Daddy Kendall. Part 2.


Aku dan kendall menuju mobil sehabis mengambil buku raport Kayla. Nilainya baik, dan dia sangat berbakat dibidang matematika, seperti diriku tentu saja. Kendall menutup pintu mobil lalu menyalakan mesin.
“ bisa kita mampir sebentar ketempat ibuku? Aku ingin mengundang mereka makan malam besok untuk merayakan kenaikan kelas kayla..” kataku sambil menaruh tasku di dashboard mobil
“ yepp, tentu saja..” kata kendall. Mesin pun dinyalakan dan kami melaju menuju rumah kediaman orangtuaku yang jaraknya cukup jauh dari sekolah Kayla. Aku akan masak besar besok malam, mengingat untuk merayakan kenaikan Kayla ke kelas 2 SD dengan nilai yang baik- dan terlebih lagi karena aku ingin berkumpul dengan kedua orangtuaku. Sudah lama kami tidak berkumpul bersama. Kendall tidak keberatan dia harus menghabiskan hari dengan kedua orangtuaku, mereka sayang sekali dengan Kendall. Sebaliknya, orangtua kendall- jarang sekali berkumpul dengan kami. Mungkin kami akan mengunjunginya bulan depan, itupun kalau kendall mau.
Setelah menempuh 1 jam perjalanan, kami sampai dipekarangan rumah yang besar, ditumbuhi pepohonan dan didepannya berdiri rumah kecil yang diterasnya terdapat dua kursi goyang yang kosong. Aku buru-buru keluar dari mobil dan segera berlari menuju pintu tanpa mempedulikan kendall, tahu-tahu dia sudah ada disebelahku.
“terlalu semangat?” ejeknya, aku hanya meringis lalu mencium pipinya meminta maaf meninggalkannya. Aku menekan tombol bel disamping pintu lalu berdehem sambil menunggu pintu dibuka. Tak lama kemudian pintu dibuka dan aku lihat ibuku tersenyum ketika melihatku dan kendall
“mom!” ujarku langsung melompat kepelukannya, dia juga mengajak kendall kedalam pelukannya dan sebelum kami semua melepaskan diri, ayahku datang dengan suaranya yang cerah ceria memeluk kami semua. Aku tertawa dan kendall juga.
“ ah, senang sekali rasanya melihat kalian lagi!” kata ayahku sambil mendorong kami masuk kedalam, ibuku menutup pintu. Aku dan kendall berdiri diruang tamu, yang sama sekali tidak berubah semenjak aku meninggalkan rumah. Sofa abu-abu kesayanganku masih ada disitu, lengkap dengan televisi tua dan speaker yang sama seperti dahulu.
“ maaf kami sudah lama tidak datang kemari..” kata kendall. Ayahku mengibaskan tangannya dan mengajak kami keruang keluarga. Aku duduk disofa lamaku dan memandang sekeliling. Masih sama seperti dulu juga. Foto keluargaku saat aku masih kecil, saat aku diwisuda dan sebagainya masih ada disana- terpajang dirak dan didinding. Kendall duduk disebelahku, diikuti ayahku yang duduk disofa single dekat kami dan ibuku duduk dipangkuan tangan sofa ayahku.
“ tidak masalah,” kata ayahku, “bagaimana tour mu, kendall? Aku melihatnya beberapa hari yang lalu ditelevisi dan kelihatannya sukses..”
“ ya memang lumayan sukses! Untuk tour berikutnya, kalian harus datang ya..” katanya. Ibu dan ayahku serempak mengangguk.
“ mmm mom, dad.. kami kesini mengundang kalian makan malam besok..” kataku langsung. Ayah dan ibuku tersenyum melihatku, “kalian bisa datang?” tanyaku. Mereka mengangguk.
“ thankyou! Ini akan berarti sekali untuk kami dan kayla..” kataku senang
“ sudah lama sepertinya kami tidak melihat kayla.. dia ada dirumah sekarang?” tanya ibuku
“ yeah, dia sedang ada les dirumah.. karena itu kami tidak bisa lama-lama disini..” kataku
Ayah dan ibuku bangkit pelan pelan, disambung dengan aku dan kendall. Akhirnya setelah berpamitan dan mengundang mereka, aku dan kendall ijin untuk pulang karena teringat Kayla yang sendirian dirumah hanya dengan guru lesnya.
*

Begitu sampai rumah kulihat kayla sudah membereskan buku-buku sehabis lesnya dan guru lesnya sudah mau beranjak pulang. Guru lesnya pun meminta ijin pulang lalu meninggalkan kami bertiga. Kayla selesai mengepak bukunya kembali kedalam tas. Aku menaruh tas dan jaketku disofa, kendall berjongkok membantu kayla meresleting tasnya.
“ kalian darimana?” tanya kayla saat dia sudh meggantung tasnya didekat ruang makan
“ habis dari rumah nenek dan kakek..” jawab kendall lalu mengajak kayla duduk disofa bertiga bersama kami semua.
“ ohya, ini raportmu..” kataku sambil merogoh tasku mengambil buku raportnya. Kayla terlihat bersemangat, lalu langsung membukanya. Kendall ikutan melihat sambil mengelus kepala Kayla.
“ lihat, kau pintar dimatematika..” kata kendall
“ aku memang suka..” jawabnya senang lalu menutup raportnya lagi
“ oh ya sayang, besok nenek dan kakek akan datang kemari untuk makan malam dengan kita..” kataku, kayla bersorak gembira. Dia suka kalau ayah dan ibuku datang kerumah. Ibuku suka sekali membawakan Kayla sekotak kue buatannya yang sangat disukai Kayla.
“ jadi, besok kita belanja baju oke?” kataku lagi, kayla bersorak lagi. Kendall dan aku tertawa melihatnya
“ kendall, kau tidak apa besok dirumah saja? Atau kalau kau mau, kau bisa ikut berbelanja bersama kami..” kataku. kendall mengibaskan tangannya dan menggeleng, “aku baik baik saja.. logan dan yang lain mungkin akan datang untuk bermain playstasion..” katanya. Aku memutar bola mataku. Mereka memang suka bermain kemari untuk bermain playstasion bersama. Walau kendall sudah berkeluarga sekalipun, dia masih tidak mau menghilangkan kebiasaannya yang seperti anak kecil bermain.
“ oke..” kataku tersenyum, “nah kayla, sekarang segera pergi mandi sebelum acara favoritmu dimulai..” kataku. kayla suka menonton spongebob. Sebelum dia menonton, aku mewajibkannya untuk mandi dulu agar sehabis dia selesai menonton bisa langsung segera makan dan sebagainya. Kayla turun dari sofa lalu berlari menaiki tangga menuju kamarnya. Aku berpindah duduk disebelah kendall. Aku menyenderkan kepalaku dibahunya, dia mengelus ngelus rambutku.
“ kau sudah besar masih saja bermain playstation..” kataku
“ tidak ada batasan umur dalam hal bermain..” jawab kendall, aku tertawa kecil
“ kau bisa belikan kami makanan saat kau pulang besok?” tanya kendall
“ kau tahu aku selalu membelikan makanan untuk kau dan teman temanmu..” jawabku
Kendall mengecup keningku dan memelukku erat. “ aku sayang padamu..” katanya
“ aku juga sayang padamu…” kataku. kami berdua menghela nafas.
“ sehabis belanja, kau mau aku membantumu didapur besok?” tanyanya
“ ajak sekalian james dan semuanya..” kataku lagi
“ mereka boleh ikut makan malam?” tanya kendall terkejut. Aku jarang sekali mengajak logan, james dan carlos makan malam- apalagi bersamaan dengan kedatangan orangtuaku besok.
“ yepp!” jawabku, kendall terlihat senang dengan keputusanku
“ aku akan memberitahu logan dan yang lain..” ujarnya sambil merogoh handphone disakunya
“ dengan satu syarat!” kataku, kendall berhenti mengetik pesan
“ tidak ada yang membawa sidney dan fox kerumah ini!” kataku. setiap mereka main kerumah, binatang peliharaan mereka selalu membuat kotor rumah. Aku suka pada sidney dan fox, tapi ibuku alergi binatang- dan kalau mereka membawa binatangnya besok, aku yakin alergi ibuku akan kumat.
“ semoga mereka mau..” kata kendall pelan sambil melanjutkan mengetik

