First - 1


Pernahkah aku merasakan jatuh cinta? Jawabannya adalah tidak.
Aku adalah anak perempuan yang paling aneh, begitulah setidaknya kata kakak perempuanku, Naomi.
“Kau ini wanita, masa iya tidak ada satupun cowok yang kau taksir?” tanyanya setiap kali aku  hanya membaca buku atau menonton televisi bersama mum saat hari Jumat malam sementara dirinya selalu keluar berpesta dengan para senior yang tampan.
Jawabanku biasanya hanyalah mengangkat bahu, atau hanya memandangnya beberapa saat dari atas kebawah, berusaha memberikannya tatapan sejijik mungkin kearahnya dan melengos begitu saja sampai akhirnya Naomi memutar bola matanya dan berhenti mengangguku.
Biasanya setelah itu, mum hanya menoleh kearahku dan berkata, “Kalau kau ada acara pergi dengan temanmu atau para lelaki, pergilah..” kata mum dengan senyum paling tulus yang aku pernah lihat.
“Mum, aku  tidak akan membiarkan mum sendirian..” ujarku biasanya sambil menggenggam kedua tangannya. “Aku tidak akan membiarkanmu sendirian, ayo kita nonton acara model yang terkenal itu. Siapa  jagoanmu yang pirang itu?”
“Tifanny..”
“Oh ya, Tifanny..”jawabku. aku benci dia, tambahku dalam hati.

[]

Seperti hari sekolah biasa, Naomi dan aku pergi bersama-sama kesekolah. Aku agak risih sebenarnya harus satu sekolah dengannya. Kebanyakan orang membandingkan kami. Disetiap awal semester aku selalu mendengar “Oh, kau adik Naomi? Benarkah?” ugh. Maksudku, aku tahu aku tidak seperti dia. Mengenakan make-up dan sepatu hak tinggi, juga baju-baju berbelahan pendek yang bisa membuat para lelaki melihatmu tanpa berkedip, tapi setidaknya aku tidak usah mengulang kelas aljabar tahun ini seperti Naomi yang membuat dirinya satu kelas denganku tahun ini. Haha- aku akan mempermalukannya.
“Oke, Haley- dengar, kita tidak bicara dikelas. Kau tidak tahu siapa aku dan aku tidak tahu siapa kau..”
“Tapi semua orang tahu aku ini adikmu, dasar idiot..”ujarku datar. Naomi mengulum bibirnya sendiri.
“Seperti orang ingat kau saja—“ jawabnya sambil mengibaskan tangan lalu berjalan mendahuluiku dikoridor. “Pokoknya, duduklah menjauh dariku—“ dia hanya menoleh sedikit sambil mengatakannya lalu berlalu. Aku berdiri sendirian didepan pintu masuk berusaha untuk mengatakan kepada diriku bahwa semua akan baik-baik saja. Aku yakin, tidak.
Aku berjalan kedepan loker baruku ditahun keduaku di sma dan mengelusnya. Cat-nya masih baru, berwarna abu-abu muda dan ada nomor ‘23’ didepannya. Aku membuka lokerku tersebut dengan kunciku dan isinya masih kosong, jadi kumasukan beberapa buku dan bawaanku. Setelah itu aku hanya membawa beberapa buku hanya untuk pelajaran pertama sampai istirahat makan siang.
“Oh astaga. Bisakah aku mengganti jadwalku dengan kelas olahraga dihari pertama ini? Sungguh deh, matematika?” aku mendengar dari kejauhan seorang anak lelaki mengomel dengan gayanya yang serampangan kepada kepala sekolahku. Aku memperhatikan mereka tanpa aku sadari. Si anak lelaki terus menerus menunjuk-nunjuk jadwal kelas yang dipegangnya dan menuntut untuk menukar jadwalnya. Sang kepala sekolah berkacak pinggang menjelaskan bahwa kelas sudah ditetapkan dan tidak bisa diganti. Wajahnya sudah kelihatan tidak sabar, dan aku yakin beberapa menit lagi jika anak lelaki itu tidak berhenti mengoceh, dia akan terkena hukuman.
