A Pair of Shoes.


---------- sekarang -------------

“ Haley, kau sudah mengenakan gaunmu?” Mally, pendamping pengantin wanitaku membuka pintu kamarku dan melongok. Aku duduk diranjang masih dengan baju santaiku dan memegang handphoneku. Aku tidak menjawab dan hanya menatap Mally dengan tatapan sedih. Mally masuk kedalam ruangan dan mendekatiku perlahan dengan raut wajah iba. Dia duduk disebelahku dan ikut menatap layar handphoneku yang kosong.
“ Austin tidak datang?” Tanyanya. Aku menggeleng lalu mengangkat bahu. Mally mengusap pundakku dan aku menaruh kepalaku dibahunya. Seharusnya ini adalah hari paling bahagiaku, dimana aku akhirnya menikah- orangtuaku menyaksikan- teman temanku semua menyaksikan, dan aku bahagia aku akan menikah dengan Justin. Tapi semuanya berubah ketika aku tahu, dan yakin- Austin, sahabat sejatiku semenjak aku kecil sampai besar sekarang tidak akan datang pada hari pernikahanku.
Austin dan aku saling mengenal ketika kami sama-sama dikelompok bermain. Saat itu aku anak baru, dan hanya Austin yang mau bermain denganku. Lama kelamaan, aku dan austin jadi semakin dekat dan dekat. Dan akhirnya saat sekolah menengah keatas, aku dan austin memutuskan untuk tinggal bersama. Cukup aneh memang kedengarannya, tapi kami single waktu itu- dan kami tidak masalah untuk hal tinggal bersama karena kami memang juga sahabat dekat. Aku tidak mengerti kenapa Austin tidak mau datang- diluar dia tidak suka dengan Justin tentu saja.
Austin sepertinya entah mengapa mempunyai masalah dengan pacarku, Justin. Semenjak aku dan justin bertemu dibangku kuliah semester pertama, austin menunjukkan sikap tidak suka padanya. Sering kali saat aku dan justin sedang dirumah, Austin lebih memilih untuk tidak dirumah atau pergi ke bar bersama teman cowoknya yang lain. Dan sampai saat ini, aku tidak tahu mengapa dia membenci Justin- dan dia juga tidak mau memberitahuku.
“ Oh, honey- sudahlah. Ini hari pernikahanmu, oke. Jangan sampai satupun merusak hari indahmu ini!” Kata Mally dengan nada mengomeliku. Aku mendirikan kepalaku dan mengangguk pelan. Aku bangkit berdiri dan menaruh ponselku diranjang. Mally beranjak kearah wardrobe dan mengambil gaun pengantinku. Aku membuka bajuku dan mulai memasuki gaun pengantinku. Mally membantu aku membetulkan letak bajunya dan letak rambutku. Aku menghela nafas lalu berdiri didepan kaca. Aku tersenyum sekilas melihat pantulan kaca tersebut, Mally berdiri disebelahku sambil memiringkan kepalanya. “Bagaimana menurutmu?” tanyaku pelan. Mally mengusap-usap lenganku dan tersenyum.
“ Justin pasti suka…” aku ikutan tersenyum. Dia menggiringku duduk kembali ditepi ranjangku.
“ kau jangan kemana-mana, sebentar lagi orang yang menata rambutmu akan datang lagi…” katanya
“ jangan pikirkan apapun, ingat ini hari pernikahanmu..” aku mengangguk lagi
“ aku keluar dulu ya, aku ingin menemui yang lain..” Mally mengecup keningku lalu keluar dari ruanganku. Aku sendirian lagi. Kuambil ponselku yang tadi aku letakan diranjang dan mengeceknya. Tidak ada pesan sama sekali dari Austin. Aku memejamkan mataku berusaha untuk tidak memikirkannya.

-------------- 10 tahun yang lalu ------------------

“ AUSTIN!!!!” Jeritku sambil menggedor gedor pintu kamar mandi. Aku melirik jam didinding dan kembali menggedor lagi. Ini hari pertama kami dibangku kuliah dan kami sudah telat setengah mati. Kami sudah kelewatan kelas pertama kami, dan Austin masih didalam kamar mandi entah ngapain.
“ Austin!!! Kau mandi atau apa sih! Cepat!!!” aku kembali menggedor pintu kamar mandi dan sebelum gedoran berikutnya datang, austin sudah membuka pintu. Dia hanya mengenakan handuk didaerah bawah dan dadanya yang telanjang tepat didepan wajahku. Wajahnya santai melihatku yang sudah marah-marah tidak keruan, aku menariknya dari kamar mandi dan masuk kekamar mandi.
“ Haley, kau harus bersabar sedikit..” aku bisa mendengar dia bicara saat melengos melewati kamar mandi. Aku masih kesal lalu membuka pintu kamar mandi untuk berteriak, “Mungkin kau yang harus belajar lebih cepat!” lalu kubanting lagi pintu kamar mandinya.
*
“ Ini kelasnya?” aku dan austin terengah engah berlari menaiki tangga karena lift terlalu lama dan kelas kami tidak begitu dilantai yang tingi. Austin mengangguk lalu dengan yakin membuka pintu. Begitu pintu terbuka, ternyata belum ada dosen yang masuk. Kami sama-sama menghela lega. Austin merangkul bahuku dan kami mencari tempat duduk diagak belakang. Kelasnya sudah agak ramai walau masih banyak tempat kosong juga. Aku menaruh tasku dimeja lalu meraih botol minumku dan menenggaknya. Austin merapihkan rambutnya lalu menarik botol minumku untuk dia minum.
“ Hei…” terlambat, mulutnya sudah mengenai botolku, aku mendecak kesal
“ ambil saja botolnya untukmu…” kataku. austin menutup tutup botolnya dan tertawa mendengarku. Aku memang agak jijik kalau bersentuhan dengan bibir orang, apalagi dengannya. Austin cowok paling jorok dan malas yang pernah aku temui. Kau mau tahu? Dia mencuci celana dalamnya sebulan sekali. Demi tuhan.
“ akan kubelikan yang baru..” janjinya, “untuk kesekian kalinya?” tanyaku sarkartis. Ini memang bukan pertama kalinya Austin memakai botolku langsung untuk minum.
“ kau harus belajar membawa barangmu sendiri, austin..” kataku lalu menghempaskan tubuhku kearah sandaran kursi. Austin mengikutiku dan matanya menatap kedepan, melihat para kumpulan perempuan yang cekikian sekali sekali menoleh kearah austin. Aku ikut melihatnya lalu memutar bola mataku. Austin tersenyum kearah mereka, dan mereka berbalik sambil cekikan lagi.
“ gadis dungu..” ujarku pelan
“ bukan salahku kalau aku begitu memikat..” kata austin. Aku memutar bola mataku lagi. Memang benar, kalau dilihat secara fisik- austin memang hot. Idola semua perempuan, semenjak kami di bangku SMP- semua suka pada Justin, dan para gadis membenciku. Kenapa? Karena aku satu-satunya gadis yang dekat dengannya, sekaligus tinggal dengannya. Austin juga suka tebar pesona, ini salah satu hal yang aku tidak suka dengannya. Terhadap semua perempuan. Tingkahnya benar-benar sopan dan manis. Mungkin kalau aku tidak serumah dengannya, dan tahu semua kebiasaan joroknya- aku bisa cinta setengah mati dengannya.
“ Aww.. kau cemburu?” tanya Austin tiba-tiba saat aku tidak berbicara lagi. Aku menatapnya langsung cepat dan mengerutkan dahiku. Austin mendekatkan bangkunya kepadaku dan mengusap rambutku.
“ kau tetap wanita yang paling utama dihatiku..” katanya lembut
“ kau menjijikan…” ujarku lembut sambil tersenyum. Austin tertawa pelan, aku ikutan tertawa. Kami biasa seperti ini. Saling menggoda dan sebagainya, dan anehnya- aku sama sekali tidak tertarik dengan Austin. Beribu rayuan dan kata-kata manis sudah kudengar setiap harinya dirumah dan dimanapun aku bersamanya. Tapi aku sama sekali tidak terkikik seperti cewek dungu didepan sana, yang hanya diberi senyum oleh Austin.
“ lama sekali sih..” ujarku sambil mengecek jam dihandphone, austin ikutan melirik
“ mungkin tidak datang..” katanya. Memang sudah lewat setengah jam lebih dari kelas yang ditentukan. Dan menurut peraturan yang aku tahu, seharusnya kelas dibubarkan kalau dosen sudah telat dari setengah jam.
“ ayo kita pulang!” austin bangkit dari tempat duduknya, aku menarik pinggir bajunya menyuruhnya duduk lagi. “belum ada pengumuman kita tidak boleh kemana-mana…” ujarku. Dia mendecak kesal. Si gadis yang tadi cekikikan bangkit dari duduknya dan tiba-tiba tanpa disangka berjalan kearah kami.
“ hai..” ujarnya sambil menggigit bibir bawahnya. Aku memutar bola mataku tidak senang. Austin langsung duduk tegak dan tersenyum, “hallo..” katanya semanis mungkin. Aku melirik austin sekilas. Raut mukanya sudah setampan mungkin.
“ hai, aku Jenna..” gadis itu menyodorkan tangannya kepada austin. Austin memajukan tubuhnya dan menjabat tangan Jenna sambil tersenyum. “ Austin…” katanya. Jenna cekikikan lagi entah kenapa. Bagus, mereka menganggap aku tidak ada.
“ oh, dan ini Haley..” austin menunjuk aku, aku hanya tersenyum singkat. Jenna sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apa-apa saat austin menunjuk aku- sama seperti semua perempuan saat austin menyebutku sebagai sahabat dekatnya dan saat dia bercerita kami tinggal serumah.
“ Umm, temanku mau pergi makan- kau mau ikut?” tanyanya sambil menunjuk kearah 3 teman perempuannya yang lain. Dia memakai bahasa ‘kau’ bukan ‘kalian’ yang artinya dia hanya mengajak austin. Kuperhatikan tubuh Jenna dan ketiga lainnya sama, sama-sama kurus ceking benar-benar seperti tidak makan, berambut panjang dan semuanya memakai hak tinggi. Sungguh berbeda sekali denganku. Tanpa sadar aku melihat kearah apa yang aku kenakan.
“ Oh..” gumam Austin, dia memandangku lalu berkata, “tidak usah, aku bersama Haley..” katanya sambil tersenyum kepadaku lalu kearah Jenna. Ada raut kecewa diwajah Jenna. Aku menahan senyumku saat melihat betapa kecewanya Jenna bahwa austin lebih peduli padaku. Hey! Austin lebih peduli padaku. Bweek!
“ Oh…” Katanya, bahu Jenna langsung turun. “ Kalau begitu sampai jumpa lagi..” dia masih berusaha untuk tersenyum paksa. Austin mengangguk dan memberinya senyum singkat. “Austin..” ujar Jenna.
“ Jenna..” dia mengangguk.
“ Haley..” dia pamit kepadaku tapi suara dan tatapannya benar-benar membunuh
“ Jenna..” aku mengangguk. Habis itu, dia akhirnya kembali bergabung bersama temannya yang lain dan melenggang keluar dari kelas.
“ lihat, mereka sudah boleh keluar! Ayo kita pulang!” ajak austin sedikit merengek kepadaku
“ kalau kau mau ikut bersama mereka, kenapa tidak pergi saja sendiri..”
“ Haley, aku selalu bersamamu.. kita seperti item yang tidak bisa dipisahkan… seperti sepasang sepatu, seperti sepasang kaus kaki…”
“ ya Tuhan austin!” aku tertawa mendengarnya. Austin juga ikutan tertawa.
“ maksudnya, aku tidak akan meninggalkanmu sedikitpun-“ austin membetulkan perkataannya. Aku menatapnya, kali ini matanya serius memandangku.
“ tidak sedikitpun?” tanyaku. Austin menggeleng. Aku bisa merasakan perlahan wajahku panas untuk pertama kalinya. Aku kembali menghadap depan, begitu juga dengan austin.
“ ayo kalau begitu, kita cari makan- kau lapar?” aku bangkit sambil mengambil tasku. Austin ikutan bangkit lalu menggendengku dilengannya yang besar keluar dari kelas.


------------------ sekarang ---------------------

Pintu kamarku terbuka dan kulihat ibuku dengan mengenakan gaun putih panjangnya tampak terharu melihatku yang sudah berpakaian pengantin walau wajah dan rambutku masih belum dirias. Ini masih pagi, dan resepsi pernikahan kami masih lama berlangsungnya. Aku tersenyum melihat ibuku. Dia mengangkat gaunnya sedikit supaya tidak tersandung lalu duduk disebelahku.
“ Aku sehabis menemui Justin…” kata ibuku
“ Bagaimana rupanya?”
“ Dia baik… seperti biasa…” katanya. Aku mengangguk. Sesekali aku melirik keponselku. Masih tidak ada pesan atau chat dari austin sedikitpun. Ibuku sepertinya tahu aku sedang memikirkan hal lain.
“ Belum ada kabar dari Austin?” saat ibuku bertanya entah kenapa aku menjadi sedih sekali, aku berusaha menahan air mataku. Aku menghela nafas tersendat-sendat.
“kau tahu dia dimana?” tanya ibuku. Aku juga menggeleng. Semenjak Justin melamarku dan aku memberitahunya, austin langsung pamit untuk pergi- tanpa memberitahu arah tujuannya. Terakhir dia memberi kabar lewat telepon kalau dia sedang di luar bersama dengan perempuan dan setahuku mereka sudah menikah setahun yang lalu- dan Austin mengabarkan kalau mereka sudah menikah sebulan setelah mereka menikah. Sepertinya dia tidak mau aku datang. Kami hanya berteleponan dan saling memberi pesan singkat hanya untuk mengabari kabar satu sama lain. Terakhir aku meneleponnya saat aku memberitahukan bahwa aku akan menikah dengan Justin, dia tidak berbicara apa-apa saat itu, dan sampai hari H-nya juga dia tidak bilang apa-apa.
“ Mungkin kalau kau ingin mengabarkannya, coba telepon…” kata ibuku. Aku menunduk memandangi layar ponselku. Aku menggeleng pelan. Aku tidak mengerti kenapa aku bisa sampai segelisah ini austin tidak memberiku kabar apa dia akan datang nanti. Padahal yang paling penting sekarang adalah aku tampil cantik dan senang.
“ Aku baik-baik saja…” gumamku pelan. Ibuku merapihkan rambutku lalu mendekatkan duduknya kearahku. Kami sama sama menatap layar ponselku yang kosong.
“ Kau tahu- kalau kau merasa harus berbicara dengan austin sebelum kau akan menikah, tidak ada salahnya..” kata ibuku. Aku menangkap nada tidak enak pada cara ibuku berbicara.
“ Apa maksud ibu?” tanyaku. Ibuku menggeleng pelan. “bu, ayo bicara..” aku mendesak ibuku untuk bicara karena aku tahu kalau ibuku yang bilang atau punya pikiran apapun ada kemungkinan besar dia ada benarnya.
“ sayang, kau sedih sekali- maksudku- benar benar sedih sekali austin tidak memberimu kabar…” dia memulai bicara. “kau yakin, kau hanya ingin dia datang dan duduk melihatmu menikah bersama justin?” tanya ibuku. Aku mengerutkan dahiku.
“ yeah…” jawabku. “memang apalagi yang aku mau?” ibuku mengangkat bahu
“ entahlah..” ujarnya, “hubungan kalian sudah sangat dekat.. mungkin lebih dari sekedar sahabat..”
“ sahabat baik, bu..” ralatku
“ kau yakin?” aku melotot. Ibuku ini kenapa sih! Dia malah menghantamku dengan pertanyaan yang membuatku berpikir dihari pernikahanku. PERNIKAHANKU YANG SEBENTAR LAGI HANYA MENUNGGU JAM!
“ibu!” ujarku, ibuku menenangkanku dan meremas tanganku pelan.
“ austin selalu baik padamu- dia selalu menyayangimu, kau yang bilang sendiri kan kalian seperti…”
“ sepasang sepatu..” aku terkekeh mengingatnya. Austin sendiri yang bilang seperti itu. Aku melamun teringat semua yang aku lakukan bersamanya. Aku melamun beberapa saat sambil menatap kosong kearah pintu kamar tidur kami lalu aku tersadar. Aku tidak boleh memikirkannya! Aku dengan Justin sekarang. Aku dengan Justin.
“ mungkin kali ini aku harus sendirian… sepatu juga bisa rusak kan?” ujarku
“ kau dan austin adalah sepatu yang berbeda..” ibuku berkata lagi dan membuatku galau.
“ aku bukan membuatmu pusing atau apa, Haley- yang aku ingin coba katakan adalah..” dia mendekatkan wajahnya kepadaku. “telepon austin… minta untuk datang kalau kau memang ingin melihatnya dihari bahagiamu… kalau dia menolak, barulah kau bisa yakin… kau akan menikahi justin..”
“ ibu, aku memang menikahi Justin…” aku berseru
“ kalau begitu kenapa kau lebih menyibukkan dirimu khawatir dengan Austin?” tanyanya lembut. Aku tidak bisa menjawab.
“ kau dan justin belum bertemu sejak tadi malam, dan sampai detik ini- apa kalian sudah saling menelepon?” tanyanya. Pertanyaannya benar-benar menghantamku didada. Aku belum. Sama sekali aku tidak menelepon ataupun mengirim pesan kepadanya, begitu juga dengan Justin. Barulah aku sadar- dan pikiran ini membuatku takut. Sebelum aku membuka mulut, pintu kamarku dibuka dan datanglah kedua wanita paruh baya yang kukenal sebagai penata rias rambut dan wajahku. Ibuku menepuk pahaku lalu mengangkat bawah gaunnya sedikit.
“ aku keluar dulu, sayang…” katanya sambil mengecup pipiku lalu berjalan keluar. Kedua wanita paruh baya itu mengeluarkan semua peralatan dari kotak dan tas yang dibawanya di meja rias.
“ ayo, nona- kau harus tampil cantik hari ini…” ujarnya menyuruhku kesana. Aku tersenyum dan bangkit berdiri, duduk dikursi rias.
“ mempelai lelakinya sudah tampan sekali- kau pasti tidak sabar bertemu dengannya…” salah satu perempuan itu berkata sambil mulai menyisir rambutku sementara satunya lagi masih sibuk mengeluarkan peralatan.
“ Yeah..” aku tertawa hambar sambil menatap pantulan diriku yang pucat dicermin- pikiranku melayang kemana-mana.

------------------ 8 tahun yang lalu --------------------

Aku dan Justin, pacar baruku sedang asyik duduk diruang tamu sambil menonton film di televisi. Aku dan Justin bertemu saat dikelas bisnis, tidak disangka-sangka dia sebetulnya salah masuk kelas dan tidak tahu itu kelas bisnis sampai akhir kelas tersebut.
“ Ini kelas arsitek, kenapa harus belajar bisnis?” gumamnya sambil membereskan catatannya saat itu. Aku dan Austin tertawa terbahak-bahak. “kau salah masuk kelas, dude!” Austin menepuk bahu Justin masih sambil tertawa kencang.
“ Ini kelas bisnis..” Ujarku. Wajah Justin merah padam karena malu, dan akhirnya di ikutan tertawa. Semenjak kejadian salah masuk kelas itu, aku dan Justin sering bertemu dan keluar makan. Hubunganku dengannya menjadi semakin dekat dan erat hingga suatu hari Justin menyatakan cintanya kepadaku, dan aku spontan bilang ya- karena aku suka padanya. Saat kuceritakan soal ini, Austin terlihat kaget bahwa aku dan Justin berpacaran. Dan semenjak itulah Austin jarang berada dirumah, dan jarang bicara pada Justin maupun kepadaku.
Aku hanya melihatnya dikelas, itupun dia tidak lagi duduk denganku maupun Justin. Dia lebih memilih duduk dibelakang. Aku sudah berusaha bertanya apa yang salah, dan dia bilang dia tidak mau mengganggu aku dan Justin. Aku sudah menjelaskan pula bahwa kami tidak masalah kalau Austin dekat dengan kami tapi Austin tetap pada pernyataannya.
Yang aku tahu, dia menghabiskan waktu kalau malam bersama dengan teman lelakinya dibar dekat tempatnya bekerja sebagai bartender. Aku belum pernah mengunjunginya karena aku sibuk bersama dengan Justin setiap malam, entah makan malam- atau menonton televisi, atau belajar untuk ujian-ujian skripsi yang sebentar lagi.
“ Ini sudah tengah malam, Austin belum pulang juga?” tanya Justin saat film yang kami nonton telah habis. Aku melirik jam diatas televisi. Jam 1. Austin juga tidak memberi kabar. Justin bangkit dari duduknya, disusul denganku.
“ Sebaiknya aku pulang, ini sudah malam…” kata Justin
“ Oke..” kataku tersenyum, mengantarnya kedepan pintu. Justin menciumku sebelum dia membuka pintu. “Tidur yang nyenyak..” ujarnya, aku mengangguk. Lalu Justin membuka pintu dan pulang kerumahnya. Aku menghela napas lalu berjalan menuju dapur untuk membuat cokelat panas- minuman yang selalu kuminum sebelum aku tidur. Saat aku sedang menuangkan air panas, suara pintu dibuka, aku menoleh sedikit dan masuklah austin kedapur sambil memegangi kepalanya. Bau alkohol tercium diruangan. Aku buru-buru mengaduk cokelat panasku dan duduk didekatnya.
“ Kau mabuk lagi?” tanyaku pelan. Austin tersenyum melihatku dan menggeleng. Dia berbohong tentu saja, matanya sudah begitu merah dan rambutnya berantakan. Baju yang dia kenakan pun sudah banyak bekas air tumpahan.
“ aku ambilkan air dan kompresan untuk kepalamu supaya tidak pusing..” kataku lalu meninggalkan cokelat panasku. Aku membuka kulkas dan mengambil es batu, dan kubungkus dengan kain- aku menyerahkannya kepada Austin. Dia langsung mengompreskannya kekeningnya. Aku menuangkan air putih kepadanya dan dia langsung meminumnya.
“ Ahhh..” desahnya saat dia selesai menghabiskan air putihnya. Aku duduk didekatnya lagi.
“ Kenapa sih belakangan ini kau mabuk-mabukan.. bukannya kau bekerja disana?” tanyaku
“ Aku bekerja..” katanya, “sambil minum..” tambahnya. Aku menghela nafas
“ Aku bertemu Justin saat menuju rumah..” ujarnya
“ Dia memang baru pulang..” kataku. austin menjauhkan kompresannya dari keningnya dan menaruhnya dimeja, dia menatapku. “ kau mengkhawatirkanku?” tanyanya.
“ dengan caramu mabuk setiap malam? Ya, tentu saja aku khawatir!” ujarku. Dia tersenyum.
“ aku baik-baik saja..” katanya pelan. “justru aku bertemu wanita malam ini, dia berbeda dari wanita dibar-bar yang lain…” ujarnya. Aku menaikkan alisku dan tersenyum.
“ Oh ya?” tanyaku tersenyum. Dia mengangguk malu lalu meraih ponselnya dan mencari-cari sesuatu. Dia menyodorkan ponselnya kearahku. Olivia. Namanya Olivia, beserta dengan nomor ponselnya.
“Olivia..” gumamku, austin mengangguk-angguk lalu mengambil ponselnya lagi. Dia mengamatinya
“ Menurutmu aku harus meneleponnya?” tanya Austin
“ Tentu saja!” kataku tertawa. “sepertinya juga kau suka padanya..” godaku. Austin tersenyum malu
“ Yeah—“ katanya singkat. Aku memandang Austin yang begitu terlihat lelah. Aku bangkit berdiri lalu mengusap pundaknya.
“ Tapi kau harus tidur dulu… kau terlihat capek sekali…” kataku. dia mengangguk. Austin lalu bangkit berdiri, lalu merangkulku lagi, berjalan keluar dari dapur menuju kamar kami masing-masing.
*
Malam berikutnya aku dan Justin memutuskan untuk kebar tempat Austin bekerja. Tempatnya begitu ramai dan berisik akan suara musik. Aku dan Justin harus berpegangan tangan agar tidak terpisah. Kami sampai dimeja dimana Austin menjadi bartender. Dia tersenyum melihatku dan Justin.
“ Kalian minum apa? Maksudku, Justin kau minum apa?” Tanyanya menggodaku karena dia tahu aku tidak bisa minum alkohol. Justin tertawa lalu memesan minum yang tidak pernah kudengar tapi dimengerti oleh Austin. Austin memberikanku limun. Aku merasa seperti anak kecil di klub seperti ini dengan limun. Tapi lebih baik begini daripada aku minum alkohol. Justin menenggak minumannya. Aku memutar tubuhku menghadap Austin yang masih sibuk melayani pelanggan.
“ Hei, mana wanita yang kau bilang itu?” Tanyaku
“ Ada disana, dekat kumpulan para gadis-gadis pesta…” dia menunjuk salah satu meja dimana ada sekumpulan gadis-gadis berpakaian minim sedang cekikikan. Aku menghela nafasku lagi. Benar-benar type Austin.
“ Katamu dia berbeda dengan yang lain……………” aku jadi geram sendiri. Austin mendekatkan dirinya kepadaku lalu berkata, “ dia memang berbeda- kau lihat ukuran dadanya..” dia berkedip. Aku memutar bola mataku dan menggeleng. Dia tetap Austin yang sama dengan tipe gadis yang sama.
“ Kau jangan salahkan aku, kau sendiri yang tidak bertanya dimana perbedaannya..” kata Austin lagi
“ Kupikir dia berbeda dari sifat, austin! SIFAT!”
“ Umm. Olivia yang kau maksud yang itu?” tanya Justin sambil menunjuk dengan tepat Olivia
“ Yepp!” Austin melipat tangannya didada sambil menatap Olivia
“ Hmm. Dia memang berbeda..” Kata Justin, lalu mereka tertawa dan saling bertos-an. Aku memutar bola mataku lagi.
“ Kalian ini lelaki..”
“ Hei, dengar- dan lihat…” Kata Justin, “ kau perhatikan dari teman-temannya olivia yang lain..”
“ ya?”
“ apa yang berbeda?” aku memperhatikannya lagi dan barulah aku sadar mereka benar. Aku diam cukup lama dan mereka tahu bahwa aku satu pikiran dengan mereka, lalu mereka tertawa.
“ Oke oke, kalian benar..” aku mengaku, “semoga beruntung dengannya..” kataku
“ Ohohoho- aku lebih dari beruntung malam ini..” ujar Austin. Aku menatapnya
“ Dia mengajakku pulang ketempatnya..” Austin lalu menaikkan satu alisnya dan tersenyum nakal
“ Stay safe…” Kata Austin sambil menonjok pelan bahu Justin. Aku menggeleng- gelengkan kepala mendengar mereka.

