-kataku ditanggapi dengan anggukan setuju mereka.
“ Cheerleader dan para pemain football- adalah kombinasi paling buruk sedunia untuk jaman SMA..” gumam Luke. “ Tapi tidak semua dari mereka kasar—“ tambahnya lagi.
“ Benarkah? Siapa yang harus kuwaspadai kalau begitu..” aku hanya ingin tahu mana yang jahat supaya aku bisa lebih waspada dan tidak mencari gara-gara atau berdekatan dengan mereka. Luke menundukan wajahnya mendekati meja dan berbisik, tanpa sadar- aku, Reina dan Jake juga melakukan hal yang sama, tapi mata kami sesekali memandang kearah mereka.
“ Lihat perempuan yang dikuncir itu?” aku mengangguk dan memperhatikan wanita bertubuh sangat kurus, dengan seragamnya yang ketat dan roknya yang pendek- sedang menyenderkan kepalanya dibahu lelaki yang tadi aku pandangi dikelas. “ Namanya Lucy- jangan pernah berurusan dengannya. Dia jahat, melebihi sang ratu dari Putri Salju…” katanya lagi membuatku terkikik.
“ Hanya dia? Ceritakan padaku sejarah yang lainnya—“ ujarku
“ Kebanyakan dari mereka tidak penting, Hale. Hanya beberapa yang menonjol. Nah, kekasihnya Lucy- yang ada disebelahnya, namanya Austin—“ kata Reina. Lelaki yang kupandangi itu bernama Austin ternyata.
“ Dia juga jahat?” tanyaku
“ Oh tidak- dia baik. Sangat baik. Sebelum bertemu dengan Lucy, kau tidak akan percaya kalau aku pernah bermain bersamanya, setiap hari sepulang sekolah—“ kata Jake, diikuti anggukan Luke. “ Semua berubah ketika dia menjadi kapten team football, dia punya Lucy- dan semua ingin menjadi temannya..” aku mendengarkan masih dengan posisi rendah, seperti yang lainnya. “ Austin anak orang kaya- ayahnya yang membangun sekolah ini—“ kata Jake lagi.
“ Jadi, bisa dibilang- dia dapat teman sebanyak itu, karena dia kapten, dan karena dia kaya?”
“ Dan karena dia berpacaran dengan Lucy—“ tambah Reina. Aku mengangguk-angguk. Aku kembali memandang laki laki itu. Dia masih saja bersikap kalem, dan hanya sesekali tertawa- kebanyakan mendengar yang lain bercerita, sesekali menoleh kearah Lucy dan menciumnya sekilas.
Ini terjadi lagi. Austin melihat kearahku dan mata kami bertemu. Aku tersenyum kearahnya, dan dia tersenyum balik. Lucy melihat kearah Austin tersenyum, dan dia melihatku. Aku buru-buru berbalik menghadap meja dan berusaha menghabiskan makananku, sementara Reina, Jake dan Luke sudah menyelesaikan makanannya dan terlihat mengantuk.

*

Putri Erica genap berusia 16 tahun hari ini. Kerajaan mengadakan pesta besar-besaran. Semua bangsawan dari seluruh penjuru dunia diundang untuk merayakan hari ulangtahunnya. Erica, yang kelelahan karena terlalu banyak berdansa dan menari, duduk dikursi yang ada dipinggir-pinggir ruangan sambil melepaskan sepatunya. Dia mendesah lega saat sepatu tinggi itu terlepas dari kakinya. Erica melihat sekeliling, semuanya masih ramai berdansa dan berjoget. Dia melihat saudara perempuannya, Ashley masih asik berdansa dengan beberapa pangeran dari negeri lain. Ashley setahun lebih muda daripada dirinya. Mereka berdua sangat akrab dan selalu tidur bersama-sama setiap malam karena Erica yang takut kalau tidur sendirian.
“ Erica!” ashley mengangkat gaunnya, berjalan tergopoh-gopoh kearah Erica yang masih bertelanjang kaki bersantai. Dia menarik kursi dan duduk didepan Erica. “ Kau tidak akan percaya apa yang baru saja terjadi—“ 
“ Pangeran tampan mengajakmu makan malam?” dia memekik dan mengangguk-angguk. “ Wow, Ashley- siapa lagi kali ini?” ujar Erica sambil tertawa.
“ Oh, kau berkata seakan aku sudah bersama dengan banyak pria—“ dia mencibirkan mulutnya
“ Memang—“ balasku, tapi dia tidak mengabaikan kakaknya.
“ Lihat, Pangeran Teddy disana?” Ashley menunjuk lelaki bertubuh tegap yang sedang meminum minumannya, “ Dia—“ ujar Ashley, lalu mengamit tangan Erica. “ Ooooh, Erica- ini bakalan sangat asyik! Dia sungguh tampan-“ Ashley memang seperti ini kalau soal lelaki. Selalu mendapat yang terbaik, karena dia sangat cantik dan dia pandai berias. Erica terkadang iri melihatnya, dibandingkan dengan dirinya yang berulang tahun ini saja- dia masih kalah cantik. Tidak ada yang mengajaknya kencan malam ini.
“ Hope you’ll happy—“  Ashley tersenyum kearah kakakknya masih dengan pipi yang merona kesenangan.
“ Bagaimana denganmu, hah? Ada lelaki yang membuatmu senang malam ini?” tanya Ashley
“ Jangan mengejekku, Ash- tidak ada. Semuanya sama seperti hari-hari biasa—“ katanya datar
“ Oh, maafkan aku. Aku yakin, Pangeranmu akan datang sebentar lagi—dan sambil menunggu pangeranmu datang, aku akan menemui Teddy—“ lalu Ashley mencium pipi kakaknya dan pergi menemui Teddy. Erica hanya menghela nafas. Dari kejauhan, Teddy dan Ashley kembali bercakap-cakap, dan kemudian menghilang, entah kemana. Ugh, Ashley pasti akan memakai kasurku kali in- pikir Erica dalam hati.

*

Erica tidak tidur semalaman. Teddy dan Ashley benar-benar memakai kasurnya, sampai pagi. Dia tidak tahu harus berbicara apa. Pagi-pagi sekali saat matahari baru terbit, sang putri memakai sepatu bootnya dan berjalan menuju kandang kuda- tempat dimana dia bersembunyi kalau dia merasa sendirian. Atau saat Ashley sedang ada tamu. Wangi jerami yang terkena embun pagi menyegarkan pikiran Erica. Dia menyentuh kuda-kuda yang ada didalam kandang.
“ Hei- tidur nyenyak?” Erica berbicara dengan kuda. Seorang putri berbicara dengan kuda. Tidak heran kenapa tidak ada yang mau menjadi pacarku- pikirnya. Kuda itu mendengus dan Erica tertawa. Dia menyentuh kuda yang lain lalu saat Erica menuju ditempat kuda terakhir, yang kosong tempat aku biasanya duduk diam ‘bertapa’, sang putri memekik kaget.
Seorang lelaki tertidur disana. dengan pakaian seadanya dan lusuh. Dia bangun dan buru-buru menutup mulutku.
“ Ssssssh!” katanya menarik Erica agar dekat kepadanya. Erica membelalakan matanya dan berusaha untuk tidak mengeluarkan suara. “ Aku bukan orang jahat—aku hanya menumpang tidur disini—“ katanya
“ Kau mau aku percaya kepadamu? Tidak izin seperti itu dan kau bukan orang jahat?” teriak Erica. Dia menutup mulut sang putri lagi.
“ Kau tidak harus berteriak—“
“ Oh, aku punya hak untuk berteriak. Ada orang asing ditempatku, kerajaan ayahku- dan kau sekarang, menyuruhku untuk diam?” Erica mendesis kearahnya, sedikit menuruti kata-katanya untuk tidak berteriak. Dia melepaskan Erica lalu mundur.
“ Maafkan aku, seharusnya aku minta izin terlebih dahulu..”
“ Menurutmu?” katanya kesal. Dia mengerti lalu membereskan alas tidurnya. Lalu duduk. Erica membelalakan matanya tidak percaya dia tidak langsung pergi. “ Apa?” tanyanya melihat sang putri kebingungan.
“ Kau baru saja ketahuan menyelinap disini, dan kau tidak mau pergi?” kata Erica
“ Kemana aku harus pergi?”
“ Umm sebentar—“ Erica terlihat seperti berpikir. “ Aku tidak peduli! Keluar cepat dari sini, atau aku panggil pengawal kerajaan- hukumannya akan lebih berat—“ Lelaki itu langsung bangkit berdiri dan menengkan sang putri.
“ Miss, kumohon- aku tidak punya tempat tinggal disini- rumahku baru saja terkena musibah, dan seluruh keluarga meninggal—“ ujarnya dengan mata syahdu sambil memegang kedua lengan Erica. Erica menatap wajahnya. Ada raut kasihan saat sang putri melihat wajah lelaki ini.
“ Izinkan aku tinggal, beberapa hari disini—kumohon—“ katanya lagi. Erica menghela nafasnya dan melihat lelaki itu dari atas sampai kebawah.
“ Baiklah—“ ujarnya, membuat pemuda itu tersenyum lega, “ Tapi kau tidak bisa selamanya tinggal disini diam-diam, kecuali kau mau bekerja diistana ayahku—“ lanjutnya lagi.
“ Kau mau mempekerjakanku?”
“ Aku akan bilang pada ayahku—mungkin untuk mengurus kandang ini, sudah lama jarang ada yang mengurus kandang dan kuda-kuda ini…” Erica memandang sekeliling kandang yang memang sudah kotor.
“ Apapun, akan aku lakukan- asal aku bisa tinggal disini, maksudku-“
“ Aku mengerti—“ potong Erica. Mereka berdua tersenyum. “ Sekarang lepaskan aku—dan ikut aku kedalam, bicara dengan ayahku—“ katanya, lalu pemuda itu melepaskan lengan Erica. Dia langsung mengikuti Erica keluar dari kandang.
“ Kau yakin ayahmu mau mempekerjakanku?”
“ Ayahku sangat baik- dia pasti mau menolongmu..”
“ Sama seperti kau menolongku?” tanyanya. Erica berhenti untuk menatap wajah sang pemuda yang lusuh dan kelelahan. Dia tersenyum.
“ Aku menolongmu?”
“ Yeah- kau tidak mengusirku, dan kau memberiku pekerjaan—itu menolong kan?” jawab si lelaki, diikuti oleh anggukan setuju dari Erica. Mereka meneruskan perjalanan mereka menuju pintu masuk dari dapur.
“ Eh, ngomong-ngomong siapa namamu?” tanya si lelaki
“ Erica—“ jawab Erica sambil menutup pintu dengan hati-hati lalu menghela nafas. “ Kau?”
“ Liam—“ jawab si lelaki yang sedari masuk memperhatikan sekeliling, dan saat dia menyebut namanya, dia menatap Erica sambil tersenyum. Erica merasa pipinya merona, karena senyum lelaki ini, dia hanya berdehem.
“ Senang bertemu denganmu, Liam- walau pertemuan kita aneh—“ katanya diikuti oleh Liam yang tertawa. 
“ Senang bertemu denganmu juga, Putri Erica—“ jawab Liam
“ Erica saja cukup—“ kata Erica
“ Oke—“ Liam berdiri didepan Erica lalu tersenyum. “ Erica—“ katanya