*

Aku dan Kayla sudah ada dipertokoan besar dekat dengan rumah kami. Pertama aku mendahulukan kepentingannya dulu, jadi kami pergi ketoko baju anak-anak. Kayla ingin terlihat cantik, selalu, didepan kedua orangtuaku- karena kayla tahu ayah dan ibuku sangat menyayanginya. Aku duduk sebentar sambil menenggak air mineral yang baru kubeli tadi dan kubiarkan Kayla berlarian memilih baju, sepatu atau apapun yang dia sukai.
Aku melihat orang yang baru datang dan aku terkejut. Olivia. Dia teman lamaku, sudah lama sekali aku tidak melihatnya. Aku berdiri lalu melambaikan tangannya, olivia melihatku lalu buru-buru berlari dengan tentengan penuh ditangannya dan dia memelukku. Aku bisa melihat dia membawa suaminya dan kedua anaknya.
“ Olivia, sudah lama sekali aku tidak melihatmu!”
“ oh, (yn).. mungkin ini pertama kali kita bertemu semenjak selepas sma!”
Kami berdua tertawa. Suaminya datang dan menjabat tanganku, memperkenalkan namanya. Tom. Lalu kedua anaknya menjabat tanganku malu-malu. Yang kecil bernama Kian dan yang agak besar bernama Jeremmy. Keduanya laki laki dan mirip seperti Tom. Tom dan kedua anaknya lalu meninggalkan kami untuk berbincang karena kedua anaknya sudah tidak sabar ingin membeli baju dan celana.
“ bagaimana kabarmu! Aku melihat kendall di Atlanta kemarin bersama kedua anakku! Oh, big time rush hebat sekali! Anakku dan suamiku, juga aku penggemar beratnya..” olivia antusias menjelaskan. Aku hanya tertawa mendengarnya.
“ kami baik.. kendall dan yang lainnya ada dirumah, berkumpul.. biasalah anak lelaki..” kataku tidak menjelaskan kalau mereka sebenarnya sedang bermain PS seperti anak kecil. Olivia mengangguk dan menaruh barang-barang belanjaannya dilantai.
“ lihat dirimu (yn)..” katanya sambil memperhatikanku, “tidak ada yang berubah sama sekali..” katanya. Aku tertawa dan menggeleng mendengarnya. “kau masih berwajah ceria, cantik dan…” sebelum olivia menyelesaikan kalimatnya, kayla datang membawa beberapa baju dan gaun ditangannya juga dia menenteng satu kotak sepatu.
“ mom, coba lihat apa yang kubawa..” katanya lalu menaruh semua barangnya dipangkuanku. Aku melihat baju yang dia pilih dan semuanya bagus. Tapi ini terlalu banyak.
“ oh, olivia.. ini anakku, kayla namanya..” kataku tersadar lalu mengenalkan kayla kepadanya. Kayla dengan senyumannya yang lebar menjulurkan tangannya kearah olivia, olivia tertawa sedikit lalu menjabat tangannya
“ namaku kayla.. aku 7 tahun..” katanya mengenalkan diri
“ halo cantik.. aku teman ibumu, namaku olivia..”
“ hai olivia.. senang bertemu denganmu..”
“ ng, sayang.. baju ini banyak sekali…” kataku sambil memilih milih baju mana yang harus dibeli
“ aku suka semuanya mom..” katanya sambil duduk disebelahku dan membuka kotak sepatu, siap mencoba sepatunya. Dia memilih sepatu berwarna merah terang dengan pita besar didepannya, modelnya seperti flat shoes.
“ itu bagus dikakimu..” kata olivia sambil melirik kayla yang sudah mengenakan sepatunya. Kayla melirik sepatunya, dia berdiri dan berjalan.
“ ya, ini bagus..” katanya tersenyum kearah olivia, “mom..aku mau yang ini..” katanya
“ sepatu- ya. Tapi baju ini..” kataku masih belum bisa berkomentar. “ pilih dua saja ya..” kataku
“ mom..”
“ kayla sayang, bajumu masih ada yang baru..” kataku memotong. Aku menyerahkan semua baju dan gaun yang dia berikan kepadaku. Dia dengan langkah gontai mengambilnya lalu berjalan kearah kasir untuk memilih dan membayar.
“ dia punya saudara?” tanya olivia saat kayla beranjak pergi
“ oh tidak.. dia anakku satu satunya..” jawabku.
“ kau tidak mau memberi dia adik?” tanya olivia. Aku diam mematung. Pertanyaan ini belum pernah ditanyakan satu orang pun kepadaku. Aku pun juga tidak memikirkannya, kendall juga tidak pernah berbicara ingin punya anak lagi.
“ aku belum berpikir dan membicarakannya dengan kendall..”
“ umurnya sudah 7 tahun.. dia butuh teman dirumah..”
“ yeah..” aku bangkit berdiri ketika kulihat kayla sudah memanggilku dan berdiri dikasir. Olivia ikutan mengekor dibelakangku
“ aku hanya.. well.. kami belum membicarakannya..” kataku singkat. Olivia tidak banyak bicara lagi karena sekarang giliran kedua anaknya yang memanggil. Setelah membayar, aku dan kayla segera pamit pulang. Sepanjang perjalanan pulang, aku memikirkan omongan Olivia. Aku tidak banyak bicara sama sekali dan kayla juga asik mengamati sepatu barunya yang langsung dia pakai.
Begitu aku sampai dirumah, kulihat kendall logan james dan carlos masih asik bermain. Hanya saja kendall langsung melepas kontroler-nya saat melihatku pulang dan membawakan barang belanjaanku. Kayla ikutan duduk diantara logan, james dan carlos.
Aku dan kendall menuju kedapur. Aku menaruh barang belanjaanku dan bahan-bahan untuk memasak untuk malam ini dimeja dapur. Kendall melihat lihat isi kantung plastikku.
“ kau mau masak omelet?” tanyanya
“ ayahku suka omelet..” ujarku lalu menguncir rambutku siap untuk memasak
“ Kayla! Ayo mandi dulu!” teriakku kencang dari dapur, kendall sampai kaget mendengarnya. Tidak biasanya aku berteriak sekencang ini. Ya, aku juga sadar ada yang salah denganku. Aku berusaha untuk tidak mengubrisnya.
“ kau baik baik saja?” tanya kendall sambil menghampiriku. Aku mengangguk. Aku mengambil kocokan telur dan mulai meretaskan telor telor tersebut.
“ kendall, bisa bantu aku telepon pizza untuk hidangan selesai makan. Untuk kayla dan teman-temanmu?” kataku. dia mengangguk lalu meraih telepon yang ada didapur. Dia menelepon pizza dan menjelaskan apa yang akan kami pesan.
“ terimakasih..” kataku tersenyum kearahnya masih sambil mengaduk telur. Dia berjalan kebelakangku lalu memelukku dari belakang. Aroma tubuhnya masih sama seperti dia habis mandi.
“ ada lagi yang bisa kubantu, nyonya?” tanyanya sambil mencium leherku sekilas
“ tidak..” jawabku tertawa dan mendorongnya pelan
“ hei!” dia protes karena aku mendorongnya, “aku suamimu loh..” ujarnya lalu mau memelukku lagi dari belakang tapi aku keburu berbalik.
“ kendall, aku sedang memasak..” kataku sambil mengacungkan pengocok telur kearahnya. Dia memutar bola matanya. Dia mendekat kearahku lalu mencium bibirku, pelan tapi menunjukkan dia ingin sesuatu.
“ kau mau apa sih sebenarnya..” tanyaku sambil mengerutkan alisku
“ sudah lama kita tidak…” kendall tidak melanjutkan perkataannya. Aku memiringkan kepalaku dan berkacak pinggang.
“ dan kau mau melakukannya disini?” ujarku. Kendall mengangkat bahu
“ kau gila..” kataku tertawa sambil menepuk jidatnya. Dia meringis sedikit. Lalu berdiri disebelahku
“ kau terlihat berbeda sehabis pulang, ada apa?” tanyanya
“ aku bertemu olivia, teman lamaku tadi.. bersama kedua anaknya.. dan suaminya..”
Kendall buru-buru menggenggam tanganku dan memberikanku tatapan penyesalan.
“ sayang, aku minta maaf aku tidak ikut mengantarmu..”
“ bukan itu..” aku tertawa mendengarnya mengira aku marah padanya karena dia tidak ikut tadi
“ olivia bertanya padaku, apakah kita berencana memberikan kayla adik lagi..” kataku menjelaskan
“ dan itu membuatmu sedih?” kendall tidak mengerti. Aku menggeleng.
“ kita tidak pernah membicarakannya, kau sadar kan?” ujarku, kendall terdiam
“ aku juga tidak pernah terpikir..” kataku. kami diam cukup lama sampai detik jam kedengaran kencang sekali diantara jeda bicara kami.
“ kau mau punya anak lagi?” tanyanya pelan. Aku menghela nafas lalu mendekatkan tubuhku kepadanya
“ kau mau?” balasku bertanya. Kendall diam menatapku sebentar, lalu tiba-tiba raut wajahnya melembut dan dia mengangguk.
“ ya, aku mau..” katanya. Aku tidak tahu harus senang atau sedih mendengarnya. Disatu sisi aku takut kalau punya anak lagi. Merawat kayla saja aku sudah kewalahan. Ditambah lagi kendall kalau sedang tour dan promo akan jarang dirumah.
“ well.. aku masih tidak tahu..” jawabku pelan membuat kendall menatapku lesu
“ kau tidak mau berhubungan lagi denganku?” dia menggodaku dengan suara sedihnya
“ tidak tentu saja.” Kataku tertawa kecil, “ punya anak satu lagi itu butuh tanggung jawab yang besar.. kau harus memberikan perhatian ekstra.. apalagi saat masih bayi.. kita harus selalu mengawasinya.. menjaganya, bolak balik rumah sakit..”
“ hei..” kendall memotongku bicara sambil menggenggam tanganku lebih erat
“ kita bisa melakukannya..” ujarnya sambil menunduk memandangku lebih dalam. Aku menatap matanya yang hijau lembut dan merasa tenang melihatnya.
“ kau yakin kita bisa?” tanyaku lagi
“ kau lihat Kayla tumbuh?” dia berbalik bertanya
“ kayla tumbuh sehat, cantik dan pintar.. itu karena dirimu..”
“ karena kita, kendall. Aku tidak merawatnya sendirian..” aku memeluknya
“ nah, kalau kayla saja kita bisa..” dia mengelus pundakku pelan
“ bagaimana dengan tour, promo band mu?” tanyaku sambil menegakkan kepalaku dipelukannya
“ kau tidak usah khawatir.. keluarga tetap nomor satu..” katanya. Aku tersenyum lalu tanpa bicara menempelkan bibirku kearahnya dan dia memelukku semakin erat.
“ let’s make a baby..” katanya
“ not that fast, schmidt!” dorongku sambil tertawa. Dia merengek menggodaku
“ aku belum memasak untuk malam ini.. ayo bantu aku membuat sup..” kataku lalu meraih beberapa sayuran dan menyuruh kendall memotongnya. Kendall melakukannya walau dengan senang hati. Aku tertawa melihat dia memotong wortel dengan wajah cemberut seperti itu.