------------------- 6 bulan kemudian, setelah 8 tahun yang lalu --------------------

Justin sedang tidak dikota seminggu ini. Dia dan sahabatnya Juan, pergi ke New York untuk bahan skripsi mereka tentang bangunan Empire State of Building. Austin kembali tidur dirumah setelah dia beberapa hari tidak pulang, dan selalu menginap diapartemen Olivia. Olivia baik sekali kepadaku. Dia tidak pernah punya masalah kalau aku dan Justin kenyataannya tinggal satu rumah. Dia tidak pernah sinis kepadaku, malahan Olivia suka main kerumah dan bermain bersamaku. Entah hanya bergosip, atau memasak atau bahkan berbelanja sekalipun. Dia sudah seperti kakakku.
“ Howdy, cowboy..” sapaku saat dia masuk kedapur dengan mengenakan topi koboinya yang suka dia pakai saat dia berkuda. Austin memang suka berkuda.  dia lebih mahir dan lebih menganggapnya sebagai kehidupan- aku menganggapnya hanya sebagai paksaan untuk menemani Austin.
“ Kau ikut hari ini?” Tanyanya. Aku menggeleng
“ sekarang kau sudah punya Olivia untuk kau siksa bermain kuda bersamamu oke, tugasku sudah selesai..” kataku lalu menyelesaikan santapan terakhir mangkuk serialku dan bangkit untuk menaruhnya di bak cuci piring. Dia duduk disebelahku lalu menuang sereal kedalam mangkuknya. Aku melepas topi koboinya lalu memakaikannya dikepalaku sendiri.
“ Bagaimana menurutmu?” aku berkacak pinggang didepan austin. Austin menuangkan susu kedalam mangkuk serealnya sambil tersenyum melihatku.
“ Tetap cantik seperti biasa…” aku lalu memeluknya dan mencium pipinya.
Ini kebiasaan yang sulit dihilangkan walau kami sudah sama-sama mempunya pasangan. Kami masih suka sama seperti ini. Saling memeluk mencium dan sebagainya. Aku dan Austin sudah berusaha untuk mengurangi kebiasaan kami tapi tetap saja tidak bisa.
“ Maaf..” Kataku, Austin mengibaskan tangannya. Dia mulai menyuap serealnya kedalam mulut. Tak lama telepon rumah kami berdering. Aku buru-buru mengangkatnya.
“ Halo?”
“ Hi, Haley- Austin ada?” Olivia yang menelpon
“ Oh ya, ya… sebentar…” aku menutup kotak tempat bicara ditelepon dengan teleponku lalu memanggil austin. Dia menyuap dulu baru akhirnya bangkit untuk mengangkat telepon. Aku masih memakai topi koboinya duduk dibangkunya dan menatap serealnya yang sudah teraduk.
“ hai.. ada apa…” ada jeda panjang dan alis berkerut saat dia bergumam, aku jadi penasaran.
“ oh, oke- tidak.. tidak masalah, have fun!” katanya lalu menutup telepon. Dia berdehem lalu berkacak pinggang didepanku.
“ ada masalah?” tanyaku. Austin mengangguk.
“ nampaknya kau masih harus tersiksa satu kali lagi bersamaku…”
“ Kenapaaaaa?” aku bertanya seperti benar-benar sebal dan sekaligus ingin menangis.
“ Olivia harus menemani ibu dan ayahnya hari ini yang baru datang dari Jerman…” katanya. Aku mengerang kesal. Aku tidak mau bermain kuda lagi dengannya. Tidak mau! Lagipula, aku tidak bisa.
“ telepon semua teman lelakimu..” aku masih mengelak
“ kalau mereka bisa, sudah kulakukan, Haley…” aku menunduk lemas.
“ aku juga tidak bisa bermain… naikpun kau harus menggendongku…” ujarku.
“ kau wanita oke, kalau kau tidak bisa aku masih mau menggendongmu. Bayangkan kalau aku harus menggendong teman lelakiku…” masuk akal, kataku dalam hati. Tapi tetap saja, aku tidak mau kembali.
“ haley…” dia maju lalu memeluk pinggangku. Oke ini dia. Jurus yang selalu dia pakai kalau aku tidak mau menurutinya. Aku membuang mukaku. Dia meraih pipiku dan menghadapkannya kepadanya. Dia menatapku dalam dengan tatapan paling lembut sekalipun.
“ kau sadar kan aku sudah punya pacar..” ujarku, austin tersenyum. Dia mendekatkan tubuhnya lagi
“ kau sadar wajahmu memerah?” katanya lembut, aku menggerutu lalu mendorongnya menjauh- austin tertawa pelan lalu mendekat sedikit kepadaku lagi sambil menyendokkan serealnya.
“ baiklah… urgh! Caramu selalu berhasil, aku benci…” kataku sambil menonjok dadanya yang bidang, dia tidak goyah sedikitpun ketika aku tonjok, dia malah memelukku dan mengucapkan terimakasih.
*
Aku sibuk merapihkan rambutku seketika aku dan Austin sudah memilih kuda untuk berjalan-jalan disekitar lingkungan. Austin memperbolehkanku memilih kuda kali ini, aku mengambil yang berwarna putih keemasan, walaupun sangat terlihat anggun, austin sebenarnya kurang setuju tapi karena dia sudah janji aku yang memilih- dia tidak berkata banyak.
Karena aku tidak bisa naik kuda, aku dan austin naik kuda yang sama, aku didepan, dan austin duduk dibelakang menjagaku- sekaligus dia yang pegang tali kendali. Dia menggendongku untuk naik terlebih dahulu, barulah dia naik dibelakang. Aku berpegangan erat pada leher kuda tersebut tapi tidak banyak membantu.
“ sandarkan tubuhmu kearahku, aku akan menjagamu..” kata austin sambil meraih tali kekang kuda tersebut. Aku memundurkan tubuhku dan menyandarkan tubuhku padanya sedikit. Aku agak canggung. Dia melepas tangan kirinya dari tali kekang tersebut dan melingkarkannya diperutku. Darahku mengalir deras saat Austin menyentuhku. Ini aneh. Setiap kami berkuda sebenarnya dia suka melakukannya dan aku biasa saja. Tapi saat ini rasanya berbeda. Jantungku jadi berdebar kencang.
“ aku akan menjagamu, oke? Kau bisa bantu aku pegang tali kekang sebelah kiri?” tanyanya lembut ditelingaku. Wajahku merah saat nafas Austin menyentuh telingaku, aku mengangguk lalu memegang tali bagian sebelah kiri.
“ oke, ayo kita jalan..” austin menepuk bagian samping kuda tersebut dan kami mulai bergerak. Aku ngeri saat pertama kali bergerak, aku mencengkram tali kekangku dan tanganku satu lalu menempel pada tubuh kuda tersebut. Austin masih memegangiku- tangannya masih melingkar. Setelah beberapa meter berjalan mengelilingi peternakan, aku mulai bisa agak rileks, tanganku yang satu lagi sudah lepas dari kulit kuda tersebut dan austin menyuruhku melepas tali kekangnya karena kami akan jalan pelan katanya. Aku menghela nafas.
“ aku lupa aku setakut ini pada awal-awalnya..” ujarku. Austin mendengus kecil.
“ boleh kulepas pegangan tanganku darimu? Aku janji kita akan jalan santai..” katanya. Aku mengangguk. Austin melepaskan lingkaran tangannya dari perutku dan darahku kembali mengalir seperti biasa. Aku berdehem.
Sepanjang jalan hanya kulihat banyak kuda dan rumput. Areanya melingkar dan kami baru saja melintasi lintasan pertama, austin memutuskan untuk keluar dari jalur dengan ijin pemiliknya lalu kami melintasi banyak pepohonan yang rimbun.
“ aku belum pernah membawamu kesini kan?” tanyanya
“ yeah—“ kataku, lalu aku menoleh kearahnya, “kita mau kemana…”
“ diujung sana ada tempat bagus untuk melihat pemandangan- perjalanannya agak jauh, tapi aku janji akan sepadan…” katanya tersenyum
“ oke—“ jawabku
“ kalau kau lelah, sandarkan saja tubuhmu kepadaku..” ujarnya
“ terimakasih..” kataku, tapi aku tidak bersandar. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau darahku mengalir deras seperti tadi lagi- tidak, aku tidak mau walaupun rasanya menyenangkan.
“ kau haus?” tanya austin, dia mengeluarkan botol minum dari ransel samping kudanya lalu memberikannya kepadaku. Aku meneguk beberapa lalu menyerahkannya lagi kepada austin.
“ untukmu saja—“ katanya, “kau tidak suka kalau bekas mulutku kan?” ujarnya. Aku tertawa
“ yeah- tumben sekali kau ingat..” aku memegang botol itu
“ kau selalu marah padaku kalau aku memakai sendokmu, botolmu dan segala macam..” aku tertawa
“ habisnya kau jorok!” ujarku, dia tersenyum menggumam. Tanpa kusadari aku menyandarkan tubuhku kembali kepada Austin dan austin melingkarkan tangannya lagi. Jantungku kembali mengalir deras. Tubuh austin hangat dan nafasnya juga. Aku menoleh memandangnya, dia tampak tidak terganggu sedikitpun. Wajahnya yang selalu tersenyum memandang lurus kedepan dan santai.
“ kapan Justin pulang?” tanyanya memecah keheningan. Oh iya, justin pacarku.
“ oh! Mungkin beberapa hari lagi.. lusa, mungkin.. aku tidak tahu…”
“ kau tidak tahu?” tanyanya. Aku menghela nafas.
“ dia tidak bilang akan pulang kapan dari sana..” jawabku
“ jangan sedih..” katanya sambil menunduk menatapku. Wajahnya tersenyum hangat.
“ aku tidak sedih…” jawabku mengejutkan- karena ya, aku tidak begitu memikirkannya selama dia pergi. Mungkin hanya beberapa kali, tapi- tidak banyak.
“ maafkan aku kau harus bersamaku hari ini disini…” kataku. austin tertawa kecil masih sambil fokus kedepan.
“ aku tidak menyesal..” katanya menganggetkanku. “aku tahu olivia pasti tidak suka juga bermain kuda seperti ini…” katanya lagi. “dia seperti bukan tipe gadis seperti ini, dia lebih seperti…”
“ gadis pesta?” tanyaku. Austin mengangguk setuju. Angin menerpa wajahku lagi, hangat dan sejuk- wangi tubuh austin tercium dihidungku, aku merasa nyaman dengan wanginya- tanpa sadar aku menyenderkan kepalaku lebih dalam lagi ketubuhnya. Austin tidak merasa terusik sedikitpun.
“ kau serius dengan olivia?” aku kaget sendiri kata-kata ini keluar dari mulutku
“ maksudku- kau benar mencintainya atau seperti gadis lain, hanya kau..”
“ aku tidak tahu.” Potongnya. Aku diam mendengarkan detak jantungnya.
“ ya, aku suka padanya—“ katanya sambil merendahkan dagunya menunduk, “tapi aku tidak tahu.. apakah aku benar-benar suka atau...”
“ jangan dipikirkan!” gantian sekarang aku yang memotong. “jangan terlalu banyak berpikir, kau menciptakan masalah yang sebetulnya tidak ada menjadi ada dan ribet…” kataku lagi. Dia menghela nafas lalu mengangguk.
Cukup lama kami hanya diam dan terkadang austin bersenandung sepanjang perjalanan. Terkadang aku menjauhkan tubuhku darinya untuk melihat pemandangan lebih jelas- tapi kembali lagi bersandar karena aku capek dan bosan. Setelah menempuh setengah jam perjalanan dan hari sudah mulai agak sore, akhirnya kami sampai diarea yang lapang, penuh pohon dan rumput yang hijau dan ada beberapa orang juga bersama kudanya masing-masing. Austin turun duluan lalu dia membantuku untuk turun. Aku sedikit melompat saat sudah beberapa centi dari bawah, lalu aku merapihkan pakaianku dan berjalan mendekati austin yang sedang mengikat tali kudanya didekat pagar, yang bisa diduduki juga karena kulihat beberapa orang duduk. Begitu selesai mengikat tali kudanya, austin mengajakku untuk duduk dirumput sambil menatap langit sore yang terbentang begitu luasnya dipadang ini- dan baru aku sadari- benar benar indah. Austin melepas topi koboinya dan mengacak-acak rambutnya yang agak basah, aku menatap austin selagi dia melakukannya dan harus kuakui, aku bisa melihat mengapa banyak wanita tergila-gila dengannya.
“ hei..” ujarnya membuyarkan lamunanku, aku menarik napas lalu tersenyum.
“ kenapa kau tidak pernah mengajakku kemari sebelumnya? Tempat ini keren, daripada kita terus mengelilingi lintasan…” kataku. austin menaruh topinya dikepalaku, aku membetulkan letak topiku.
“ aku lebih suka melihatmu ketakutan dilintasan..” ujarnya. Aku memukulnya pelan
“ tapi kau tidak begitu takut hari ini, dan aku sudah bosan mengerjaimu- jadi..” dia menggerakan tangannya dan mempersembahkan padang ini. Aku tertawa.
“ kau jahat austin, kau jahat..” ujarku, dia mengangkat bahunya, “tapi padang ini begitu indah…” kataku
“ yeah—“ ujarnya, dia duduk mendekat kearahku. Angin kembali menerpa wajahku dan rambut austin makin berantakan, membuatnya menjadi semakin tampan.
“ oh!” aku berseru saat ponselku bergetar dan kulihat ada pesan dari Justin. Tubuhku terkulai saat membaca pesannya. Austin memandangiku tidak sabar dan penasaran.
“ apa katanya?” aku memasukkan ponselku kembali kedalam kantung dan menghela nafas
“ bahannya belum selesai- dan kemungkinan dia akan ada disana sampai waktu yang tidak bisa ditentukan..” kataku lemas. Raut wajah austin semakin melunak dan dia memelukku. Aku membalas memeluknya erat.
“ dia pasti pulang..” kata austin, aku mengangguk. Aku melepaskan pelukannya.
“ tidak tidak tidak! Kita harus bahagia oke, hari ini! Cukup sudah dengan kemuraman ini. Justin diluar, Olivia tidak bisa datang.. tidak- cukup!” ujarku kesal sendiri. Austin tersenyum melihatku.
“ kau benar, kita harus bersenang-senang..” ujarnya
“ tentu saja aku benar- sebelum bertemu dengan mereka, kita bahagia ingat! Kita pasti juga bisa sekarang..”
“ Haley, kita tidak putus…”
“ aku tahu!” ujarku, “tapi kau tidak bahagia dengan olivia dan aku tahu itu!” kataku, “dan kau tahu itu..” tambahku lagi. Austin menunduk. Aku jadi merasa bersalah. Aku diam lalu menyentuh bahunya.
“ Austin..”
“ Kau benar, aku memang tidak bahagia bersamanya..” akhirnya austin mengakui, aku kaget mendengarnya kata ini muncul dari mulutnya sendiri
“ Dia tidak bisa menerima aku seperti ini, bartender… suka berkuda…”
“ Austin, aku minta maaf..”
“ Tidak apa-apa. Dia berasal dari keluarga kaya, jadi kurasa memang dia punya standart sendiri..”
“ kau mau berhenti jadi bartender?” tanyaku. Dia menggeleng.
“ takkan kubiarkan seseorang mengubahku..” jawabnya pelan. Aku tersenyum.
“ kalau memang dia mencintaiku, harus menerimaku apa adanya…”
“ Oh austin..” aku tidak tahan untuk tidak memeluknya. Lelaki tampan malang ini sungguh punya pendirian yang luar biasa. Aku mengelus rambutnya yang berantakan dan dia menenggelamkan wajahnya ketubuhku.
“ olivia wanita yang baik sebagai teman- sungguh, tapi kalau kau merasa tidak bisa dengannya, kau harus bilang padanya..” ujarku. Austin mendengarkan aku seperti anak kecil.
“ dan kalau dia tidak mau menerima mu apa adanya, kau yang memutuskan bagaimana selanjutnya..” ujarku, austin tersenyum lalu meraih kedua tanganku. “ kau memang benar-benar wanita satu-satunya dihidupku, setelah ibuku tentu saja..” ujarnya, aku tersipu mendengarnya.
“ dan selama justin disana- aku akan menjagamu..” lanjutnya lagi, aku mengangguk dan duduk kembali seperti posisi semula.
Aku melirik jam tanganku. “sebentar lagi matahari tenggelam..” kataku
“ yeah- akan sangat bagus kalau kita lihat dari sini..” ujarnya sambil tersenyum. Angin berhembus semakin kencang, dan aku mulai merasa kedinginan.
“ kau kedinginan?” sebelum aku menjawab austin sudah melingkarkan tangannya dipunggungku dan mendekapku. Lagi lagi aku merasakan darahku mengalir deras. Aku ingin tahu apakah ini hanya aku atau dia juga begitu.
“ tubuhmu memang dingin..” kata austin. Satu tangannya menggenggam tanggan kananku, sepertinya dia sama sekali tidak canggung dan menganggapnya biasa. Memang ya, kami suka seperti ini- dulu sebelum aku dan austin sama-sama punya pacar, tapi rasanya kali ini berbeda. Berbeda untukku maksudnya, aku tidak tahu dengan Austin.
“ oh! Langitnya sudah mulai senja- sebentar lagi..”
Aku dan Austin sama sama memperhatikan gerak matahari yang perlahan turun turun dan turun. Aku benar benar terpukau melihatnya. Aku tersenyum saat matahari sudah benar benar tenggelam dan hari berubah menjadi agak gelap. Austin menoleh kearahku.
“ bagus sekali..” ujarku tidak tahu harus berkata apa
“ aku tahu..” austin berkata pelan. Kami sama sama memandang dalam pelukan austin, genggaman tangannya menjadi lebih kuat tapi halus. Aku tanpa sadar memajukan wajahku dan aku sadar dan aku mundur lagi tapi austin menahannya. Kami diam. Austin memajukkan wajahnya kali ini dan aku sama sekali tidak memundurkan wajahku.
“ Austin..” gumamku, dia tidak berbicara banyak- austin menyentuh hidungnya dengan hidungku. Bibir kami tinggal beberapa centi jaraknya.
“ Austin jangan..” kataku tapi austin menahan aku berbicara. Saat dia ingin memajukkan wajahnya lagi dan menyentuh bibirku, ponselku berdering kencang sekali sampai sampai aku memekik- dan austin kaget spontan menjauh dariku dan melepas pelukan dan genggamannya.
“ JUSTIN!” aku percaya aku berteriak saat memanggil namanya, aku mengatur nafasku sambil menyentuh pipiku. Justin meneleponku untuk mengatakan bahwa dia disana bisa sampai setahun lebih karena rupanya selain untuk skripsi, dia dapat projek tambahan magang disalah satu perusahaan arsitek sebagai intern. Aku menoleh kearah Austin saat aku berbicara mendengarkan Justin. Austin menunduk sambil memainkan ibu jarinya yang bertautan- aku tidak bisa melihat wajahnya secara langsung.
“ Oke. Kau hati-hati disana… ya, kita lihat bagaimana hubungan kita nanti… yaa- jalani saja sekarang, ya… aku tidak apa-apa….. bye..” aku memutuskan hubungan telefon kami. Aku memasukan ponselku kesaku.
“ Tadi Justin…” kataku berusaha mencairkan suasana
“ Kenapa?” suara Austin lebih rendah daripada sebelumnya. Dia masih menunduk tidak melihatku.
“ dia akan disana selama setahun lebih..” kataku, “dia dapat kerja intern disana…”
“ dia pergi begitu saja seenaknya?” austin mulai mendongak, “tanpa membicarakannya denganmu terlebih dahulu?” tanyanya lagi- entah mengapa aku bisa menangkap dari nada suaranya, austin marah.
“ itu semua mendadak…”
“ dan meninggalkanmu disini?” tanyanya lagi tidak memperdulikan perkataanku
“ lelaki macam apa itu meninggalkan dirimu seperti itu!” dia jadi marah!
“ austin..”
“ Haley, aku akan menjagamu-“
“ terimakasih, dan kau tidak usah marah padanya…” kataku
“ tentu saja aku marah padanya!” ujarnya, “membiarkanmu seperti ini, setahun disana!”
“ austin- aku baik baik saja kok. Lagipula, aku dan dia sepakat untuk menjalaninya santai… dan lihat kemana arahnya seiring jalan..” kataku menenangkan. Austin menatapku keras. Lalu wajahnya melunak lagi.
“ maafkan aku soal tadi…” katanya, wajahnya memerah- dan aku tahu persis apa yang dia maksud
“ tidak apa-apa..” kataku sambil menepuk bahunya
“ mungkin kalau ponselmu tidak bunyi- aku tidak tahu apa yang akan terjadi..” kata austin
“ kau akan menciumku..” kataku tertawa, austin juga. Seketika suasana menjadi cair.
“ maafkan aku dan tetap jadi sahabatku?” tanyanya
“ tentu saja, kita ini kan sepasang sepatu katamu…” jawabku sambil menyenderkan kepalaku dibahunya.


------------------------------ sekarang -------------------------------

“ nah, rambutmu sudah cantik…” kata siwanita yang sedari tadi tidak henti-hentinya bercerita tentang anaknya yang pergi keluar negeri untuk menimba ilmu dan sampai sekarang belum memberi kabar sama sekali. Aku menatap cermin. Aku sangat cantik. Aku tersenyum dan mengucapkan terimakasih kepada mereka. Aku menyuruh mereka berdua untuk istirahat dan makan kue-kue didepan dulu sebelum mereka memakaikan aku make up. Mereka akhirnya keluar dari kamarku. aku buru-buru mengambil handphoneku yang kutinggal diranjang. Kecewa. Tinggal 5 jam lagi aku menikah, Austin sama sekali belum memberiku kabar sama sekal.
Apakah aku harus meneleponnya. Aku mencari kontak namanya lalu secara perlahan menekan tombol dial. Aku menunggu sampai ada yang mengangkat.
“ Hallo!” jantungku berdebar karena nomor yang aku hubungi, perempuan yang menjawab
“ Hallo, selamat siang- apa betul ini nomor ponsel Austin?”
“ Oh ya ya! Betul sekali.. tapi ponselnya tertinggal…”
“ Oh, pantas saja..” aku menggumam- kesal kenapa dia tidak memberitahuku
“ Kalau boleh saya tahu, ini siapa ya?” Tanya perempuan tersebut
“ Oh, maaf sebelumnya- aku temannya Austin. Namaku Haley…”
“ OH HALEY!” wanita itu terdengar girang mendengar namaku. Aku jadi bingung
“ Oh maaf Haley, Austin sedang tidak disini- dia keluar beberapa hari yang lalu..” kata wanita itu
“ Keluar? Mmm maaf, kalau boleh tahu- ini saya berbicara dengan siapa dan dilokasi mana ya?”
“ Oh, aku hanya maid hotel disini- kebetulan aku sedang membersihkan kamarnya, dan handphonenya tertinggal.. eh jangan salah sangka ya, aku tidak..”
“ Oh ya ya ya! Tidak apa-apa, aku percaya pada anda..” aku bernafas lega. Itu hanya maid hotelnya
“ Jadi, Austin kemana ya? Dan kenapa kau bisa tahu tentangku?” tanyaku lagi
“ Oh, maaf sebelumnya- namaku nyonya phelps..”
“ hai nyonya phelps..”
“ dan Austin sedang pergi keluar entah kemana saya juga tidak tahu, mungkin kerumah temannya..”
“ apakah dia sendirian?”
“ ya, tanpa wanita..” ada gelombang lega mengetahui austin ternyata belum menikah sekaligus juga rasa ngeri bahwa aku akan menikah sebelum austin. Atau bukan dengan austin.
“ oh ya, austin sering bercerita tentangmu..”
“ ohya?” aku senang mendengarnya, aku duduk diranjang sambil mengangkat kakiku
“ apakah austin baik-baik saja disana? bagaimana hidupnya di…?”
“ new york- ya dia baik-baik saja..” Austin di New York? Bagaimana dia tidak pernah memberitahuku
“ mm begini nyonya phelps, boleh kau ceritakan bagaimana dia disana? aku akan mendengarkan dengan sabar, itupun kalau kau mau dan kau sedang tidak sibuk tentu saja..”
“ oh- aku suka sekali berbicara, haley- kalau kau menyuruhku berbicara aku tidak akan berhenti, seperti sekarang ini, dengar?” aku tertawa mendengarnya.
Nyonya Phelps menceritakan dari awal austin datang. Dia kelihatan marah dan ada masalah saat pertama kali datang disini katanya, dan akhirnya dia memutuskan untuk menginap dengan jangka waktu yang lama. Akhirnya sang pemilik hotel yang merasa kasihan uangnya terkuras terus untuk membayar hotel membiarkan dia tinggal asal dia bekerja sebagai pelayan direstoran hotel mereka, dan Austin mengiyakan. Beberapa bulan austin disana, dia mendapat pekerjaan sambilan juga disana, lagi-lagi sebagai bartender. Dan selebihnya, kata nyonya phelps austin hanya terlihat saat dia mau keluar kamar dan masuk kedalam kamar, tidak pernah lebih dari itu. Nyonya phelps satu-satunya orang yang dekat dengan austin di newyork. Dia tidak punya teman sama sekali, dan dia tidak pernah kelihatan bersama dengan perempuan manapun katanya.
Begitu mendengar ceritanya, aku agak lega dia masih jelas ada dimana dan ada pekerjaan, walaupun aku juga sedih dia sendirian disana. aku tidak mengerti kenapa austin pindah ke new york, dia sama sekali tidak pernah membicarakan ingin kesana denganku. Ia tidak suka kota besar.
“ kata austin kau wanita yang hebat, haley..” kata nyonya phelps
“ ah, dia juga lelaki yang hebat nyonya phelps..” nyonya phelps menggumam
“ jadi ada hubungan apa sebenarnya antara kau dan austin sih? Maaf aku tahu ini personal tapi aku benar-benar penasaran. Austin bilang kalian hanya teman dekat, apa iya seperti itu?”
“ ya, kami teman dekat nyonya phelps..”
“ oh please, honey- panggil aku hilda saja..” katanya
“ oh, baiklah hilda..” aku tertawa kecil
“ hmm, teman baik? Apakah kalian pernah menjalin cinta?”
“ ah tidak tidak! Kami benar-benar hanya teman, hilda..”
“ dari cerita yang aku dengar, austin sepertinya sayang sekali denganmu..”
“ aku juga sayang sekali padanya..”
“ aww! Sudah lama aku tidak mendengar cerita roman seperti ini, ayo ceritakan lebih…”
“ hilda,” aku tertawa, “kami hanya teman kok, dan lagi- beberapa jam lagi aku akan menikah..”
“ Menikah??” tanya Hilda terkejut sampai sampai dia seperti berteriak
“ yeah—“ jawabku, “bukan dengan austin tentu saja…” kataku menambahkan
“ oh, Haley- kenapa kau tidak menikah saja dengan austin!” hilda seperti sedang menonton film dan menggerutu karena ceritanya keluar jalur.
“ umm, karena aku sudah punya tunangan tentu saja.. aku tidak bisa menikahi austin..”
“ ya ya ya, aku mengerti! Maaf, aku minta maaf..” ujarnya, “apakah lelaki ini temanmu juga? Teman austin juga?” tanya hilda.
“yeah, kami saling kenal. Malah kami satu kampus semuanya dulu…”
“ Justin, benarkah?” aku mengerutkan dahiku, bagaimana hilda bisa tahu? Apakah austin bercerita tentangku sampai sedetail itu? Tapi untuk apa?
“ Justin, ya! Kau tahu darimana? Apa austin pernah bicara tentang justin juga?”
“ Oh yeah- setiap kali dia menyebut nama Justin, dia seperti kesal…”
“ dia memang tidak suka pada justin..” kataku mengiyakan
“ apakah dia pernah menyebut kenapa?” tanyaku. Hilda berdehem dan terdengar seperti berpikir
“ sebenarnya ya, dia pernah bilang- tapi aku lupa kenapa…” katanya. Aku kecewa mendengarnya.
“ tidak apa, hilda… umm, kalau kau bertemu dengan austin- atau austin sudah pulang, bisa beritahu aku untuk menghubungiku?” tanyaku
“ oh yeah, tentu saja sayang… dan semoga berbahagia- kau dan justin itu ya..” klik. Sambungan kami putus. Aku menghela nafas.
“ yeah- semoga..” gumamku pelan sambil menatap diriku dicermin.