*

“ PRIIIIT!” Peluit ditiup dan semua anak-anak berkumpul dilapangan. Aku sudah mengenakan pakaian olahragaku, yang menurutku terlalu pendek celananya. Aku merasa tidak pede.
“ Kau terlihat cantik, sudahlah—“ kata Reina saat kami berkumpul dipinggir lapangan, mendengarkan instruksi dari guru olahraga kami. Voli. Bagus sekali. Aku tidak bisa bermain voli. Dan yang paling parah saat pembagian team, aku dan Reina tidak satu team, begitu pula juga dengan Jake dan Luke. Kami semua terpencar.
Aku baru sadar saat berpencar kemasing-masing team, aku satu team dengan Austin ini. Dia terlihat santai, memandangi team yang sedang bermain. Sekali lagi, aku memandanginya tanpa sadar- dan sekali lagi dia melihat kearahku, dan kali ini dia tidak tersenyum, dia menghampiriku.
“ Apa kita pernah bertemu?” tanyanya. Suaranya benar-benar lelaki dengan aksen yang agak aneh, tapi menarik menurutku.
“ Umm, ya. Dikelas geografi-“ jawabku singkat. Dia menepuk keningnya seakan dia lupa dan tertawa.
“ Maksudku- sebelumnya? Apa kita pernah bertemu?” tanyanya lagi. Aku baru saja pindah kekota ini. Wait? Apa dia berusaha untuk mengobrol denganku? Aku menggeleng.
“ Tidak- aku baru saja pindah ke kota ini beberapa minggu yang lalu—“ jawabku
“ Oh, begitu. Kalau begitu, aku yang salah—“ ujarnya tersenyum. Aku mengangguk. Austin pergi begitu saja dari hadapanku, dan duduk dipinggir lapangan. Tanpa sadar aku mengikuti arah dia bergerak, dan (sialan) dia melihatku lagi. Austin hanya kembali tersenyum, bukan senyum menggoda- hanya senyum ramah biasa, dan aku membuang muka, kembali menonton pertandingan.
Setelah beberapa menit team Reina melawan team Jake selesai, teamku dan team Luke masuk kelapangan untuk bertanding. Aku melihat di team Luke ternyata ada kekasih Austin, dia terlihat bersemangat untuk pertandingan main-main seperti ini. Austin mengajak teamnya berkumpul terlebih dahulu ditengah lapangan.
“ Oke- lakukan yang terbaik, kalah atau menang- tidak masalah. Ini hanya permainan-“ jiwa kaptennya terasa walau ini bukan pertandingan yang biasa dia lakukan. “ Haley, kau disini—“ katanya sambil menunjuk kearah kanannya, dia bertugas sebagai orang pertama yang melakukan service. Dan permainan dimulai.
Bola melambung tinggi dan team sebelah menerimanya. Dilambungkan kembali, seseorang berhasil mengoper, dan ternyata terbuang kebelakang. Aku panik, tidak melakukan apa-apa karena aku tahu kalau aku melakukan sesuatu, bolanya akan terjatuh. Maka Austin mengambilnya dan melambungkannya lagi keteam sebelah. Begitu saja sampai akhir, aku tidak kebagian menangkap bola. Kalau aku kebagian untuk service, aku hanya melemparkannya dan begitu bola sudah sampai diatas, aku berjalan sejauh mungkin menghindar dari bola. Dan pertandingan pun selesai. Kami kalah 2-1. Austin menyemangati team-nya, lalu Lucy dari lapangan sebelah berlari memeluk Austin dan mereka berdua berciuman ditengah lapangan. Aku menghela nafas melihatnya, begitu juga dengan teman-temanku yang duduk dipinggir lapangan.
“ Aku kelihatan bodoh dilapangan—“ kataku ketika duduk dipinggir disebelah Jake
“ Kita semua seperti itu, Hale. Tidak usah malu—“ ujar Reina
“ Kau enak tidak usah satu team dengan Lucy- ergh. Dia benar-benar maruk!”
“ Berbanding terbalik sekali dengan Austin ya—dia baik sekali loh, benar-benar berwibawa dan menyemangati kami semua tadi. Walau tetap saja, aku tidak bisa—“ kataku.
“ Sudah kubilang, mereka memang berbeda—“ ujar Luke. Dan aku setuju, walau aku belum merasakan sendiri sifat Lucy. Aku menoleh kebelakang, dan melihat Lucy, Austin dan teman-temannya sudah berkumpul kembali membentuk lingkaran. Lucy masih bergelayut dilengan Austin. Aku buru-buru membuang muka sebelum Austin dan aku bertatapan mata kembali. Ini sudah kesekian kalinya hal ini terjadi. Apakah dia merasakannya juga, atau aku saja?

*

Pagi-pagi aku terbangun karena Molly, anjingku menjilat wajahku dengan semangat sampai sampai wajahku basah semua. Aku merasa geli tapi sekaligus senang melihat wajahnya di pagi hari. Aku selalu tidur dengan Molly, karena aku takut tidur sendirian.
“ Turun, Molly- kau tambah berat—“ kataku, dan Molly menggonggong lalu turun dari tempat tidurku. Aku menuju kamar mandi, segera mandi dan berganti baju- lalu turun kebawah. Saat memasuki dapur, aku melihat kalender. Tanggal 28 dilingkari dengan spidol berwarna merah. Aku tersenyum. Itu hari ulangtahunku, aku genap berusia 18 tahun, ayah dan ibuku sudah berangkat kerja sepertinya. Kulirik jam. Sudah pukul 8, ya mereka sudah berangkat. Molly tiba-tiba datang dan duduk dikursi meja makan.
“ Hei- kau lapar?” tanyaku. Dia menggonggong. Aku mengeluarkan kotak makanannya dan menuang makanan kedalamnya. “ Ayo sini, Molly—“ molly langsung turun dan langsung melahap makanannya sementara aku membuat roti selai untukku sendiri. Telpon berdering.
“ Haley?”
“ Rey? Ada apa?”
“ Austin mengadakan pesta malam ini dirumahnya, aku tidak tahu untuk apa. Kurasa dia ulangtahun..”
“ Kita diundang?”
“ Sebenarnya Jake dan Luke yang mengajakku- dan mereka menyuruhmu untuk ikut juga..”
“ Austin mengundang Jake dan Luke?”
“ Mereka teman walaupun dulu, Hale- intinya, kau mau ikut tidak?” aku berpikir sebentar
“ Malam ini? Aku tidak tahu rumahnya..”
“ Kumpul dirumah sikembar jam 6 nanti, kita pergi bersama—“ ujarnya. Aku mengingat-ingat ada urusan apa aku nanti malam, dan sepertinya aku kosong.
“ Kita akan sendirian disana—“
“ Tidak, kita berempat, Hale—“ ujar Reina, membuatku tersenyum. “ Kau mau tidak?” tanyanya lagi
“ Baiklah—kirim foto baju yang kau kenakan agar aku bisa kira-kira mau pakai baju apa, oke?”
“ Beres! Sampai jumpa jam 6, jangan terlambat!” kata Reina lalu mematikan teleponnya. Aku buru-buru menelepon ayah ibuku, memberitahu bahwa aku akan pergi. Mereka memberiku izin asal tidak lebih dari jam 1 malam. Mereka pulang terlambat juga malam ini rupanya. Molly sudah selesai makan. Dia menghampiriku masih sambil mengunyah. Aku menepuk-nepuk kepalanya.
“ Aku akan pergi sore ini, kau jaga rumah oke?” ujarku. Molly berkedip. Dan aku anggap itu sebagai ya.