“Tukar saja jadwalku dengan siapapun. Demi Tuhan, aku tidak mau masuk kelas matematika! Setidaknya tidak pada hari pertamaku! Ini tidak—“
“Jika aku mendengar suaramu lagi berteriak kepadaku, kau akan terkena hukuman sepulang sekolah Tuan Meyers!”Wow. dia benar-benar sudah jengkel rupanya dengan anak lelaki itu.
“Aku tidak berteriak..” si lelaki itu memelankan suaranya, aku tak sengaja terkikik kecil, dia berteriak sepanjang dia bicara sedari tadi- dan dia kelihatan agak takut sekarang. “Aku hanya ingin minta kelasku dipindahkan. Bukankah siswa berhak mendapatkan hak-nya untuk belajar dan menimba ilmu disekolah ini, Pak? Nah, aku meminta hak-ku..”Sang kepala sekolah memijat keningnya, upaya-nya mengancam untuk menghukum anak lelaki itu kelihatannya sia-sia. Entah mengapa aku jadi tertarik. Aku bersandar dilokerku sambil mendekap buku-buku-ku dan mendengarkan.
“Austin Jonathan Meyers, ya- sebagai siswa anda berhak mendapat hak, tapi ini juga hak dari sekolah untuk membuatmu tetap tinggal dikelas matematika pada jam pertama. Percayalah, satu jam dan setelah itu kau bisa kekelas selanjutnya, yaitu kelas yang kau mau, olahraga-“ aku mengecek kelasku. Olahraga adalah kelas kedua-ku hari ini. Aku satu kelas dengannya.
“Aku mengerti hanya berbeda satu jam, Pak- tapi ini masih pagi dan menurut yang aku tahu, olahraga sangat penting dilakukan sebelum melakukan aktivitas lainnya..”
“Cukup!”Kepala sekolah berteriak agak keras sehingga membuatku dan seluruh orang yang ada disekitar kami menoleh dan tersadar bahwa dirinya dan lelaki itu ada diantara mereka sedari tadi. Lelaki itu agak terlonjak dan terkejut. “Jika aku mendengar satu kata lagi keluar dari mulutmu, maka kau akan bertemu denganku sepulang sekolah Tuan Meyers. Ini hari pertamamu disekolah ini dan kau kira kau bisa seenaknya saja mengatur apa yang sudah aku lakukan dengan sekolahku dan kurikulumku selama bertahun-tahun?”lelaki itu terdiam, tapi wajahnya masih menatap sang kepala sekolah dengan keras.
“Aku hanya meminta hak-ku, pak..”
“Laksanakan dahulu kewajibanmu kalau begitu. Masuk kekelas matematika, dan setelah itu kau bisa olahraga- seperti yang ada dijadwalmu..”lelaki itu hanya menatap datar kertas jadwal yang ada ditangannya. Bel sudah berbunyi dan aku terlonjak saat mendengarnya. Rupanya aku terlalu asik memperhatikan mereka. Astaga, aku benar-benar tidak punya kehidupan. Kulihat sang kepala sekolah akhirnya membiarkan lelaki itu berdiri disana sendirian dan dia masuk keruangannya. Orang-orang mulai sibuk mengambil buku mereka masing-masing dan mulai berhamburan masuk kedalam ruangan kelas. Aku masih seperti terhipnotis ingin tahu apa yang dipikirkan lelaki itu, diam sana, bersandar pada lokerku. Apakah dia marah? Aku tidak terlalu pandai membaca mimik wajah seseorang. Kulihat dia hanya memasukan kertas jadwal tersebut kedalam salah satu buku yang dibawanya lalu membetulkan letak ranselnya dan mulai berjalan dengan enggan.
Aku masih tidak sadar saat dia berjalan menuju kearahku sampai akhirnya dia melihatku sekilas dan berhenti, tepat didepan wajahku.
“Menurutmu apa yang akan kulakukan sekarang?” tanyanya tiba-tiba saat berada didepanku. Aku mengerjap dan diam beberapa saat, terlalu terkejut untuk bergerak dan membuka mulut. Aku hanya berdiri tegak disana dan menggigit bibir bawahku.