--------------------------------------------- 7 tahun yang lalu--------------------------------------------

“ Happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday dear austin..” aku membawakan kue ulangtahun ukuran kecil dan masuk kedalam kamarnya yang gelap- membangunkan dia yang hanya mengenakan boxernya saja dan duduk ditepi ranjangnya. Dia kelihatan kaget tapi tertawa melihat aku membawakan kue ulangtahun untuknya. Dia menyalakan lampu disekitar tempat tidurnya.
“ tiup lilinnya austin!” kataku bersemangat. Austin meniup lilinnya lalu mengibas-ngibaskan asapnya. Aku menaruh kuenya diatas meja tidurnya dan melompat kepangkuannya memeluknya.
“ selamat ulang tahun!” kataku seraya mencium pipinya
“ terimakasih…” ujarnya tersenyum
Semenjak austin dan olivia putus, dan justin masih diluar negeri- aku dan austin hidup bersama lagi dan menjadi lebih dekat daripada sebelumnya. Aku berguling kesisi ranjangnya yang kosong dan bersandar padanya.
“ kau sudah semakin tua..” kataku sambil mendongak menatapnya, dia merangkulku lalu menyelimuti kami berdua sampai batas paha. Austin mengambil kue ulangtahunnya lalu mulai mencuil-cuil gula dan cokelatnya. Aku ikutan mencuil gulanya lalu mengoleskannya kehidungnya. Austin tidak memberontak dan dia membalasnya mengoleskan dihidungku- kami sama sama tertawa, lalu menikmati kue itu dengan liar, tanpa pisau,  main comot pakai tangan.
“ Hmmm..” gumamnya, “kau harus beli yang lebih besar dari kue ini…”
“ ergh, aku tahu- maaf aku tidak membelikan yang lebih besar.. kehabisan..” jawabku sambil mengunyah. Dia masih membersihkan jarinya dari gula gula krim yang menempel. Aku merasa sudah kenyang lalu keluar dari selimut beranjak ke toilet untuk cuci tangan, austin mengekor dari belakang. Kami berbagi wastafel sambil mencuci tangan dan sesekali mencuri pandang kearah kaca. Aku baru sadar austin tidak mengenakan baju, hanya memakai celana boxernya.
“ terimakasih ya untuk kuenya..” katanya sambil mengeringkan tangannya dihanduk lalu menyerahkannya kepadaku. Aku ikut mengeringkan tangan dan hidungku yang kena gula tadi.
“ tidak masalah, austin… kau kan temanku..” aku menaiki punggungnya meminta digendong dan austin menggendongku sampai aku tiba dikamarku, dia begitu kuat. Austin menurunkanku diranjangku dan menarik selimutku sampai batas perutku.
“ kembalilah tidur, besok kita jalan-jalan!” katanya, aku mengangguk dan mencium pipinya mengucapkan selamat malam dan selamat ulang tahun lagi, lalu berguling kesisi satunya lagi sambil memejamkan mata seiring austin menutup pintu kamarku.

*
“ oke mau kemana kita hari ini?” tanyaku saat austin sudah menggedor pintu kamarku menyuruhku untuk mandi dan bersiap. Dia keluar dari dapur sambil memakan roti.
“ pikirkan satu tempat, dan kita akan kesana..” aku mulai berpikir
“ jangan berpikir seperti itu juga, tapi spontan. Begini, tempat apa yang pertama kali ada diotakmu?” tanyanya. Aku berpikir. Austin mendecak kesal, “ jangan berpikir, sebut spontan…” ujarnya. Aku lalu meng-oooh.
“ ayo ulangi lagi..” kataku
“ tempat apa yang pertama kali ada diotakmu?”
“ perpustakaan!” kataku cepat dan benar-benar tanpa berpikir. Aku dan austin sama-sama melongo
“ really?” austin terlihat kecewa. Aku mendesah frustasi. Tapi dia menepuk bahuku
“ ayo kalau begitu, perpustakaan..”
“ kau serius?” tanyaku tidak percaya
“ itu permainannya, haley- sudah terlanjur..” dia menggiringku keluar
“ ugh, mau apa kita disana?” tanyaku menyesal tempat itu yang pertama terlintas dipikiranku
“ makanya, jangan sebut sembarangan..”
“ kau sendiri yang bilang, apa yang pertama terlintas..”
“ dan perpustakaan adalah yang pertama terlintas dipikiranmu? Dari sekian banyak tempat?” aku memutar bola mataku dan austin tertawa melihatku, dia merangkul bahuku sambil berjalan.
“ sudahlah, ayo- pasti menyenangkan..” katanya meyakinkanku.
Sesampainya diperpustakaan kota kami yang super besar, aku dan austin merasa canggung. Dari luar gedungnya terlihat biasa saja, tapi begitu sampai didalam dan masuk melewati loby, ruang perpustakaannya sungguh besar. Buku dari ujung ke unjung penuh didalam rak. Ada beberapa tempat untuk duduk dan untuk bermain komputer. Aku terpesona dengan banyaknya buku yang menjulang dari lantai sampai keatap dan tidak sadar austin sudah hilang dari sebelahku.
“ austin!” panggilku sambil berlari kecil mencarinya dari rak ke rak. Aku mengecilkan suaraku lalu mencarinya dari rak ke rak, tapi dia tidak ada, aku mengambil ponselku untuk meneleponnya dan saat aku berada dirak ke4, tiba-tiba seseorang memeluku dari samping dan menyeretku – aku memekik kaget dan spontan menonjoknya dan barulah aku sadar itu Austin. Dia tertawa terbahak bahak sambil memegangi pipinya yang kena tonjok.
“ Austin! Tidak lucu!” aku ngomel ngomel lalu memelankan suaraku. Austin masih tertawa terbahak bahak melihatku.
“ Kau harus lihat wajahmu tadi saat memekik!”
“ ergh.. diam kau, brengsek..” kataku kesal sambil membetulkan letak tas-ku. Austin menyentuh lenganku dan menarikku kearahnya.
“ maaf yaaa, jangan marah! Aku cuman bercanda- tapi sungguh, kau harus lihat wajahmu..” dia tertawa lagi. Aku mengambil salah satu buku dari rak lalu memukulinya habis-habisan, austin masih tertawa dan mengaduh sambil minta maaf dan berusaha menenangkanku yang memukulinya- aku ikutan tertawa sekaligus sebal dengannya.
Austin akhirnya berhasil mengambil buku dari tanganku dan dia menarik tanganku untuk diam. Dia mendekatkan wajahnya membuat aku berhenti sekaligus wajahku memerah.
“ Aku minta maaf.. dan aww- sakit sekali loh! Kau bertenaga juga rupanya..” katanya sambil melepaskan tanganku dan mengaduh. Dia kembali meletakkan buku tadi ketempatnya.
“ jangan ulangi lagi..” kataku dibelakangnya sambil melihat deretan buku. Ternyata kami berada dideretan buku dongeng. Aku menyapu jari-jariku mencari cerita yang aku mau. Austin melihatku dan mendekat, dia ikut membaca judul-judul bukunya.
“ jam berapa sekarang?” tanyanya. Aku berhenti membaca judul lalu melirik jamtanganku.
“ jam 12.. kenapa?” kataku.
“ kita bisa mencoba membaca banyak buku disini, berdua- pasti menyenangkan..” katanya
“ austin- tentu saja kita akan membaca buku, makanya tempat ini disebut perpustakaan..” jawabku
Austin menelusuri jarinya dirak satunya lagi dan menemukan sebuah buku dan menunjukannya kepadaku.
“ PeterPan!” katanya senang. Dia tahu aku suka sekali dengan dongeng peterpan. Aku langsung berhenti dan meraih bukunya. Bukunya seperti buku anak-anak. Full colour, tapi ini tentang legenda-nya, bukan dongeng dari disney.
“ ayo cari yang lain lagi austin..” kataku sambil mendekap buku tersebut didadaku. Aku juga ikut mencari. Kami asik mencari di bagian dongeng ini selama beberapa menit dan akhirnya ada 6 buku yang kami dapat, austin duduk dilantai dekat deretan dongeng disney dan aku duduk disebelahnya. Kuletakkan tasku disamping dan buku-buku didepannya. Baru pertama kali aku excited keperpustakaan seperti ini.
“ mulai darimana dulu?” tanyaku, mata austin mencari cari buku yang mana yang sekiranya pas dan dia meraih satu buku dongeng ‘Narnia’. “bagaimana dengan ini?” katanya. Aku melihat sekeliling buku-buku lalu akhirnya mengangguk. Aku mendekatkan dudukku kearahnya dan kami sama-sama membuka buku tersebut. Kami membaca, berdiskusi dan menertawakan illustrasi-illustrasi yang ada selama berjam-jam kami membahas buku tersebut. Dan akhirnya kami sampai pada halaman terakhir.
Buku kedua kami adalah salah satu dongeng ‘Abarat’ aku tidak mengerti tentang apa buku itu, tapi aku dan austin setuju untuk melihat illustrasi berwarnanya saja. Illustrasi berwarnanya benar-benar menarik. Kami banyak bercakap-cakap sebenarnya gambar apa yang ada dibuku tersebut dan akhirnya kami menamai semua gambar yang ada dibuku itu sambil tertawa keras, dan sesekali austin menutup mulutku saat tertawa karena aku tertawa terlalu keras.
Jam jam pun berlalu, sudah 4 buku kami telusuri- mulai dari awalnya membaca dan ujung-ujungnya hanya melihat gambarnya dan mengira-ngira apa ceritanya. Austin terlihat senang sekali dihari ulangtahunnya walau kami habiskan diperpustakaan seperti ini.
“ Austin! Sudah jam 4!” ujarku kaget saat aku tidak sengaja melirik jam tanganku. Dia menutup buku keempat kami lalu ikutan melongok.
“ Ya Tuhan, kita sudah berjam jam diperpustakaan ini..” dia seakan tidak percaya dan tertawa
“ 4 jam.. kita hanya sibuk menamai semua illustrasi dan menebak nebak jalan ceritanya..” kataku. aku meraih buku peterpan yang belum sempat kubaca, aku berniat untuk meminjamnya dan kubaca saat dirumah.
“ aku lapar..” kataku
“ ayo kita ketaman cari makanan!” austin lalu membereskan buku-bukunya dan menaruh kembali dirak-rak yang ada. Aku kemeja depan untuk meminjam buku. Beberapa menit kemudian, austin menghampiriku dan kami berjalan ketaman. Sesampainya ditaman, ramai sekali dengan anak kecil yang berlarian dan beberapa orang yang hanya duduk makan eskrim mereka.
“ mau hotdog?” tanyanya, aku mengangguk. Kami memesan 2 hotdog dan mencari tempat duduk setelah membeli minuman- kami duduk didekat taman anak-anak. Memperhatikan mereka bermain dan menerbangkan layang-layangnya. Aku mengamati layang-layang yang ada diatas, terbang meliuk-liuk sambil mengunyah hotdogku.
“aku tidak menyangka perpustakaan bisa senyaman itu..” dia tertawa kecil mengingat keasikan kami selama empat jam didalam sana. Aku juga mengangguk dan tertawa kecil, sama tidak percayanya dengan dia.
“ tidak sia-sia ulangtahunku kita kesana..” ujarnya
“ kau mau kemana lagi- masih ada…” aku melirik jamku lagi, “sekitar 7 jam lebih sebelum harimu habis..”
Dia tertawa dan masih mengunyah makanannya yang sudah sekali suap lagi, habis. Dan hap! Habis. Dia menyedot minumannya lalu memperhatikan layang-layang yang diudara.
“ aku ingin disini dulu sebentar…” katanya, aku mengangguk. Kami berdua diam seperti orang terhipnotis oleh layang-layang yang terbang diudara, kami asik mengamati layangan tersebut dan saat ada yang putus, aku dan austin langsung spontan berseru “putus!” bersamaan dan tertawa melihat anak-anak saling mengejar layangan yang putus tersebut.
Makanan dan minumanku sudah habis. Aku menyenderkan punggungku kesenderan kursi taman dan meghela nafas.
“ ada kabar dari Justin?” tanya austin. Aku mengangguk.
“ yeah, bulan depan katanya dia sudah pulang..” aku mengucapkannya tanpa semangat sedikitpun
“ kenapa nada suaramu seperti itu?” austin ternyata menyadarinya
“ ha? Tidak apa-apa..” kataku. austin akhirnya berhenti bicara, dia hanya memperhatikanku.
“ ada yang salah kau dengannya?” aku diam tidak menjawab. Aku tidak tahu apa yang salah denganku dan justin. Selama dia di New York sana, awalnya aku dan dia sering sekali skype-an atau hanya chat-chat kecil dan mengirim pesan, tapi beberapa bulan terakhir ini- justin lebih cuek kepadaku. Sehari bisa dia tidak memberikan kabar padaku sama sekali, seperti sebulan belakangan ini. Dan baru hari ini dia memberitahuku bahwa bulan depan dia akan pulang dan hanya sebentar disini, lalu pergi kesana lagi untuk kerja- katanya masa internya diperpanjang.
“ aku baik baik saja..” kataku tersenyum kepada austin. Austin meraih tanganku.
“ kalau ada apa-apa katakan saja padaku…” aku mengangguk, “pasti..” jawabku
“ kau sudah menemui wanita lain belakangan ini?” tanyaku. Dia menggeleng.
“ sebagai bartender, semua menyukaiku- tetapi aku tidak tertarik dengan mereka..”
“ karena trauma olivia?”
“ bisa dibilang…” ujarnya. Pacar terakhirnya, Olivia yang tidak sengaja bertemu dibar dimana Austin bekerja ternyata tidak bisa menerima Austin apa adanya, karena dia menganggap bartender adalah pekerjaan rendahan, dan kepribadian mereka tidak cocok sama sekali. Austin secara aneh, menerima keputusan untuk putus ini dengan tenang, tidak sedih atau mengurung diri sedikitpun- walau aku sudah berusaha menyuruhnya untuk berbicara seluruhnya kepadaku, dia tetap bilang dia tidak apa-apa, beberapa hari kemudian setelah aku mendampinginya terus, barulah aku sadar- dia memang baik baik saja. Sama sekali tidak patah hati dan sedih. Mungkin bagi Austin, Olivia memang tidak pantas dijadikan pacarnya.
“ cukup kau wanita dihidupku..” katanya pelan sambil menatap kosong. Aku menoleh.
“ austin, kau tidak bisa terus menerus mengandalkanku..” ujarku, “suatu saat kita akan berpisah..” aku menjelaskan lagi. Austin diam menunduk memandang cup minumannya yang sudah kosong.
“ austin, kita akan menikahi orang lain suatu hari nanti..” aku meraih tangannya. Austin menatap mataku akhirnya. “ dan aku tidak mungkin bersamamu terus setelah kita masing-masing berkeluarga..” kataku.
“ bagaimana kalau aku tidak ingin menikah dengan orang lain kecuali dirimu?” pertanyaannya langsung menghantam kepalaku. Menyebabkan aku diam dan melongo sejenak hanya memandangi austin bingung.
“ austin, aku bersama Justin..” kataku tertawa kecil. Dia sama sekali tidak tertawa.
“ kau mau bersamanya sampai seumur hidupmu?” tanyanya. Aku diam.
“ lelaki yang meninggalkanmu ke luar demi pekerjaan dan tidak bilang sama sekali denganmu?”
“ dia mengerjakan skripsi..”
“ dan bekerja disana…” bahuku turun saat mendengar nada bicara austin. Rupanya dia masih kesal karena justin tidak bertanggung jawab main tinggal disana saja tanpa bicara denganku sebelumnya terlebih dahulu.
“ kau bisa lihat dari waktu itu dia tidak mempedulikanmu sama sekali, haley.. bagaimana dia akan menjadi suami yang baik…”
“ dia peduli padaku, oke- hanya saja kesempatan yang dia dapat disana besar…”
“ berarti dia lebih memilih karir dibanding dirimu..” austin memotongku cepat. Aku mulai naik darah.
“ terserah apa katamu..” ujarku akhirnya kesal. Austin diam- tidak juga mau bicara denganku.
“ apa dia masih menghubungimu?” tanyanya sekali lagi. Aku diam tidak menjawab. Kesal karena kalau aku menjawab austin akan memojokanku lagi dan aku mulai berpikir tentang apa yang dikatakan austin sebelumnya.
“ tepat seperti dugaanku…” katanya tertawa sinis saat aku tidak menjawab.

*

Saat aku bangun pagi harinya, austin sudah duduk dimeja makan sambil memegang banyak kertas kertas, dari yang berupa tumpukan- sampai kertas-kertas kecil. Aku mendekat disampingnya.
“ Haley, tahukah kau kalau kau punya lahan kosong besar dekat pertokoan seberang?” tanyanya masih sambil membaca salah satu bundelan kertas tebal. Aku melongo, lalu duduk disebelahnya ikut membaca.
“ Apa maksudmu?” tanyaku. Dia menyerahkan kertas kertas yang lain untuk kubaca. Aku membaca judul kertas itu ‘PENGALIHAN HARTA WARIS’. Ini pasti dari nenekku. Aku mulai membacanya satu persatu- ini daftar pembagian warisan. Kubaca daftar-daftar namanya, ya- keluargaku, lebih tepatnya aku- diberikan tanah seluas setengah hektar yang memang sering kulewati kalau aku dan austin jalan-jalan ke mall atau hanya keluar makan.
“ kapan surat ini datang?” tanyaku sambil menunjuk kertas yang kubaca. Dia membolak balik amplop cokelat besar dan melihat label pengirimannya. “sepertinya sudah seminggu, aku baru membuka kotak pos hari ini…” katanya. Aku membaca lagi.
“ austin, apa ada surat-surat mengenai kepemilikanku?” tanyaku. Austin kembali mengecek semua kertas dan didalam amplop besar tersebut. Dia menggeleng.
“ aneh- bagaimana tanah itu resmi jadi milikku kalau surat kepemilikannya belum ada ditanganku..”
“ disini dikatakan kau bisa mengambilnya…” kata austin, “dilembaga hukum tempat nenekmu mempunyai kuasa hukum? Nenekmu pengacara atau orang penting?” tanya austin. Aku mengangkat bahu. Aku tidak begitu tahu apa pekerjaan nenekku- tapi mungkin saat muda dia pengacara, aku juga tidak tahu.
“ sebaiknya aku telepon ibuku dulu,” aku menghempaskan kertas-kertas tersebut dimeja lalu mengambil ponselku dan menelepon rumah.
“ Ibu, hai- ini aku. Bu, tahukah nenek memberiku kuasa lahan kosong didekat pertokoan seberang jalan, mom?” aku diam sebentar membiarkan mom berbicara, dan rupanya dia sama terkejutnya denganku. Tapi dia memegang surat tanahnya, dan aku lega ibuku yang memegang rupanya.
“ oh- oke bu, aku akan kesana sore ini-“ aku melirik austin, dia mengangguk. “bye..” aku memutuskan telepon lalu menghela nafas memandang semua kertas yang ada. “tanah itu benar untukku..” kataku senang, austin mendongak dari bacaannya dan tersenyum melihatku.
“ ibuku yang memegang surat tanahnya..” kataku
“ apa yang akan kau perbuat dengan tanah itu?” tanya austin
“ ibuku menyuruhku untuk mengelolanya menjadi rumah, atau rumah makan- dia ingin memasak disana..” austin mengangguk-angguk setuju. Aku melihat kearah austin yang sekarang sedang membereskan kertas-kertasnya.
“ Hei, austin—“ kataku tiba-tiba mendapat ide, dia berhenti membersihkan kertas tersebut lalu menoleh kearahku, aku mencondongkan tubuhku kearahnya, “kau mau punya bar-mu sendiri?”

-------------------------------- sekarang -------------------------
“ oke, kemari duduk disini lagi, sayang- kami akan mendandani wajahmu…” aku kembali duduk dikursi rias sementara kedua wanita paruh baya itu mulai membersihkan wajahku dan mulai memoleskan sesuatu.
“ umm, aku tidak mau terlalu meriah..” kataku
“ tenang saja- kami akan membuatmu cantik..”
“ jangan terlalu banyak blush on dan eye shadow..” kataku mengingatkan. Mereka menghela nafas.
Aku memang tidak suka berdandan, tadinya malah untuk pernikahanku aku tidak mau dandan- atau hanya memakai dasar dasar saja, tapi ibuku melarangnya dan akhirnya datanglah kedua wanita ini. Aku melihat pantulan diriku dicermin dan mulai memikirkan Austin lagi.
Kemana dia sekarang? Sampai-sampai dia lupa untuk membawa ponselnya. Kenapa dia harus pindah ke New York? Ini  berarti sudah 2 tahun. Dan kenapa dia tidak cerita padaku kalau dia ada disana. apa yang dia lakukan disana sendirian. Beribu pertanyaan memenuhi otakku. Aku mulai cemas lagi dengan keadaannya.
Lamunanku buyar ketika Mally datang tergopoh gopoh masuk kamarku. aku menyuruh kedua wanita itu berhenti mencoret-coret wajahku dan Mally mendekat untuk bicara.
“ Haley, ada masalah sedikit…” katanya
“ Ada apa?” Tanyaku tidak sabaran
“ Buket bunga pengantinmu- dan seluruh bunga yang dipakai untuk resepsi hari ini- sampai sekarang belum juga datang…” dia memelukku- aku merasa jadi Mally yang khawatir.
“ Oh mally- tidak apa-apa.. aku pikir kau kenapa atau ada apa…” aku bernafas lega
“ Sungguh, kau tidak cemas?” tanyanya kaget, aku menggeleng- “ini pernikahanmu, kalau semuanya tidak sesuai dengan rencanamu bagaimana?” tanyanya. Aku diam. Pernikahan ini memang sepertinya tidak sesuai dengan rencanaku. Austin tidak datang. Itu sudah cukup membuatku frustasi.
“ Aku tidak peduli—“ kataku tenang, “kau bisa tolong telpon pembawa bunga-nya?” tanyaku. Mally mengangguk lalu dia berjalan menjauh dariku kearah jendela sambil marah-marah menelepon toko yang mengurus bunga-bunga yang kami pesan.
Aku menghela nafas lalu kembali duduk dibangku rias dan kedua wanita itu mulai memakaikan bedak diwajahku lagi. Mally masih mengomel ditelepon dekat jendela. “aku tidak mau tahu, tembus saja macetnya- terbang atau lari kalau perlu- aku tidak peduli! Cepat bawakan kami bunganya! Kau tahu ini untuk acara pernikahan kan, kau mau membuat wanitanya sedih…?” dia masih mengomel dan aku tertawa kecil mendengar dia menyerocos tiada henti. Aku lalu diam dan memikirkan kata-kata Mally.
“kau akan membuat wanita-nya sedih….” Kata kata mally berulang dikepalaku. Aku menghela nafas lagi. Salah satu perempuan yang mendadaniku, yang kuketahui belakangan namanya Diane- karena tertulis dijaket yang dia kenakan melirik kearahku.
“ kau baik-baik saja, nona?” tanyanya.
“ oh- ya. Ya, aku baik-baik saja.” Jawabku memaksakan senyum
“ soal bunga jangan khawatir- mereka akan datang sebentar lagi, percayalah padaku..” katanya lalu menaruh bedak dimeja rias. Aku tertawa kecil.
“ aku sama sekali tidak mengkhawatirkan bunganya..” kataku, dia melirikku sambil mengaduk-ngaduk tasnya lagi mencari sesuatu. Akhirnya dia menemukan eye shadow lalu berjalan lagi kearahku.
“ lalu apa? Kau rindu dengan mempelai priamu?” tanyanya. Aku diam
“ Umm..”
“ Haley- kau tenang saja, aku sudah mengomeli habis-habisan toko tersebut- mereka terjebak macet katanya. Macet. Jam segini? Mereka pikir aku bodoh apa?” mally memotong sebelum aku sempat menjawab pertanyaan diane. Aku tersenyum. Mally lalu berdiri menghadapku dan menatapku.
“ kau akan cantik sekali…” ujarnya tersenyum, aku juga ikutan tersenyum dan mengangguk
“ bagaimana Austin?..... maksudku, Justin…” wajahku memerah salah menyebut nama. Diane, Mally dan satu periasku lagi berhenti melakukan semua aktivitasnya dan memandangku. Wajahku serasa panas.
“ Justin—“ ulangku, “Mally, bagaimana dengan justin?” tanyaku. Mally merasa canggung untuk menjawab, dia berdehem.
“ well, dia baik-baik saja kurasa…. Sedang diam dikamarnya- atau entahlah aku tidak tahu…” aku mengangguk. “tapi, aku tidak tahu bagaimana dengan austin..” lanjutnya, maksudnya mungkin bercanda, tapi wajahku jadi tambah panas. Aku pun menunduk. Mally tahu ada yang tidak beres.
“ Haley..” aku mengibaskan tanganku, “ Kumohon jangan bilang apa-apa pada yang lain..” Mally mengangguk. “ada kabar dari austin?” tanyanya
“ siapa itu Austin?” tanya diane yang masih mengoleskan eye shadow kemataku dengan penasaran
“ Austin temanku…” kataku, “dan belum, belum ada kabar…” jawabku menatap Mally. Mally mengulum mulutnya dan mengelus pundakku. “aku akan mengurus bunga-nya dulu ya, kau baik-baik disini…” mally lalu keluar dari ruanganku.
“ Cukup eye shadownya.” Ujarku, dianne berhenti memoleskan. Lalu dia menatapku.
“ ada yang salah, nona?” tanyanya lagi. Aku menghela nafas dan menggeleng
“ tidak ada…” jawabku, “aku ingin bertemu Austin sekarang juga…”
“ temanmu?” tanya dianne
“ bukan, mempelaiku..” aku menoleh kearahnya bingung
“ Umm, kau bilang Austin, nyonya…”
“ JUSTIN!” aku berteriak akhirnya kesal. Aku salah memanggil nama lagi.
“ Justin. Aku ingin bertemu justin sekarang oke! Dia mempelaiku…” aku berteriak sendiri seperti orang gila. Kedua periasku saling menatap dan mengangkat bahu. Aku menghela nafas lagi lalu membenamkan wajahku dikedua tanganku. Ada yang benar-benar salah hari ini. Pernikahanku tinggal beberapa jam lagi, dan aku masih tidak tahu apa yang kurasakan sekarang.