*

Rumah Austin besar. Sekali. Mungkin rumahku, dikalikan tiga kali- adalah rumahnya. Begitu kami masuk kedalam, suasananya sudah ramai- dan musik terdengar kencang sekali. Austin membukakan pintu untuk kami, lalu berjabat tangan dengan Luke, Jake, Reina dan saat berjabat tangan denganku- kami saling bertatapan agak lama. Tangannya menggenggam tanganku erat-erat, seakan dia tidak mau melepaskannya.
“ Selamat ulangtahun, Austin—“ kataku memulai berbicara setelah kami bengong, dan Austin seakan sadar, melepas tanganku dan memasukannya kedalam saku. Dia mengajakku dan yang lain kearea kolam renang belakang. Suasananya lebih meriah, lampu dimana-mana dan kebanyakan semua orang hanya memakai baju renang.
“ Aku tinggal dulu—“ kata Austin saat dia melihat Lucy, dengan ditutupi handuk berjalan kembali kedalam rumah. Aku dan Reina saling bertatapan.
“ Somebody is gonna get laid toniiiiight!” bisik Jake, mengerti apa yang aku dan Reina telepatikan. Kami berdua tertawa. Kami berempat mencari tempat duduk didekat kolam. “ Sebentar, aku ambil minum dulu? Kalian mau?” tanya Jake. Kami semua mengangguk, dan Jake pergi menjauh.
“ Sebenarnya untuk apa kita disini? Kita tidak kenal siapa-siapa..” ujar Reina sambil memandang sekeliling. Aku juga jadi agak menyesal tidak menghabiskan malamku duduk dikamar sambil menonton bersama Molly. Disini berbeda, semuanya terlihat asing.
“ Ini untuk Austin- dengar, walau bagaimanapun- dia tetap menghormati kelompok lain. Bahkan kelompok seperti kita..” ujar Luke. Jake kembali dengan 3 botol bir lain ditangannya.
“ Oh, aku tidak minum—“ tolakku saat Jake menyodorkannya kearahku. Mereka spontan melihat kearahku dengan terkejut. “ Aku tidak minum bir—“ kataku lagi.
“ Yasudah, jadi dua punyaku—“ kata Jake sambil mengangkat bahu.
“ Kau tidak pernah minum? Atau tidak suka?” tanya Reina
“ Siapa yang tidak suka bir, Reina—“ timpal Luke sambil meneguk botolnya.
“ Aku tidak pernah minum. Orangtua-ku melarang, dan menurutku itu berbahaya- jadi, kuputuskan untuk tidak pernah mencoba..” jawabku, membuat ketiga yang lain berusaha menahan tawa. Aku memutar bola mataku. “ Terserah kalian mau bilang apa- tapi itu, prinsipku. Oke?” kataku lagi, diikuti oleh mereka yang mengangkat bir mereka tanda setuju.
“ Sungguh, aku ingin pulang—“ kataku saat beberapa menit kami hanya diam, memperhatikan orang yang hilir mudik berlarian, berenang dan tertawa-tawa. Reina mengangguk.
“ Selama ada ini, aku baik-baik saja—“ ujar Luke, diikuti dengan anggukan Jake. Aku menghela nafas.
“ Kau?” tanyaku kearah Reina. Dia menaruh botolnya lalu mengangkat bahu.
“ Aku bosan, tapi ini membuat segalanya lebih baik..” katanya sambil menunjuk botol birnya, “dan lagipula, ini gratis—“ aku mengerti. Aku bangkit berdiri. “ Kau mau kemana?” tanya Reina.
“ Mengambil jus, atau apa saja yang bisa membuatku senang..” kataku lalu menjauh dari mereka
“ Cobalah bir, Hale!” teriak Luke diikuti dengan Jake yang tertawa. Aku menoleh lalu mencibir kearah mereka. “ Dan bawakan kami lagi saat kau kembali—“ Luke kembali berteriak, aku tidak menoleh, hanya mengacungkan jempol kearah mereka.
Aku melewati beberapa orang yang melihat kearahku sambil berbisik-bisik, dan beberapa ada yang tersenyum. Mungkin pikirnya, siapa perempuan ini? Aku memang belum sempat berkenalan dengan mereka, dan tidak mau- karena mereka juga pasti akan melupakan namaku lagi. Sesampainya didalam rumah, aku menuju meja dan mengambil makanan untuk diriku sendiri. Aku berdiri sambil menghabiskan makananku lalu kemeja satunya lagi untuk mengambil coke. Aku menjauhkan tubuhku dari kaleng coke saat aku membukanya, tssssssh- kalengnya terbuka, aku meneguknya. Kulihat sekeliling suasanya lebih agak sepi disini. Hanya ada beberapa orang, yang kebanyakan pasangan saling berpacaran disofa, dipojok ruangan dan sebagainya. Seakan tidak peduli, aku menambahkan makanan kepiringku dan makan lagi. Ini enak. Lumayanlah, gratis. Pikiranku mulai sama seperti Reina.
Dari atas tangga, Austin turun dengan terburu-buru. Aku menduga Lucy ada dikamar atas, menunggunya untuk….. kau tahu. Dia mendekati meja makanan dan mulai menyendok makanan. Saat dia sadar aku ada disitu dia berhenti menyendok makanan dan tersenyum kepadaku.
“ Hei-“ ujarnya
“ Hei-“ kataku, “ Ini enak—“ lanjutku sambil menunjuk piringku. Dia menaruh piringnya lalu maju lebih dekat kearahku.
“ Ngomong-ngomong aku belum berkenalan denganmu, secara resmi sebenarnya—“
“ Haruskah secara resmi?” aku tertawa kecil. Dia memiringkan kepalanya tersenyum. Membuatku susah bernafas. Aku berdehem lalu menaruh piringku dimeja, dan kembali menghadapnya. “ Oke—kalau begitu..” aku menyodorkan tanganku kearahnya, “ Haley—“ ucapku. Austin menjabat tanganku sambil menyebutkan namanya.
“ Sekarang sudah resmi?” tanyaku dan dia mengangguk.
“ Maaf aku tidak secara resmi mengundangmu. Maksudku, aku tidak bilang langsung—“
“ Tidak apa-apa, sudah kumaafkan…” ujarku tersenyum. Dia mengangguk lagi. Ini terjadi lagi. Kami hanya saling menatap. Seakan bingung. Seakan pernah terjadi sesuatu diantara kami. Seakan kami pernah bertemu sebelumnya. Aku dan Austin hanya saling bertatapan tanpa mengucapkan apa-apa, tidak sepatah katapun diiringi oleh dentuman musik berisik dibelakangnya, dan anehnya kami tidak merasa terusik, dan tidak merasa canggung- saling menatap seperti ini.
“ Austin?” suara perempuan mengejutkan kami berdua, aku menarik nafas lalu memeluk diriku sendiri. Sadar bahwa aku sudah menatapnya sedari tadi. Diapun seperti itu, dia menutup mulutnya. Lucy, turun dari tangga, dengan pakaian seadanya, mendatangi kami- memeluk pinggang Austin seakan bertanya kenapa lama sekali, dan dia melihat kearahku. Pandangannya langsung berubah, tersenyum, tapi seakan mengancamku- atau sinis, mengancamku.
“ Hei, Hale- Umm, ini, Lucy—“ Austin mengenalkan Lucy. Lucy hanya tersenyum kepadaku. Aku melambai kearahnya. “ Dan Lu, ini Haley..” kata Austin.
“ Heiii, kau anak baru kan?” tanya Lucy
“ Yeah, maaf aku belum mengenalkan diri—“
“ Tidak perlu repot-repot—“ ujarnya lagi, “ So, Austin?” dia menoleh kearah Austin dan langsung mengabaikanku. Aku diam mematung melihat mereka saling bertatapan nakal. Dan Austin terkesiap.
“ Oh benar!” seakan dia mengingat sesuatu, “ Hale, selamat menikmati pestanya—aku—“
“ Aku mengerti—“ kataku memotong. Dia lalu berbalik, dan kembali mengambil piringnya, lalu berjalan bersama Lucy, naik keatas tangga. Saat aku menoleh kearah tangga, aku lihat Austin masih terdiam sebentar memandang kearahku, masih seperti penasaran- dia tersenyum. Aku mengisyaratkan dia dengan tanganku untuk naik ketangga, dan dia menepuk keningnya sendiri seakan lupa- lalu dia naik keatas. Aku menghela nafas sambil mengambil piringku lagi, menambahkan makanan sedikit, mengambil botol-botol bir titipan si kembar, dan menuju keluar.