“Apa?”tanyaku masih dengan suasana bingung.
“Kau mendengarkan sedari tadi, aku melihatmu dari sudut mataku—“ dia menunjuk sudut matanya sambil tersenyum jahil. “Jadi, bagaimana menurutmu- aku harus apa?” katanya.
“Ke..” aku berdehem karena leherku tercekat. Apa yang aku lakukan? Aku sudah terlambat menuju kelas pertamaku. “Kenapa kau bertanya kepadaku?”
“Karena kau terlihat pintar- dan, kurasa kau sedikit peduli, karena kau mendengarkan perdebatanku dengan Simon tadi-“ dia bahkan tidak memanggilnya dengan kata ‘Pak Simon’ astaga.
“Kau salah. Aku hanya bosan..” jawabku datar. Dia mengangguk dan tersenyum menatapku.
“Bosan ya?”tanyanya. aku mengangguk. Dia maju kearahku dan menunduk untuk menatapku lebih jauh. Ya Tuhan, dari jauh dia terlihat biasa, tapi begitu sedekat ini, dia…
“Kau masih bosan sekarang?”aku mengerutkan dahiku. “Karena, kau masih disini- sementara kelas jam pertama sudah dimulai. Dan oh- sepertinya kau terlambat.. Lihat!”dia menyodorkan jam tangannya kearahku. Seketika aku tersadar. Aku membelakakan mataku dan berlari tanpa bilang apa-apa padanya.
“Sampai bertemu di kelas hukuman nanti!”teriaknya. Kudengar dari belakangku dia tertawa. Sialan, dia menertawaiku. Oh lebih menyebalkannya lagi, aku terlambat dihari pertamaku.

[]

Hukuman sepulang sekolah. Brengsek, Naomi menertawaiku habis-habisan karena ini pertama kalinya aku kena hukuman sepulang sekolah. Dan ini adalah hari pertamaku. Astaga. Bisa kubayangkan dia pulang kerumah dan mengadu pada ibuku bahwa aku kena hukuman. Dan tidak kemungkinan dia akan mengarang cerita mengapa aku bisa dihukum. Hah, mum akan memarahiku- itu sudah pasti. Aku tidak mau mengecewakan mum.
Semenjak dad meninggalkan mum untuk wanita lain yang lebih muda 2 tahun yang lalu aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan pernah meninggalkan mum, sedikitpun dan tidak akan pernah walau sekecil apapun membuat mum kecewa. Mum wanita yang kuat, dia sudah tahu dad berselingkuh semenjak beberapa tahun yang lalu dan memutuskan untuk berusaha tegar dan tidak peduli demi aku dan Naomi.
Aku dan Naomi berhutang besar pada mum- karena itulah aku berjanji pada diriku sendiri bahwa sebisa mungkin setiap hari aku menemaninya disetiap aku ada kesempatan, walau aku lelah sekalipun.
“Dan kau terlambat lagi, Haley-“ suara Thomas, guru jaga hukuman sepulang sekolah hari ini di perpustakaan membuatku ingin berteriak kesal, tapi aku hanya berlalu dan mencari tempat duduk terdekat. Thomas mendekatiku dan memberikanku sehelai kertas penuh soal yang kurasa harus kujawab sebelum kelas ini selesai. Entahlah, aku tidak pernah mengalami kelas hukuman.
“Kerjakan dengan tenang, Nyonya Lydia yang akan mengawasi kalian..” aku melirik kearah Lydia, perempuan paruh baya penjaga perpustakaan kami dan tersenyum. Tidak masalah, aku kenal dengannya. Thomas meninggalkan ruangan. Kulihat sekeliling ada sekitar 10 anak yang ada. Bagus, aku berada didalam daftar 10 anak ternakal disekolah ini. Lydia membaca dengan tenang buku sejarah yang dipangkunya, sama sekali tidak memperdulikan kami.
Aku mulai membaca soalku dan tersenyum. Ini cukup mudah. Dengan cepat kutulis jawabanku dan berpindah  kenomor selanjutnya.