*

“ mom!” ujarku saat aku membukakan pintu. “dad!” ujarku lagi, aku memeluk mereka berdua erat erat. Kayla mengenakan gaun selutut hijaunya berlari dari dapur dan lari kepelukan ayahku. Ayahku tertawa dan menggendongnya. Kayla memeluk ibuku dan memberikan ciuman dipipinya, lalu dipipi ayahku. Kendall mengenakan kemeja polos putihnya yang digulung selengan, keluar dari ruang makan dan menyambut kedatangan ayah dan ibuku. Disusul dengan carlos, logan dan james yang ikutan bersalaman.
“ big time rush!” kata ayahku saat mereka keluar. Mereka mengangguk malu-malu
“ ayo dad, mom- kita segera keruang makan..” ajakku. Mereka semua akhirnya menuju ruang makan
“ kau seksi sekali malam ini..” bisik kendall saat memasuki ruang makan, aku memberinya tatapan melotot, dia hanya menaikkan alisnya lalu duduk disebelahku. Aku berdehem. Carlos logan dan james berentet duduk disebelah kendall, kayla disebelahku- ibuku disebelah kayla dan ayahku disebelah ibuku, sebelahan dengan james. Kami duduk dimeja melingkar. Aku berseberangan langsung dengan ayahku.
“ silahkan makan..” kataku. ibuku lalu bangun untuk menyendokkan makanan keayahku. Aku bangun juga menyendokkan makanan untuk kendall, saat aku menaruh omelet bagiannya dipiringnya kendall berkedip jahil padaku, masih menyambung keinginannya didapur tadi- aku melotot memandanginya lalu beralih menyendokkan makanan untuk kayla, lalu untukku sendiri. Ketika aku sudah selesai, logan dan yang lain baru menyendok makanan.
“ jadi, selamat kayla atas kenaikan kelasmu..” kata mom sambil tersenyum kearahnya. Kayla menyuap omeletnya lalu mengangguk tersenyum.
“ sudah lama sekali kita tidak makan bersama seperti ini kan?” tanya dad. Aku dan kendall mengangguk
“ oh, mom, dad- kalian tidak keberatan kalau logan james dan carlos ikut makan kan?” tanyaku sambil menunjuk ketiga bocah tersebut yang sedang asik melahap makanan tersebut. Mereka tersenyum sopan kearah ayah dan ibuku.
“ tidak apa-apa.. aku suka big time rush..” kata ayahku sambil tersenyum kearah mereka bertiga
“ mungkin tour berikutnya kau akan memberikan tiket gratis untukku dan istriku.” Ujarnya sambil tertawa keras diikuti oleh yang lainnya
“ maaf kami tidak memberikannya sebelumnya..” kata logan minta maaf
“ ah tidak masalah.. aku menonton kalian lewat youtube..” ujar ibuku
Ibu dan ayahku memang suka dengan big time rush. Bukan karena menantunya adalah salah satu membernya tapi karena mereka memang suka. Mereka punya baju khusus big time rush dirumahnya, kubelikan saat aku menonton mereka konser live kemarin itu.
“ ada yang sudah berkeluarga?” tanya ayahku
“ hanya kendall..” kata carlos sambil menunjuk kendall
“ dan dia memilih istri yang tepat, sir..” lanjut logan sambil tersenyum kearahku
“ logan, sudah kubilang dia milikku.. jangan flirting lagi dengannya..” ujar kendall dan diikuti oleh tawa kami semuanya. Kami melewatkan makan malam sambil bercerita cerita tentang masa kecilku kebanyakan yang memalukan, lalu baju baru kayla, lalu band kendall dan setelah selesai makan mereka semua membantuku mencuci piring dan membersihkan meja.
“ you kinda turn me on right now..” bisik kendall disaat aku membereskan piring piring bersama dengan james dan logan. Aku menatapnya melotot lagi dan dia hanya mengerling kepadaku. Kendall lalu keluar dengan ayahku dan ibuku keruang tamu. James sudah selesai menata piring-piring dan tinggal aku dan logan disana.
“ terimakasih untuk makan malamnya..” katanya. Aku menaruh piring terakhir dan mengelap tanganku
“ terimakasih sudah datang..” kataku lagi. Logan mengambil tissue dan mengelap tangannya. Aku melongok keruang tamu dan melihat mereka semua sedang menonton televisi.
“ can I ask you something?” tanyaku tiba-tiba. Logan melipat tangannya didada terlihat serius kali ini
“ apakah kalian ada rencana tour lagi tahun ini? Atau tahun depan?” tanyaku
“ mungkin tahun depan.. atau tahun depannya lagi..” logan terlihat berpikir, “kenapa?”
“ well..” aku berdehem, meremas remas tanganku. “kami berencana ingin memiliki anak lagi..” logan menutup mulutnya berusaha untuk tidak terlihat excited.
“ tapi aku mau kendall benar-benar off saat aku hamil, dan sebagainya.. mengurus bayi bukan hal yang mudah..” kataku
“ aku tidak bisa janjikan kami akan off untuk hal ini, karena kau tahu- fans banyak diluar sana menunggu kami berkarya lagi..” aku mengangguk. “tapi aku yakin, kalian bisa melakukannya. Lihat saja bagaimana kayla tumbuh sekarang..” ujar logan sambil tersenyum. Aku mengangguk.
“ terimakasih logan..” kataku tulus lalu membuka kulkas dan membawa sebotol wine
“ bantu aku bawakan gelas untuk minum?” tanyaku. Logan mengangguk dan membawa beberapa gelas
“ jadi, kalian akan buat malam ini?” tanyanya bercanda. Aku menggeleng marah kearahnya dan melotot, aku melengos berjalan meninggalkannya didapur yang sedang tertawa dan berusaha minta maaf kepadaku.