--------------------------------------------- 6 tahun yang lalu--------------------------------------
Sudah beberapa bulan semenjak Justin pulang, dan akhirnya pergi lagi ke New York- aku dan Austin disibukkan dengan café besar kami yang baru selesai dibangun seminggu yang lalu. Hari ini keluargaku dan keluarga Austin berkumpul untuk meresmikan pembukaan café tersebut. Austin sudah mengundang semua temannya yang ada dibar, dan aku sudah mengundang teman-temanku yang ada di salon. Ya, belakangan ini- aku bekerja disalon- tapi mungkin kalau café ini berhasil, aku akan lebih fokus kepada café ini.
Ayah dan ibuku juga sudah mengundang seluruh temannya untuk datang, begitu juga dengan keluarga Austin. Keluarga Austin sangat berterimakasih padaku karena ikut menyertakan mereka dalam pembukaan café tersebut. Aku sama sekali tidak keberatan.
Rencana-nya Austin yang akan memantau seluruh kegiatan café setiap harinya, bersama dengan ibuku yang akan memasak bersama dengan 2 ahli masak lainnya. Sementara aku akan mengontrol kegiatan melalui catatan austin, atau hanya datang saja dan melihat. Justin sendiri senang aku memulai usahaku tersebut, dia bilang café akan mendatangkan untung yang besar. Sayang sekali dia tidak bisa datang karena dia baru akan pulang bulan depan- dan beberapa bulan kemudian akan balik ke New York tentu saja, karena perusahaan tempat dia magang menawarinya pekerjaan besar disana. aku sedih karena aku pisah dengannya, tapi tidak terlalu- karena kupikir aku sudah terbiasa ditinggal dengannya dan hidup dengan Austin.
Austin sendiri sedang dekat dengan seorang wanita yang konon katanya dikenalnya di bar- lagi. Dan aku belum bertemu sama sekali dengan wanita itu, tapi hari ini aku akan ketemu dengannya. Entahlah wanita seperti apalagi kali ini yang akan aku lihat- tapi aku punya feeling tidak enak.
“ Haley, kau lihat Austin?” tanya ibunya austin saat waktu sudah dekat untuk peresmian café kami. Banyak tamu yang sudah datang, aku berdiri diluar untuk mencari signal, menelepon Justin bahwa sampai sekarang café ini berjalan baik.
“ Oh, mungkin menjemput wanita-nya..” kataku tersenyum sambil mengetik pesan untuk Justin
“ Bukankah kau wanitanya?” ibu austin terlihat kaget ketika dia tahu bahwa aku bukan wanitanya
“ Oh bukan bukan!” aku buru-buru mengibaskan tanganku, “aku sudah punya pacar, dan austin juga kelihatannya begitu..” aku tersenyum lalu melanjutkan mengetik sms-ku.
“ Yaampun, kupikir selama ini- kau dan austin..” aku tertawa mendengarnya
“ Tidak, kami betul-betul hanya teman..” dan send! Pesannya sudah kukirim. Tak lama austin datang dengan mobilnya dan membunyikan klaksonnya didepanku dan ibunya. Aku tersenyum. Austin keluar, lalu seorang wanita berpenampilan seksi turun dari sisi sebelah kiri mobil. Aku dan ibu austin melongo melihat perempuan itu. Tubuhnya benar-benar bak model, dan cantik. Dia menggandeng tangan Austin saat dia turun lalu tersenyum ramah kepadaku.
“ Umm, silahkan masuk..” kataku menatap wanita itu lalu Austin. Austin membisikkan sesuatu kepadanya, lalu wanita itu menciumnya dan masuk melewati kami terlebih dahulu kedalam café. Aku melotot kearah Austin.
“ dia wanita yang kau bilang?” austin mengangguk.
“ bagaimana, eh?” tanyanya penasaran meminta pendapatku dan ibunya. Ibunya hanya mengangkat tangan keudara dan menggelengkan kepala, lalu tanpa banyak bicara masuk kedalam. Aku tertawa melihatnya.
“ ibumu sudah mewakilkan pendapatku..” kataku, austin merangkulku dan mengajakku masuk
“ dia wanita karier, haley. Dia baru saja cerai dari suaminya..”
“ WOAA!” aku melepas rangkulannya dan menghentikannya berjalan
“ kau dengan wanita yang jauh lebih tua?” dia mengangguk
“ awalnya juga aku ragu, tapi kau lihat dia- phew..!” austin menggelengkan kepala, aku tersenyum
“ austin- kau masih muda, seumuran denganku! 18 tahun, dengan…………”
“ 43..”
“ 43!!!!???!!” entah aku bertanya atau berseru aku tidak tahu, yang aku tahu semua orang melihat kearahku, lalu begitu sadar aku menutup mulutku. Aku mengamit lengan austin lalu menariknya untuk menunduk, bicara pelan denganku.
“ kau gila, dia seumuran dengan ibumu!” kataku berbisik tapi kencang sekali
“ aku tahu- tapi, tidak ada salahnya aku mencoba. Kami tidak disangka-sangka memiliki banyak kesamaan, dia suka berkuda- dan tidak masalah kalau aku hanya bartender..”
“ kau tidak akan jadi bartender lagi, austin- aku menyuruhmu mengelola café ini!” aku menarik lengannya lagi agar dia lebih menunduk bicara denganku. Kami sudah sampai didalam. Semua orang sudah duduk ditempatnya dan masih ada yang berlalu lalang untuk mencari minum.
Panggung masih kosong, artis lokal didaerah sini sudah kupanggil untuk pembukaan acara hari ini. Ibu dan ayahku sudah duduk didekat panggung sambil berbincang dengan beberapa tamu. Kulihat pacar austin- ergh!, sudah duduk sendirian dengan gelas martini ditangannya. Tubuhnya sangat anggun dan cantik untuk usianya yang sudah kepala 4.
“ lihat, dia tidak seperti empat puluh kan?” austin berhenti beberapa meja dari tempat duduk wanitanya tersebut. Aku memutar bola mataku lalu menariknya untuk ketempat ayah dan ibuku.
“ jangan bilang pada ibuku umur wanita itu sesungguhnya..” bisik austin, aku menatapnya tidak percaya
“ siap untuk kata pembukaan?” tanya ayahku saat aku dan austin mendekat
“ oh, aku pikir kau yang akan melakukannya..” kataku seketika lupa tentang wanitanya austin
“ ini cafemu sayang, silahkan lakukan semaumu..” ujar ayahku sambil tersenyum. Aku paling tidak bisa disuruh bicara diatas panggung. Aku demam panggung dari kecil. Aku melirik kearah Austin dan berharap dia membaca pikiranku.
“ kau mau aku yang memberikan kata sambutan dan sebagainya?” YES!
“ Ya! Terimakasih Austin, kau penyelamat!” aku langsung menariknya dan mencium pipinya, austin merangkulku- sudah tahu kalau aku memang tidak akan pernah mau disuruh bicara diatas panggung. Aku dan austin akhirnya duduk menjauh dari kedua orangtuaku, austin ingin kemeja wanitanya, tapi aku menariknya untuk berbicara sebentar.
“ Austin- pikirkan lagi tentang hubunganmu dengan wanita itu..”
“ Kau ini kenapa sih?” dia mulai agak kesal denganku. Aku mendekat dan mengamit lengannya lagi.
“ dia seumuran dengan ibumu! Menurutmu dia mau serius denganmu, begitu?” tanyaku
“ Haley, aku juga tidak serius dengannya—“ austin akhirnya tertawa. Aku melongo melihatnya
“ maksudmu?” tanyaku. Austin memegang kedua bahuku dan menunduk berbicara denganku.
“ Kami hanya bersenang-senang.. aku menemaninya berbelanja, dia membelikan aku…”
“ Kau gigolo?” aku langsung memutuskan pembicaraan. Austin memutar bola matanya
“ tidak dengarkan..”
“ kau kedengarannya seperti itu, austin. Kau menemaninya berbelanja dan sebagainya, dia memberikanmu uang dan membelikanmu…” aku mencari yang baru ditubuhnya dan aku mendekat untuk menghirup aromanya, “parfum..” lanjutku. Austin menghela nafas.
“ austin, ada apa denganmu? Kau tidak bisa seperti ini…” aku memelankan suaraku
“ ini tidak seperti yang kau pikirkan..”
“ oh ya? Lalu apa?” aku menantangnya, austin melepas pegangannya dari bahuku, tidak menjawab
“ kalau kau butuh uang, kau bisa pinjam padaku…” akhirnya aku berkata sambil menarik nafas
“ ini bukan soal uang, ini tentang..”
“ selamat datang di café Tallridge!!” omongan austin dipotong oleh ayahku yang rupanya sudah berdiri diatas panggung. Aku dan Austin sama sama menoleh kearah panggung.
“ kita bicarakan nanti saja—“ aku menariknya untuk berdiri didekat tangga panggung dan bersiap untuk naik, sementara aku duduk dimeja dekat panggung bersama dengan ibuku dan kedua orangtua austin. Ayahku berbicara sebentar, sekedar basa-basi dan lelucon kecil-kecilan yang mengundang gelak tawa dari para tamu, begitu juga denganku.
Sekarang giliran Austin berbicara. Dia memegang mic dan timbul suara ‘ngiiing’ kencang, dia menjauhkannya sedikit lalu mendekatkannya lagi- lalu mulai berbicara.
“ Hi. Austin disini..” katanya, aku tersenyum melihatnya. “terimakasih sudah menyempatkan datang keacara pembukaan café dari keluarga Tallridge. Oh, aku bukan bagian dari keluarga Tallridge, tapi- aku dipercaya untuk bicara… dan mengelola..” austin melihat kearahku, aku mengangguk- lanjutkan!
“ oke!  Umm, saya ingin memperkenalkan anda dengan salah satu keluarga tallridge lainnya, tadi itu ayah dari pemilik dan pendiri café ini, sekaligus teman baik dan wanita yang ada dihidup saya- Haley Tallridge!” dia berteriak saat memanggil namaku. Semua orang bertepuk tangan dan lampu sorot diarahkan semuanya kepadaku. Aku memicingkan mataku sambil melambai sedikit. Austin turun dari panggung dan mendekatiku, mengulurkan tangannya kerahku, “ayo..” ajaknya untuk naik bersamanya.
“ tidak, aku disini saja…” kataku sambil melotot memberi kode apa yang kau lakukan. Austin tampaknya tidak mau mengerti, dia masih mengulurkan tangannya, “ayolah haley- semua orang ingin melihatmu. Oke, siapa yang mau Haley naik keatas panggung?” austin bertanya dan semua orang mengangkat tangan, aku memandang sekeliling lalu memberikan tatapan membunuh kearahnya, dia tersenyum tanpa dosa.
“ Ayo Haley!!” banyak teriakkan seperti ini dari berbagai sudut ruangan
“ Ayo sayang, sebentar saja..” ibuku memberi dukungan dari sebelahku, aku menoleh kearahnya lalu kearah austin yang masih menatapku memohon, aku menghela nafas lalu menyambut tangannya, austin tersenyum lebar.
“ Yeah- ini dia, Haley Tallridge, saudara sekalian..” katanya lalu membawaku naik keatas panggung diiringi tepukan riuh para penonton.
“ ayo aku bersamamu disini, kau bicara saja sedikit..” bisik austin, aku menghela nafas lagi. Aku sudah berada didepan panggung, seluruh cahaya menyorot kearahku, austin menyerahkan mic nya kearahku. Aku menerimanya dengan kaku. Wajahku sudah pucat saat melihat banyak orang dihadapanku. Aku belum berbicara apa-apa hening.
Austin meraih tangan kananku dan menggenggamnya erat. Aku menelan ludah dan mendekatkan mic-ku kemulut.
“ Hi…” kataku akhirnya, suaraku serak. “selamat datang di café Tallridge..” semua bertepuk tangan
“ aku, selaku pemilik Haley Tallridge- mengucapkan terimakasih sudah datang dan menyempatkan diri..” nada suaraku berubah menjadi mencicit, austin tersenyum- masih menggenggam tanganku erat.
“ dan—“ aku menelan ludah, “selamat menikmati acara hari ini, opening day!” kataku cepat lalu buru buru mematikan mic-nya dan menyerahkannya kepada austin. Semua orang bertepuk tangan. Austin tersenyum memandangku, aku menghela nafas lega lalu masuk kedalam rangkulannya. Ini pertama kalinya aku bicara diatas panggung- bersama austin disisiku.
“ kau bisa kan?” bisiknya saat aku memeluknya, aku mengangguk
“ jangan lakukan lagi..” ujarku pelan, lalu kami turun dari panggung.

*
Setahun pun berlalu. Justin sudah pulang dan akan datang ke Café hari ini. Café kami ramai akan pengunjung. Aku selalu menyempatkan diriku sepulang bekerja dari salon untuk datang. Dan seperti biasanya, Austin bersama dengan wanita-nya yang lebih tua itu, Sarah.
Ketika aku datang, sarah sedang berbicara dengan austin disalah satu meja sambil memakan wafelnya. Austin melambaikan tangan kepadaku saat dia melihatku masuk, Sarah juga ikutan melongok dan melambai. Aku mendatangi mereka dan duduk disebelah austin.
“ Hari yang melelahkan?” tanya Sarah. Dia terdengar seperti ibuku, bukan karena faktor usianya yang hampir sama- tapi karena sifatnya juga sama. Sarah sangat baik. Sungguh. Tapi ada sesuatu yang aku tidak suka saat aku melihatnya bersama Austin.
“ Yeah—“ aku membuka jaketku lalu melipatnya, “pelanggan mengomel padaku hari ini karena aku menggunakan shampoo yang salah..” aku menghela nafas. Austin dan Sarah tertawa. Aku mengibaskan tanganku, tidak mau mengingat-ngingat lagi tentang costumer dari latin kami yang mengoceh terus, memaki aku dengan bahasa yang tidak kumengerti- jadi aku tidak ambil pusing.
“ Bagaimana hari ini?” tanyaku kepada Austin
“ Bagus, ramai seperti biasa. Serombongan anak sekolah datang tadi siang- walau hanya untuk memesan waffel..” katanya. Aku mengangguk-ngangguk.
“ dan kau, disini terus?” tanyaku kepada Sarah, tidak bermaksud kasar tapi kedengarannya malah begitu karena kulihat Sarah agak kaget mendengarnya dan austin menoleh melihatku.
“ maafkan aku, maksudku- kau sudah lama disini, sarah?” aku mengulang pertanyaanku
“ oh yeah- dari tadi siang mungkin..”
“ kau tidak ada kerjaan lain selain mengganggu austin?” entah mengapa hari ini aku menjadi kasar
“ Haley!” Austin menghardikku. Aku mengibaskan tanganku lagi.
“ Umm, ini sudah hampir malam- aku harus pulang, anak-anakku menunggu dirumah..” katanya tersenyum canggung kearahku lalu bangkit berdiri dan memakai tas nya. “sampai besok austin..” ujarnya lalu berlalu.
“ sampai besok austin.. pret!” aku menirukan cara bicaranya melebih-lebihkan sambil mencibir
“ apa yang salah denganmu sih?” austin menghardikku lagi
“ aku yang harus bertanya!” ujarku, “dia sudah punya anak, austin!! Anaknya bisa saja seumuran denganmu.. dan kau mau memacarinya?” suaraku tanpa sadar membesar. Austin diam tidak menjawab.
“ ini tidak seperti yang kau pikirkan..”
“ kalau begitu beritahu aku, soal apa ini..” aku menantangnya. Austin menghela nafas lagi dan menggeleng. Dia meraih tanganku lalu menatap mataku dalam-dalam.
“ apapun yang kulakukan, pada ujungnya asal kau tahu bahwa aku ingin melindungimu..” ujarnya
“ ini mengenai justin..” ujarnya. Keningku mengerut. “ada apa dengan justin?” tanyaku lagi.
“ aku belum bisa memberitahumu ada apa, karena aku sendiri belum tahu..” aku memutar bolamataku
“ kau selalu tidak suka pada justin, austin- kau tidak usah memakai alasan lagi..”
“ ada yang tidak beres dengan lelaki itu, oke!” akhirnya dia membentakku. Aku terkejut. Dia lalu menggeleng dan menundukkan kepalanya lagi untuk berbicara denganku.
“ ada yang tidak beres dengannya- aku yakin dia menyembunyikan sesuatu..” kata austin
“ dariku?” tanyaku, “dari kita semua..” austin menjawab
“ aku tidak mengerti..” aku menggeleng
Sebelum Austin berkata lebih banyak lagi, Justin datang tepat waktu dengan menggunakan kemeja hitamnya dan tampak tampan melihat kearah kami berdua. Austin melepas genggamannya dari tanganku.
“ Hei!” justin menghampiri kami. Aku bangkit berdiri dan menciumnya, kulihat austin membuang muka. Aku mengamit lengan justin. “siap untuk pergi? Wow, café ini bagus..” katanya memandang berkeliling.
“ mungkin kita bisa makan disini saja??” tanyanya lalu menghadapku dan aku mengangguk, “oke..”
“ kau mau ikut, austin?” tanya Justin- aku memberi kode kepada austin go-away! Dan justin mengerti
“ tidak—“ katanya sambil tersenyum, “kalian nikmatilah malam kalian…” ujarnya lalu bangkit berdiri dan menepuk bahuku dan bahu justin lalu menghilang kearah pintu yang ada dibelakang bar- tempat istirahat.

*

--------- Austin POV --------------

Aku duduk diruangan belakang café sementara Haley dan Justin sedang menikmati malamnya berdua didepan. Aku mengambil surat-surat yang diberikan oleh Sarah tadi siang dan mulai membacanya.