*

Erica memperhatikan seseorang yang mengendarai kuda kerajaannya dengan lincah, berputar mengelilingi lingkungan kerajaannya yang hijau dengan kagum. Dia menopang dagunya dijendela masih sambil memandang sang pengendara kuda itu. Liam. Sudah bekerja dikerajaan ayahnya selama tiga bulan lebih, dan Erica sungguh kagum padanya. Tidak disangka dia sangat hebat dalam berkuda, dan sangat pandai dalam kehidupan sehari-hari. Ayahnya suka sekali pada Liam. Ayahnya bilang, dia sudah menganggap Liam seperti anaknya sendiri. Baru tiga bulan lebih dan lelaki itu sudah banyak memikat hati orang dikerajaan ini. Ayahnya, Ibunya, para Ksatria, para pelayan- yang kebanyakan wanita paruh baya, dan juga walaupun Erica tidak mengakuinya, dirinya sendiri.
Dari kejauhan Liam menghentikan laju kuda tersebut lalu melihat kearah jendela tempat Erica memandangnya. Liam tersenyum, dan Erica membalas senyumnya. Pipinya merona, dan tambah merona ketika Liam dengan mengendarai kudanya mendekat kearah jendela. Walau kamarnya dilantai atas, tetapi mereka bisa berkomunikasi dengan baik.
“ Selamat pagi, Erica-“ ujarnya. 
“ Selamat pagi, Liam-“
“ Tidak seperti biasanya kau bangun pagi..” 
“ Aku terbangun..”
“ Kau mau turun sebentar? Menemuiku?” tentu saja Erica mau. Dia buru-buru mengambil mantelnya karena udara diluar dingin dan menuruni tangga dengan sangat bersemangat. Dia berlari kepintu dapur belakang, lalu saat keluar, Liam tersenyum melihatnya yang sudah terbungkus dengan mantel merahnya. Pipi sang putri merona, terkena dinginnya pagi hari sekaligus karena melihat Liam tersenyum. Tidak bisa dipungkiri, Liam sangat menarik. Tidak pernah terpikir olehnya, kalau saat bertemu dengannya dulu, yang masih kotorr dan lusuh- dia akan setampan ini. Apalagi dengan caranya duduk diatas kuda itu, Erica kagum sekali padanya.
“ Kau mau naik?” tanya Liam saat mereka sudah mendekat. Liam turun dari kudanya, sambil memegang tali kekang sang kuda. Kuda tersebut diam, hanya ekornya saja yang mengibas-ngibas. Erica melihat kearah kuda itu. Besar, hitam, dan menakutkan. “ Kau takut?” tanya Liam.
“ Tidak!” kata Erica, tidak mau Liam tahu kalau dia memang sedikit takut. Erica mendekat kearah kuda hitam tersebut lalu mengelus tubuhnya. Halus. Liam ikut mengelus tubuh sang kuda.
“ Kau merawatnya dengan benar—“ kata Erica masih sambil mengelus. Kuda itu meringkik pelan membuat Erica tertawa. Kuda ini tidak terlalu menyeramkan juga lama-lama. Liam menyandarkan tubuhnya dikuda tersebut dan menatap Erica. Erica yang merasa diperhatikan, menoleh kearah Liam.
“ Ada yang aneh diwajahku?” tanyanya sambil menyentuh wajahnya sendiri. Liam tersenyum dan menggeleng.
“ Tidak, tidak apa—“ katanya, tetapi mata hijau Liam tidak lepas memandangi sang putri lekat-lekat. Erica beberapa kali menoleh untuk balas memandangnya, tapi dia merasa pipinya merona, jadi dia kembali mengelus kuda hitam didepannya.
“ Kau bisa berhenti memandangku?” tanya Erica
“ Kau tidak suka?” tanya Liam. Erica berhenti mengelus lalu memandang Liam sambil mengerutkan dahinya.
“ Well, stop it, Liam! Itu menyeramkan—“ ujar Erica sambil tertawa kecil.
“ Kau takut dengan mata hijauku?” tanyanya lagi, masih menatap Erica dengan tatapan lembut. Erica tidak menjawab. Dia hanya membalas tatapan Liam, dan memfokuskan untuk memperhatikan wajahnya, dan matanya.
“ Tidak—caramu menatapku yang mengerikan—hentikan—“ ujar Erica sambil menutup mata Liam sambil tertawa. Liam mundur lalu menangkap tangan Erica dan menggenggamnya.
“ Kau suka atau tidak- aku akan selalu menatapmu seperti ini—“ katanya pelan, membuat perut Erica seakan diaduk-aduk dan kepalanya pusing, kosong- semuanya menjadi satu. Liam tersenyum, tahu bahwa Erica merona karena dirinya.
“ Hei kaliaaan!” tiba-tiba teriakan Ashley, yang memakai mantel berwarna sama dengan milik Erica. Liam menjauh dari Erica dan memperhatikan Ashley dengan riang berlari kearah mereka. Erica masih berusaha untuk mengatur detak jantungnya agar normal tersenyum kikuk kearah mereka. Ashley juga salah satu dari orang yang masuk kedalam daftar korban Liam. Aku tahu sebenarnya Ashley hanya ingin menggoda Liam saja, karena dia sudah bersama Teddy- tapi terkadang ini agak menggangguku. Apalagi ditambah paras dan tubuh Ashley yang sempurna, berbeda denganku. Kadang aku tidak percaya kalau dia adalah saudaraku.
“ Selamat pagi, Ashley-“ sapa liam
“ Hai, Liam- dan kau, aku mencarimu kemana-mana, kau asyik-asyikan disini!” dia menggodaku lalu merangkulku. “ So, apa yang kalian akan lakukan? Dengan kuda ini?” tanyanya sambil menoleh kebelakang melihat kuda hitam tersebut dan dia meringis, merasa ngeri.
“ Aku akan mengembalikannya ke kandang, lalu aku akan mandi- dan, entahlah—“ jawab Liam
“ Boleh aku ikut denganmu?” tanya Ashley dengan nada manja. Aku menoleh kearahnya. Apa-apaan dia? Liam melihat kearahku, lalu ke arah Ashley.
“ Uh, sebaiknya tidak- kau tahu kan kandang kuda? Kotor—“
“  Tidak, maksudku kekamarmu—“ aku tambah mendelik saat Ashley mengatakannya
“ Ashley!” aku menghardiknya
“ Hei, tenang, Erica- aku hanya ingin mampir—“ katanya protes, “ Boleh?” tanyanya lagi kepada Liam. Aku menghela nafas. Ini yang aku tidak suka dari Ashley, dia selalu menggoda Liam- berkali kali, didepankku. Walau aku selalu berkilah kalau aku menyukainya, tetap saja- aku tidak suka dia seperti ini.
“ Umm, tidak—“ ujar Liam sambil tersenyum. “Berbahaya kau bermain dikamar lelaki—“
“ Kau takut tergoda denganku?” tanya Ashley lagi dengan manja. Aku menutup wajahku sudah tidak tahu lagi.
“ Ashley, Liam tidak mau diganggu- pergilah, temui Teddy sana!” aku mendorongnya menjauh, Ashley tertawa.
“ Oke oke, Erica. Aku tahu kau pasti marah. Bye!” dia mencium pipiku lalu berlari masuk kedalam. Aku menghela nafas lalu kembali memandang Liam yang hanya tersenyum menunduk.
“ Aku minta maaf—“
“ Tidak apa-apa… yang aku bingung, dia berbeda sekali denganmu—“ ujar Liam sambil menarik kuda tersebut untuk menuju kandang. Aku memeluk tubuhku sendiri dan berusaha menyamakan langkahnya.
“ Aku tahu- semua orang berbicara seperti itu. Dia cantik dan sangat dipuja semua kaum lelaki—“
“ Bukan, bukan.. bukan seperti itu—“ Liam menghentikan langkahnya. Kuda hitam itu dengan enggan ikutan berhenti dan memutuskan untuk memakan rumput. “ Kau,bukan fisik atau apapun yang aku maksud. Itu aku tidak peduli sama sekali—“ ujarnya, dia mendekat kearah Erica, “ Kau begitu hangat, dan ramah- dan…” dia tidak meneruskan ucapannya, merasa malu untuk mengutarakan isi hatinya. Erica menunggu Liam untuk berbicara lagi.
“ dan?” tanya Erica pelan. Liam tersenyum malu menatap Erica. Erica masih menunggu. “Oh Liam, kumohon berhenti menatapku—“ katanya jengkel. Liam tertawa kecil, dia menyentuh lengan Erica sebelum mengatakan kalimat terakhirnya.
“ dan kau begitu hidup—saat aku berada didekatmu, aku merasa kalau aku bernafas, jantungku lebih berdetak—“ ujarnya. Erica menahan nafasnya beberapa detik sebelum mengeluarkannya pelan-pelan. Pipinya merona lagi, dan tubuhnya panas. Dia menunduk melihat tangan Liam yang menyentuh lengannya.
“ Kalau kau tidak bersamaku? Jantungmu berhenti?” tanya Erica pelan
“ Sebagian diriku seperti mati—“ jawab Liam. “Abaikan aku saja, Erica- ini terdengar konyol!” dia jadi tertawa sendiri, lalu melanjutkan perjalanannya menuju kandang kuda. Aku tidak bergerak, membiarkannya menjauh. Kepalaku masih pusing, menerima begitu banyak perkataan darinya, sikapnya yang semakin hari semakin membuat Erica kagum- menuju jatuh cinta padanya membuat Erica terdiam hanya menghela nafas. Liam menoleh kebelakang saat dia merasakan Erica tidak mengikutinya lagi.
“ Kembalilah kedalam, Erica- pipimu memerah—“ ujarnya sambil tersenyum lalu meneruskan perjalanannya lagi kedalam kandang kuda dan menghilang. Erica menyentuh pipinya yang panas lalu dia memejamkan mata. Tidak ada yang bisa dilakukannya lagi dihalamannya yang luas ini, dia memutuskan untuk mengikuti saran Liam.