*

Aku berada dikamarku saat ayah dan ibuku sudah pulang. Kendall masih diruangan kayla untuk membacakan dongeng sebelum tidurnya. Kubuka gaun yang tadi kupakai dan kuganti dengan piyama punya kendall yang kebesaran. Aku suka memakai piyama miliknya, karena besar dan wangi tubuhnya suka masih terasa walau sudah kucuci. Selesai mengancingkan kancing terakhir, kendall masuk kedalam kamar dan tersenyum melihatku.
“ kupinjam lagi ya bajumu..” kataku sambil nyengir
“ pakai saja..” jawabnya sambil membuka kancing kemejanya satu per satu dan begitu semuanya terbuka, dia melepas kemejanya. Wajahku bersemu merah saat aku melihat dia hanya memakai celana panjang saja dan bertelanjang dada. Aku merasa bodoh, melihat dia seperti itu saja wajahku sudah memerah. Aku membuang mukaku dan buru-buru duduk ditepi ranjang membelakanginya. Kendall sepertinya tahu kalau aku malu, dia naik keranjang dari arah belakangku dan memelukku.
“ kau tidak sanggup melihatku sekarang?” tanyanya berbisik ditelingaku
“ ergh, hentikan kendall..” kataku
“ kalau kau mau..” dia berbisik semakin pelan ditelingaku, tangannya mulai menjalar kekancing piyamaku
“ tidak.. ayo tidur!” aku menepis tangannya sambil tertawa dan membaringkan tubuhku dan kendall memutar bola matanya kecewa. Dia masih belum memakai baju dan berbaring disisi sebelahku.
“ aku bosan..” kata kendall, aku meliriknya. Dia membaringkan badannya kearahku dan menatapku hangat. “ kau bosan tidak?” tanyanya
“ aku lelah..” jawabku. Kendall mengelus pipiku, setelah itu dengan gerakan cepat dia mencium bibirku dengan sekuat tenaga. Aku tidak bisa melawannya, aku hanya mendorongnya sedikit dan membuat dia berdecak.
“ sungguh, aku lelah..” aku tertawa sambil memandangnya
“ oh..” dia menaikkan satu alisnya, tetapi tangannya masih memainkan rambutku
“ aku bisa membuatmu segar kembali..” katanya nakal lalu mencium bibirku lagi berulang-ulang. Aku tertawa geli saat dia berhenti hanya untuk melihatku lalu menciumku lagi.
“ not tonight, spidey..” ujarku pelan sambil menatapnya serius. Dia berdecak kecewa dan menunduk. Aku memeluknya, tidak tahan melihat dia begitu frustasi untuk menyentuhku.
“ selamat malam!” ujarku sambil mengecup pipinya, lalu berbaring. Dia terdengar menggerutu pelan tapi pelan pelan juga ikutan berbaring dan memelukku dari belakang. Aku bisa merasakan nafasnya dileherku.
“ kau yakin kau tidak mau?” godanya berbisik. Aku hanya menyikut perutnya.
“ aww! Oke..” katanya sambil meringis

*

Siangnya aku sedang sendirian dirumah dan telefon berbunyi.
“ hallo?”
“ hai, ini kediaman schmidt?”
“ ya, betul. Ini dengan siapa?”
“ kau pasti (yn).. hai ini aku, teman lamanya kendall…”
“ oh kau pasti Dustin!”
“ yeah, benar.. hei, kendall ada dirumah?”
“ mmm, dia belum pulang dari studio- bukankah seharusnya kau juga disana bersama mereka?”
“ ah tidak hari ini, istriku baru saja melahirkan..”
“ awwww selamat dustin! Semoga bayinya dan keluargamu semua sehat..”
“ yeah terimakasih, tolong sampaikan pada kendall ya..”
“ oke, pasti akan kusampaikan..”
Setelah aku bertanya dimana istrinya dirawat, aku mencatat alamat rumah sakitnya dan kemudian Dustin berpamitan untuk mengurus yang lain. Aku mengamati kertas alamat tersebut dan pikiranku mulai melayang kemana-kemana. Istrinya sudah melahirkan anak kedua. Aku bingung atas apa yang aku rasakan. Aku agak ragu ingin punya anak. Disatu sisi aku ingin, tapi disisi lain banyak kontra yang harus kuhadapi. Kerjaan kendall, dan belum lagi kami belum berdiskusi dengan Kayla, kami tidak tahu apakah Kayla akan suka atau tidak.
“ hei..” aku bengong sampai sampai aku tidak sadar kendall sudah pulang dan berdiri didepanku bingung. Aku memeluknya.
“ hai..” kataku, aku lalu menyerahkan kertas bertuliskan alamat rumah sakit kearahnya
“ dustin baru saja menelponku, istrinya baru melahirkan..” kataku. wajahnya terlihat senang
“ wow! Seriously? Malam ini kita jenguk mereka ya?” tanyanya. Aku mengangguk.
“ biar aku yang jemput Kayla..” kataku beranjak tapi dia menahanku
“ aku saja..” katanya sambil mengecup keningku
“ kendall, terimakasih…” aku memeluknya lagi
Aku tidak pernah habis mengidolakan kendall sedari dulu aku melihatnya ditelevisi, sampai aku menikahinya sekarang. Dia benar-benar sosok lelaki yang diidamkan semua wanita dan orangtua. Dia terlalu sweet dan sangat manis, entah kenapa- sulit sekali untuk tidak menyukainya atau tidak mencintainya lebih dalam lagi.