NAMA LENGKAP : JUSTIN SCOTT
UMUR : 23 TAHUN
STATUS PEKERJAAN : PEGAWAI INTERN DI NYV ARSITEK DESIGN
Aku membaca data diri Justin yang diberikan oleh Sarah. Setahu Haley, Sarah adalah kekasihku selama setahun ini. Yang dia tidak tahu adalah, Sarah merupakan pegawai dari kedutaan besar kepolisian negara.
Aku bertemu dengannya saat dia dan rekannya sedang minum bersama dibar dan dia tidak sengaja menguping pembicaraannya dengan rekannya mengenai kasus penyelundupan senjata gelap dan obat-obatan terlarang.
“ Didaerahku, banyak yang menjual barang seperti itu..” gumamku saat Sarah dan rekannya berbicara. Mereka melihatku. “Oh ya?” aku mengangguk. Sarah dan rekannya akhirnya bercerita tentang penyelundupan senjata gelap dan obat-obatan terlarang tersebut, dan akhirnya Sarah menyerahkan kertas file berisi daftar tersangka yang ada diberkasnya- beserta dengan foto mereka masing-masing.
Aku berhenti saat aku mengenali wajah yang tidak asing bagiku. “ Nick Johnson?” tanyaku sambil menunjuk salah satu fotonya, Sarah dan rekannya mengambil kertasnya dan mengangguk.
“ Ya, kau kenal dia?” tanya Sarah seperti berharap aku mengatakan sesuatu. Aku mengerutkan dahiku sambil kembali mengamati fotonya. Aku mengibaskan tanganku
“ Mungkin hanya mirip saja…” kataku sambil memberikan daftarnya kembali lagi pada Sarah. Sarah seperti masih penasaran. “mirip? Boleh aku tahu siapa nama orang tersebut?” tanyanya. Aku menghela nafas lalu menyebutkan namanya.
“ Justin- Justin scott—“ kataku, “dia kekasih dari temanku, Haley namanya.. dan sekarang dia bekerja sebagai intern di sebuah perusahaan arsitek di New York..” lanjutku
“ New York?” sarah sepertinya masih berusaha menginterogasiku. Aku mengangguk.
“ Sir, aku tidak mau mengambil resiko untuk kehilangan salah satu- yang mungkin merupakan buronan kami… Nick merupakan kepala dari penyelundupan senjata api dan obat-obat terlarang dinegara ini, dia juga penipu ulung..” dia memperingatkanku dengan suara rendahnya. Aku diam sejenak.
“ Namaku Austin, ngomong-ngomong..”
“ Baiklah, Austin- begini..” dia memasukkan kertas tadi kedalam file-nya lagi, “aku ingin lihat wajah si temanmu ini…” katanya lagi
“ dia sedang tidak disini, masih di newyork- masih magang..”
“ kalau begitu aku ingin lihat kekasihnya..” ujarnya.
“ ada apa kaitannya dengan Haley? Dia tidak tahu apa-apa..” kataku
“ kami hanya ingin memastikan perempuan itu baik-baik saja. Ada kemungkinan besar temanmu Justin itu..”
“ dia bukan temanku..” potongku cepat
“ oke- ada kemungkinan besar Justin ini adalah nama lain yang Nick pakai untuk hidup dikota baru ini, dan bekerja diperusahaan besar untuk kedoknya kabur dari kami…” aku masih mendengarkan
“ kau mau bekerja sama dengan kami?” tanya Sarah, “kalau benar dia buronan yang kami cari, aku bisa menjamin Haley baik-baik saja..”
Dan darisitulah aku dan Sarah berpura-pura sebagai kekasih untuk terus memantau Haley dan Justin. Saat justin pulang kesini, Sarah sudah bertemu dengannya- walau belum yakin kalau dia adalah Nick, karena dia akui memang mirip. Perilaku Justin juga tidak menimbulkan kecurigaan sama sekali dan terlihat santai saat bertemu dengan Sarah.
Aku masih membaca file-file tentang Justin dan Nick yang diberikan Sarah kepadaku hari ini. Khususnya tadi sebelum Haley datang.
“ Maaf sudah lama aku tidak menemuimu—“ katanya begitu datang dengan penuh kertas digenggamannya
“ Ada berita lagi?” tanyaku. Dia duduk dan menyerahkan setumpuk kertas tersebut kepadaku.
“ itu hasil yang aku dapat dari penyelidikanku didepartemen negara, tentang data-data Justin Scott. Sepertinya semua legal- kecuali, kau tahu- dia imigran disini, yang berarti- dia tidak legal karena belum dapat surat ijin menetap..” katanya. Aku membolak balik data surat tentang Justin ini.
“ dia illegal disini?” Sarah mengangguk sambil menekuk kedua tangannya dimeja
“ makanya dia sering ke New York..”
“ yeah- hidupnya berpindah..” sarah tersenyum, “tapi itu bukan masalah.. yang anehnya—“ dia menunjuk sesuatu dikertas yang bertumpuk didepanku. Aku ikutan melihat.
“ ini alamat dari justin sendiri- dan saat kucek kesana minggu lalu—“
“ kau pergi sendirian? Kau bilang kau akan menyertakan aku!”
“ Austin, aku bersama dengan rekanku- kau hanya diminta untuk menjadi alat bersamaku..”
“ Baiklah, aku mengerti- maaf, lanjutkan.. ada apa dengan apartemen justin?”
“ Pemiliknya mengatakan bahwa tidak ada nama justin disana…” kata sarah yang membuat aku melongo
“ melainkan nama lain…” lanjut sarah. Aku mengerutkan keningku. Sarah memberikanku kertas berisi data lain lagi yang bertuliskan ‘JONATHAN RUDD’
“ Jonathan? Justin adalah Jonathan?” aku membaca data dari Jonathan Rudd tersebut
“ Kita masih tidak tahu siapa Justin ini sebenarnya- dan kalau kulihat dari tindakannya yang seperti memalsukan nama ini, aku yakin- ada yang tidak beres dengannya…” kata Sarah. Aku menatapnya.
“ Aku harus memberitahu Haley..”
“ Jangan..” sarah melarangku, “kita masih membutuhkan Haley untuk memancingnya bersama dengannya- sehingga kita bisa tahu lebih dalam tentang Justin- lagipula aku dan rekanku masih harus menginterogasi pemilik apartemen tersebut, dan selama kami disana- aku ingin Justin tidak disana..”
“ Tapi bisa jadi Haley dalam bahaya…” aku memprotes
“ dan itu gunanya aku dan rekanku, juga dirimu bermain aman disini..” sarah memelankan suaranya
“ kami akan menjaganya dan memastikan dia baik-baik saja… kapan justin akan pergi ke new york lagi?”
“ sekitar minggu depan atau 2 minggu lagi.. haley bicara padaku tadi pagi..” sarah mengangguk
“ bagus, aku akan menyuruh rekanku untuk terbang kesana juga untuk membuntutinya..”
“ pastikan kau memberitahu aku kabar-kabar sekecil apapun..” kataku dengan nada memperingatkan
“ pasti—“ sarah tersenyum, “aku tidak tahu kau peduli dengan kasus kami atau kau hanya peduli dengan sahabatmu itu..” sarah tersenyum menggodaku. Wajahku memerah.
“ Haley bisa saja dalam bahaya..” aku membela diri
“ begitu juga denganmu kalau sampai Justin tahu..” sarah membalasku.
“ aku tidak peduli dengan diriku..” kataku, “yang kupikirkan adalah Haley…” sarah menunjukkan wajahnya yang iba melihatku.
“ tenang saja, kami akan menyelesaikan kasus ini segera dan memastikan Haley akan aman..”
“ sebaiknya seperti itu..” kataku sambil kembali membaca dokumen-dokumen tersebut.
“ sepertinya dia tidak suka denganku..” kata sarah
“ tidak, dia baik-baik saja dengamu..”
“ dia selalu sinis denganku, aku bisa lihat itu..” sarah menghela nafas, “sepertinya dia suka denganmu..”
“ jangan konyol, dia bersama justin sekarang..” kataku tertawa kecil
“ aku dan haley sudah bersahabat sejak kecil dan kami tinggal bersama- kami saling menyayangi dan saling menjaga satu sama lain…” lanjutku lagi
“ kedengarannya cukup bagiku untuk tahu dia benar-benar wanita spesial dihidupmu…” sarah menggodaku lagi. Aku memutar bola mataku.
“ kenapa semua orang berpendapat seperti ini? Semua!” kataku sambil menaruh kembali berkas yang habis kubaca tadi. “mulai dari tetangga kami, pengantar pizza, ibuku sendiri- dosen kelas kami, dan sekarang kau..” sarah tertawa mendengarku.
“ mungkin karena semua orang melihatnya begitu—“ jawab sarah, “pertama kali aku melihatnya diacara pembukaan café ini setahun yang lalu, aku tahu kau sangat menyayanginya.. mulai dari cara kau menatapnya, mengajaknya naik kepanggung dan berani bicara walaupun- dia buruk sekali untuk bicara diatas panggung..” aku tertawa dan mengangguk.
“ dan semuanya—“ sarah melanjutkan, “kau tidak mau kehilangan dia kan?” aku menggeleng
“ tidak sedikitpun..” jawabku, “semenjak justin suka berpergian pulang pergi selama jangka waktu yang lama, aku selalu bersamanya- aku bahkan tidak berhubungan sama sekali dengan wanita lain… kau tahu betapa sengsaranya aku tidak berhubungan dengan wanita lain? Aku lelaki, aku punya kebutuhan. Tapi begitu aku lihat dia sendirian hanya dikamar atau menonton televisi atau berjalan sendirian dimall dan duduk dicafe sendirian- aku mengenyahkan semua kebutuhanku untuk bersamanya..” sarah menunjukkan wajah yang seperti ingin menangis saat mendengar cerita.
“ sarah, tolong jangan menangis..” aku meledeknya. Dia meletakan tangannya didada serasa iba dengan ceritaku lalu menyuruhku melanjutkan.
“ yeah- aku mengorbankan keinginan dan kebutuhanku hanya untuk bersamanya. Bagiku, melihat dia sekedar tersenyum saja aku sudah senang- karena aku tahu untuk sesaat dia tidak memikirkan justin yg sedang ada diluar dan meninggalkannya disini..” kataku menunduk
“ walau aku tidak suka karena dia tersenyum lebih lebar saat dia mengabarkan padaku kalau justin akan pulang, justin dan dirinya akan berpergian keluar- dia akan menjemput justin dibandara, dan sebagainya….” Lanjutku lagi, “tapi aku mulai meyakinkan diriku kalau dia bahagia dan bisa tersenyum lebar seperti itu bersama justin- mungkin saatnya bagiku untuk mencari senyumku sendiri..” aku tersenyum hambar sambil menatap sarah yang sepertinya sudah terenyuh setengah mati mendengar ceritaku.
“ sarah, tolong jangan menangis..”
“ oh, maafkan aku kau lelaki malang—“ dia benar benar menitikkan airmatanya. Sarah mengelap matanya sedikit lalu tersenyum. “kenapa kau tidak katakan saja kau menyukainya..”
“ aku tidak menyukainya, sarah- ini berbeda…”
“ oh ya? Bagiku kedengarannya sama saja..” sarah tersenyum kepadaku, dan aku tidak bisa menjawab lebih panjang karena kulihat Haley sudah memasuki café.

-------------------------- sekarang -----------------------------
“ nah, kau sudah cantik, nona..” kata dianne sambil tersenyum- puas melihat hasil karyanya, temannya yang satu lagi berkata demikian juga lalu sibuk mengemas barang-barang mereka. Aku mengucapkan terimakasih dan membiarkan mereka mengemas barang-barang mereka. Aku bangkit dari meja riasku lalu duduk lagi diranjang, sesekali mengecek ponselku takut Hilda menelepon memberi kabar tentang austin.
Pintu kamarku dibuka dan Justin tidak disangka-sangka masuk. Aku kaget bukan main dan menghampirinya. Dia tersenyum melihatku.
“ Justin- kau sedang apa? Kita tidak boleh bertemu sebelum acara dimulai…”
“ Kenapa?” dia kelihatan tidak peduli dan memelukku, aku tersenyum saat dia menyentuh hidungku
“ Kau tahu- banyak orang bilang kalau kita bertemu sebelum acara pernikahan dimulai, akan menimbulkan kesialan..” kataku. justin menggelengkan kepalanya lalu menunduk menciumku. Justin, dia menciumku. Pikiranku sudah tidak jernih- dan aku serasa melayang. Dia menjauhkan bibirnya dari mulutku lalu tersenyum.
“ Aku tidak peduli. Aku akan menikahimu hari ini, dan itulah yang aku pikirkan…”
“ Haha yeah- aku juga..” ujarku canggung
“ Kau gugup?” aku mengangkat bahu. Tiba-tiba ponselnya berdering, aku menyuruhnya mengangkatnya dan dia berjalan menjauhiku menuju jendela. Sementara justin berbicara ditelepon, aku melihat kearah ponselku lagi. Ada pesan dari nomor tidak dikenal.
Selamat atas pernikahanmu hari ini.
Austin, xx.
Darahku berhenti mengalir. Aku menatap pesan tersebut. Ini dari Austin. Aku tidak bisa berpikir lagi, dan tidak tahu entah aku harus menjawabnya atau menghapusnya. Aku memutuskan untuk mendiamkannya, sampai justin keluar dari kamarku.
Justin sepertinya sudah selesai menelepon dan wajahnya sedih menatapku, aku menyentuh bahunya.
“ ada apa? Kau baik-baik saja..” tanyaku. Justin menggeleng.
“ aku harus menemui bossku dulu sebelum acara dimulai, dia sedang ada disini dan ingin membicarakan proyeknya bersamaku- kalau tidak kulakukan, aku akan dipecat..” katanya
“ sekarang? Tapi sebentar lagi…”
“ aku tahu- dan tidak lama. Dia ada di café seberang jalan kok, kau bisa lihat dari sini..” ujarnya. Aku menghela nafas dan berpikir.
“ baiklah, jangan lama-lama..” kataku, justin mengecup pipiku lalu meminta ijin untuk keluar untuk menemui bosnya. Pintu pun ditutup kembali- tanpa kusadari perias wajah dan rambutku sudah keluar dan aku sendirian. Aku membuka ponselku lagi. Pesan dari austin masih ada dilayar ponselku. Kutekan tombol telepon dan menunggunya untuk mengangkat telepon. Klik, telepon terhubung.
“ hallo?” suara austin terdengar begitu santai. Aku ingin menangis mendengarnya.
“ austin…” ada jeda panjang saat aku menyebut namanya
“ hi, haley- sedang siap siap?” dia bertanya enteng seakan tidak terjadi apa-apa
“ yeah—“ kataku pelan, “sebentar lagi aku akan menikah…” dia tertawa kecil
“ dengar, soal beberapa tahun lalu—“
“ tidak usah dipikirkan..” potong austin dingin, “kau bilang itu tidak ada artinya buatmu kan?” aku menelan ludahku dan bergumam. Aku berusaha menahan air mataku, aku tidak tahu apa yang kurasakan sekarang- dan aku tidak mengerti apa yang aku mau.
“ yeah—“ jawabku lagi, “austin- kau ada dimana?” tanyaku pura-pura tidak tahu keberadaannya
“ oh, aku sedang ada disini-“ jawabnya, “aku mengurus soal kartu identitasku- lalu mungkin aku akan pergi lagi setelah itu…” katanya, “kau bisa mengurus cafemu bersama justin sekarang, kan?” tanyanya
“ yeah—“ aku menahan tangisku. Austin sedang disini? Tidak datangkah dia kepernikahanku. Dan dia akan pergi lagi- jauh dariku.
“ austin- ini mungkin belum terlambat, bisakah kau datang keacara pernikahanku?” tanyaku. Austin diam cukup lama lalu dia berdehem.
“ maaf Haley, sepertinya aku tidak bisa datang..” dia tertawa kecil. Hatiku hancur seketika.
“ boleh aku tahu kenapa?” tanyaku. Austin terdengar menghela nafas.
“ kau sungguh mau tahu kenapa?” suaranya pelan, aku mengangguk walau aku tahu dia tidak bisa melihatku. “ karena aku mencintaimu, oke..” dia berbicara dan membuatku kaget- aku duduk ditepi ranjang sambil menutup mulutku.
“ aku mencintaimu, haley..” ulangnya lagi. Mataku mulai berkaca-kaca dan aku masih tidak bisa berbicara.

“ itu alasan aku tidak bisa datang kepernikahanmu…” aku membenamkan wajahku ditanganku
“ kenapa kau tidak bilang dari dulu?” kataku pelan. Dia mendengus.
“ aku sudah bilang- dan kau bilang kau mencintai justin dan ingin menikahinya..”
“ kau jahat padanya!”
“ aku berbicara kenyataan!” austin balas berteriak ditelepon. Aku diam.
“ Haley- aku tidak percaya justin adalah orang yang baik. Terlalu banyak keanehan dalam dirinya..”
“ bukan berarti dia seperti yang kau bilang..” kataku lagi. Dia menghela nafas.
“ kau tahu- kau sudah besar sekarang, dan kau benar- aku tidak bisa terus menerus melindungi dan menjagamu. Kalau menikah dengan Justin adalah yang kau mau, aku tidak peduli- semoga kau berbahagia. Aku harus pergi dulu..” austin tidak membiarkan aku menjawab, dia langsung mematikan teleponnya. Aku melempar ponselku keranjang karena kesal. Tidak boleh menangis. Aku tidak boleh menangis. Aku mengepalkankan tanganku kuat-kuat agar aku tidak menangis, tapi sia-sia. Air mataku rebak seketika dan aku sesenggukan. Aku kesal. Austin tidak peduli lagi denganku. Dia mencintaiku tapi dia tidak lagi peduli padaku. Aku tidak boleh egois. Cukup menyiksa aku tahu kalau austin datang dan melihatku. Aku mengusap air mataku lagi, lalu mengetik pesan untuk austin- sesuatu yang seharusnya tidak aku kirim kepadanya.
Austin, aku juga selalu mencintaimu. X


---------------------------------------- 5 tahun yang lalu -------------------------------

Aku menggerutu sendiri seperti biasa sendirian sambil menonton acara ditelevisi. Dengan bosan aku mengganti-ganti channel terus menerus. Austin datang lalu duduk disampingku, ikut memperhatikan layar televisi yang channelnya terus kuganti.
“ kalau kau tidak mau nonton, kau bisa matikan televisinya.” Aku menoleh kearah austin dan mematikan televisiku. Aku bersandar sambil mengerang kebosanan setengah mati.  Justin kembali pergi ke New York lagi seminggu yang lalu- setelah hari anniversaryku bersamanya. Aneh kalau dipikir kami bisa bertahan selama itu padahal aku dan Justin tidak selalu bersamaan setiap waktu, tapi yang lebih aneh lagi aku sudah mulai terbiasa hari-hariku tidak didampingi oleh Justin- aku punya Austin yang selalu disampingku.
Belakangan ini, Sarah katanya sedang berlibur kerumah suami-nya di Paris bersama dengan kedua anaknya. Aku terkejut Austin memperbolehkan Sarah bertemu dengan suaminya, tidakkah dia takut akan ada cinta lagi timbul diantara sarah dan suaminya jika berlibur selama itu? Apalagi itu di Paris. PARIS!
“ aku bosan..” kataku. austin mengangkat kedua kakinya keatas meja lalu menyetel televisi lagi. Dia mengganti kesaluran olahraga. Football. Aku memutar bola mataku. Jika dia sudah menonton football, tidak ada yang bisa mengganggunya.
“ austin!” panggilku, “ayo kita pergi- aku tidak mau menonton acara ini..” rengekku
“ kau pergi saja dengan Mally- biasanya juga kau pergi bersamanya..” ujarnya, matanya tidak lepas dari layar televisi. Aku mendekat kearahnya lalu meraih remot yang dipegangnya lalu mematikan televisi. Austin menoleh kesal kearahku.
“ kalau mally bisa kuajak pergi aku juga tidak akan disini..” dia menggelengkan kepala
“ kau mau kemana?” tanyanya pasrah, aku mendekat kearahnya
“ bagaimana kalau kita ke bar tempatmu bekerja? Aku belum pernah sama sekali datang ketempat tempat begituan tanpa alasan.. hanya untuk senang-senang..” ujarku
“ kau serius?” tanyanya. Aku mengangguk mantap. “aku akan ganti baju.. dan sebaiknya kau juga..” aku melompat turun dari sofa lalu berlari kekamar mencari gaun untuk malam ini.
Setengah jam kemudian aku keluar dari kamar dengan gaun hitam pendek malamku dan sepatu hak tinggi hitamku- begitu aku diruangtamu kulihat austin masih menonton televisi dari belakang.
“ Austin kau sama sekali tidak..” aku berhenti bicara saat aku berjalan kearahnya. Dia sudah mengganti bajunya. Austin mengenakan kemeja putihnya dan memakai blazer hitam- rambutnya sudah rapih dan siap pergi. Dan sungguh tampan. Aku tersenyum melihatnya.
“ wow, kau tampan..” kataku tidak sadar. Austin tersenyum lalu mematikan televisinya, bangkit berdiri memperhatikanku dari atas kebawah. Aku malu dia menatapku seperti itu.
“ tidakkah baju ini terlalu pendek dan terbuka untukmu? Demi Tuhan, Haley- aku bisa melihat belahan dadamu dan dadamu dengan jelas..” katanya. Aku memukul bahunya.
“ bagus kan? Ayolah kita pergi..” kataku sambil menarik lengannya.

*
Kami sampai diclub malam, musiknya terlalu keras ditelingaku- aku masih menggandeng tangan austin- tidak mau lepas darinya. Sesampainya disana aku malahan takut dan rasanya ingin pulang. Begitu banyak orang mabuk disini. Semua lelaki berbadan kekar dan tampak seperti penjahat kelamin, aku memandang austin dan melihat austin sedang melihat perempuan-perempuan yang sedang menari secara liar dilantai dansa. Aku menariknya untuk duduk, mata austin akhirnya tertuju padaku.
“ kau bisa mendengar orang ingin memesan apa setiap harinya disini?” austin tertawa
“ aku membaca gerakan bibir..” balasnya. Austin memesan minuman untuk kami. Bir ringan untukku. Malam ini aku hanya mau bersenang-senang.
“ kau tidak apa-apa kutinggal sebentar? Aku mau kesana.. banyak gadis disana..”
“ Austin, kau punya pacar..” aku menarik lengannya
“ Sarah dan aku tidak serius..” katanya lalu saat pelayan membawakan pesanan minuman kami, dia berjalan kearah wanita-wanita yang tadi ditunjuknya sambil membawa gelas minumannya. Aku mengucapkan terimakasih telah membawa minumanku. Aku menenggak botolnya lalu meringis dan batuk-batuk. Bir bukanlah minuman lazimku.
Aku melihat austin yang bergabung duduk diantara 3 wanita tersebut. Dia juga melihatku lalu mengedip. Aku menggeleng kearahnya. Austin memang benar-benar. Aku kembali menengguk bir ringanku lalu memperhatikan orang yang berjoget-joget. Tiba tiba seseorang datang dan duduk disebelahku. Aku menoleh kaget dan kulihat sesosok lelaki tampan tetapi terlihat sekali dia player, tersenyum kepadaku.
“ Hai.” Ujarnya sambil menyunggingkan senyum yang paling menarik
“ Hai.” Jawabku, dia duduk mendekat kearahku. “ kau sendirian malam ini, miss?” tanyanya
“ Umm- sebenarnya aku bersama temanku—“ aku menunjuk austin yang sedang sibuk merayu perempuan yang lebih kecil disampingnya dan perempuan itu mulai cekikikan.
“ oh. Dia temanmu?” tanyanya, aku mengangguk. “namaku alex, ngomong-ngomong..”
“ Haley..” kataku tersenyum kearahnya
“ ada apa kau datang kesini? Kau seperti bukan tipe perempuan yang menghabiskan malam diclub seperti ini..” aku tertawa mendengarnya
“ aku bosan- pacarku sedang diluar, dan akhirnya- aku mencari hiburan disini..” kataku. alex menyunggingkan senyumnya lagi yang menawan. Ia memajukan tubuhnya mendekat kearahku. Sekilas alex memperhatikan belahan dadaku- aku agak risih melihatnya.
“ aku bisa membuatmu terhibur kalau kau mau..” bisiknya pelan menggodaku
“ aku..” alex menyentuh pipiku dan menatap mataku dalam-dalam. “kau ingin bersenang-senang kan?” ujarnya. Ya tuhan, austin tolong cepat kemari. Aku takut.
Sebelum aku menjawab lebih lanjut austin memelukku dari belakang, “ hey, babe!” katanya sambil mencium leherku. Alex langsung menjauhkan tubuhnya dariku. Austin masih memelukku dari belakang.
“ hey..” aku menjawab canggung. Austin dengan santai mencium leherku lagi.
“ umm, hai- ini austin..” kataku sambil mengenalkannya kepada alex, alex tersenyum canggung
“ alex..” kata alex. Austin menganggukan kepalanya. Austin tidak terlihat terganggu dengan keadaan alex dia mencium leherku tidak berhenti sambil berbisik, “jangan protes- diam saja, sampai dia menjauh..” aku pun menurut walaupun rasanya geli saat austin melakukannya.
“ jadi kalian?” tanya alex bingung melihat aku dan austin- austin berdiri disampingku sekarang
“ yeah—“ dia pacarku, “pasti dia bilang kalau pacarnya sedang diluar negeri bukan?” tanyanya. Alex memandang kearahku. Aku tidak tahu harus berekspresi seperti apa.
“ woah- aku minta maaf, dude..”
“ oh, tidak masalah—“ kata austin, “siapa juga yang tidak tergoda dengannya, kan?” austin berbalik untuk merangkulku dan menempelkan hidungnya kehidungku, aku tersenyum gugup. Tak lama alex akhirnya pamit dan menjauh dari kami.
“ terimakasih austin..” aku memegang tangannya. Dia mencium pucuk kepalaku.
“ kapanpun..” austin sudah duduk lagi disebelahku, “seharusnya aku tidak meninggalkanmu.. aku minta maaf…” katanya sambil menenggak minumannya. Aku tersenyum. Dia terlalu baik.
“ kupikir kau ingin bersenang-senang dengan perempuan itu..” kataku sambil melihat kearah perempuan kecil yang menatapku sinis. Ha! Sudah lama aku tidak dijutekkin para gadis karena aku dekat dengan austin. Perempuan itu mungkin lebih kecil dari austin, dan mukanya sungguh tidak mengenakan ketika dia menatapku.
“ austin, aku rasa wanita kecil yang kau goda itu marah padaku..” austin menoleh kearah gadis kecil itu
“ kau mau membantuku?” tanyanya, aku mengangguk. Dia menaruh gelasnya lalu menaruh satu tangannya dipahanya. “aku tidak mau menghabiskan malamku dengannya, dia baru 14 tahun..”
“ 14?” aku kaget lalu menoleh kearah gadis itu lagi, “bagaimana dia bisa masuk?” tanyaku
“ fake id..” jawab austin- aku mengangguk mengerti. “apa yang bisa kubantu?” tanyaku
“ kau pura-pura jadi kekasihku oke, lakukan apa yang aku suruh..” katanya. Aku mengangguk. Austin melirik kearah gadis kecil itu yang sedang berbisik-bisik kearah temannya dan akhirnya keduanya memandang sinis kearahku.
“ oke, cepat- sepertinya mereka ingin mendekat, austin..” ujarku. Austin menyuruhku bangun dan berdiri menghadapnya. Austin tersenyum sambil menarikku kearahnya.
“ dia masih melihat?” tanya austin. Aku melirik cepat, aku mengangguk. Austin menyentuh rambutku lalu turun kepipiku- walau ini hanya akting, aku deg-degan setengah mati. Jantungku berdebar. Tangannya berhenti dileherku. Dia memajukan tubuhnya dan menarikku mendekat.
“ kalungkan tanganmu dileherku dan tertawalah sedikit haley- kau gugup sekali..” aku melakukannya. Dia benar, aku gugup sekali. Jarak kami hanya beberapa senti sekarang. Austin memandangku sambil tersenyum sekali lagi membuat darahku mengalir deras. Kalau saja tidak gelap, aku yakin austin bisa melihat wajahku memerah- mungkin ungu.
“ kau gugup.. bicaralah sambil tersenyum…” katanya
“ ini konyol austin- kenapa kau tidak bilang saja kau tidak mau pergi dengannya malam ini..”
“ itu terlalu gampang,” dia menarikku lagi dan meraih bokongku, aku melotot
“ hei!” aku mengomel, “diamlah-“ austin membalasku. Tubuh austin sudah bersandar kemeja dan aku sudah menempel erat ditubuhnya.
“ cepat austin dia mulai bangkit..” ujarku. Tanpa aba-aba austin sudah menempelkan bibirnya kebibirku. Dia mengecupku sekali. Lalu berhenti dan memandangku, lalu mengecupku sekali lagi- dia melakukannya terus menerus. Walaupun ini pura-pura aku yakin kemungkinan besar aku menikmatinya. Bibir austin lembut, seperti yang selalu kubayangkan. Bukannya aku suka membayangkannya, tapi pikiran ini pernah terlintas dipikiranku.
Aku membalas ciuman austin dan menciumnya lagi. Kami berciuman heboh selama beberapa menit. Setelah itu sepertinya dengan enggan, austin menarik tubuhnya menjauh. Kami saling berpandangan. Austin tidak tersenyum, matanya masih menyiratkan keinginannya yang aku tahu aku juga mau. Aku ingin dia menempelkan bibirnya sekali lagi.
“ kau brengsek!” tiba-tiba gadis kecil tadi sudah ada disamping kami dan menyipratkan minuman kewajah austin lalu memandangku sinis dan keluar dari klub. Aku melepaskan diri dari pelukannya dan mengambil tissue dari tasku. Austin membersihkan wajahnya dengan tangannya sendiri, aku menghentikannya lalu melap wajahnya dengan tissue.
“ sepertinya berhasil..” dia tertawa kecil
“ yeah—“ aku mengelap hidungnya lalu memandangnya. Austin juga memandangku canggung
“ terimakasih—“ ujarnya, “aku yakin kau menikmatinya..” godanya saat aku selesai melap wajahnya. Aku melemparkan tissuenya kewajahnya dan austin tertawa. Ugh. Dia benar-benar  Cuma bersandiwara rupanya tadi.
“ ayo kita pergi dari sini.. disini menyeramkan..” aku menarik austin keluar dari bar tersebut dan kami berjalan dijalanan yang masih ramai akan mobil dan orang-orang. Austin memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana. Aku masih memikirkan ciumanku dengan austin tadi. Aku tahu tadi hanya berpura-pura saja, tapi rasanya aneh dan berbeda saat austin menyentuh bibirku.
“ haley, kau baik-baik saja?” tanya austin. Aku mengangguk.
“ kalau kau masih memikirkan ciuman tadi, aku minta maaf- seharusnya kita langsung pergi saja tadi..” dia seperti merasa bersalah karena telah mencium kekasih orang.
“ ah, tidak apa-apa.. aku senang membantumu..” austin tersenyum kepadaku lalu merangkulku dengan satu tangannya seperti biasa. Kami berjalan melewati pertokoan pertokoan yang masih ramai pengunjung dan saat kami melewati beberapa orang, mereka melihat semuanya kearahku dan aku sadar- aku memakai baju lebih rendah daripada biasanya. Aku mendekatkan diriku kearah austin agar mereka tidak bisa melihat belahanku.
Austin yang sepertinya sadar merangkulku lebih dalam lagi, lalu kami berhenti dipinggiran. Austin melepaskan blazernya dan memakaikannya kepadaku.
“ dengan begini, tidak ada lagi yang melirik tidak sopan kepadamu..” dia membetulkan kerah blazernya sambil tersenyum sekali lagi kearahku. Wajahku memerah saat dia memakaikan blazernya kepadaku. Austin kembali merangkulku, melewati pertokoan-pertokoan.
“ kita ke cafemu dulu ya, sebentar lagi jam tutup- dan aku sadar tidak ada yang mengawasi malam ini semenjak kita keluar..” kami berbelok menuju arah jalan lain dan akhirnya sampai dicafe. Suasanya sudah sepi- dan band pengisi hari ini sudah membereskan peralatannya. Austin menyapa mereka, lalu mereka pulang. Suasana café sepi dan lama kelamaan semuanya pulang dan para pelayan membersihkan meja dan sisa-sisa makanan. Aku duduk didekat meja kasir masih memakai blazer milik austin. Aku melihat austin membuka 2 kancing dari paling atas kemejanya dan berkacak pinggang memandang café yang sudah kosong dan rapih- juga siap ditinggalkan ini.
Pelayan terakhir sudah pulang. Aku dan austin masih disini. Austin berjalan kebelakang bar dan membuatkan dirinya sendiri minuman. Dia memberiku limun. Aku tidak masalah dianggap anak kecil oleh siapapun karena masih meminum limun sementara austin menenggak bir ringannya lalu menaruh botolnya setelah beberapa kali tengguk. Dia berjalan kedepanku.
“ kau mau pulang?” tanyanya. Aku mengangkat bahu.
“ mungkin sebentar lagi..” jawabku. Austin mengangguk lalu duduk disebelahku, mengambil birnya dan menengguknya lagi. Aku memandang kosong kesekeliling. Lampu sudah ada beberapa yang redup. Hanya tinggal didaerahku dan austin, juga dibelakang meja bar yang masih menyala. Kuperhatikan tempat ini besar sekali. Aku baru sadar.
“ aku tidak akan ke club lagi seumur hidupku..” kataku tiba-tiba. Austin tersenyum.
“ lelaki disana menakutkan, kalau kau tidak datang- mungkin aku sudah menyesal berada ditempat alex..” kataku sambil meminum limunku, “terimakasih..” kataku sambil memandangnya.
“ yeah—untuk kebaikanmu sebaiknya kau tidak lagi kesana.. apalagi sendirian.. baru kutinggal sebentar saja sudah ada yang kurang ajar seperti itu kepadamu..” ujarnya. Birnya sudah habis. Dia menaruh botolnya lalu melipat kedua tangannya didada.
“ mungkin aku yang tidak berhati-hati. Lihat saja pakaianku…” aku membuka sedikit blazer milik austin dan austin mendengus melihatnya. Aku menutupnya lagi. “aku janji tidak akan memakai pakaian terbuka lagi..” austin mengangguk. “sebaiknya kau begitu—“ balasnya.
“ walau tidak seperti yang kuharapkan, terimakasih sudah menemaniku malam ini, austin..”
“ terimakasih juga..” aku mengangguk. Aku meminum limunku lagi lalu menaruhnya dimeja.
“ hey- sebagai lelaki- aku jujur minta pendapatmu..” austin menoleh kearahku
“ maukah kau mendekatiku jika aku dibar sendirian seperti tadi?” aku tertawa mendengar pertanyaanku sendiri. Austin juga ikutan tertawa. Dia bangkit berdiri dan berdiri dihadapanku.
“ tentu saja…” ujarnya, “tapi aku tidak akan kurang ajar seperti alex itu..” dengusnya
“ okeoke—“ aku menyentuh lengannya, “tunjukkan padaku bagaimana kau mendekatiku..” aku tertawa. Austin mengangguk-angguk dan dia mendekatiku lebih dekat lagi. Dia menunjukkan senyumnya yang aku belum pernah lihat seumur hidupku. Senyumnya yang paling tampan dengan matanya yang sayu tapi lembut menatapku.
“ hi, wanita cantik sepertimu tidak baik sendirian ditempat seperti ini…” austin memulai. Aku menutup mulutku untuk tidak tertawa. “bolehkah aku bergabung denganmu…?” austin mendekat lagi. Aku mengangguk masih sambil menahan tawa.
“ itu jurus yang kau pakai setiap berkenalan dengan perempuan dan membuat mereka tergila-gila padamu?” aku bertanya, austin menggeleng.
“ ini cara paling murahan, haley- kau mau aku menunjukkan cara yang paling akurat? Aku berikan sedikit bocoran kepadamu agar kau tidak jatuh dalam perangkap lelaki manapun..” kata austin. Dia menggenggam kedua tanganku lalu menaruhnya didepan dadanya, lalu menciumnya pelan.
“ kau serius?” tanyaku, “aku sama sekali tidak tergoda denganmu sekarang, austin..”
“ ini masih awal- perhatikan..” katanya. Dia masih menggenggam tanganku. Austin memajukkan tubuhnya lagi, aku menegakkan dudukku. Wajah kami sejajar sekarang karena austin sedikit menunduk. Lama-lama raut wajah austin menjadi berubah menjadi raut wajah lelaki yang paling menggoda yang pernah aku kenal. Mulutnya membentuk senyum miring yang wanita manapun tidak akan bisa menahannya, matanya juga menatap dalam dan lembut sampai-sampai aku membuang muka.
“ hei, lihat aku—“ katanya ketika aku membuang muka. Aku menggeleng. Austin melepas satu tangannya lalu meraih wajahku dan menghadapkannya kearahnya. Ini dia masih berpura-pura atau bagaimana sih? Darahku mengalir deras sekali lagi dan jantungku berdebar keras.
“ hei- kenapa kau tidak berani menatap mataku? Aku ingin menatap matamu sampai kapanpun..” ujarnya setengah berbisik kearahku. Wow. Austin benar-benar tidak bisa ditolak. Aku pun akhirnya terbawa suasana dan wajahku memerah. Aku diam menatapnya, suasana sangat hening disekitar kami. Aku hanya mendengar suara jarum jam berdetik dan tidak ada lagi. Austin mendekatkan hidungnya kearahku lalu dia diam sebentar hanya untuk menatap kedalam mataku sekali lagi dan tersenyum. Aku tidak tahu dia masih berpura-pura atau bagaimana, tapi aku ingin menyentuhnya- sekarang.
“ austin..” austin menempelkan telunjuknya dibibirku, menyuruhku untuk tidak berbicara. Tangan satunya lagi masih menyentuh pipiku- seperti menopangnya agar mata kami tetap bertemu. Nafasnya berhembus didepan wajahku.
“ kalau boleh aku ingin mencicipi bibirmu..” ujarnya pelan. Jantungku berdebar keras lagi dan aku hanya menggumam. Aku menatap matanya dan mencari tahu- benarkah dia ingin melakukannya? Atau ini masih bagian dari akting?
“ boleh?” dia bertanya sekali lagi dengan nada yang sangat memikat. Aku tidak menjawab dan hanya mengangguk pelan. Austin tersenyum sekali lagi lalu perlahan dia mulai mendekat, menunduk dan menempelkan bibirnya kebibirku. Sekali bibir kami bersentuhan, austin berubah menjadi liar. Dia melumat bibirku habis-habisan sambil memeluk pinggangku. Aku menyentuh kedua bahunya berusaha untuk melepaskannya tapi dorongan untuk membalas ciumannya lebih kuat. Austin menjauhkan dirinya dariku sebentar untuk mengambil nafas dan untuk melihatku lagi, lalu dia kembali menempelkan bibirnya ke bibirku. aku menciumnya kembali dan bisa kurasakan lidahnya mulai mendesak untuk masuk- perlahan aku membuka mulutku dan lidah austin sudah menjalar didalam mulutku, aku mendesah saat austin menyentuh bagian yang seharusnya tidak boleh disentuh dan aku menarik lengannya. Tiba-tiba saat austin ingin membuka blazerku, pintu kaca café diketuk- dan seketika kami berhenti. Austin melepaskan aku dan melihat bahwa salah satu pelayan kami yang mengetuk. Austin berjalan kearah pintu dan membukakan pintu untuk salah satu pelayan kami.
“ maaf, austin- haley, ada barang yang tertinggal dibelakang.. untung kalian masih disini..” ujarnya sambil lalu kedapur dan beberapa saat keluar lagi dan pelayan itu pulang. Austin menutup pintu kaca tersebut. Wajahku memerah. Aku merapihkan letak blazerku lagi dan mengulum bibirku canggung menatap austin.
Austin mengacak rambutnya dan terlihat sama tidak sadarnya dengan aku. Setelah dia membenamkan wajah ditangannya, austin datang kearahku.
“ Haley, aku minta maaf..” ujarnya benar-benar merasa bersalah, “aku benar-benar minta maaf..” katanya, aku tersenyum. “tidak apa-apa, ini salahku juga menyuruhmu yang bukan-bukan..” kataku canggung. Austin berkacak pinggang dan menatapku dengan kepala miring.
“ aku tidak menyakitimu kan?” tanyanya, “maksudku, ciumanku tadi—“
“ tidak apa-apa, semuanya bagus..” jawabku, “maksudku- bukan ciumanmu bagus..” aku buru-buru meralat. Dia tertawa kecil, aku juga ikutan tertawa. Dia mengulurkan tangannya kepadaku, “lupakan ini pernah terjadi?” tanyanya, aku menyambut tangannya dan tersenyum, “oke..” kami berdua berjalan keluar dari café dan menuju rumah.