*

Malamnya, aku kembali tidak bisa tidur. Aku belakangan sulit untuk tidur, dan ditambah lagi ada Teddy dan Ashley dikamar. Aku sudah tidak berani masuk kekamar lagi. Teddy selalu datang melalui pintu dapur belakang setiap malam, dan menggusurku kalau dia datang. Ashley selalu memohon untuk merahasiakan kalau Teddy datang, maka itu- setiap malam aku tidak keruangan orangtuaku atau ruangan depan, takut mereka ada disana dan bertanya kepadaku kenapa aku belum tidur. Aku memilih untuk berdiam didapur, sementara pelayan kami Mrs. Henderson membuatkan aku teh hangat, dan terkadang kopi. Sebetulnya aku bisa saja mampir kekamar Liam, yang ada dibelakang kandang kuda, tetapi aku takut mengganggunya- atau membuatnya berpikir macam-macam.
“ Terimakasih, Mrs. Henderson-“ ujarku tersenyum saat dia menaruh secangkir teh dihadapanku. Aku meniup-niupnya sebelum menghirupnya perlahan.
“ Ini sudah berbulan bulan kau tidak tidur dengan cukup, Erica- aku takut kau sakit..” katanya
“ Aku tidak apa-apa, siangnya aku selalu tidur sehabis belajar..” aku menjawab sambil menaruh kembali cangkirku. Walau aku dan Ashley tidak pergi kesekolah secara resmi, tapi orangtua kami menghadirkan guru privat untuk kami agar kami tetap tahu tentang pengetahuan, sama seperti anak lainnya. Terkadang, ayahku juga menghadirkan guru-guru yang tidak penting seperti berlatih memanah, bermain pedang dan sebagainya. Ashley jarang mengikuti hal-hal seperti ini karena dia tidak mau berkeringat. Aku masih suka ikut walau aku tidak becus juga, tapi setidaknya aku bisa memegang pedang dan menggunakannya. Terkadang ayahku menyuruh Liam untuk melatih kami mengendarai kuda. Ashley senang sekali kalau berlatih kuda- karena dia bisa leluasa menyentuh Liam dan bercanda dengannya. Liam selalu sabar mengajari kami berdua. Tidak seperti Ashley, aku agak kesulitan dalam mengendarai kuda. Reflekku tidak bagus, dan aku gampang panik. Baru jalan sedikit saja aku sudah minta turun, kata Liam- dia akan mengajariku seorang diri nanti, agar tidak terganggu oleh Ashley yang sudah mahir.
“ Aku tidur dulu kalau begitu. Kau tidak apa sendirian?” tanyanya
“ Tidak masalah, selamat malam Mrs.Henderson—“ Erica tersenyum seiring Mrs.Henderson yang pergi kebelakang dan membuka pintu kamarnya. Erica melirik jam dinding, sudah pukul 2 sekarang. Sebenarnya dia agak lelah. Tapi dia tidak ingin kembali kekamarnya. Dia merebahkan kepalanya dimeja dan memejamkan matanya, dan tak berapa lama, dia tertidur.
Keesokan paginya, Liam yang terbiasa untuk sarapan dan minum kopi didapur kerajaan, masuk melalui pintu belakang dan dia terkejut menemukan Erica yang tertidur dimeja. Dia melihat teh yang ada dimeja dan dia tahu, kekasih Ashley datang lagi malam kemarin. Niatnya untuk sarapan hilang, Liam membuka jaket yang dia kenakan lalu menutupi tubuh Erica dengan jaketnya. Liam memandangi Erica yang masih tertidur pulas dan sesekali menggeliat untuk merubah posisi kepalanya. Tak sadar, Liam tersenyum sendiri. Dia mengambil kursi dan menariknya mendekat kearah Erica. Liam ingin sekali menyentuhnya, membelai rambut sang putri, mengusap pipinya yang kemerahan, semuanya ditahan karena dia sadar statusnya dikerajaan besar ini hanyalah penjaga kandang saja. Terkadang dia merindukan rumahnya. Dimana dia dipandang karena memiliki peternakan yang besar- semuanya hilang ketika kebakaran itu terjadi. Kebakaran yang melahap habis harta, benda dan nyawa keluarganya. Beruntung Liam bisa keluar saat itu, dan diselamatkan.
Erica menggeliat lagi dan terdengar sedikit menggeram. Perlahan dia membuka matanya dan yang pertama dilihatnya adalah wajah Liam yang tersenyum kepadanya.
“ Selamat pagi, Erica..” ujar Liam saat Erica mulai membuka matanya lebih lebar. Erica menegakkan tubuhnya lalu menyentuh jaket yang dikenakan Liam tadi. Dia tidak membukanya, melainkan memakainya langsung karena kedinginan. Rambut erica yang berantakan membuat Liam ingin sekali merapihkannya.
“ Hai- sudah pagikah?” Liam mengangguk. Dia menyentuh cangkir tehnya. Sudah dingin. Erica mengucek matanya lalu menutup mulutnya saat menguap.
“ Teddy datang lagi?” tanya Liam. Erica mengangguk tersenyum singkat. “ Erica, kau harus berani bicara- mau sampai kapan kau kurang tidur dan tidur disembarang tempat seperti ini”
“ aku tidak apa-apa…” erica berdehem, tenggorokannya terasa tercekat.
“ kuambilkan air putih…” Liam bangkit dan mengambil air putih. Erica langsung meminumnya tanpa berhenti sampai habis.
“ Terimakasih—hei, kalau kau mau sarapan, ikutlah makan dengan ayah ibuku—sebentar lagi..”
“ Boleh?”
“ Tentu saja boleh, mereka menyukaimu—“
“ Erica, kau kelihatan lelah sekali—“
“ Tenang saja, sehabis aku selesai belajar, aku akan tidur—“
“ Aku ingin kau tidur saat malam, bukannya di jam-jam yang berantakan..”
“ Aku tidak apa-apa, Liam- sungguh..” Liam menghela nafas, dia duduk lagi dikursi dekat Erica. Liam menatap wajah Erica yang terlihat masih lelah dengan kantung mata yang menggelantung. Dia tidak tega lagi melihatnya.
“ Dengar, kalau kau tidak ada tempat untuk tidur—datanglah kekamarku—“ ujarnya. Erica memandangnya dengan mata membelalak. “ Atau lebih baik, kau bicara pada Teddy. Kau putuskan lebih baik yang mana untukmu..” lanjut Liam. Erica merapatkan jaket Liam ditubuhnya. “ Pintuku selalu terbuka untukmu. Ketuklah jam berapapun, aku tidak akan terganggu—“ ujarnya lagi. Liam tidak tahan lagi, dia akhirnya menyentuh pipi Erica yang dingin, dan mulai merona. “ Oke?” tanyanya. Erica hanya mengangguk. Pipinya tersipu malu, dan Liam tahu itu.