*

“ DUSTIN!” kendall berteriak ketika memasuki kamar tempat istrinya dirawat. Dustin dan istrinya tertawa melihat kami, dustin dan kendall langsung berpelukan dan bersalaman. Aku hanya memeluk dustin sebentar lalu beranjak ketempat istrinya yang sedang menggendong bayi.
“ oh hai kayla.. kau sudah besar..” kata dustin sambil mengelus kepala kayla. Kayla hanya tersenyum lalu berlari kecil menghampiriku dan istri dustin. Kendall dan dustin datang mendekat. Aku melirik kearah Kendall, dia memberiku tatapan hangat.
“ ah, bayi yang cantik..” kataku. istri dustin tersenyum melihatku lalu mengelus pelan pipi bayi yang digendongnya
“ siapa namanya?” tanya kayla yang terlihat senang melihat bayi tersebut. Kendall pindah berdiri disampingku dan merangkulku sambil melongok si bayi tersebut.
“ Jenna..” kata Dustin senang.
“ hai Jenna, aku Kayla..” kata kayla pelan. Aku dan yang lain tertawa mendengarnya
“ dia cantik..” kataku pelan. Aku bisa merasakan aku ingin sekali menggendongnya. Istri dustin melirikku dan memberikan bayinya pelan kearahku.
“ kau mau menggendongnya?” tanyanya. Aku berpaling kearah kendall, dan kendall tersenyum
“ boleh?” tanyaku tidak bisa menyembunyikan kesenanganku. Istri dustin menegakan duduknya dan menyodorkan bayinya hati-hati kearahku. Aku menggendongnya pelan dan kayla berjinjit melihat. Kendall berdiri disampingku, ikutan melihat bayinya. Aku menimang nimang bayinya pelan dan tertawa kecil. Rasanya menyenangkan melihat bayi kecil seperti ini, dan baru disaat moment inilah aku sadar kalau aku ingin punya anak lagi.
“ woah, dia menguap!” kata kayla sambil tertawa pelan
“ hai Jenna…” kata Kendall pelan. Aku menoleh kearah kendall sedikit dan bisa kulihat dari raut wajahnya, raut wajah seorang ayah yang nampaknya ketara jelas ingin sekali mempunyai anak lagi.
“ boleh kugendong dia?” tanya kendall kearah dustin dan istrinya, mereka mengangguk. Aku mengoper bayi tersebut hati hati kearahnya dan kendall menimangnya sambil mendekapnya didada erat. Aku iba melihatnya. Aku jadi teringat ketika dia pertama kali menggendong kayla saat masih bayi.
“ hai jenna, aku kendall..” kata kendall pelan. Kayla memelukku
“ mom..” katanya pelan
“ ya sayang?”
“ aku mau satu..” katanya sambil melirikku. Spontan aku dan kendall saling berpandangan kaku, bisa kulihat dustin dan istrinya tertawa mendengarnya.
“ suruh ayahmu belikan satu, kayla..” goda dustin. Aku tertawa mendengarnya
“ dad, aku mau satu..” katanya merengek kearah kendall dan ikutan membelai Jenna pelan.
“ tanya ibumu, boleh atau tidak..” jawab kendall menggodaku. Dustin dan istrinya tertawa semakin keras. Aku memutar bola mataku lalu melihat kayla yang merengek.
“ yeah… nanti ibu belikan..” kataku merasa aneh dengan ungkapan yang kupakai sambil menatap kendall yang tersenyum jahil kepadaku.

*
Beberapa malam sesudah kami menengok dustin dirumah sakit.
“ kau masih ingat pembicaraan dirumah sakit waktu itu?” tanya kendall saat kami baru pulang dari makan malam dan langsung masuk kekamar
“ yeah. Dan aku merasa aneh memakai istilah ‘beli’ seperti itu..” ujarku. Kendall memelukku.
“ jadi?” tanyanya sambil menggodaku
Aku mengangkat bahu dan menempelkan bibirku di bibirnya. Kendall memelukku lebih erat dan aku bisa merasakan tangannya menekan bahuku kearah dadanya. Dia menggendongku dan menidurkanku dikasur. Kami berdua tertawa.
“ langsung seperti ini?” tanyaku
“ hei, kayla yang meminta.. sebagai ayah yang baik aku harus segera menuruti permintaannya secepat mungkin..” aku tertawa mendengarnya. Dia menciumku lagi. Aku meraih ujung kaos kendall dan menariknya agar terbuka. Dia membantuku melepaskan bajunya.
“ kau cepat berganti baju..” kataku
“ backstage mengajariku segalanya..” dia tersenyum.
Saat dia ingin menyentuh ujung bajuku dan menariknya, pintu kamar kamipun digedor gedor. Kami berhenti.
“ mom!!” kayla berteriak.
“ ya tuhan, cepat pakai bajumu kendall!” aku bangun dari tempat tidur dan merapihkan bajuku, kulihat kendall sedang memakai bajunya, aku membuka pintu dan Kayla berlari kearahku.
“ mom coba pegang keningku… aku merasa mual dan pusing..” katanya lemas. Aku menyentuh keningnya dan satu tangan lagi menyentuh keningku.
“ ya tuhan..” aku berseru, “kendall!” aku melirik kearah kendall, dia datang menghampiri kami lalu menggendong kayla. Kendall menempelkan jidatnya kearah jidat kayla.
“ dad, aku ingin muntah..” katanya sambil merajuk kearah kendall
“ dia panas..” kendall dan aku langsung keluar dari kamar dan menuju kebawah. Aku mampir kekamar kayla untuk mengambil jaketnya dan memakaikannya padanya. Kendall menaruh kayla, dan dia mengambil kunci mobil. Setelah memakaikan jaketnya, aku menggendong kayla. Dia mengalungkan tangannya dileherku dan meletakkan kepalanya didadaku. Kami bergegas menuju rumah sakit.

*

Kayla rupanya sakit radang tenggorokan. Ia agak sumeng dan dokter memberikan obat panas. Dia harus beristirahat dirumah selama seminggu. Kendall dan aku bergantian menjaganya dikamarnya. Mengompresnya dan menghiburnya.
“ dia sudah tidur..” kata kendall sambil berjalan kearahku yang sedang duduk diruang keluarga sambil menonton acara televisi favoritku. Kendall duduk disebelahku.
“ terimakasih sudah menjaganya malam ini..” kataku tulus. Aku melirik jam tanganku dan ini sudah tengah malam rupanya. Aku membaringkan kepalaku didada kendall masih sambil menonton televisi.
“ mungkin kita lupakan dulu niat kita untuk punya anak lagi..” gumamku
“ yeah..” kendall sepertinya setuju. Aku mengelus dadanya.
“ tapi tidak ada salahnya terus mencoba..” godaku. Dia tertawa
“ aku akan coba terus..” ujarnya, aku menepuk dadanya
“ menurutmu kapan waktu yang tepat- kau tahu, saat untuk memulai?”
“ memulai bagaimana?”
“ well, memulai untuk mempunyai anak lagi..”
“ membuatnya maksudmu?”
“ bukan!” kendall menghardikku sambil tertawa
“ lihat, sekarang kita merawat kayla sakit saja kerepotan seperti ini… bayangkan kalau kita punya anak lagi, dan masih bayi pula.. sakit juga, hypotheticly… akan jadi apa kita..” aku diam sebentar mencerna perkataannya.
“ hmmm..” aku hanya bergumam mendengarnya
“ menurutmu kita menunggu sampai dunia menyatakan ya untuk kita?” tanyaku
“ yepp. Let the universe decide!” ujarnya sambil tersenyum
“ oke.. so, kita jangan pikirkan?” kataku lagi dan kendall mengangguk
“ yepp.” Jawabnya
Mulai saat ini, aku dan kendall baru setuju akan punya anak lagi sampai kami berdua benar-benar yakin kalau kami siap dan biarkan dunia yang memutuskan.