“Hei—“ seseorang pindah kesebelahku dan begitu aku menoleh, ternyata anak lelaki tadi. Dia seperti sehabis latihan basket, karena dia terlihat begitu berantakan dan kausnya basah. Menjijikan, dia bahkan belum mandi. Aku menegakkan dudukku begitu sadar dia duduk didekatku.
“Haha, kau kena hukuman juga..” ujarnya sambil menunjukku. Dia terlihat begitu puas tahu bahwa aku mengikuti kelas ini juga. Ini semua karenamu, ujarku dalam hati tapi aku hanya menghela nafas berusaha mengabaikannya, dan mulai membaca soal berikutnya. Lelaki itu ikutan membaca kertasku. “Wow, kau mengerti itu?”tanyanya sambil menunjuk jawaban nomor 1 yang sudah kujawab. Dia lalu menyalinnya.
“Hei!” aku menarik kertasku dan menutupinya dengan lenganku supaya dia tidak bisa menyontek. Lelaki itu kelihatan bingung. “Cari jawabanmu sendiri!” ujarku lagi lalu bergeser menjauh darinya. Aku mulai menulis lagi. Kuperhatikan dari sudut mataku lelaki itu memainkan pena dijari-jarinya sambil memandangku.
“Pelit sekali sih..”katanya. aku tidak membalas. Aku masih sibuk menulis untuk jawaban nomor 2 dan memikirkan jawaban yang lebih pasti. Beberapa saat kemudian lelaki itu menarik bangkunya dan mendekat kembali kepadaku.
“Kau tahu kan, ini bukan ujian- jadi kau bisa memberikan jawabanmu juga kepadaku. Tidak akan ada yang memeriksa jawaban kita. Ini hanya kelas hukuman..” katanya. aku berhenti menulis untuk memandangnya. Apa dia serius? Kita mengerjakan ini hanya untuk tidak diperiksa. “Kau tidak pernah mengikuti hukuman seperti ini ya?” dari raut wajahku bisa ditebak bahwa aku memang tidak pernah. Dia tertawa pelan lalu mengambil pena dari tanganku dan menaruhnya dimeja. “Santai saja, jawab saja semaumu beberapa saat sebelum Thomas datang- kau lihat anak-anak lain..”lelaki itu menoleh kebelakang, aku mengikutinya. Beberapa dari mereka malahan kebanyakan sibuk bermain dengan ponsel mereka, melamun dan ada yang tertidur. “Lihat, tidak ada yang peduli—“ katanya lalu meraih kertasku dan menumpuknya jadi satu dengan miliknya. Aku tidak menjawab apa-apa, melainkan hanya menurut saja. Sepertinya dia sudah sering mengikuti hukuman seperti ini. Dan sepertinya, dia juga benar- tidak ada yang peduli.
“Ngomong-ngomong, hei- kita bertemu lagi! Menyenangkan rasanya melihat wajah familiar dihari pertamaku disekolah ini!”dia terlihat tulus mengucapkannya. Dia gembira. Melihatku.
“Kau baru disini?” tanyaku pelan. Dia mengangguk antusias.
“Aku murid pindahan, kau tahu- kebanyakan sekolah tidak mau menerimaku karena- yeah, aku tidak mau sok sih, tapi aku nakal..” dia berkedip. Aku bergidik. Ugh. “dan sepertinya orangtuaku sudah putus asa, jadi mereka membiarkanku sekolah dimanapun yang aku mau—dan aku memilih sekolah ini..”
“Kau memilih Willand?”aku terkejut. “Kenapa? Maksudku, ini bukan sekolah paling oke dikota ini, kenapa kau memilih Willand?”tanyaku. dia tersenyum. Senyum paling aneh yang pernah aku lihat. Bibirnya mengerucut menjadi kecil dan aku hanya ingin menarik bibirnya dengan tanganku. Sungguh lucu. Oh hentikan, Haley. Naomi akan menertawakanku jika dia bisa membaca pikiran.
“Kudengar, cewek disini cantik-cantik..” aku memutar bola mataku.