*

“ Fieldtrip lusa—“ kata Reina saat kami sedang makan makan siang kami, sambil membaca selembaran yang dibagikan. Aku ikutan membaca. Ke hutan kali ini dan berkemah. Aku menghela nafas. Aku takut kalau berkemah, dan tidak suka.
“ Semua harus ikut?” tanyaku. Reina mengangguk.
“ Kita satu tenda ya—“ ujarku lagi, tidak mau bersama orang lain dalam tenda.
“ Oke—“ ujar Luke, “ Kau bisa membangun tenda?” tanyanya. Aku menggeleng. Luke menoleh kearah Reina dan Jake, mereka menggeleng. “ Tidak ada yang bisa?” tanyanya kesal, “ Berarti aku bekerja sendiri- Jake, aku tidak mau  tahu- kau bantu aku. Kita kembar, walau kau tak bisa- sedikit sedikit pasti bisa meniruku—“ ujarnya membuat Jake mengangguk terkekeh.
“ Aku tidak suka berkemah dihutan—“ ujarku. “ Banyak nyamuk, gelap, menyeramkan—“
“ Pasti menyenangkan kali ini, Hale—aku dan yang lainnya janji—“ kata Jake diikuti anggukan Reina dan Luke. Aku hanya menghela nafas pasrah.
Hari perkemahanpun tiba. Kami sudah sampai dimedan perkemahan dipinggir hutan. Semua kelompok sudah membangun tenda-nya masing-masing. Jake dan Luke masih kebingungan membangun tenda, lalu guru kami datang dan membantu.
“ Hei, ayo kita cari kayu- seperti anak anak yang lain untuk api unggun malam ini—“ ajak Reina sambil menarik lenganku masuk kedalam hutan, bersama anak-anak yang lain. Kulihat sekilas Austin dan kedua temannya juga masuk kedalam hutan, ikutan mencari, tetapi tidak dengan Lucy- Lucy sibuk membantu temannya memasang tenda.
Didalam hutan yang lebat, sinar matahari sedikit sekali masuk menembus. Aku berjalan perlahan sambil melihat kelangit-langit. Dedaunan rimbun. Dan suara anak-anak yang berada dalam hutan terdengar jauh. Ketika aku berbalik, Reina sudah tidak ada. Kepalaku langsung kosong. Shit.
“ Reiiiii?” teriakku kencang, merasa panik. Aku berjalan dan memanggil namanya lagi. Aku berbalik badan, tetapi tidak ada yang aku kenal. Sial. Kemana dia. Segerombolan anak lelaki yang jaraknya agak jauh dariku sedang berlarian sambil bercanda-canda.
“ Reina???” aku berteriak lagi, lalu berjalan. Aku mulai berkeringat, jantungku berdegup kencang karena takut. Aku memutuskan sebelum masuk lebih jauh, aku berbalik dan menuju jalan balik. Saat aku menoleh kebelakang, seseorang menubrukku dan aku memekik kaget.
“ Heiii—“
“ Austin!!!” aku spontan memukul tubuhnya dan dia mengaduh tidak mengerti. Aku memegang dadaku yang berdetak kencang sambil mengusap wajahku.
“ Hei, kau kenapa?” tanyanya- menghentikan langkahnya sementara teman-temannya sudah berjalan terlebih dahulu, tidak sadar Austin tertinggal.
“ Aku tadi bersama Reina—aku bengong sedikit dan dia sudah pergi—“ jawabku
“ Reina? Dia ada didepan—“ ujarnya bingung. Aku mengerutkan alisku. “ Sedari tadi, dia ada didepan, membantu sikembar memasang tenda—“ lanjut Austin menunjuk kearah belakang. Aku menghela nafas. “ Haley, kau tidak apa-apa? Mau kuantar keluar lagi?” tanyanya bingung melihatku yang termegap megap sambil memandang kebelakangku. Aku yakin tadi Reina menarikku kedalam.
“ Aku tadi ingin ikut mencari kayu bersama Reina—“ aku berusaha menjelaskan. Austin mendengarkanku. “ Lalu—“ aku tidak meneruskan kata-kataku karena aku merasa merinding. Aku diam memegang tengkuk belakangku lalu memandang Austin.
“ Mungkin hanya ilusinasimu saja—“ Austin menaruh lengannya dibahuku, lalu mengajakku berjalan. Aku masih berusaha mengatur nafasku, masih terpikir kejadian tersebut. Aku dan Austin berjalan kembali kedalam hutan. “ Tidak ada yang perlu kau takuti didalam sini- selama kau tidak macam-macam, oke? Ayo temani aku mengambil kayu—“ ujarnya sambil menarik lenganku. Aku menghela nafas lalu dengan enggan menemani Austin.
Suara tawa dan candaan anak-anak lain terdengar sayup-sayup. Aku dan Austin memasuki hutan semakin kedalam. Aku sudah memegang beberapa batang dan Austin masih melihat sekeliling mencari-cari lagi. Aku memandang kearah Austin, baru sadar aku berjalan berdua bersamanya. Dia kembali menangkap tatapanku, dia tersenyum.
“ Sebentar lagi keluar ya, kalau kau takut—“ ujarnya
“ Tidak, aku tidak takut—“ jawabku. Austin tersenyum. Dia membuka jalan dari dedaunan rendah yang rimbun lalu kami berdua bengong melihat apa yang ada didepan mata kami. Sebuah gubuk tua. Aku dan Austin berpandangan.
“ Aku tidak menyangka ada yang tinggal didalam sini—“ dia berjalan mendekat
“ Austin- sebaiknya kita tidak mengganggu, ayo keluar—“ aku menarik lengannya, tapi dia tidak mau berhenti.
“ Lihat, banyak kayu! Mungkin kita bisa minta?” tanpa menunggu jawabanku dia berlari kecil kearah gubuk tersebut, diikuti olehku yang enggan mengekorinya. Aku merasa hawa yang aneh disekitar sini. Gubuk itu terlihat tua. Mana ada orang yang tinggal didalamnya. Austin masih berusaha mengumpulkan kayu sambil sesekali melihat kearah gubuk dan kearahku yang terdiam memandangi gubuk tersebut.
Tiba-tiba pintu gubuk itu terbuka dengan suara pintu yang berdecit, aku menahan nafasku- sambil mundur teratur. Austin tidak bergerak ditempatnya. Wajahku sudah sangat pucat dan aku ingin menangis rasanya. Begini nih, makanya aku tidak suka hutan-hutan!
Seorang nenek tua keluar dari rumah tersebut, tubuhnya yang bungkuk dengan tongkat ditangannya. Dia perlahan melangkah keluar mendekat kami. Wajahnya ramah, dan ternyata tidak menyeramkan sama sekali. Aku berhasil menghela nafas lega setelah melihat nenek itu tersenyum kearahku dan Austin. Austin buru-buru mengambil kayu lalu berjalan kesampingku.
“ Selamat siang, nek—“ ujar Austin
“ Selamat siang, anak muda—“ jawabnya ramah. Dia mendekatkan dirinya untuk melihat Austin lalu melirik kearahku dan dia menahan nafasnya seperti terkejut. “ LIAM!” jeritnya bahagia sambil mengguncang-guncangkan lengan Austin. Austin hanya tersenyum kaku.
“ Bukan nek, namaku Austin—dan perempuan ini, temanku- namanya Haley—“ kata Austin menunduk untuk berbicara dengan si nenek. Si nenek itu berpindah melihatku. Dia mendekat kearahku dengan senyumnya yang paling lebar. Jarinya meraba wajahku dan terkekeh kecil. Aku melirik kearah Austin.
“ Erica—aku senang sekali bisa melihatmu—“
“ Bukan—“
“ Aku tahu kalian pasti hidup!” ujarnya lalu menarik Austin untuk mendekat. Aku dan Austin saling bertatapan. Nenek ini sepertinya sudah gila. Dia mengira kami mungkin cucu atau anaknya yang sudah hilang atau meninggal.
“ Oh, Erica—sudah kunantikan saat bertemu denganmu kembali—“ nenek itu seperti terharu memandang wajahku, dan dia menoleh kearah Austin. “ Aku tahu kalian pasti berhasil bertemu dan bersama- seperti ramuan yang telah kuberikan kepadamu dahulu—“ katanya. Aku merasakan sakit kepala saat si nenek ini berbicara. Terlalu banyak kegilaan yang aku terima dalam waktu beberapa menit.
“ Nenek pasti salah orang. Kami baru saja kesini- dan kami belum pernah bertemu dengan nenek sebelumnya. Kami berkemah dipinggir hutan sana—“ austin menunjuk kearah Utara. “ Dan namaku Austin, yang perempuan ini Haley—“ austin menyentuh bahu si nenek itu. “ Kami kemari tidak sengaja, hanya ingin mengambil kayu-kayu untuk menghangatkan kami malam ini- nenek tidak keberatan?”
“ Oh! Ambillah, Liam- ambil sebanyak yang kau mau—“ dia menepuk nepuk wajah Austin dengan senang. Aku menghela nafas, mendengar nenek itu masih salah memanggil nama Austin. Austin sepertinya tidak mau capek lagi, diapun menerima saja.
“ Dan kau, Erica—oh, Erica—“ ujarnya membelai rambutku dengan tangannya yang kecil dan berkeriput. Aku hanya tersenyum. “ Aku minta maaf atas apa yang aku perbuat untukmu dahulu- tapi lihat? Aku benar, kalian bertemu kembali- dan kalian akan bahagia selamanya! Sama seperti sebelum-sebelumnya- dan yang akan datang nanti—“
“ Oh bukan bukan bukan!” Austin buru-buru mengoreksi si nenek. “ Aku, dan….” Dia memandangku, berusaha memutuskan mau memakai nama apa. “ Erica—tidak bersama, nek. Kami baru saja kenal—“
“ Tidak!” nenek itu menahan napasnya, “ Bagaimana mungkin? Kalian ditakdirkan bersama! Selamanya, sampai kapanpun—aku tahu itu, aku tahu—“ ujarnya histeris. Aku menyentuh bahu si nenek.
“ Tidak- aku dan Austin tidak bersama, nek—Liam, maksudku—“ kataku. si nenek itu lalu memandang iba kearahku. Dia menyentuh kedua pipiku lalu tersenyum iba.
“ Percayalah, Erica—kau dan Liam, akan bersama, selamanya- sampai kapanpun, aku tahu itu—tidak ada yang bisa memisahkan kalian—“ aku dan Austin tidak tahu lagi harus berkata apa. Aku hanya tersenyum dan memutuskan untuk mengangguk.
“ Terimakasih, nek- ini sudah agak sore, kami harus kembali—“ ujarku diikuti oleh anggukan Austin. Nenek itu memeluk kami berdua sebelum kami meninggalkannya, lalu saat kami menjauh dia memanggil kami lagi. Aku dan Austin menoleh.
“ Perjuangkan cintamu, Liam- aku tahu kau hanya bisa mencintai Erica, dan Erica- janganlah takut pada apapun, karena biar bagaimanapun, siapapun bertindak jahat kepada kalian berdua- kalian akan selalu bersama—“ ujarnya, “ Di setiap waktu—“ lanjutnya sambil tersenyum hangat. Aku dan Austin hanya tersenyum akhirnya dan buru-buru berlari menjauh dari gubuk si nenek. Ketika setengah menjauhi gubuk si nenek, Austin tertawa sendiri.
“ Kau ikutan gila?” tanyaku. Dia menggeleng.
“ Baru pertama kali aku mendengar orang gila, berbicara seperti itu—“ ujarnya geli, “ dan lagi- semuanya seperti dongeng—“ aku ikutan tertawa.
“ Yeah, tapi hidup ini bukan dongeng, Austin—“ kami akhirnya sampai didekat perkemahan kami. “ didunia ini- Happily never after…” ujarku sambil berjalan menjauhi austin yang masih tertawa kecil, lalu dia kembali mengambil jalan kearah kemahnya.