*

Aku memeras handuk dari mangkuk besar yang kubawa dan menaruhnya dikening Kayla. Kayla batuk lalu membetulkan posisi handuk basahnya.
“ terimakasih, mom..” katanya tersenyum, aku mengelus pipinya
“ bagaimana keadaanmu? Lebih baik dari kemarin?” tanyaku. Dia mengangguk
“ mom, daddy mana?” tanyanya
“ oh, daddy sedang merekam lagu untuk album berikutnya sayang..” jawabku, lalu aku melihat jam tanganku. Pukul 6 sore. Seharusnya dia sudah menuju rumah jam segini.
“ sebentar lagi akan pulang kok..” kataku. kayla mengangguk. Aku mengambil boneka teddy bear besarnya dan menaruhnya disebelahnya, dia langsung memeluk bonekanya.
“ mom..” panggilnya
“ ya, sayang?” tanyaku sambil mengambil handuknya dikeningnya lagi dan mencelupkannya kedalam mangkuk air, lalu kuperas.
“ bisa bacakan dongeng untukku?” katanya. Aku lalu menaruh handuk basah itu kekeningnya dan mengambil salah satu buku dongeng yang ada di raknya.
“ peterpan?” tanyaku. Dia mengangguk. Aku membuka lembaran pertama dan mulai bercerita. Kayla memejamkan matanya. Aku terus mendongeng dan pada saat lembar kesekian sebelum habis, dia sudah tertidur lelap. Aku melirik jam tanganku. Setengah tujuh. Kendall belum juga pulang. Aku menaruh kembali buku tersebut kerak bukunya dan membereskan mangkuk berisi air tersebut dan perlahan keluar dari kamarnya.
Begitu aku keluar dari kamarnya aku mendengar suara mobil kendall memasuki garasi rumah kami. Aku buru-buru turun kebawah dan membukakan pintu. Kendall keluar dari mobil dengan wajah kesal yang tidak bisa dia tahan. Dia buru-buru masuk rumah dan pergi kedapur, tidak menghiraukanku. Aku menyusulnya kedapur dan dia membuka sebotol wine dan menuangkannya kegelas. Dia meminumnya buru-buru dan meletakkan gelasnya dengan kasar dimeja.
“ hai…” kataku pelan. Dia melihatku ganas lalu dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan menghampiriku. Aku meletakkan kedua tanganku melingkar dipinggangnya.
“ ada yang bisa kubantu?” kataku lagi. Dia hanya menunduk sambil menggeleng.
“ studio kami dibobol orang hari ini..” ujarnya, aku menutup mulutku yang terkejut
“ semuanya hilang. Rekaman kami untuk album selanjutnya.. uang.. semua peralatan..” ujarnya. Aku menyuruhnya duduk dikursi meja makan. Dia meletakkan tangannya yang mengepal diatas meja.
“ aku tidak tahu harus bilang apa..”
“ tidak apa-apa (yn)..” katanya datar. Aku mengelus-ngelus pundaknya.
“ sementara kami tidak bisa meneruskan proses rekamannya. James sudah menghubungi polisi dan seharian kami ada dikantor polisi tadi..” ujarnya
“ aku yakin kotak rekaman tersebut pasti ketemu..” kataku. kendall mengangkat bahu
“ bagaimana harimu? Kayla sudah baikkan?” tanyanya
“ aku baik.. kayla baru saja tidur, sudah lebih baik jauh daripada kemarin..” kataku
“ kau cantik hari ini..”
“ jadi aku jelek kemarin?” dia tertawa mendengarnya. Kendall bangun lalu menarikku untuk bangun. Kami berdua naik kelantai atas dan menuju kamar. Dia menghempaskan dirinya langsung dikasur, menatap langit-langit. Aku tiduran disebelahnya.
“ aku harap polisi bisa menemukan kotak tersebut.. lagu kami untuk album baru ada disana semua dan semuanya hanya tinggal dimasukkan kedalam cd..” katanya
“ pasti ketemu kok..” jawabku meyakinkan. Aku mencium pipinya dan menarik selimut sampai batas dada Kendall.
“ selamat malam..” kataku, lalu memejamkan mataku disampingnya
“ malam..” jawab kendall. Aku tahu dia masih memikirkannya. Dia masih menghela nafas dan berdecak kesal disebelahku. Aku membuka mataku kembali dan mendekat kearahnya.
“ sudah jangan dipikirkan..” kataku
“ tidak, aku tidak apa-apa..”
“ mungkin ini tanda kita untuk memulai mencoba untuk punya anak lagi..” kataku
“ ha?” kendall memandangku bingung. Aku bangun dari tidurku dan duduk tegak
“ kita selalu khawatir kalau kita punya anak nanti, kau disibukkan dengan tour dan promo sehingga tidak bisa mengurus anak…” kendall mendengarkan. Aku tidak melanjutkan perkataanku karena dia tertawa
“ menurutmu begitu? Bukankah itu tidak adil untuk yang lain kalau memang itu tandanya?”
Aku mengangkat bahu. Kendall mencium bibirku dan meremas tanganku pelan. Dia menyentuh ujung hidungku dan tersenyum.
“ baiklah kalau kau bilang begitu..” jawabnya dengan nada menggoda dan sirat mata yang nakal lalu menekan bibirku lagi. Dia bangun dari tidurnya, lalu dengan sekejap sudah berada diatasku. Kami saling memandang.
“ moodmu cepat sekali berubah..” godaku. Kendall hanya tersenyum dan mulai mengecup leherku. Aku tertawa geli ketika dia melakukannya.
“ berhentilah tertawa..” ujar kendall tapi dia ikutan tertawa. Aku lalu menutup mulutku saat kendall memulainya lagi. Aku menarik ujung kaosnya dan kendall membantuku membuka bajunya. Aku mengalungkan tangannya dileherku lalu menciumnya. Tangan kendall mulai menjelajah kebajuku, dan dia menemukan ujungnya, dengan sekali tarik, bajuku terlepas dan kendall mengamatiku dengan mata yang penuh nafsu. Aku hanya tersipu malu karena dia melihatku dalam keadaan seperti ini.
“ ugh, kau cantik sekali..” katanya lalu menciumku lagi. Aku hanya tersenyum sambil memainkan jariku, menggelitik perutnya.
“ hei hei hei…” hardiknya saat aku menggelitik perutnya.
“ tidak ada waktu main-main, baby..” katanya, aku tersenyum simpul lalu menariknya lagi untuk menciumku. Kendall menarik celanaku perlahan lalu aku membantunya. Kami berdua tertawa. Aku ingin membantunya membuka celananya tapi celananya sudah terlepas. Aku melongo.
“wow.. cepat sekali..” kataku
“ kau akan terbiasa setelah melewati beberapa tour..” katanya bangga. Aku tersenyum, kendall berbaring lagi dan mendaratkan bibirnya ditelingaku dan lalu keleherku. Aku menghela nafas.
“ sudah siap?” tanyanya berbisik pelan disampingku
“ bring it on, baby..” ujarku berbisik ditelinganya juga