“Konyol sekali. Kau pindah kesini karena itu?” dia hanya menyunggingkan senyumnya kearahku. “Kau bodoh, sungguh- berikan kembali kertas dan penaku. Aku tidak mau mendengarkan orang sepertimu!” aku merebut kembali pena dan kertasku dan mulai mau menulis lagi.
“Terserah. Aku hanya akan duduk santai disini, melihatmu begitu panik menyelesaikan semua pertanyaan itu hanya untuk disia-siakan saja..”lelaki itu mengangkat kakinya keatas meja, sepatunya tepat disampingku dan aku menghela nafas pelan, berusaha untuk mengabaikan.
Menit-menit berlalu dan pertanyaannya menjadi semakin susah seiring dengan suasana yang semakin ramai. Siswa-siswi lain yang ada diruangan ini mulai mengobrol dan terkikik satu sama lain sementara lelaki yang ada disebelahku masih menatapku dengan jahil, berusaha menguji kesabaranku. Akhirnya pada pertanyaan nomor 10 aku berhenti, lalu memandangnya.
“Sudah menyerah?”tanyanya sambil mengangkat alis mengejekku. Aku mengulum bibirku berusaha mengatakan sesuatu. Aku tidak mau dia berpikir aku menyerah setelah apa yang aku katakan tadi bahwa aku tak ingin mendengarkan dia.
“Tidak- aku hanya lupa jawaban nomor-nomor selanjutnya..” aku bangkit berdiri lalu mengambil kertas dan penaku. “Aku mau mencarinya dibuku, permisi..”lalu aku berjalan angkuh mendekati rak-rak buku, terlihat sibuk mencari jawaban padahal aku hanya ingin membuatnya berpikir aku sibuk agar dia tidak lagi berada didekatku.
Tapi tidak berhasil. Begitu aku mengambil salah satu buku acak, dia berdiri dibelakangku dengan berkacak pinggang. Aku hampir terlonjak begitu melihatnya tiba-tiba disana. aku bahkan tidak kepikiran dia akan mengikutiku.
“Buku setebal itu? Untuk satu nomor? Sampai kapan kau akan selesai?”dia mendekatiku dan melihat buku yang sedang kupegang.
“Setidaknya aku mencoba!” aku melewatinya dengan kasar lalu duduk dilantai, membuka halaman demi halaman, berharap aku menemukan sesuatu untuk pura-pura kutulis. Setelah kulihat aku mengutuk diriku sendiri. Buku yang kuambil dan apa yang sedang ditanyakan dikertas tidaklah ada hubungannya. Aku terus membalik halaman demi halaman sementara lelaki itu berdiri didekatku, memperhatikan. Aku berdoa supaya dia akhirnya bosan dan meninggalkanku namun tidak. Dia malahan ikut duduk disebelahku dan melongok halaman yang sedang pura-pura kubaca. Aku bisa mendengar suara nafasnya didekatku. Dari sudut mataku aku lihat dia melirikku dan mengerutkan dahinya.
“Kau gila ya.. sudahlah..” ujarnya sambil terkekeh. aku hanya meliriknya lalu kembali membalik halaman lagi. “Bagaimana kau mau mencari jawaban tentang sejarah perang dunia kalau kau terus melihatnya didalam ensiklopedia tumbuhan..” dia membalik cover buku yang kupegang untuk melihat judulnya. “Tumbuhan dihutan tropis. Ha..” dia menaikkan alisnya, terlihat jahil ketika tahu aku hanya berpura-pura. Aku menutup bukuku dengan kasar lalu menatapnya lelah. “Dengar, manis- dia tidak akan memeriksa, jadi bagaimana kalau kau sedikit lebih tenang, hmm?” dia memanggilku ‘manis’ astaga. Aku tidak bisa memikirkan balasan menyakitkan yang tadinya mau aku siapkan begitu dia membuka mulutnya.
“Aku punya nama asal kau tahu. Jangan memanggilku dengan sebutan itu lagi dengan bibirmu karena itu menjijikan..”ujarku datar lalu menyelipkan beberapa helai rambut kebelakang telinga, mulai melihat kertas soal tadi dan menjawab seadanya, seingatku saja.