*

Api dari kayu-kayu yang dikumpulkan dan dibakar tadi sudah menggunung dan menghangatkan seluruh orang yang berada disekitarnya. Aku duduk dipinggiran, bersama dengan sahabat-sahabatku yang sibuk dengan ipod dan handphone mereka masing-masing. Beberapa dari yang lain bernyanyi-nyanyi dengan gitar mereka sambil tertawa-tawa. Disisi lain, aku melihat Austin- yang sedang asyik bermesraan dengan Lucy, yang mengenakan pakaian pendek, sengaja memancing perhatian kekasihnya. Aku bingung. Udara sedingin ini dan dia masih bisa memakai celana sependek itu. Kulihat diriku sendiri. Yep. Tidak menarik sama sekali. Semuanya terbungkus dengan celana longgar panjangku dan jaket yang melindungi tubuhku. Aku menghela nafas. Kepalaku masih agak pusing sehabis kembali dari hutan tadi dan bertemu dengan nenek itu. Lucu rasanya dia mengira aku adalah Erica. Siapa pula Erica itu? Aku jadi ingin tahu bagaimana wajahnya. Apakah mirip sekali denganku.
Angin malam semakin kencang berhembus, dan kehangatan mulai agak pudar. Aku menurunkan wajahku agar terlindungi oleh syal yang aku kenakan. Kulihat Jake dan Luke sedang bersenandung mengikuti irama gitar yang mengalun, Reina memejamkan matanya sambil bergoyang-goyang dan terkadang bergumam mengikuti lirik lagu yang dinyanyikan yang lain. Aku menghela nafas lagi. Perhatianku kembali terusik dengan adegan Austin dan  Lucy yang masih bermesraan. Terkadang Lucy membisikkan sesuatu ditelinga Austin dan Austin tersenyum- mereka kembali berciuman, dan Austin mulai menjelajah tubuh Lucy. Aku memalingkan wajahku, tidak kuat melihatnya. Seperti melihat film porno secara langsung. Aku sudah lupa dengan kejadian Reina yang menyeretku tadi, dan aku sama sekali tidak ingin mendiskusikannya- karena aku terlalu takut. Sehabis aku kembali dari hutan reaksi Reina hanya, “ HEI! KAU TIDAK MENGAJAKKU?” lalu dia memukul lenganku, “ Bantu aku cepat mendirikan tenda—“ katanya, sama sekali tidak bertanya- dan aku juga tidak bicara apa-apa. Tapi Jake dan Luke menyadari kalau aku pucat. Mereka sempat bertanya padaku kenapa dan aku hanya bilang aku merasa pusing. Alhasil, mereka menyuruhku duduk saja- tidak usah membantu mereka. Beruntung bagiku.
“ Kenapa kau tidak suka berkemah?” tanya Reina tiba-tiba setelah kami hanya duduk diam sekian lama
“  Tidak tahu- gelap…” jawabku asal. “ Banyak nyamuk- dan dekat hutan—“ kataku sambil mengingat kejadian aneh didalam hutan tersebut bersama dengan gubuk si nenek itu.
“ Lalu apa lagi yang kau tidak sukai?” tanya Reina. Aku berpikir. Sebenarnya cukup banyak, dan agak aneh menurutku.
“ Berkuda—“ jawabku, Reina mengerutkan alisnya bingung
“ Kau pernah berkuda?”
“ Anehnya, tidak—“ kataku, jadi merasa aneh sendiri. “ Dan aku takut dengan—Umm, kalau orang menatapku terlalu dalam—“ ujarku lagi. Reina tambah mengerutkan alisnya.
“ Benarkah? Kau aneh, Hale—“ dia tertawa kecil. Aku juga ikutan tertawa. Memang benar, aku tidak suka kalau dipandangi oleh orang, apalagi kalau mereka menatap mataku dalam-dalam sambil berdiri didepanku, aku tidak suka- dan sekaligus pipiku langsung merona. Demi Tuhan, apa yang salah denganku? Aku baru menyadarinya.
“ Kau?” tanyaku kepada Reina. “ Apa phobia-mu?”
“ Seperti wajarnya phobia orang-orang biasa, aku takut ular—dan aku takut ketinggian—“ terdengar sangat wajar bagiku. Lama-lama aku menyadari aku tidak normal. Berkemah saja belum pernah. Masuk kehutan saja baru tadi. Berkuda saja belum pernah. Tapi aku merasa takut. Dan soal dipandangi dalam oleh orang lain, sepertinya hanya sekali dua kali- itupun ayahku atau guruku yang biasanya ingin bicara serius denganku, tapi aku merasa tidak nyaman. Aku tidak sengaja menoleh lagi kearah Austin dan Lucy. Mereka masih bermesraan- membuatku sedikit berfantasi tentang calon kekasihku nanti. Menyenangkan sepertinya bisa seperti itu, diudara yang mendukung seperti ini. Aku menghela nafas. Kuperhatikan dari jauh lengan Austin yang menyentuh tubuh Lucy, kekar dan kokoh. Sesekali austin menatap Lucy yang tersenyum, lalu memulainya lagi.
“ Tidak baik memperhatikan orang sedang bermesraan seperti itu—“ kata Jake yang mengagetkanku
“ Bukan salahku- mereka melakukannya didepan umum—“ ujarku membuat Jake tertawa. “ Sudah berapa lama mereka bersama?” tanyaku penasaran.
“ Setahun sepertinya—“ ujar Luke. “ Aku tidak pernah mengerti, mengapa Austin betah dengannya—“
“ Kau lihat saja tubuhnya—“ Reina nyeletuk membuatku tersenyum
“ Ah, bukan. Maksudku, sifat Lucy benar-benar ugh.. bagaimana mungkin seseorang bisa tahan dengannya?”
“ Mungkin sifatnya diranjang beda—“ timpal Reina lagi dan dia cekikikan membuatku memukul pahanya pelan, tapi aku ikut tertawa. Jake dan Luke juga tersenyum mendengarnya.
“ Sejahat itukah dia?” tanyaku
“ Kau rasakan saja sendiri—“
“ Oh, hell no—“ ujarku buru-buru. Aku memperhatikan mereka lagi.
“ Kudengar, Lucy hanya memperalat kekayaan Austin saja…” kata Luke tiba-tiba. Semua kuping kami langsung serius mendekat mendengarkan. “ Lucy bukanlah anak kandung dari keluarganya, dan mereka bukan orang kaya- jadi, katanya, dia ingin memperalat Austin demi kesenangannya saja—“
“ Austin tahu itu?” tanyaku
“ Semua tahu- tapi tidak dengan Austin—“ katanya. “ Malang sekali lelaki itu—“
“ Well, tidak adakah yang memberi tahunya?” tanyaku
“ Siapa yang berani menyebarkan gossip seperti itu, tentang Lucy apalagi?” ujar Reina. Aku mengangguk-angguk mengerti.
“ Apalagi, Austin sayang sekali padanya, jadi tidak ada yang berani—“ kata Luke lagi. Kami semua menghela nafas bersama-sama. Cinta benar-benar membutakan segalanya. Kasihan sekali Austin. Padahal masih banyak wanita yang lebih baik dari Lucy, dan lebih baik untuknya- tetapi dia terikat mati bersama Lucy- pikirku lagi sebelum akhirnya aku ikut menyanyikan lagu yang sedang dikumandangkan dan berusaha untuk tidak melirik kearah mereka lagi.

*

Erica sudah tidak tahan lagi, akhirnya malam itu dia membawa keluar selimut dan jubah bertudungnya juga bantalnya dan berjalan kearah kamar Liam.
“ Hai-“ katanya saat Liam membuka pintu, Liam tersenyum melihat Erica yang nyengir dengan bawaannya yang banyak. Dia tidak banyak bertanya, melainkan hanya menyuruhnya untuk masuk. Erica lalu menaruh bantal dan selimutnya dikasur kecil Liam, dan dia membuka tudungnya. Erica meniup niup tangannya agar hangat karena diluar tadi dingin sekali.
“ Teddy masih saja menyabotase kamarmu?” tanya Liam sambil melemparkan kayu kedalam perapian. Erica berjongkok didepan perapian lalu menghangatkan diri. Dia menghela nafas merasakan hangatnya api yang menjalar ketubuhnya.
“ Tidak apa-apa aku menginap disini malam ini?” tanya Erica sambil menoleh kearah Liam yang sedang membereskan kasurnya, sambil mengangkut bantal dan selimutnya dari tempat tidurnya lalu merapihkan bantal dan selimut Erica.
“ Aku kan sudah bilang, tidak masalah..” katanya, lalu dia duduk ditepi ranjang- memperhatikan Erica yang masih menghangatkan tubuhnya. Erica lalu bangkit berdiri dan membuka tali jubahnya, menanggalkan diri hanya dengan pakaian tidurnya, yang membuat Liam memalingkan wajahnya- dia tidak pernah melihat wanita dalam potongan pakaian seperti itu, dan kali ini semuanya terpampang didepan wajahnya. Erica yang tidak memperhatikan langsung naik ketempat tidur dan menyelimuti setengah tubuhnya, Liam masih tidak melihat kearahnya.
“ Kau tidur dimana?” tanya Erica, membuat Liam akhirnya menoleh. Dia bernafas lega setelah melihat sebagian tubuh sang putri sudah terbungkus dengan selimut sehingga dia tidak memikirkan hal-hal aneh lagi.
“ Dikursi- dilantai—aku dimana saja bisa..” jawabnya, membuat Erica tersenyum.
“ Terimakasih, ya—“ erica meraih tangan Liam. Liam menunduk memperhatikan jari mereka yang bertautan. Dia tersenyum dan mempererat genggamannya.
“ Tidurlah, Erica- ini sudah malam..” katanya, lalu mengelus kepala Erica. Erica menurunkan tubuhnya dan menyelimuti tubuhnya sampai batas leher. Dia masih memperhatikan Liam yang menaruh bantal dan selimutnya dikursi, lalu mulai naik kekursi dan menyelimuti dirinya sendiri. Mereka saling berpandangan berseberangan. Mata Liam seakan tidak bisa lepas dari wajah Erica. Erica tidak suka jika diperhatikan sedalam itu, dia lalu membalikkan tubuhnya agar tidak bisa lagi memandangi wajah Liam. Liam yang tahu maksud dari sang putri hanya tersenyum puas, berhasil mengerjai sang putri.
Keesokan paginya, Erica sudah bangun terlebih dahulu. Dia melihat Liam masih tertidur pulas dikursi. Harus diakui, ini adalah tidur paling puas yang pernah dirasakan Erica setelah berhari-hari terganggu. Walau ranjangnya tidak seempuk ranjang dikamarnya, setidaknya dia bisa berbaring. Erica mengulet sebentar lalu dia turun dari ranjang untuk melemparkan kayu kedalam perapian, dan mulai duduk menghangatkan diri. Sesekali dia menoleh, memperhatikan Liam yang masih tertidur. Tiba-tiba pikirannya teringat, dia harus segera kembali kekamarnya. Tanpa banyak suara lagi, dia memakai jubahnya, lalu membawa semua barangnya kembali kekamar. Seperti dugaannya, Teddy sudah pergi dan Ashley masih tertidur pulas. Erica tidak sempat mengucapkan selamat tinggal kepada Liam. Mungkin sehabis makan dia akan kesana sebentar untuk mengucapkan terimakasih dan minta maaf tidak mengucapkan selamat tinggal.
Dan benarlah, setelah makan pagi- erica langsung menuju kamar Liam kembali. Tapi tidak ada orang didalamnya. Dia menoleh kesana kemari mencari kemana Liam, tetapi tidak ada- dan ruangan ini kecil, tidak mungkin Liam bersembunyi. Saat masih sibuk mencari, bunyi pintu dibuka mengagetkan Erica.
“ Erica?”
“ Liam!” dia menghela nafas lega. Liam yang kelihatan lelah, mungkin habis memberi makan kuda dan sebagainya, menaruh handuk yang dia kalungkan dilehernya lalu mengelap keringatnya. Erica memperhatikan wajah Liam saat dia berkeringat, ada sedikit desiran didalam dada Erica melihat Liam yang berkeringat, wajahnya yang kemerahan dan bibirnya yang merah.
“ Umm, aku minta maaf karena aku meninggalkanmu tanpa pamit dahulu sebelumnya—“ katanya
“ Oh- iya tidak apa-apa, kau harus segera kembali kan..” jawab Liam sambil tersenyum. Erica duduk ditepi ranjang Liam. Liam menaruh handuknya lalu dia dengan santai membuka bajunya, membuat Erica memekik menutup mata. Belum bajunya tanggal dari tubuhnya, Liam berhenti.
“ Oh erica, kau sudah besar dan masih memekik melihat lelaki membuka baju?” dia tertawa melihat reaksi Erica. Erica masih menutup matanya.
“ Kau harus tahu sopan santun, Liam! Pakai bajumu kembali—“
“ Tapi ini basah—“ protes Liam, bajunya masih menggelantung dilehernya
“ Aku tidak peduli-“ Erica pelan pelan membuka matanya, mengintip dari sela-sela tangannya. 
“ Baiklah—“ Liam kembalii menurunkan pakaiannya dan Erica membuka mata, merasa lega. Liam duduk disebelah Erica. Wajah erica yang masih memerah membuat Liam tersenyum.
“ Siapa suruh kau disini—“
“ Jadi kau tidak suka aku bermain kemari?” 
“ Bukan—“ kata Liam, “ Aku senang- tapi, lihat- bajuku basah— bagaimana kalau kau, menutup matamu, sementara aku mengganti bajuku, huh?” katanya. Erica memandang wajah Liam dan bajunya yang memang basah oleh keringat. 
“ Oke- lakukan dengan cepat..” Erica lalu menutup matanya dan menutupinya dengan kedua tangannya. Liam menggeleng-geleng tertawa, dia bangun dari duduknya lalu membuka bajunya. Sesaat terpikir olehnya untuk menggoda Erica, mengatakan bahwa dia sudah selesai. Dia ingin tahu bagaimana reaksi wanita ini.
“ Oke, sudah!” katanya dan Erica perlahan membuka matanya.
“ OH! DEMI TUHAN, LIAM!” teriak Erica lalu dia bangkit berdiri dan buru-buru keluar dari kamar Liam, meninggalkan Liam yang terpingkal-pingkal tertawa melihat reaksi Erica.