*

Sehabis mengantar Kayla untuk pertama kalinya kesekolah semenjak dia sembuh, aku ingin memanjakan diriku dengan kesalon sebentar. Merawat kuku dan rambutku yang sudah jarang terurus semenjak aku berumah tangga. Aku mendapat kabar dari kendall bahwa pencurinya sudah tertangkap dan merupakan suruhan dari label rekaman mereka yang lama, yang rupanya ingin merebut kembali big time rush dan lagu-lagunya. Aku agak lega mendengarnya. Dan semalam, kendall tidak dapat kudeskripsikan. Kami mulai mencoba untuk memulai mempunyai anak lagi, kendall sangat senang dan rupanya berdampak sampai saat ini. Dia terus mengabariku tentang semuanya bahkan aku harus sampai bilang aku mau ke salon dulu sebentar agar dia berhenti sejenak untuk meng-sms atau meneleponku. Aku masuk ke salon langgananku dan aku langsung meminta untuk meni pedi dan memotong ujung-ujung rambutku. Setelah selesai, aku berjalan jalan sebentar untuk membeli kopi dan kembali kesekolah kayla untuk menjemputnya.
Aku datang tepat waktu saat bel berbunyi. Anak-anak langsung bubaran dan semua murid belarian. Aku melihat kayla bersama dengan seorang anak perempuan dan mereka tertawa tawa sepanjang turun dari tangga. Aku melambaikan tanganku saat melihat kayla, dan dia balas melambai. Dia turun semakin cepat bersama dengan anak perempuan itu lalu akhirnya tiba dibawah. Dia berlari menghampiriku.
“ mom!” dia memelukku
“ hello! Bagaimana kabarmu?”
“ baik! Mom, ini Maria- dia temanku… dia anak baru disekolah ini..” katanya sambil mengenalkan Maria kepadaku. Maria menjulurkan tangannya malu malu kearahku.
“ rumahmu dimana maria?” tanyanya. Dia menjelaskan rumahnya dan kutanya apakah ada yang menjemputnya, dan dia bilang dia pulang sendiri. Aku tidak tega melihatnya, jadi kubawa dia bersamaku. Kayla terlihat senang. Sepanjang perjalanan pulang kayla mengobrol asyik dengan Maria. Kudengar mereka berbicara, membicarakan es krim dan pelajaran pelajaran dikelas.
Aku berhenti didepan rumahnya. Maria akhirnya pamit dan mengucapkan terimakasih kepadaku dan Kayla.
“ dia anak yang baik..” kataku
“ sangat baik, mom.. mom! Bolehkah sabtu ini aku main kerumahnya? Dia punya boneka barbie yang banyak sekali. Aku mau bawa bonekaku juga..” kayla terdengar bersemangat
“ baiklah.. aku akan mengantarmu..” jawabku. Kayla bersorak gembira.
Kami sampai dirumah. Kulihat lampu menyala diruang tamu dan ketika aku membuka pintu aku terkejut melihat kendall dan yang lain sudah ada dirumahku. Sedang makan makanan box sambil menonton tivi. Kayla berlari kearah kendall yang sedang duduk dan memeluknya. Aku menggantung tasku lalu ikutan duduk diantara mereka.
“ wow, rambutmu baru?” tanya carlos
“ yepp, terimakasih sudah menyadarinya..” aku melirik sinis kearah kendall yang tidak sadar perubahanku.
“ hei- bagiku kau sama saja, selalu cantik tiap hari..” godanya membela diri aku hanya mencibir kearahnya. Kayla mencomot ayam milik logan dan logan menatapnya tidak suka. Kayla hanya mengunyahnya dan logan akhirnya pasrah dan memakannya kembali.
“ aku sudah dengar kabar tentang lagu kalian, untunglah..” ujarku
“ yeah, tapi ada beberapa bagian lagu yang rusak. Kami terpaksa merekam ulang..” kata logan
“ berapa lagu?”
“ tiga.” Kata kendall. Aku lega karena tidak terlalu banyak. Kendall menyodorkan makanannya kearahku dan aku menggeleng. Kayla yang rupanya kelaparan melahap habis makanan kendall lalu mengelap mulutnya.
“ daddy, sabtu nanti aku mau main kerumah Maria.. dia anak baru disekolah, tapi dia keren sekali daddy! Rumahnya besar..” kayla membentangkan tangannya saat menyebut kata besar dan semuanya tertawa.
“ oke, jangan nakal ya..” ujar kendall, kayla mengangguk. Aku bangkit dan menuju dapur, mengajak kayla untuk makan sehabis itu berganti baju dan tidur siang. Kayla sehabis makan langsung berangkat keatas.
“ hai cantik..” ujar kendall saat aku sedang membereskan piring-piring
“ hai..” jawabku lalu membalikkan badanku
“ last night was amazing..” bisiknya sambil meraih kedua tanganku
“ I know.. and you can’t stop smiling..” ujarku membuat kendall tertawa lebar
“ stop that! Kau seperti idiot..” hardikku bercanda, dia merapatkan bibirnya dan manyun seperti anak kecil. Aku mendorong tubuhnya dan mengintip logan james dan carlos yang masih asik menonton sambil mengobrol.
“ sampai kapan mereka disini?” tanyaku. Kendall memelukku dari belakang
“ mungkin sebentar lagi, kenapa?” aku menggeleng
“ mereka membawa pengaruh baik pada kayla.. aku suka mereka..”
“ yeah, mereka memang sahabatku yang paling baik..” jawab kendall
“ kau sudah bilang pada kayla rencana kita untuk memberinya adik bayi lagi?”
“ belum, aku belum mau membahasnya sampai aku yakin aku hamil..” kataku
“ apakah sekali cukup untuk membuatmu hamil? Ayo kita test sekali lagi..”
Aku menyikut perutnya dan dia mengaduh menjauh. Aku tertawa sambil berkacak pinggang.
“ biarkan yang diatas yang memberi jawaban..” ujarku. Kendall memutar bola matanya
“ kita juga harus berjuang!” kata kendall sambil sok-sok heroik. Aku menggeleng kepalaku tertawa
“ cukup, kendall.. sana bermainlah bersama teman-temanmu..” kataku lalu meninggalkannya keatas, ingin mengganti bajuku.