“Kau belum menyebutkannya, jadi bukan salahku aku memanggilmu begitu..” dia mengangkat bahu
“Kau bisa bertanya..” jawabku masih tidak melihatnya, masih mengira-ngira jawaban, aku hampir selesai walau aku yakin hampir separuhnya jawabanku agak mengacau. Lelaki itu menggeser duduknya mendekat kepadaku.
“Siapa namamu?” tanyanya. Aku berhenti menulis lalu menatapnya. Dia menunggu jawabanku.
“Aku tidak mau memberitahumu..” jawabku sambil tersenyum mengejek. Lelaki itu mengangkat dagunya sambil menyunggingkan senyum ‘oke, jadi begitu ya’-nya kepadaku. Dia lumayan, pikirku.
“Baiklah, sepertinya kau lebih senang dipanggil manis daripada namamu sendiri—“ ujarnya sambil menepuk pahanya sendiri. “Hei, apa namamu jelek sehingga kau malu memberitahuku?” dia bertanya lagi. Astaga, lelaki ini benar-benar tidak tahu bagaimana caranya diam.
“Lebih jelek dirimu-“ jawabku acuh tak acuh. Dia tertawa sendiri begitu mendengarku.
“Namaku Austin..” ujarnya mengenalkan dirinya sendiri sambil menyodorkan tangannya kearahku. Aku melihat tangannya lalu melihat kearah wajahnya. Dia menaikkan alisnya, mengirim kode bahwa dia menunggu jabatan tanganku. Aku sudah hampir selesai dengan jawabanku dan sejujurnya  aku sudah tidak tahu lagi harus menulis apa, jadi aku berhenti menulis dan menyambut tangannya.
“Lebih bagus namaku daripada milikmu..”kataku sambil menjabat tangannya. Dia tersenyum, senyumnya menular kepadaku dan aku juga ikutan tersenyum tanpa kusadari.
“Aku ragu. Kau tidak mau menyebut siapa namamu, bagaimana aku bisa yakin?” dia memiringkan kepalanya. Aku mengangkat bahu. “Eh kau sudah selesai dengan itu?” ujarnya sambil menunjuk kertas jawabanku.
“Yep. Aku menyelesaikannya, tidak peduli denganmu..”kataku sambil menjulurkan lidah
“Lihat saja nanti, kau kepala batu benar-benar, sudah kubilang tidak akan diperiksa..”
“Kau tetaplah menjadi anak nakal, aku- adalah anak baik..”
“Terserah..” Austin mengangkat bahunya acuh tak acuh, tapi lebih kearah mengejek. Mungkin dia ada benarnya, tugas ini tidak akan diperiksa, tapi tetap saja, aku tidak bisa percaya padanya. Dia anak lelaki yang rebel, atau sok rebel- aku tidak tahu yang mana, kemungkinan dia menganggap remeh semua masalah.
Aku melirik jam diponselku dan sudah hampir pukul 5 sore. Sebentar lagi kami boleh pulang. Mulai kurasakan perutku agak lapar karena aku tidak sempat makan sebelum mengikuti kelas hukuman ini.
“Jadi, kenapa kau ada disini?”tanyanya. Aku tersadar dia masih ada disini ketika dia mulai bicara lagi. Selama beberapa menit tadi dia tidak bicara dan aku baru sadar, ini adalah diam terlama yang pernah dia lakukan semenjak tadi.
“Semua gara-gara kau ngomong-ngomong..”kataku, “Aku jadi terlambat masuk kelas karena aku bicara denganmu..” aku mendorong bahunya sedikit dan dia goyah kesamping. Tapi dia hanya tersenyum. Tanpa penyesalan. Seakan dia bangga dia yang membuatku disini.
“Hei, jangan salahkan aku. Kau yang masih ada disana, diam seperti patung, tak bernyawa didepan lokermu saat semua orang sudah berhamburan masuk kekelas masing-masing..” dia membalasku. “Aku kan hanya berusaha sopan, mengajakmu bicara- dan lagi, kau yang penasaran dengan masalahku sampai lupa waktu. Nah, bukan salahku!” dia menjulurkan lidahnya kearahku. Aku hanya diam. Dia benar. Ini semua karena aku. Bodoh sekali, gara-gara penasaran dengan perdebatannya dengan Pak Simon tadi aku bahkan mengabaikan kelasku.