*

Seharian Erica mendiamkan Liam, tidak bertemu dengannya dan sebagainya. Dia masih kesal kepada Liam karena menggodanya. Erica memutuskan untuk berlatih memanah. Dibidiknya sasaran diseberang lalu dilepaskannya anak panah tersebut, sekali lagi- tepat ditengah. Erica tersenyum puas. Dia memang pandai dalam urusan memanah, sejak awal diajari. Erica mengambil busurnya sekali lagi lalu membidik.
“ Mau seharian mengabaikanku?” sebuah suara dari belakang membuat Erica tidak jadi melepaskan busurnya dan menoleh. Liam dengan senyumnya yang menggoda berjalan kearahnya. Erica lalu melepaskan busurnya, dan sekali lagi melesat. Tepat ditengah. “ Wow- kau semakin hebat—“ ujar Liam sambil melihat kearah seberang.
“ Menjauhlah dariku, aku bisa memanahmu—“ ujar Erica sambil mengambil anak panahnya lagi. Liam menahan gerakan tangan Erica, membuat Erica memandang wajah Liam. Lelaki itu sekali lagi memandangnya dalam-dalam. “ apa?” tanyanya.
“ Maafkan aku- aku tidak sopan terhadapmu tadi..” kata Liam, lalu menurunkan tangan Erica yang menggenggam anak panah. Liam menarik Erica agar lebih dekat kepadanya. Erica menahan nafas saat tercium aroma khas Liam dihidungnya, membuatnya ingin sekali menyentuh Liam.
“ Kau mau memaafkanku?” tanya Liam lagi, dengan nada yang lebih rendah. Erica mendongak memandang wajah Liam. Dia memperhatikan lekuk bibirnya lalu menunduk lagi, tidak mau berpikir macam-macam.
“ Jangan lakukan lagi—“ kata Erica, disambut dengan Liam yang mengecup keningnya. Erica tertawa kecil lalu melepaskan diri dan kembali membidik. Tak! Kena, tepat ditengah kembali. 
“ Malam ini aku mau kekota—“ ujar Liam, “ Bertemu dengan teman lama, berpesta sedikit—kau…. Mau ikut?” tanya Liam agak ragu-ragu. Sebentar? Apa liam mengajaknya untuk pergi berdua saja? Apa dia mengajakku kencan? Pikir Erica. Dia berdehem.
“ Malam?” tanya Erica sambil menyelipkan rambut dibelakang telinganya. Liam mengangguk.
“ Yeah- tidak apa kalau kau tidak mau ikut—“
“ Hei, aku mau—“ kata Erica memotong. Liam memandangnya senang.
“ Benarkah?”
“ Teddy pasti datang lagi, dan aku yakin aku tidak bisa tidur- lebih baik, berpesta- walau aku tidak tahu, pesta apa—“ dia merenung. Liam memperhatikan. 
“ Jadi?”
“ Yeah- aku ikut—“ kata Erica riang, “ Hanya saja, aku harus bilang pada ayahku—“
“ Aku sudah bilang sebenarnya—“
“ Benarkah?” Liam mengangguk.
“ Lalu, dia bilang apa?”
“ Katanya tidak apa, asal aku menjagamu dan mengantarmu pulang dengan selamat—lebih lagi, tempatnya tidak jauh—“ kata Liam
“ Oke—bagaimana dengan Ash? Dia bertanya, atau kau mengajaknya?” tanya Erica
“ Tidak- aku hanya mengajakmu—“ kata Liam membuat Erica senang. Dia merasa spesial.
“ Oke—“ katanya tersenyum.

*

“ Liam!” Erica mendesis saat mereka memasuki bar tempat pesta diadakan. Tempatnya sangat ramai dan bising. Semuanya kebanyakan orang yang sudah dewasa, tidak ada anak seumuran mereka. Teman Liam pun sebenarnya sudah pada berumur, Erica menduga mereka adalah teman ayahnya. Rupanya salah satu dari temannya ini ada yang berulang tahun- jadi mereka berpesta gila-gilaan malam ini. Erica tidak membuka jubahnya, dia merasa takut. Sementara liam terus menerus tidak melepaskan tangannya dari Erica, dia tidak mau seorangpun menyentuhnya.
“ Kapan kita pulang?” tanya erica saat Liam menoleh kearahnya
“ Sebentar lagi, oke? Kau tidak suka?” tanya Liam. Erica mendelik.
“ Menurutmu?” ujarnya kesal, membuat Liam hanya mengangguk-angguk.
Tak lama mereka pamit untuk pulang. Erica dan Liam berjalan kembali menuju istana. Diperjalanan pulang, tangan Liam selalu setia menggenggam tangan Erica. Membuatnya tetap hangat. Dia sedikitpun tidak merasa canggung dan Erica senang bukan main.
“ Kau mau tidur disini lagi?” tanya Liam saat sudah mengantar Erica masuk kedalam dapur
“ Tidak usah- aku bisa tidur dimanapun, kemarin aku sudah cukup tidur—jadi kurasa, aku bisa begadang sedikit—“ ujarnya sambil tertawa.
“ Oke kalau begitu—“ Liam melepaskan genggaman tangannya. Erica serasa kehilangan saat Liam melepaskan tanganya, tangannya hanya mengepal saja, tidak berani bicara. “ Selamat malam, Erica—“ ujar Liam. “ Maaf, pestanya tidak sebesar pesta ulangtahunmu atau pesta kerajaan—“ Erica tertawa kecil.
“ Aku senang bisa keluar—“ ungkapnya. Liam dan Erica kembali berpandangan. Mereka tidak bicara apa-apa, hanya bertatapan. Liam menatapnya kembali seperti ingin berbicara sesuatu, Erica menunduk tidak sanggup memandang matanya.
“ Bisakah kau melihatku, Erica?” pinta Liam tiba-tiba saat Erica menunduk.
“ Hmm?” gumamnya sambil menatap wajah Liam lagi. Liam mendekat kearah Erica. Tubuh mereka berdekatan, membuat sensasi hangat satu sama lain. “ Kau selalu menunduk ketika aku menatapmu—“ kata Liam, “ Bisa kau hentikan itu?” tanyanya
“ Aku tidak suka diperhatikan seperti itu—“ ungkapnya merengek. “ Aku merasa, kau memperhatikanku lekat- lekat, seakan ada yang aneh dalam diriku- aku tidak suka..” Liam tertawa.
“ Hei-“ dia menyentuh pipi erica, membuat pipi sang putri merona dan memanas. “ Aku tidak memperhatikanmu karena ada yang aneh- tidak sama sekali, hanya saja- sudah kubilang, kau suka atau tidak- aku akan terus memandangmu seperti ini..” katanya. Erica mendongak menatap wajah liam. Dia bisa merasakan pipinya memanas. Apakah Liam bisa merasakan hal tersebut? Oh tidak. Bagaimana kalau dia bisa merasakan pipiku yang memanas?- pikir Erica.
“ Kau harus mengubah kebiasaanmu—“
“ Dan kalau kau tidak suka—“ Liam menghentikan ucapan Erica. “ Kau bisa menutup matamu---“ lanjutnya. Erica menutup matanya.
“ Seperti ini?” tanya Erica membuat liam tertawa.
“ Ya, seperti itu—“ mata Erica masih tertutup. “ Tapi—“ ujarnya mendekati wajah sang putri dengan matanya yang tertutup. “ Aku akan melakukan ini—“ Liam lalu menempelkan bibirnya yang dingin kepada bibir Erica. Membuat erica tersentak sedikit, tetapi Liam meraih tubuhnya dan memeluknya. Mereka berdua larut dalam ciuman mesra. Erica merasakan wajahnya semakin memanas, dia tidak bisa menolak. Ini pertama kalinya seorang pria menciumnya. Pria yang luar biasa tampan, menciumnya. Erica menyentuh kedua pipi Liam, sementara Liam memeluknya. Dengan enggan Liam menjauhkan bibirnya lalu Erica membuka kedua matanya. Dia berusaha mengatur nafas, sementara  Liam tersenyum kearahnya.
“ Nah- bagaimana menurutmu? Pilihlah dengan bijak, Erica-- “ ujar Liam sambil mengusap rambut Erica dan tersenyum.

- to be continued -