----------------------- sekarang -----------------------

Aku gelisah menunggu balasan dari austin. Takut-takut dia akan membalas atau meneleponku, tapi tidak terjadi. Aku seharusnya tidak mengirim pesan tersebut. Apa yang aku pikirkan. Aku akan menikah sebentar lagi dan aku bilang padanya bahwa aku juga mencintainya. Ya tuhan, aku sungguh tidak waras.
Aku tidak tahan sendirian dikamar. Aku mengangkat gaunku sedikit lalu berjalan keluar. Diluar sepi, dan kulihat mally sedang berbicara dengan pengirim bunga.
“ Haley, lihat bunganya sudah datang!” dia membawa buket bungaku dan menunjukannya senang
“ yayaya- mally, ada yang ingin kubicarakan denganmu..” kataku . mally menaruh buket bunganya didekat keranjang bunga besar disebelahnya. Aku menarik mally menjauh dari pintu dan membawanya keruangan sempit dekat dapur.
“ kau kenapa?” tanyanya begitu aku menutup ruangan tersebut. Aku menutup wajahku dan menggeleng
“ aku menelepon austin barusan..” ujarku. Mally diam melihatku.
“ dia ada disini?” tanyanya. Aku mengangguk. “apa dia  akan datang?” aku menggeleng
“ lalu? Apa yang dia katakan? Dia bilang sesuatu kenapa dia tidak mau datang?” tanya mally.
Aku menceritakan semua percakapan kami kepada Mally. Mally terlihat kaget mendengar alasan Austin.
“ dan lalu, aku mengirim pesan seperti ini padanya..” aku menunjukkan pesan yang kukirim kepadanya.
“ Haley!” mally terkejut. Aku terlihat ingin menangis.
“ aku tidak tahu kenapa aku melakukannya, mally—“ aku panik, tangisku mau pecah, “disatu sisi ya, aku benar masih mencintainya- tapi disisi lain aku akan menikahi justin..”
“ haley, dia meninggalkanmu sesaat kau dan justin bertunangan…. Dia meninggalkanmu dan mengingkari janjinya yang tidak akan pernah meninggalkanmu sedikitpun..” Mally malah membuat keadaan tambah kacau. Aku menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. Aku benar-benar butuh udara.
“ tapi dia mencintaiku…”
“ kau benar mencintainya juga atau hanya terbawa perasaan saja karena panik kau akan menikah sebentar lagi..” balas mally
“ aku tidak tahu—“ ujarku lelah, “aku hanya ingin melihatnya sekali lagi sebelum aku menikah..” kataku. mally memelukku dan mengusap-usap punggungku.
“ haley, kau akan menjadi wanita paling bahagia hari ini- fokuslah pada pernikahanmu…”
“ masalahnya aku sendiri pun tidak tahu apakah aku akan bahagia atau tidak… semuanya menjadi kacau hari ini… dan kau tahu yang paling parah—“ aku menunjukkan sekali lagi pesan yang kukirim kepadanya. Mally mengangguk-angguk. “oh mally…” aku membenamkan wajahku sekali lagi dikedua telapak tanganku. Sesaat timbul ide di pikiranku. Aku tidak tahu apakah aku harus melakukannya atau tidak. Aku mendongak dan melihat mally melihatku iba.
“ mally, hanya ada satu cara aku tahu apakah aku akan bahagia dengan justin atau tidak..” ujarku. Kening mally berkerut menatapku.
“ dan tolong jangan bilang siapa-siapa soal ini..” aku menghambur keluar secara cepat sambil mengangkat gaun pengantinku sementara mally berteriak-teriak memanggilku dibelakang. Begitu sampai didepan pintu mally menarik tanganku.
“ kau apa-apaan? Mau kemana?” jeritnya histeris melihatku
“ please, mally- aku harus bertemu dengan austin sekali lagi…”
“ tidak! Tidak! Kau tidak boleh melakukannya. Bagaimana kalau yang lain tahu? Aku harus jawab apa? Bagaimana aku tahu kalau kau akan kembali?” dia menjerit jerit.
“ aku akan kembali aku janji—“ ujarku menenangkannya. Mally mengulum bibirnya.
“ aku janji—tapi sebelumnya, kau harus janji padaku tidak akan bicara apapun pada siapapun soal ini…”
“ haley, pernikahanmu tinggal beberapa jam lagi…” dia kelihatan capek
“ aku tahu! Dan kau harus percaya padaku…” ujarku, “aku hanya ingin bertemu dengan austin sekali lagi- dan memastikan kalau aku baik-baik saja tanpanya…” aku berbalik badan dan menuruni tangga yang ada dipelataran rumah keluarga kami. Mally diam dibelakang. Begitu sampai ditangga keempat dari bawah aku berbalik, mally masih ada disitu.
“ semoga kau menemukannya…” hanya itu yang dikatakan mally dan dia tersenyum kearahku

-------------------------------------------- 4 tahun yang lalu----------------------------------------------
Aku menangis terisak sepanjang perjalanan pulang dari bandara. Aku tidak peduli orang beranggapan apa. Aku kesal setengah mati. Justin berjanji akan pulang hari ini, tepat dimana anniversary kami dan sesampainya aku dibandara- dia memberitahuku kalau dia tidak bisa pulang karena ada masalah di proyek yang akan dibangunnya. Aku berjalan menerobos kerumunan orang yang menghalangiku, mereka seakan menatap sinis kearahku tapi aku tidak peduli. Akhirnya aku sampai juga depan rumahku. Aku membuka pintu tapi ternyata dikunci- aku masih menangis terisak- mataku sembab dan pipiku basah. Aku menggedor-gedor pintu dengan liar berharap Austin atau seseorang ada dirumah. Aku menggedor pintunya sekali lagi dan akhirnya ada yang membuka pintu.
Austin memandangku bingung, aku menangis lagi didepannya. Austin memelukku dan mengajakku masuk. Begitu pintu ditutup aku berhenti menangis.
“ justin tidak jadi pulang hari ini..” kataku memulai. Austin menghapus airmataku
“ aku harus menunggunya dibandara selama satu jam lebih baru dia meneleponku…”
“ aku minta maaf..” ujar austin. Aku mengelap air mataku secara kasar
“ ini hari anniversary kami dan bahkan dia tidak bicara soal itu kepadaku ditelepon. Dia bilang dia sedang ada masalah dengan proyeknya jadi tidak bisa pulang..” aku terisak lagi. Austin kembali memelukku sambil mengelus-elus rambutku.
“ aku ganti baju dulu..” kataku muram lalu melepaskan diri dari austin dan masuk kedalam kamar. Aku mencopot sepatuku dan membuangnya kasar kelantai sembarangan. Aku menghempaskan diriku kekasur lalu menatap langit-langit, masih dengan perasaan kesal. Aku tidak tahu bagaimana ini akan berjalan. Aku sudah lelah ditinggal terus bersamanya selama ini. Sudah 4 tahun kami bersama, dan aku butuh kepastian. Apakah dia mau bersamaku, atau aku hanya akan ditinggalkan seperti ini. Aku mengusap air mataku lagi secara kasar lalu bangkit dari tempat tidur dan membuka bajuku. Aku melemparkannya lagi ketempat tidur. Aku mencari baju santaiku yang diberikan austin saat natal tahun lalu. Begitu aku memakainya, aku menghela nafas.
Walaupun kesal, aku merasa lebih baik. Aku meraih ponselku, tidak ada pesan sama sekali dari justin. Dia bahkan kurasa lupa hari ini hari anniversary kami. Aku menyerah. Mungkin yang membuat aku dan justin bertahan selama ini adalah jarak yang memisahkan kami- dan aku sudah terbiasa dengan hal itu.
Pintu kamarku terbuka dan kulihat Austin mengintip.
“ Boleh aku masuk?” tanyanya. Aku tersenyum dan menyuruhnya untuk masuk. Austin menutup pintu lalu bersedeku didepanku yang sedang duduk dibangku rias.
“ Aku tidak tahu bagaimana caranya menghiburmu sekarang, tapi aku jamin aku akan menamanimu sampai kau merasa baikan..” ujarnya. Aku tersenyum. Austin mungkin lelaki paling manis yang pernah aku temui.
“ Terimakasih austin—“ ujarku sambil menaruh kedua tanganku dipundaknya. Aku menunduk memandang kaos yang dia pakai lalu menatapnya lagi.
“ Kau mau makan?” tanyanya. Aku menggeleng lagi.
“ Kau menemaniku seharian ini disisa hari anniversary malangku bersama lelaki yang nun jauh disana?” tanyaku. Austin tertawa mendengarnya dan dia mengangguk.
“ Hhhh…” aku menghela nafas lagi, “apakah sebegitu pentingnya pekerjaan itu daripada aku?”
“ sudah kubilang dari dulu- dia sepertinya lebih peduli pada pekerjaannya..” austin masuk berlutut didepanku. Aku mengelus rambutnya. “ seharusnya aku mendengarkanmu..” kataku.
“ jangan dipikirkan sudah..”
“ lelaki mana yang bahkan tidak ingat hari ini adalah hari anniversary-nya?” aku mulai kesal lagi. Austin merapihkan rambutku. Air mataku mulai merebak lagi mengingat justin. Dia sama sekali tidak perduli.
“ hei—“ kata austin, “haley, sudahlah- jangan menangis..” dia seperti kewalahan melihat air mataku mengalir deras. Austin mengelus rambutku dan mencium keningku. Aku memeluk pinggangnya sambil mengelap airmataku kebajunya.
“ lelaki itu tidak pantas mendapatkanmu..” ujarnya. Austin meraih wajahku dengan kedua tangannya. Aku masih terisak. “dia tidak tahu apa yang dia lewatkan dikota ini- yang tidak bisa didapatkan sekalipun dinew york..” ujar austin. Raut wajahnya melembut- dia menyunggingkan senyumnya yang maut itu sambil mengelus pipiku.
“ aku tidak tahu harus berbuat apa..” ujarku lemas. Austin masih menatapku dengan mata sayunya. Dia menyentuh bibir bawahku- menatapnya lalu kembali menatap mataku.
“ kalau aku adalah kekasihmu, aku tidak akan membiarkan dirimu menjauh sedikitpun dariku..” ujarnya setengah berbisik. Aku menggigit bibir bawahku. Austin sangat menarik. Aku baru pertama kali memandangnya seperti ini.
“ dia tidak tahu apa yang dia lewatkan jika dia jauh darimu..” seperti tersihir aku memajukan wajahku hingga hidung kami bersentuhan. Austin tidak diam lagi, dia menempelkan bibirnya kebibirku dan menciumku dengan nafsu. Aku mengalungkan tanganku dilehernya sementara austin meraih pinggangku dan mengangkatku dari duduk. Aku mengaitkan kedua kakiku dipinggangnya berpegangan agar tidak jatuh sementara austin masih secara liar menciumku.
Kami tidak berhenti berciuman. Aku spontan membuka mulutku dan membiarkan lidah austin bermain didalam mulutku dan bermain dengan liar bersama lidahku. Aku mendesah saat austin menekan tubuhku kearah tembok. Kami berpandangan sebentar. Nafasnya terengah-engah. Austin menurunkan aku. Lalu dia menarik ujung bajuku dan meninggalkan aku hanya dengan celana pendek dan pakaian dalamku saja. Wajahku memerah saat aku melihat austin tersenyum nakal memandang tubuhku. Dia mengenggam tanganku dan menekanku kembali ketembok. Sekejap, bibir austin sudah berada dibibirku kembali dan tanganku melepaskan diri dari genggamannya dan berusaha untuk menarik bajunya.
Aku kesusahan saat melepas baju austin karena ototnya. Ini sempat mengganggu kami dan akhirnya austin berhenti menciumku dan membuka bajunya sendiri sambil tersenyum. Aku juga tersenyum melihatnya. Baru kali ini aku memperhatikan tubuhnya. Austin menarikku untuk menjauhi tembok. Bibirnya menyapu leherku, menggigit dan mencium seluruh tenaga- aku menggigit bibir bawahku- menahan diri untuk mengerang. Austin terlihat asyik sendiri saat dia menyentuh leherku.
Begitu dia sampai dibagian dadaku, austin hanya mengecupnya sekilas. Dia tidak membuka bra-ku. Nafasku memburu saat austin kembali mencium leherku, lalu naik kebibir, kepipi dan ketelinga lalu kembali mengulanginya lagi. Jari jariku menyusuri rambutnya, lalu turun keotot-ototnya dan akhirnya sampai kebagian bawahnya yang bisa kurasakan sudah menyembul, tidak tahan untuk keluar. Aku mengelus elus bagian bawah austin dan dia mendesah ditelingaku saat dia sedang sibuk mencium leherku. Dia berhenti dan menangkap tanganku.
“ kau sudah membangkitkan aku, haley..” katanya sambil tersenyum lalu memutar tubuhku jadi membelakanginya. Austin mulai menciumi bagian punggungku dan kedua tangannya menurunkan tali bra-ku hingga menjuntai turun dipundakku. Austin menggigit telingaku pelan, lalu menyusuri bibirnya dileherku kembali. Tangan kirinya melingkar diperutku. Tangan kanannya menyusuri tulang pahaku dan akhirnya perlahan dia menyelipkan tangannya masuk kedalam celanaku. Aku tersentak saat dia menyentuhnya. Austin tertawa melihat reaksiku.
“ kau tahu akibatnya kalau sudah membangkitkanku..” ujarnya. Dia menyentuh dan mengusap lembut bagian vitalku. Aku mendesah. Rupanya ini membuat austin menjadi lebih bergairah. Dia mulai melakukan sesuatu yang belum pernah aku rasakan sama sekali. Austin memasukkan jarinya kedalam alat vitalku- lalu mengeluarkannya perlahan, lalu memulainya lagi dan mengeluarkannya lagi. Aku tersentak beberapa kali saat dia melakukannya.
“ austin…” desahku setelah beberapa kali aku merasakan kenikmatan yang terjadi dibawah sana. Austin terus melakukannya sambil mencium leherku. Aku ikut memasukkan tanganku bersama tangannya, membimbingnya untuk melakukannya lebih perlahan. Aku mendesah dan menyerukan namanya berkali kali sampai-sampai austin tertawa kecil saat mendengarnya.  “austin, aku sudah tidak tahan lagi..” kataku akhirnya. Austin berhenti melakukannya lalu mendengus. Dia memutar balikan tubuhku dan menatapku dengan matanya yang liar, kali ini. Liar. Aku belum pernah melihatnya seperti ini.
“ kau mau diriku?” aku mengangguk. Austin mencium bibirku sekali lagi dan memainkan lidahnya didalam mulutku. Austin lalu menurunkan kembali tali braku sampai payudaraku menyembul. Wajahku memerah, austin memegang kedua bahuku lalu menciumku sekali lagi dan mulai turun makin kebawah. Sesampainya mulutnya dipayudaraku dia menciumnya, lalu mulai menghisapnya. Aku menggigit bibir bawahku lagi menahan jeritanku, rasanya sungguh aneh. Aku tidak pernah terpikir austin akan melakukanya. Dan aku juga tidak tahu bagaimana memandang wajahnya lagi setelah semuanya berakhir. Austin melakukan hal yang sama pada payudaraku yang satu lagi. Aku menyapukan tanganku dirambutnya kembali. Saat terakhir dia memelintir putingku dengan lidahnya membuatku mendesah akhirnya, tidak tahan. Aku ingin austin sekarang juga. Cukup sudah dia mengerjaiku seperti ini.
“ austin- aku ingin dirimu, sekarang..” aku kedengaran seperti merengek. Austin tersenyum melihatku yang putus asa seperti ini. “tidak adil kau boleh menyentuhku seenaknya, aku tidak boleh menyentuhmu..” kataku.
“ kau ingin menyentuhku?” dia membelai rambutku. Aku diam.
“ hari ini aku hanya ingin memanjakan dirimu, haley—“ dia kembali menciumku lagi, lalu menarikku kekasur. Austin merebahkanku diranjang, lalu dia membuka celananya lalu naik keatas tubuhku. Kepalaku berada di Kedua siku yang menopangnya. Austin kembali menciumku lagi, lalu tangannya mulai bermain dengan payudaraku. Meremasnya pelan lalu semakin kencang seiring dengan ciumannya yang semakin kasar dan lidahnya yang bermain didalam mulutku. Aku mendesah saat austin menjauhkan bibirnya. Aku melihat gundukan dicelananya. Sudah semakin besar. Aku ingin dirinya sekarang. Aku sudah tidak tahan lagi.
“ austin..” kataku
“ ya?” dia masuk mencium bagian leherku
“ tolong jangan permainkan aku lagi—aku ingin dirimu sekarang..” austin tersenyum nakal. Dia lalu mengangguk dan meraih celana panjangnya yang ada dilantai dan mengambil sesuatu. Kondom. Aku mengamatinya yang sedang berusaha melepaskan celana dalamnya lalu merobek bungkus kondom dengan giginya lalu memasangnya ke bagian tubuhnya. Aku menahan nafas saat melihatnya. Bagaimana mungkin barang sebesar itu bisa muat didalam tubuhku?
“ kenapa kau melihatku seperti itu..” austin tertawa melihatku
“ tidak apa-apa..” kataku. austin menurunkan tubuhnya kembali lalu mencium bibirku kembali. Tangannya mulai menjalar kearea payudaraku- menekan dan meremasnya sampai aku tersentak dan meneriakkan namanya pelan. Austin menjadi semakin bergairah. Dia bangun lalu membuka kakiku lebar-lebar dan menyusup diantara keduanya. Aku menatapnya. Austin sudah memposisikan dirinya. Dia menekan bagian tubuh bawahnya dan aku menjerit. Aku terengah engah. Dia berhenti sebentar lalu melakukannya lagi. Austin menurunkan tubuhnya kembali.
“ apa aku menyakitimu?” tanyanya, aku menggeleng
“ tidak—“ aku menelan ludah, “lakukan lagi- aku baik baik saja..” austin tersenyum lalu menciumku sekali lagi. Dia kembali menggoyangkan tubuhnya dan membuatku tersentak lagi. Austin melakukannya berulang-ulang.
“ austin—“ desahku saat dia sudah mulai larut dalam kenikmatan
“ haley—“ desahnya sambil memejamkan mata menikmati kenikmatan yang dia rasakan saat menggoyangkan tubuhnya dan menggenjot. Aku memekik saat austin melakukannya lagi. Dia melakukannya lebih cepat kali ini. Aku mencengkram lengannya, dia tersenyum menatapku dengan wajah yang sungguh bergairah.
“ austin—“ ujarku tidak sanggup berbicara, kupejamkan mataku- menikmati irama tubuh kami. Aku serasa lumer. Tubuh austin melengkung dengan sempurna diatas tubuhku. Dia tidak kelihatan canggung saat menatapku. Sesekali aku mendengarnya menggeram, mendesah dan menyebut namaku.
“ austin—“ aku sepertinya tidak bisa menyelesaikan bicaraku setiap saat aku ingin bicara dengannya
“ sebentar lagi, haley..” katanya. Austin kembali menggenjot tubuhnya. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Aku tidak dapat menahannya lagi. Kami berdua sama-sama memejamkan mata dan berteriak- austin melengkungkan tubuhnya dan memejamkan matanya saat dia mencapai orgasme.
Aku kehabisan nafas dibawah tubuhnya. Nafas kami memburu dan terdengar jelas diruanganku yang sepi seperti ini. Austin tersenyum miring menatapku yang ada dibawahnya. Dia menyentuh pipiku dan mencium bibirku kembali, kali ini lebih lembut dan tidak terkesan memaksa.
“ wow..” ujarku, dia mengangguk. Aku melingkarkan tanganku dilehernya, menurunkan kepalanya agar semakin dekat denganku. Nafasnya masih terdengar memburu. Dia tertawa.
“ aku tidak akan melupakan hari ini- dan hal ini..” ujarnya pelan. Aku tertawa
“ austin, kita tidak seharusnya melakukannya..”
“ jangan merusak momen, haley—“ dia menyuruhku diam, aku tertawa lagi. Austin melengkungkan tubuhnya lagi lalu menempelkan keningnya dikeningku.
“ dan sekarang, aku jamin kau tidak sedih lagi…” katanya lalu menciumku kembali.