“Aku tetap akan menyalahkanmu apapun alasanmu..”
“Dan walau kau tahu aku benar?”katanya sambil nyengir.
“Aku tetap akan menyalahkanmu..”jawabku mengabaikannya. Dia tertawa pelan, kelihatan tidak keberatan dengan pernyataanku. “Jadi, kau tetap bolos mengikuti kelas matematika ya?” ujarku lagi mengingat aku belum bertanya alasannya dia disini, padahal hampir mungkin aku tahu alasannya.
“Kau masih ingat rupanya. Ya, matematika membuatku pusing. Angka, garis-garis. Ugh, aku tidak ingin menjadi ahli matematika. Itu membosankan..”
“Tidak begitu membosankan kok-“ ujarku. “Kau hanya harus memperhatikan lebih keras..”
“Oh, jadi kau salah satu anak jenius dan aneh disini, yang suka pada matematika- tidak punya teman dan selalu menyendiri begitu..” ujarnya sambil tertawa. Aku diam. Aku memang seperti itu. Beberapa saat aku tidak menjawab, Austin melihat kearahku dan raut wajahnya berubah menjadi tidak enak.
“Selamat, Tuan sok tahu. Tebakanmu benar..” jawabku datar setelah dia menatapku beberapa detik. Suasana jadi agak canggung. Austin tidak bicara lagi. Dan ini lebih lama daripada sebelumnya. Aku merasa damai saat aku tidak mendengar suaranya, walau hatiku agak terasa sakit dia berkata seperti itu.
Aku tahu bahwa aku memang aneh. Dan penyendiri, tapi begitu ada seseorang yang mengatakannya langsung kepadaku rasanya berbeda. Itu menyakitkan. Naomi sering mengejekku begitu, tapi aku tidak peduli, dia kakakku. Kami saudara dan aku tahu dia sayang padaku. Tapi Austin orang lain, dia baru kenal denganku, walau dia mengatakan yang sebenarnya tetap saja rasanya aneh.
“Oh..” setelah beberapa menit selang waktu diam hanya itu yang dia katakan. Dia juga agak kelihatan kaku jadinya. Tak lama Thomas masuk dan aku buru-buru bangkit dari dudukku berlari kecil menyerahkan kertas yang tadi sudah kujawab kepadanya, kulihat juga anak-anak lain dengan wajah tidak peduli memberikan kertas-kertas mereka. Kulirik kertas mereka, hampir semuanya hanya menjawab sekitar 5 atau 6 nomor dan Thomas sama sekali tidak bicara apa-apa. Austin menyerahkan miliknya, yang hanya diisi sampai nomor ketiga. Thomas meliriknya saat dia melihat kertas jawaban Austin.
“Kau hanya mengisi 3 nomor, Tuan Meyers..”
“Yeah. Lalu?”Austin mengerutkan dahinya. Aku mengambil tas dan buku-buku siap untuk keluar, tapi sekali lagi aku terpaku ingin tahu. Thomas memberikan kembali kertas jawabannya kepada Austin.
“Setidaknya kau harus isi 5 sampai 6 nomor, seperti anak-anak lain. Tapi sekarang aku berubah pikiran, selesaikan sampai selesai atau tidak kau tidak boleh pulang..” aku terkejut saat Thomas berkata seperti itu. Austin dengan enggan mengambil kembali kertas miliknya. Thomas duduk disalah satu bangku perpustakaan, menunggu Austin untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Kulirik Austin yang hanya tersenyum kesal. Aku menyerahkan pena yang masih ada ditanganku kepadanya.

“Selamat, manis. Tebakanmu benar..” ujarnya berkedip sambil mengambil pena ditanganku. Dia lalu berbalik dan duduk didepan Thomas dan mulai mengerjakan kertasnya.

- To Be Continued -