*

Semenjak kejadian dengan austin- aku dan dirinya menjalin hubungan aneh yang disebut ‘friends with benefits’. Kami berusaha untuk menghindarinya, tapi begitu mengingat dirinya bersamaku malam tersebut, aku selalu ingin menyentuhnya- begitu juga dengan austin. Selama beberapa bulan sebelum justin pulang, aku bersama dengan austin. Kami melebihi sahabat sekarang, aku dan austin sama sama menikmatinya.
Kami kesepian disini, kekasih kami sedang diluar semuanya. Hanya ada aku dan austin. Kenapa tidak mencoba mengisi satu sama lain, bukan?
“ hei!” aku baru bangun tidur dan austin sudah bangun dan sedang memainkan rambutku. Dia mengecupku lalu aku masuk kedalam pelukannya.
“ selamat pagi…” kataku lagi, “selamat pagi..” ujarnya. Aku menghela nafas
“ kau ada acara hari ini?” tanyaku.
“ kau ada?” tanyanya. Aku menegakkan kepalaku, “well- ada toko baju baru didekat salonku- aku dan mally mau kesana… kau mau ikut?” tanyaku. Austin mengusap-usap rambutku.
“ kau mau aku ikut?” aku memutar bola mataku
“ berhenti memutar balik pertanyaanku austin!” aku jadi kesal
“ bukan itu yang kau suka dariku?” dia menggodaku lagi lalu mencium bibirku
“ tidak—aku tidak pernah bilang seperti itu…” aku mendorongnya, dia pura-pura sedih
“ austiiin, kau mau ikut tidaaak?” aku merengek. Dia menghela napas.
“ kalau kau pergi, aku ikut—aku tidak ingin meninggalkanmu sedetikpun..” ujarnya. Aku memeluknya senang lalu mencium pipinya.
“ aku mandi dulu kalau begitu..” aku melompat dari tempat tidur dan mengambil handuk
“ hei, kau mau menghemat air bersamaku?” teriaknya, aku menoleh lalu menggeleng. Austin pura-pura sedih lagi lalu dia tertawa.

*
Mally sudah kalap dipertokoan saat kami sampai. Austin terlihat bingung disana. semuanya wanita, hanya ada beberapa pria yang disana- yang jga menemani kekasih mereka.
“ kau mau bersamaku, atau duduk bersama lelaki-lekaki itu?” tanyaku sambil menunjuk para lelaki yang sepertinya menyesal mengikut kekasihnya kemari.
“ aku akan duduk..” ujarnya tanpa ragu lalu mencium pucuk kepalaku. Mally melihat kami lalu dia tergopoh gopoh sambil membawa beberapa potong baju mendekatiku.
“ kau dan austin….?” Dia mengerutkan keningnya, aku mengibaskan tanganku lalu menariknya untuk ikut denganku.
“ entah mengapa kami jadi seperti ini..” kataku
“ justin bagaimana?” tanya mally, “justin masih jadi pacarmu kan?”
“ yea—masih, tapi austin hanya mengisi kesepianku saat justin tidak disini. Kami sepakat kok. Tidak ada feeling sama sekali terlibat dalam hal ini..” aku mencari-cari baju yang sekiranya cocok denganku.
“ kau yakin? Sepertinya austin tidak begitu—“ ujarnya sambil menoleh kearah austin
“ kami sudah sepakat- kami kesepian oke. Kekasih kami diantah berantah tidak tahu dimana.. hanya sampai justin dan sarah pulang, lalu sudah…”
“ dan berjalan lagi saat justin pergi—“ tambahnya, “bagaimana kalau sarah tidak pergi?”
Aku berhenti memilih baju. Ini tidak terpikir olehku. Justin memang selalu akan pulang pergi, tapi tidak dengan Sarah. Mally masih menungguku menjawab.
“ aku tidak tahu—“ aku lalu melanjutkan mencari baju. Tidak ada yang aku suka.
“ diatas ada banyak gaun pengantin kalau kau mau lihat- hanya untuk senang-senang..”
“ Austin!” aku memanggil austin, dia mendekat- “hei, aku dan mally mau keatas- ada banyak gaun pengantin katanya, aku ingin lihat. Untuk senang-senang saja.. kau mau ikut?” tanyaku. Austin melihat sekeliling.
“ oke..” dia merangkulku lagi lalu kami bertiga naik kelantai atas. Sesampainya diatas, keadannya tidak seramai yang dibawah. Diatas hanya ada beberapa wanita yang kelihatannya lebih tua dariku sedang mencoba gaun pengantin. Semuanya berwarna putih dan indah. Austin duduk dibangku dan membiarkan aku memilih-milih. Aku berjalan pelan sementara mally sudah mengambil 2 gaun. Satu untukku dan satu untuknya.
“ kau kelamaan- mau coba yang mana?” tanyanya. Aku mengambil yang kanan. Gaunnya tidak mengembang, tapi panjang dan lurus, sangat sederhana dan aku suka.
“ tunggu sebentar ya..” aku menoleh pada austin yang juga ikutan memandang orang-orang yang sedang mencoba gaunnya lalu mengangguk. Aku masuk kedalam ruang ganti dan memakainya. Setelah itu aku berkaca dan tersenyum. Aku akan sangat cantik saat menjadi pengantin nanti- dan inilah gaun yang akan aku pakai saat aku menikah nanti. Aku lalu keluar dan mally sedang memamerkan gaunnya yang mengembang pada austin. Saat austin melihatku dia tercengang. Wajahku jadi memerah saat aku keluar. Dia bangkit berdiri dan tersenyum. Mally berbalik dan memekik melihatku.
“ ooooh Haley—“ katanya sambil menutup mulutnya. “kau cantik sekaliii…” katanya lagi
“ terimakasih—aku suka gaunnya..” jawabku. Austin memasukkan tangannya kesaku lalu berjalan mendekatiku. Dia memiringkan kepalanya dan tersenyum lagi melihatku.
“ kau akan sangat cantik saat menjadi pengantin nanti..” katanya. Aku tertawa kecil
“ awwwww- justin pasti akan berpendapat sama dengan kita!” saat mally menyebut nama justin- aku dan austin berpandangan canggung. Ini benar. Aku melupakan justin. Aku bahkan tidak memikirkan justin saat aku mengenakan gaun ini.
Yang aku pikirkan adalah cara austin memandangku saat aku keluar dan dia suka. Aku tidak memikirkan yang lain. Mally menyadari ada yang salah dengan omongannya lalu dia menjauh dari kami. Aku menatap austin. Kali ini dia tidak sepenuhnya menatapku.
“ justin pasti suka—“ katanya pelan, masih menghindari kontak mata denganku, raut wajahnya muram.

*

-------------- Austin POV ---------------
“ Austin?” tanya suara ditelpon
“ Sarah ini aku, bagaimana penyelidikanmu?”
“ well, aku mengikuti justin berbulan bulan disini- memang sepertinya ada yang aneh dengannya, tapi dia belum menunjukkan sesuatu yang mencurigakan..” katanya
“ dia ingin pulang hari ini, bisa kau ikuti dia dibandara juga?”
“ tidak masalah? Kau tahu dia akan kebandara jam berapa?”
“ haley bilang sekitar jam 7 pagi..”
“ oke- terimakasih infomu, nanti kukabari lagi..”
“ terimakasih juga, sarah..”
“ tidak masalah- ini sudah sekalian tugasku..” klik. Telepon dimatikkan.
Aku kembali menonton televisi sambil menunggu haley bangun. Ini pukul 5 pagi dan aku tidak bisa tidur. Semalam aku mendapat kabar dari sarah kalau data bernama ‘JONATHAN RUDD’ sudah dihapus dari semua dokumen dan berganti nama menjadi ‘JOEY’. Aku menulusuri semua data bernama joey yang diberikan oleh sarah- karena aku dan sarah tidak tahu nama belakangnya, aku agak kesusahan. Tapi akhirnya ada satu yang memenuhi kriteria ciri-ciri yang sama dengan yang lain. Password Joey ini terdaftar berulang ulang kali didepartemen negara new york dan badan imigrasi. Sarah memberitahuku bahwa nama Justin Johansson tidak pernah terdaftar dimanapun dinewyork- begitu juga dengan passportnya. Aku ingin bilang pada Haley tapi Sarah menyuruhku untuk tidak mengatakannya demi keselamatan Haley sendiri. “kita belum tahu seberapa bahaya lelaki ini..” kata sarah.
*
Siang harinya telepon berdering lagi saat haley sedang keluar menjemput austin dibandara.
“ austin- justin tidak muncul dibandara…”
“ apa?”
“ justin tidak muncul dibandara- aku dan rekanku sudah disini sedari pagi dan dia sama sekali tidak muncul..”
“ tapi haley bilang..”
“ sepertinya dia tahu sedang dibuntuti.. masalahnya aku pernah tidak sengaja bertemu dengannya, walau hanya sekilas dan aku langsung kabur- dia juga melihat rekanku, sepertinya dia curiga..”
“ lalu sekarang bagaimana?” tanyaku menghela nafas
“ aku tidak bisa melanjutkan tugasku lagi- aku sudah ketahuan.” Katanya, “tapi jangan khawatir- sebagai gantinya, aku akan menjaga haley..”
“ biarkan aku yang bertugas..”
“ tidak!” dia berseru, “kau bukan orang dalam- dan sangat berbahaya bagi anggota luar kepolisian untuk melakukannya…”
“ lalu kita mau apa?” aku terdengar putus asa
“ aku akan pulang bulan depan- aku tidak bisa menemuimu lagi, karena kalau dia melihatku- justin bisa curiga. Aku akan mengirim orang lain, namanya Drew- nanti aku akan beritahu nomornya kepadamu.. aku minta maaf austin..” kata sarah
“ baiklah, tidak apa-apa.. terimakasih untuk bantuanmu..” kataku
“ aku janji akan menjaga haley- dan mengawasinya selama aku bisa..”
“ terimakasih- aku hargai itu..” aku mematikan sambungan telepon. Justin tidak jadi pulang hari ini. Ada masalah apa sebenarnya? Apa yang dia lakukan disana? aku ingin sekali kesana dan menyelesaikan kasus ini sendirian.

--------------------------------------- sekarang ---------------------------------
Aku berjalan dipinggiran kota dipertokoan dengan menggunakan gaun pengantinku. Semua orang menatapku. Tentu saja. Aku mengenakan gaun pengantin lengkap dengan sepatu, riasan dan tatanan rambut. Aku mencari tempat yang dimaksud austin, café dekat toko roti diseberang mall yang biasa aku dan austin suka kunjungi.
Begitu aku melihat toko roti aku melirik kesebelahnya dan ada café disana. aku menarik nafasku dalam-dalam lalu menyebrang dengan hati-hati. Tatapan mata orang-orang masih terarah kepadaku, tetapi aku tidak peduli lagi. Aku sampai didepan café tersebut, aku membuka pintunya dan kulihat cafenya ramai- semua orang matanya tertuju padaku saat aku membuka dan menutup pintu, tapi hanya berlangsung sesaat- walau masih ada beberapa yang melihatku.
Aku berjalan melewati orang-orang dan kulihat austin sedang meminum coke dimeja depan bartender. Aku tidak sanggup memanggilnya, aku berjalan kearahnya. Aku melihat austin. Setelah 3tahun aku tidak bertemu dengannya, aku melihatnya lagi.
Austin yang juga melihatku, mematung tidak bergerak- hanya mata kami yang bertemu. Raut wajahnya keras, dan akhirnya dia bangkit berjalan kearahku.
“ hai..” kataku
“ apa yang kau lakukan disini?” bentaknya pelan, dia membawaku kepojokan ruangan tempat yang sepi
“ aku hanya ingin melihatmu sekali lagi sebelum aku menikah..”
“ aku tidak ingin melihatmu..” ujarnya dingin membuat jantungku langsung berhenti berdetak
“ lebih baik kau pergi sekarang, kau akan menikah sebentar lagi..”
“ austin- aku kemari hanya ingin kau datang…”
“ aku tidak akan datang, sekarang pergilah..” ujarnya lalu melewatiku tanpa bicara apa-apa lagi. Aku melongo. Dia kasar sekali padaku. Aku tidak bisa berkata-kata. Begitu aku berbalik, austin sudah duduk lagi menenggak cokenya- tidak melirik sama sekali kearahku. Aku mendekatinya.
“ kau ingin aku menikah dengan justin?” aku bertanya, dia hanya melirikku
“ itu yang kau mau kan..”
“ kenapa kau bilang kau mencintaiku..”
“ kenapa kau membalas mencintaiku juga..” mulai lagi. Sifatnya yang masih suka membalikkan pertanyaan masih lekat didirinya.
“ kau kemana selama 3 tahun ini?” tanyaku. Dia tidak menjawab
“ apa yang kau lakukan di new york?” tanyaku lagi, dia terkejut sekarang
“ aku menelepon ponselmu yang rupanya tertinggal- hilda memberitahuku..” austin menarikku agar lebih dekat dengannya.
“ pulanglah, haley- aku bersungguh-sungguh..” nadanya lebih terdengar seperti cemas daripada mengancam.
“ aku tidak akan pulang sampai kau mengatakan yang sejujurnya- apa yang kau lakukan disana? kenapa kau tidak pernah bilang kau disana..” aku menyerocos. Austin terlihat kesal.
“ aku akan menghubungimu nanti, sebaiknya kau kembali- aku bersungguh sungguh..”
Sebelum aku memprotes, austin sudah menarikku kebelakang bar. Aku kesakitan saat dia menarikku.
“ ada apa?” tanyaku kesal. Dia menyuruhku diam, kami mengintip dari balik meja bar. Justin.
“ justin.. apa yang dia lakukan? Kenapa dia disini?” aku bertanya
“ sssssshh!” austin membentakku menyuruhku diam.
“ kenapa kita bersembunyi seperti ini..”
“ kau perhatikan saja apa yang dia lakukan…”
Aku menuruti perintah austin. Aku melihat justin sedang berbicara dengan seorang lelaki berkulit hitam berpakaian slebor. Mereka berbincang-bincang pelan sebentar, lalu keduanya menjabat tangan dan berjalan keluar.
“ kau tunggu disini- aku harus mengikutinya..” austin keluar, aku mengekor dibelakang
“ ada apa sebenarnya ini? Apa yang kau lakukan..” austin terlihat putus asa, dia menarikku ikut dengannya lalu menyuruhku untuk tidak berbicara. Aku dan austin mengikuti justin dan lelaki tadi keparkiran bawah mall. Suasanya gelap dan aku yakin tidak ada yang bisa melihat. Sebenarnya apa yang dilakukan justin. Apakah pria itu bossnya? Kenapa harus membicarakan masalah proyek ditempat seperti ini? Kami mengendap endap masuk kedalam mobil yang rupanya sudah diparkir austin sedari tadi. Tanpa suara austin menutup pintunya dan menyuruh aku untuk merendahkan posisi dudukku. Jarak kami dan justin hanya tinggal berseberangan.
“ bisa kau jelaskan padaku apa yang kita lakukan dan kenapa kita membuntuti justin?”
“ lelaki itu bekerja didepartemen kepolisian- dia sedang menyamar untuk membuktikan sesuatu..” aku melihat justin menyerahkan surat-surat dan satu koper kearah lelaki itu. Justin membawa koper. Aku tidak sadar dia membawa koper sedari tadi. Lelaki itu lalu membuka koper justin lalu tersenyum. Dia menutupnya lagi dan menjabat tangan justin serta menyerahkan amplop besar tebal kearah justin.
“ apa yang dia lakukan?” tanyaku
“ kau harus tahu sekarang, haley—“ katanya, “justin diduga adalah penipu kelas berat yang sedang dicari oleh kepolisian negara..” aku melongo menatap austin.
“ apa?”
“ namanya sendiri belum tentu benar- dia punya banyak nama.. di newyork- dia bernama joey..” justin lalu berjalan keluar dari parkiran. “menunduk..” ujar austin. Aku segera merendahkan posisi dudukku lagi. Setelah justin pergi, kami kembali duduk normal. Lelaki yang menerima barang dari austin datang mendekat kearah kami. Austin membuka kunci mobil belakang dan lelaki itu masuk.
“ ini barangnya, kita sudah punya bukti…” ujar lelaki itu lalu menyerahkan koper tersebut ketangan austin. Lelaki itu melihatku.
“ yo, bukankah kau seharusnya menikahi lelaki itu?” tanyanya
“ haley- ini drew, dan drew- ini haley..” kata austin, aku melambai. “drew merupakan salah satu anggota kepolisian- dia menggantikan sarah untuk tugas ini..”
“ sarah?” aku terkejut
“ dia sama sekali bukan pacarku- aku hanya berpura” menjadi kekasihnya supaya dia bisa menjalankan tugasnya menyelidiki justin dan melindungimu..” austin membuka kopernya dan aku melirik. Bungkusan bungkusan putih yang sudah dikemas dalam kemasan besar maupun kecil ada disana.
“ ini heroin?” tanyaku takut
“ heroin, shabu-shabu..” jawab drew, “justin adalah kepala penyelundup terbesar dinegara ini..”
“ apa?” aku memekik
“ karena itu, haley- aku menjauh darimu selama 3 tahun dan pergi ke new york untuk memeriksa semua berkas-berkas dimana tempat dia bekerja..” austin menutup kopernya
“ kenapa kau melakukannya?”
“ karena aku sudah bilang padamu bahwa justin berbahaya dan kau tidak mau mendengarkan aku. Aku tidak punya bukti sama sekali, dan begitu kasus ini masih dalam penyelidikan, kau sudah bertunangan dengannya—“ ujarnya, “ maka dari itu- aku dan drew pergi kesana.. sebelumnya, sarah dan rekannya yang melakukannya- tapi dia ketahuan dan justin curiga- dia pernah bertemu sarah tidak sengaja…”
“ jadi yang kau bilang selama ini kalau dia bersama dengan suaminya..”
“ dia bahkan tidak bercerai dengan suaminya..” austin memotong. Aku mematung.
“ kau tidak harus membahayakan dirimu..” ujarku
“ aku tidak ingin kau celaka..” katanya lagi. Tatapannya seperti dulu, kembali mengenyuhkan hatiku.
“ ini semua salahku..” aku menunduk, “seharusnya aku mendengarkanmu…”
“ belum terlambat, haley—“ ujarnya, “kau masih bisa membantu kami..”
“ yeah—kembalilah ke pernikahanmu, kami akan mengepung austin..” ujar drew
“ aku tidak mau menikah dengannya! Aku tidak mau menjadi istri penjahat..”
“ kau tidak akan menikah dengannya—“ austin menenangkanku dengan suara rendahnya.
“ kami akan datang, tepat pada waktunya- kau hanya tinggal memusatkan perhatiannya agar dia tidak curiga kami datang..” ujar drew.
“ aku harus berbicara dengan ibuku dan mally- kau mau menjelaskannya kepada mereka..?” tanyaku, austin tersenyum dan mengangguk.
“ tidak akan kubiarkan kau menikah dengannya- aku akan datang sebelum kau berkata I do- aku janji..” austin meremas tanganku. Aku memandang tangan kami yang bertautan dan tersenyum.
“ terimakasih sudah melindungiku selama ini..” kataku, “aku tidak tahu kau melakukan ini hanya untukku.. merelakkan dirimu ke new york sana..” ujarku
“ aku senang berpergian..” kata austin. Aku meremas tangannya.
“ aku senang aku melihatmu lagi..” kataku, “kali ini tepati janjimu—tidak akan meninggalkanku lagi?”
“ aku janji—“ ujarnya sungguh sungguh. Aku bisa melihat drew memutar bola matanya melihat kami.
“ oke, haley- berikan telefonmu agar kami bisa bekerja sama dengan ibumu dan temanmu itu..” kata drew.


----------------------------  3 tahun yang lalu -------------------------------

Justin pulang hari ini. Dia mengajakku untuk makan malam. Aku dan austin sudah sepakat untuk tidak lagi berhubungan dan melupakan masalah kami selama ini. Aku memasuki restoran tempat kami janjian dan kulihat Justin sudah duduk disana, tersenyum melihatku. Dia bangun saat aku mendekat, lalu menciumku.
Aku duduk berseberangan dengannya. Pelayan memberikan kami daftar makanan. Aku memilih yang sama dengan Justin- walau aku tidak tahu jenis makanan apa itu sebenarnya.
“ maaf pergi terakhirku sungguh lama- kau baik baik saja?”
“ yeah—“ aku mengingat hari demi hari yang kulalui bersama austin, “aku baik..”
“ syukurlah- kau pikir kau akan marah denganku..” katanya
“ untuk apa? Kau kan bekerja disana?” aku tertawa
“ banyak wanita tidak mau menjalani hubungan jarak jauh seperti ini, haley..”
“ yeah—aku berbeda, terimakasih..” justin tertawa
“ haley- ada yang ingin kubicarakan denganmu..”
“ apa?” tanyaku. Dia menggenggam tanganku.
“ kita sudah 4 tahun menjalani hubungan kita- aku bahkan tidak menyangka bisa seperti ini..”
“ yeaaa—“ aku tersenyum
“ dan aku pikir- kau wanita yang cocok untukku, aku berjanji- aku tidak akan meninggalkanmu lagi…” justin bangkit berdiri. Dia mengeluarkan sesuatu dari jasnya dan membukanya didepanku sambil berlutut.
“ asalkan—maukah kau menikah denganku?” semua orang dan juga aku terkejut. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Otakku kosong. Justin dan yang lain menunggu jawabanku. Ini terlalu cepat.

-------------------- Austin POV------------------
Aku melihat data terakhir yang diberikan oleh sarah sebelum dia berhenti bekerja- justin sudah tidak bekerja lagi diperusahaan arsitek tersebut. Berarti dia tidak akan kembali lagi ke new york. Dia illegal dinegara ini- mau lari kemana lagi dia kali ini. Aku mengambil teleponku dan memencet nomor telepon Drew, rekanku yang baru untuk menyelidiki kasus ini.
“ drew- kau dapat kabar lagi?” terdengar drew sedang mencari cari kertas
“ belum—tapi aku tahu, kita akan pergi ke new york—“ ujarnya
“ aku belum bisa memastikan aku bisa pergi atau tidak- aku tidak ingin meninggalkan haley disini dengan justin.. aku baru memeriksa berkas-berkas terakhir yang sarah berikan padaku dia sudah tidak bekerja disana. untuk apa kita kesana?” tanyaku
“ kau ini amatiran betul—“ oceh drew, “dia disana bukan untuk bekerja saja, austin- new york kota kriminal juga, banyak gembong gembong obat terlarang dari kelas kecil maupun besar.. aku ingin memergoki mereka bertransaksi dan menyuruh mereka angkat bicara…” aku menelan ludah. Kedengarannya menyeramkan. Aku tidak berkomentar apa-apa selama beberapa menit.
“ austin- kau disana?” tanya drew, “kalau kau tidak mau ikut, aku mengerti- biar aku membawa rekanku yang lain..” kata drew.
“ aku tidak takut- aku hanya tidak ingin meninggalkannya disini..”
“ ada sarah yang akan menjaganya, walau secara tidak langsung. Sarah dan team-nya akan mengawasi haley 24 jam penuh. Mobil patroli akan ada dimana-mana, disetiap haley melangkah.. itu jaminan yang diberikan sarah..” aku tertegun mendengar drew. Sarah benar-benar tidak tanggung tanggung melakukannya.
“ aku—akan menghubungimu lagi, nanti…” kataku bertepatan dengan pulangnya haley, “aku harus pergi..” kumatikan sambungan telepon. Haley terlihat senang- tapi tidak juga. Wajahnya diambang muram dan senang. Aku mendekatinya.
“ haley- kau baik baik saja? Berjalan lancar dengan justin?” dia hanya menunjukkan jari manisnya. Ada cincin bertengger disana.
“ justin dan aku bertunangan…”

*

Aku dan austin saling diam dimeja makan. Austin tidak memandangku sama sekali semenjak aku mengumumkan aku dan justin bertunangan. Wajahnya mengeras- keningnya mengerut.
“ austin katakan sesuatu..”
“ apa yang kau pikirkan!” bentaknya tiba-tiba. Aku terkejut
“ dia dan kau hanya bertemu beberapa bulan sekali dalam setahun! Dia egois, mementingkan pekerjaannya dan bukan dirimu- dan kau..” dia mengibaskan tangannya kesal
“ austin, aku mencintainya..”
“ kau mencintainya? Kau tidur denganku selama dia tidak disini setahun belakangan ini, haley!” dia membentakku lagi, membuatku tersentak. “kalau kau mencintainya, kau tidak akan melakukannya bersamaku..”
“ itu kesalahan…”
“ selama setahun?” ujarnya, “kau sebodoh apa sampai kau melakukan kesalahan yang sama selama setahun?” austin berbalik bertanya. Aku diam.
“ kau yang bilang sendiri kalau kita melakukannya hanya untuk mengisi kekosongan..”
“ dan aku tidak benar-benar bermaksud mengatakannya..” ujar austin
“ kau bohong padaku..” ujarku sinis
“ dengar haley- justin adalah orang yang misterius- aku tidak yakin dia akan memperlakukanmu dengan layak jika kau menjadi istrinya..” aku memutar bola mataku.
“ jangan bicara yang aneh-aneh tentang justin..” kataku, “jangan mengalihkan pembicaraan..”
“ terserah padamu- aku hanya berpendapat bahwa kau bisa saja dalam bahaya berurusan dengannya..”
“ seberapa bahaya justin ini? Dia mafia? Atau dia pembunuh berantai?” aku mengolok-ngolok austin
“ kau tidak tahu apa yang kau bicarakan..” ujarnya
“ begitu juga denganmu—“ balasku, “kau tidak tahu apa yang kau bicarakan—kau hanya iri aku lebih memilihnya dibanding dengan dirimu..” aku terkejut saat kata itu keluar dari mulutku. Austin menatapku dengan matanya yang lelah. Dia memijat mijat keningnya.
“ ini bukan tentang diriku- ini tentang dirimu.. tidak bisakah kau melihat aku sedang melindungimu?”
“ dari apa?” bentakku kesal. “dari justin? Austin, kau konyol- kau membuat masalah yang tidak ada menjadi ada…” kataku. austin membuang muka sambil berkacak pinggang,
“ kau benar benar tidak tahu apa yang kau hadapi..” austin menggeleng. Dia mengusap wajahnya dan berjalan mendekatiku.
“ baik- aku akan menjauh dari segala urusanmu, asal kau menjawabku..” katanya
“ tolong katakan dengan jelas bahwa kau tidak punya perasaan apa-apa denganku, dan setahun belakangan ini tidak berarti bagimu- dan aku akan menjauh—menjauh dari hubunganmu dan austin aku berjanji…” ujarnya pelan. Aku memandangnya kesal. Ini seperti kanak-kanak.
“ aku tidak punya perasaan apapun denganmu- setahun bersamamu tidak berarti apa-apa bagiku..” aku berkata dengan nada datar. Aku menanti reaksi austin. Dia hanya tersenyum hambar lalu mengangguk kepadaku.
“ aku turut bahagia untukmu dan justin..” dia mencium keningku, “berhati-hatilah.. aku selalu menyayangimu…” katanya lalu menghilang dari hadapanku- inilah terakhir kalinya aku melihat austin dihidupku.

-------- [ Austin POV] --------
Aku menengguk kopiku, menunggu haley keluar dari rumah bersama dengan justin. Hampir 3 tahun aku tidak bertemu dengannya. Drew yang ada didalam mobil bersamaku juga meminum kopinya. Aku dan Drew mengawasi rumah Haley sedari kemarin malam. Ini malam sebelum hari pernikahan mereka besok. Pintu terbuka dan kulihat haley dengan menggunakan kemeja kotak-kotak dan celana pendeknya keluar rumah bersama dengan mally. Rupanya justin sedang tidak dirumah karena ada yang beranggapan bahwa sehari sebelum menikah- pengantian wanita dan pria tidak boleh bersama. Dia mengunci pintunya lalu berjalan sambil tertawa-tawa dengan mally. Aku tersenyum melihat Haley lagi- dia masih cantik dan ceria seperti dulu.
“ kau mau mengikutinya?” tanya drew
“ tugas kita disini—diluar itu tanggung jawab sarah..” jawabku sambil menggeleng
“ kau tahu austin- kalau kau mencintai wanita itu, belum terlambat untuk mengatakannya..”
“ dia akan menikah besok- aku sudah terlambat bertahun tahun..” aku menunduk memandangi cup kopiku. “aku pengecut..” ujarku lagi
“ hey, nak—“ hardik drew, “kau pergi ke new york untuk membuktikan tentang justin- kau melindunginya selama ini- kau bukan pengecut..” aku tersenyum kecil. Drew menepuk bahuku.
“ kau sayang padanya?”
“ sangat—“ ujarku lalu menoleh kearah drew, “aku ingin sekali bertemu dengannya..”
“ aku janji—ini misi kita yang terakhir. Aku sudah sepakat pada justin kemarin untuk menjadi pembeli, besok siang kami akan bertemu..” kata drew
“ yeah—terimakasih, dan semoga ini cukup menjadi bukti untuk menangkapnya..”
“ kita butuh haley—“ ujar drew
“ tidak- dia tidak boleh tahu apa-apa soal ini..” kataku, “belum..” lanjutku
“ kita harus pancing dia agar mau bekerja sama dengan kita..” ujar drew lagi, “kau katakan kau mencintainya besok—lalu jelaskan kau ada dimana..” katanya
“ bagaimana ini akan berhasil?” tanyaku
“ kau ingin tahu apakah dia mencintaimu atau tidak?” tanya drew. Aku mengangguk.
“ katakan padanya kau mencintainya.. jika dia mencintaimu juga, dia akan datang padamu.. lalu kita akan mengajaknya bekerja sama menangkap austin itu—kita sudah punya banyak bukti ditangan, aku dan yang lain juga team sarah akan bekerja sama untuk mengepungnya besok- asal haley mau bekerja sama dengan kita..”
*
Esok siangnya, drew sudah menelepon justin dan sudah mengatur tempat untuk bertemu. Aku sengaja duduk dipojokkan sementara drew yang sedang menyamar duduk diarea depan menunggu kedatangan justin. Aku masih belum menelepon atau memberi pesan kepada haley. Aku ingin dia tahu aku mencintainya, tapi aku tidak ingin dia terlibat. Aku ingin mengerjakannya sendirian- biar kubuktikan aku bisa melakukannya dan aku benar soal Justin. Drew menatapku garang dari kejauhan, menyuruhku untuk cepat menelepon haley. Aku ikutan melotot sambil mengacungkan handphoneku memberi kode aku akan melakukannya. Aku memutuskan untuk memberinya pesan singkat yang simpel. Lalu menunggu dia membalas.
Beberapa menit tidak ada jawaban dan akhirnya ponselku berdering. Haley yang menelepon. Dia memberitahuku dia sedang siap-siap dan bertanya apakah aku akan datang.
“ maaf Haley, sepertinya aku tidak bisa datang..” kataku tertawa kecil. Dia kedengaran kecewa dan bertanya alasanku.
“ kau sungguh mau tahu kenapa?” aku menghela nafas, “karena aku mencintaimu, oke..” aku menarik nafas lagi- haley tidak berbicara lagi. “aku mencintaimu, haley—aku tidak bisa melihatmu menikah dengaan orang lain…” ujarku pelan. Aku dan haley berbicara sebentar dan akhirnya aku bilang aku harus pergi, aku tidak sanggup lagi bicara dengannya. Dia bahkan tidak bilang dia mencintaiku juga. Dia bahkan tidak bilang apa-apa. Tidak tahukah dia selama bertahun tahun aku sakit hati setiap kali dia bersama dengan Justin—lelaki tidak jelas itu?
Aku menghela nafas dan kulihat drew dari kejauhan. Aku menggeleng memberi tanda bahwa haley tidak menyinggung apa-apa sama sekali. Aku memandang sekeliling, tiba-tiba ponselku berbunyi- tanda pesan masuk dan kulihat ada pesan dari haley,
Austin, aku juga selalu mencintaimu. Xx
Hatiku membuncah membacanya. Aku menatap drew lagi dan tersenyum lebar. Drew ikutan tersenyum, dia tahu haley juga mencintaiku. Oke oke, tenang. Aku akan memberitahunya aku ada disini- dan mungkin, haley akan datang. Dia akan lihat sendiri bagaimana justin itu sebenarnya- dan bam! Dalam sekejap, justin akan terkepung nantinya.

-------------------- sekarang -------------------
Aku membuka ponselku dan ada pesan dari austin
Lakukan yang terbaik- aku diluar menjagamu. Austin x.
Aku tersenyum sekilas lalu memasukan ponselku lagi. Aku sudah dimobil bersama dengan ayahku- kami sedang dalam perjalanan menuju gereja. Aku deg-degan menunggu apa yang akan terjadi nantinya. Senyum dan rasa berdebar didadaku tidak hilang-hilangnya merona diwajahku. Ayahku sampai bingung melihatku.
“ kau senang sekali nampaknya akan menikah..” ujarnya
“ ya..” jawabku singkat- kata2 awal ayahku sudah benar, tapi alasannya salah.
Akhirnya kami sudah sampai didepan gereja. Sebelum ayahku membuka pintu untuk keluar aku meraih ponselku lagi dan mengirim pesan untuk austin
Aku sudah sampai digereja. Aku sayang padamu. X
Lalu aku keluar dari mobil dan mengamit lengan ayahku. Pintu gereja sudah terbuka lebar dan semua tamu sudah duduk didalam.
“ kau siap?” tanya ayahku
“ selalu siap—“ jawabku mantap sambil berjalan menuju pintu gereja bersama dengan ayahku

--------------------- Austin POV----------------------

aku dan drew sedang bersiap dimarkas kepolisian. Sudah ada sarah dan beberapa team yang sudah bersiap. Ponselku berdering dan ada pesan dari haley mengatakan dia sudah siap. Semuanya langsung bergegas masuk kedalam mobil dan aku bersama dengan drew satu mobil- sarah juga ikut bersama kami.
“ kau pastikan kita sampai tepat waktu?” tanyaku ragu
“ pegangan, nak.. maka kita akan sampai tepat waktu…” ujar drew lalu menancap gas kencang melaju diikuti dengan 5 mobil polisi lainnya dibelakang

------------------ Sekarang -------------------
Aku masih berjalan disepanjang jalan menuju altar. Semua orang tersenyum dan terharu melihatku. Kulihat dialtar sudah ada Ibuku dan Mally yang tahu rencana kami- memandangku tegang, aku tersenyum kepada mereka. Aku menoleh kearah justin yang tersenyum lebar melihatku berjalan. Lelaki brengsek- dalam hatiku.
Akhirnya kami sampai juga dialtar. Ayahku melepaskan tanganku lalu berdiri disamping ibuku. Aku dan Justin saling berhadapan dan tersenyum. Didepan kami sudah ada pendeta yang akan menikahkan kami. Kuharap austin datang tepat waktu.
“ Sekarang, kita berkumpul dihadapan dua insan bahagia ini- untuk mempersatukan dua anak manusia atas nama cinta..” sang pendeta mulai bicara. Aku tersenyum canggung menatap Justin yang sepertinya senang sekali.
“ Kalian siap?” tanya sang pendeta. Aku tidak menjawab, tapi Justin mengangguk dan mungkin itu tandanya sudah cukup bagi sang pendeta. Dia membuka alkitabnya dan membacakan kami beberapa pasal tentang cinta dan pernikahan. Setelah lama berbicara pikiranku mulai kemana-mana, ini austin dimana? Sebentar lagi kami akan dinikahkan dan dia belum muncul sama sekali.
“ Baiklah—“ kata sang pendeta, “Ikuti perkataanku,” katanya pada Justin. Justin mengangguk.
“ Aku, Justin..”
“ Aku, Justin..” justin mengulangi
“ menerima Haley..”
“ menerima Haley..” katanya lagi. Aku panas dingin. Austin dimana?????
“ sebagai istriku..”
“ sebagai istriku..”
“ baik dikala senang maupun susah..”
“ baik dikala senang maupun susah..”
“ dikala sakit maupun sehat..” kata sang pendeta
“ dikala sakit maupun sehat….”
“ dikala kaya maupun miskin..”
“ dikala kaya maupun miskin…” Justin tersenyum. Aku juga tersenyum kaku.
“ silahkan pasangkan cincinnya kejari, Haley..” mempelai prianya memberikan kotak cincinnya dan justin mengambil cincin kawin tersebut lalu perlahan menyematkannya dijariku. Orang-orang bertepuk tangan.
“ dan sekarang, haley—ikuti aku..” kata sang pendeta. Oh tidak. Wajahku pucat pasi.

--------------- Austin POV ------------------
Berkat cara menyetir drew kami sampai lebih dulu beberapa menit daripada team yang lain. Jantungku mau copot saat drew menyetir. Kulihat sarah dibelakang juga berpegangan erat pada pintu dan sabuk pengamannya. Drew dengan santai keluar dari mobil sambil berdecak melihat polisi yang lain belum datang.
“ kau ini polisi tapi cara menyetirmu seperti ini..” kataku
“ ralat, kepala polisi, austin..” ujarnya. Aku menggeleng. Sarah ikutan keluar dan berkacak pinggang saat tak beberapa lama semua mobil sudah datang dan mengepung daerah gereja. Aku melihat gedung tersebut. Haley ada didalam. Aku akan menyelamatkannya.
Drew akhirnya berbicara dan memberi instruksi agar semua bersiap ditempatnya kalau saat dia dan sarah menangkap terjadi apa-apa. 2 polisi lain ikut juga dengannya.
“ kau mau ikut?” tanya drew kepadaku
“ untuk apa aku datang sejauh ini kalau hanya untuk melihat..” jawabku lalu bergabung bersamanya, sarah dan kedua polisi tersebut
“ oke, kita tangkap si bajingan ini…” ujar sarah lalu kami berdua melangkah mendekati gedung gereja.

-------------- sekarang ----------------
“ dalam susah maupun senang…”
“ dalam susah maupun senang…” aku mengulanginya pelan
“ dalam sakit maupun sehat…….” Aku tidak menjawab. Pikiranku kacau dan memikirkan dimana austin. Dia harus disini sekarang.
“ dalam sakit maupun sehat…..” kataku pelan
“ dalam kaya maupun miskin…”
“ POLISI DISINI!” seseorang membuka pintu gereja dengan kasar. Aku melihat austin disitu dengan memegang senjata api bersama sarah, drew dan kedua lainnya. Semua tamu menoleh kearah mereka. Aku melihat kearah ibuku dan mally. Ayahku bingung. Ibuku membisikkan sesuatu kepadanya. Kulihat ekspresi justin- tercengang.
“ Justin—atau boleh kusebut Nick Johnson, anda ditahan karena diduga melakukan perdagangan senjata api illegal dan obat obatan terlarang..” ujar sarah mendekat. Justin yang pucat pasi tanpa aba-aba meraih sakunya dan mengeluarkan senjata api juga. Dia mengacungkannya kepada austin dan kawan-kawan. Semua orang memekik dan saling memeluk. Ayahku memeluk ibuku dan mally sekaligus. Sang pendeta mundur kebelakang. Aku ikutan mundur.
“ jatuhkan senjatamu…” kata justin dengan suara beratnya, dia menatapku lalu dengan kasar menarikku dan menodongkan pistolnya kearahku. Aku tergagap.
“ atau wanita ini akan mati..” kulihat wajah austin mengeras, dia menurunkan senjatanya langsung, tetapi tidak dengan sarah dan yang lainnya. Kulihat ayah dan ibuku ingin menangis. Para tamu saling memekik dan berusaha untuk menyelamatkan diri.
“ jatuhkan senjatamu, atau kami akan menembakmu..” kata drew tidak bergerak
“ atau aku akan menembak wanita ini duluan..” ujarnya seperti orang sinting, “kau tidak mau dia tersakiti kan, austin..” katanya melirik kearah austin yang sudah tidak menodongkan senjatanya
“ austin..” aku berseru, justin menarikku agar aku diam. Austin maju sedikit dan langsung ditahan oleh sarah.
“ kau tidak akan bisa lari- polisi sudah mengepung tempat ini..”
“ jatuhkan senjatamu..” perintah justin. Drew dan sarah sepertinya tidak ada pilihan lain. Mereka perlahan menjatuhkan senjatanya dan menaruhnya dilantai- begitu juga dengan kedua polisi yang lain. Tapi kulihat austin hanya ikut membungkuk dan dia memasukkan pistolnya kedalam jaketnya. Mereka mengangkat kedua tangan diatas.
“ bagus..” ujar justin tersenyum jahat. Aku ingin menangis. Dia sama sekali tidak melonggarkan tubuhnya dariku- dan masih menodongkan senjatanya kekepalaku.
“ sekarang jatuhkan senjatamu..” kata drew.justin mengangguk. Dia menjauhkan senjatanya dari kepalaku lalu menunduk untuk menaruh senjatanya dilantai, tapi sebelum sampai dilantai dia menarik pelatuknya dan menembak kearah mereka. Aku menutup mataku. DOR! Satu tembakan kencang melesat dan kurasakan justin melonggarkan tangannya dariku dan mengaduh- menjatuhkan diri disampingku. Aku melongo dan melihat austin mengacungkan senjatanya kearah kakinya justin. Wajahnya terengah-engah dan merah, drew dan sarah menunduk lalu melirik kaget kearahnya. Aku buru-buru berlari kearah austin. Austin memelukku dengan satu tangannya, sementara tangan yang satu lagi masih menodongkan pistolnya kearah justin yang masih merintih kesakitan.
“ tangkap dia..” perintah drew kepada dua polisi yang ada dibelakang, lalu kedua polisi itu berjalan mendekati justin dan memborgol kedua tangannya memapahnya keluar. Saat justin berjalan dekat kami, austin berkata, “jangan pernah merebut wanitaku..” katanya lalu diikuti oleh tatapan sinis justin yang tidak berdaya.
Aku memeluk austin erat- masih merinding. Austin menjatuhkan senjatanya dan drew memungutnya. Dia balas memelukku erat.
“ kau datang..” ujarku pelan
“ aku sudah bilang..” jawabnya lagi
“ well- untung kau cerdik..” kata drew sambil tersenyum kepada austin
“ aku mengikuti instingku..” jawabnya. Drew menepuk bahuku.
“ sarah, terimakasih.. dan maaf aku selalu sinis kepadamu..” kataku
“ tidak apa-apa, sayang. Aku mengerti..” katanya tersenyum kearahku lalu kearah austin. Mereka berdua akhirnya keluar. Sebelum sampai menutup pintu drew berkata, “maaf menganggu acara hari ini- silahkan lanjutkan pernikahannya..” katanya tertawa sambil menatap aku dan austin.
Pintu ditutup kembali. Semua orang memandang kami ribut dan mengira-ngira apa yang terjadi. Aku berdiri dijalur dimana aku berjalan sebelum menuju altar tadi.
“ umm, permisi—“ si pendeta angkat bicara
“ pernikahannya dilanjutkan- atau dibubarkan?” tanyanya
“ bisa beri aku waktu sebentar?” tanya austin. Pendeta mengangguk. Austin melepas pelukannya dan menggenggam kedua tanganku.
“ aku tahu aku bersikap pengecut selama ini- aku tahu seharusnya aku bilang padamu bahwa aku mencintaimu selama ini- aku tahu seharusnya aku tidak menjauh darimu..” ujarnya. Dia menatap mataku dengan lembut.
“ austin-“
“ aku berusaha melindungimu, haley.. setiap detik dalam hidupku aku selalu melindungimu..” semua tamu ber ‘aww’ riang melihat kami. Aku tersipu.
“ dan aku minta maaf- aku tidak memberimu kabar selama bertahun-tahun. Aku bersama drew menyelidiki kasus ini…” katanya lagi, “bagi yang belum tahu- justin atau nama sebenarnya nick tadi itu, adalah kepala gembong narkoba dan senjata illegal terbesar…” austin berbicara kepada seluruh tamu. Dia kembali lagi padaku.
“ kau mau memaafkan aku?” tanyanya
“ austin—“ aku menyentuh wajahnya dan memeluk pinggulnya.
“ aku minta maaf aku tidak pernah menuruti perkataanmu. Aku minta maaf karena aku tidak peka selama ini…” kataku, “aku selalu menyalahkanmu..” dia menempelkan keningnya dikeningku, dia tersenyum.
“ tentu saja aku memaafkanmu..” kataku lalu memajukan wajahku ingin menciumnya tapi austin menahanku.
“ tahan sampai dialtar-“ katanya dengan senyum menggoda
“ aku tidak akan menyia-nyiakanmu didalam pakaian pengantin seperti ini..” katanya, “aku tidak bawa cincin- dan aku belum mempersiapkan apa-apa..” katanya. Aku deg-degan.
“ haley- maukah kau menikah denganku? Sekarang juga?” tanyanya. Aku memekik, diikuti oleh semua tamu yang ada.
“ ya!” aku memeluknya erat dan austin tertawa- semua tamu bertepuk tangan melihat kami.
“ tapi kau berantakan seperti ini..” kataku memandang austin yang hanya memakai kaus.
“ umm, permisi—“ seseorang dari tamu kami maju kearahku dan austin, dia melepaskan tuxnya dan menyerahkannya kepada austin. “pakai tux-ku, lelaki sepertimu pantas mendapatkan wanita seperti ini. Kau sudah berjuang mati-matian melindunginya, aku tidak pernah mendengar kisah seperti ini..” katanya. Austin menerima tux tersebut dan tersenyum, dia memandangku.
“ terimakasih, sir—“ katanya, “dan ya- aku pantas mendapatkannya..” dia menoleh kearahku. Austin segera memakai tux-nya. Walau kelihatan masih kurang rapih- ini lebih baik daripada dia pakai kaus kalau mau menikah.
“ kau sana cepat dialtar- dan pura-pura tidak melihatku..” aku menyuruhnya berdiri didepan altar.
“ ayah, mau mengulanginya lagi bersamaku?” ayahku melepas pelukannya dari ibuku dan tersenyum menghampiriku.
“ kau siap?” tanyanya
“ selalu siap..”

*

Aku mengamit lengan ayahku lagi sambil menggenggam buket bungaku- berjalan disepanjang jalan menuju altar sambil diiringi lagu pernikahan dari organ besar. Sepanjang aku berjalan aku tersenyum, kali ini tersenyum sungguh-sungguh—austin juga tersenyum menungguku berdiri didepan altar. Wajahnya melebihi bahagia saat melihatku.
Akhirnya aku sampai didepan altar. Ayahku berdiri lagi dibelakangku. Aku dan austin saling menghadap. Aku tersenyum lebar melihatnya. Pendeta mengulangi semuanya lagi dan berdehem.
“ Baiklah—“ kata sang pendeta, “Ikuti perkataanku,” katanya
“ Aku, austin..”
“ Aku, austin..” austin mengulangi
“ menerima Haley..”
“ menerima Haley..” katanya lagi. Aku tersenyum, tidak sabar menunggu giliranku
“ sebagai istriku..”
“ sebagai istriku..”
“ baik dikala senang maupun susah..”
“ baik dikala senang maupun susah..”
“ dikala sakit maupun sehat..” kata sang pendeta
“ dikala sakit maupun sehat….”
“ dikala kaya maupun miskin..”
“ dikala kaya maupun miskin…”
 “ dan sekarang, haley—“ kata sang pendeta, “Ikuti perkataanku,” katanya
“ Aku, haley...”
“ Aku, haley..” austin mengulangi
“ menerima austin..”
“ menerima austin.”
“ sebagai suamiku..”
“ sebagai suamiku..”
“ baik dikala senang maupun susah..”
“ baik dikala senang maupun susah..”
“ dikala sakit maupun sehat..” kata sang pendeta
“ dikala sakit maupun sehat….”
“ dikala kaya maupun miskin..”
“ dikala kaya maupun miskin…” aku tersenyum.
“ karena tidak ada cincin—“ katanya, “ austin- kau menerima haley sebagai istrimu?”
“ I do..” kata austin tersenyum simpul melirikku
“ haley, kau menerima austin sebagai suamimu?”
“ I do..”
“ well, kau boleh mencium mempelaimu..”
Austin meraih pingganggku lalu mencium bibirku. semua orang bertepuk tangan dan riuh menyambut kami. Austin menatapku saat berhenti menciumku.
“ benarkan kataku?” katanya
“ apa?” tanyaku sambil menempelkan hidungku
“ we’re like a pair of shoes—“ katanya, “tidak akan terpisahkan..” dia tersenyum lalu kembali mencium bibirku ditengah tepuk tangan banyak orang.

End.