*
Sabtu pun tiba, kendall dan aku mengantar kayla kerumah maria. Kendall terperangah saat melihat halaman depan rumah kayla.
“ memang besar sekali..” ujarnya, aku mengangkat kedua alisku sambil mengangguk
Sehabis mengantar kayla, aku dan kendall keluar mencari makan siang bersama. Kami menemukan tempat dimsum baru disekitar rumah maria. Suasanya tenang dan tidak banyak pelanggan, tapi aku suka tempatnya. Kecil dan agak redup. Kami memesan makanan dan aku memilih makanan yang akan kami rebus sendiri. Kendall sibuk memasukkan sayuran, daging dan bakso kedalam panci. Aku mulai mengambil sayuran yang sudah matang dan menaruhnya dimangkukku dan mangkuk kendall.
“ hmm..” ujarku sambil mengunyah bakso
“ ini enak..” kendall mengangguk. Kami makan lama sekali disana, dan barulah sadar kalau kami sudah seperti ingin mati kekenyangan. Kami masuk mobil lagi tapi tidak langsung jalan. Kendall bersandar dikursi, terlihat sangat kekenyangan dan aku berusaha mengatur nafasku karena perutku benar-benar buncit.
“ waw..” ujarku, kendall mengangguk mengerti
“ masi ada beberapa jam lagi, mau kemana kita?” tanyaku
“ aku tahu kita harus kemana..” ujarnya. Dia lalu menyalakan mesin mobilnya dan berjalan, kearah pinggiran dan aku tahu kami akan pergi kepantai. Begitu sampai, kendall memakirkan mobilnya dipesisiran dan kami berdua keluar dari mobil. Angin kencang langsung menerpa wajah kami.
“ ayo, kita naek ke mercusuar sebelum matahari terbenam..” katanya sambil meraih tanganku. Aku tersenyum senang. Menara mercusuar merupakan tempat dimana kendall melamarku dulu. Awalnya kami hanya sedang jalan-jalan dipantai dan tahu-tahu kendall mengajakku keatas. Kami menaiki tangga mercusuar yang panjang dan barulah kami sampai diatas.
Aku melongok dan melihat lelautan luas yang terpampang indah dari atas sini. Kendall memelukku dari belakang. Suara burung camar, angin dan desiran ombak bersatu padu mengisi kesunyian kami. Aku bisa melihat orang-orang masih berselancar atau hanya sekedar duduk berjemur disana.
“ indah sekali..” kataku, kendall mengangguk dan menaruh dagunya dipundakku
“ ini tempat kesukaanmu kan?” tanyanya
“ aku suka disini. Anginnya, suasananya dan yang paling menarik kau bisa melihat lelautan yang terbentang luas dari sini dengan jelas..” ujarku. Kendall memutar tubuhku dan menatapku.
“ aku tidak bisa menjelaskan seberapa besar aku melihatmu senang disini..” aku tersenyum. Aku mengalungkan tanganku dilehernya.
“ terimakasih..” ujarku. Kendall mendekatkan wajahnya kearahku dan menciumku. Aku menekan tubuhku kearahnya, kendall memelukku lebih dalam lagi. Kami dengan enggan menjauhkan bibir kami satu sama lain lalu tersenyum. Kendall melihat kearah lautan luas lalu berseru, “oh lihat! Mataharinya..” kendall menunjuk kearah lautan dan bisa kulihat matahari mulai turun perlahan lahan. Aku suka sekali melihat sunset seperti ini. Aku memeluk kendall senang saat melihatnya, lalu perlahan matahari mulai tenggelam dan suasana jadi agak gelap.
“ wow, isn’t that beautiful thing?” gumamku
“ nope..” kata kendall. Aku menegakkan kepalaku melihatnya
“ kau lebih indah daripada matahari itu..” ujarnya sambil menciumku sekali lagi.

*

*kendall point of view*

Hari ini (yn) sakit. Aku yang harus mengurus semuanya. Saat dia bangun, dia merasa tidak enak badan dan pusing. Kudengar dia mual-mual dikamar mandi. Aku membangunkan Kayla dan menyuruhnya untuk sarapan. Kayla sudah duduk dimeja makan bersamaku sambil sarapan sereal dan minum jus jeruknya.
“ dad, mom kenapa?” tanyanya
“ dia sedang tidak enak badan sayang.. nanti daddy yang antar ya..” kataku. kayla mengangguk
“ dad, boleh sehabis pulang sekolah Maria bermain disini?” tanyanya
“ maria mau kerumah?” dia mengangguk, “baiklah..” aku menambahkan sambil tersenyum
“ kau suka dengannya ya?”
“ ya! Dia anak yang sangat asik untuk diajak main..” ujar kayla senang, “aku kesepian selama ini. Untung ada Maria, kami bisa bermain bersama..”
Aku berhenti memakan serealku saat Kayla bilang dia kesepian. Jadi selama ini dia… kesepian begitu?
“ kesepian bagaimana maksudmu?”
“ dad sibuk, mom tidak bisa kuajak bermain boneka.. aku tidak ada teman bermain sepantaran didekat rumah.. dan ada maria yang rumahnya tidak terlalu jauh.. selama ini aku bosan sendirian dirumah, main sendirian dan sebagainya..” kata kayla mengoceh
“ maria punya adik lelaki yang selalu bermain bersama kami. Aku kadang bertanya padanya apakah kau pernah kesepian dan maria menjawab dia tidak pernah merasa seperti itu. Soalnya, dia punya adik yang bisa diajak main.. tidak seperti aku..” katanya masih sambil menyuap serealnya. Aku mengangkat kedua alisku mendengar perkataannya. Apa dengan kata lain dia mau adik?
“ dad aku ingin punya adik..” katanya membuat aku tersedak.

*

Ugh. Aku mengelap mulutku. Aku mual dan muntah habis-habisan dikamar mandi pagi ini. Aku mengikat rambutku dan kembali berbaring ditempat tidur. Aku mengambil ponselku dan menghubungi ibuku. Ini pasti karena dimsum kemarin! Aku tahu perutku sedang tidak beres, dan ada yang salah dengan tempat itu. Kutekan nomor ponsel ibuku.
“ hallo?”
“ mom, ini aku..”
“ oh hallo sayang, ada apa?”
“ mom, aku benar benar tidak enak badan.. kau bisa datang kerumah?”
Aku memang sedari dlu sangat manja kalau sakit. Kendall dan yang lain tidak bisa menanganinya, hanya ibuku yang bisa menangani manja-ku saat aku sakit. Kendall hari ini akan merekam ulang lagu-lagu yang hilang karena dicuri kemarin, kayla sekolah- dan aku tidak mau sendirian dirumah saat aku sakit.
“ oh dear..” kata ibuku, “baiklah, aku akan kesana. Kau mau kubawakan apa?”
“ oh mom, bubur saja cukup. Aku benar-benar mual.. terimakasih..” ujarku lalu telepon terputus.
Beberapa jam kemudian ibuku datang, dan segera masuk kekamarku. Aku sedang selimutan sambil menonton televisi. Aku sangat senang ibuku akhirnya datang juga. Ibuku langsung naik ketempat tidur dan mengaduk-ngaduk tas yang dia bawa.
“ mom, terimakasih sudah datang..” kataku
“ mana kendall?”
“ oh, dia sedang rekaman.. sore atau malam baru pulang..”
“ dia tahu kau sakit?”
“ ya, dia menghubungiku tadi.. aku baik baik saja selama mom disini..” ibuku tersenyum. Dia mengeluarkan sekotak makanan dan menyerahkannya kearahku. Kubuka dan isinya bubur ayam. Aku menyendokkan beberapa suap kemulutku.
“ apa yang kau rasakan?”
“ pusing..”
“ hanya pusing?”
“ mual… sedikit.. mom, ini ayam enak sekali demi tuhan!” kataku sambil mengunyah ayam yang ada dibubur tersebut. Ibuku tersenyum, dia memegang keningku lalu leherku.
“ tidak hangat.. kau kelihatan baik-baik saja..”
“ ergh, mungkin aku hanya kurang makan.. atau salah makan..” aku menelan buburku
“ kemarin aku makan dim sum bersama kendall ditempat antah berantah, dan kurasa perutku memang sedang tidak beres.. jadi, mungkin karena itu aku sakit..” lanjutku lagi sambil menyuap lebih banyak ayam kemulutku. Wow. Ini benar-benar nikmat. Aku belum pernah makan ayam seenak ini.
“ mom, ayam ini enak sekali…” ujarku lagi, ibuku hanya tersenyum lalu dia menatap layar televisi. Aku akhirnya selesai menghabiskan makananku dan ibuku memberiku minum air putih. Aku menghela nafas dan menyandarkan tubuhku disandaran tempat tidur.
“ kayla pulang jam berapa?” tanya mom. Aku melirik jam tanganku.
“ ah, sebentar lagi mom. Tenang saja, dia akan kemari bersama teman barunya..”
“ wah, aku harus bikin masakkan untuk mereka kalau begitu..” ibuku bangkit dari tempat tidur lalu berjalan kearah pintu keluar.
“ kau tidak apa-apa sendirian? Aku akan segera kembali..”
“ aku tidak apa-apa mom, sudah agak baikan kok..” memang ya. Aku sudah tidak begitu mual lagi walau kepalaku masih agak sakit. Ibuku lalu menutup pintu dan kuyakin menuju kedapur.

*

Aku turun kebawah saat aku sudah baikan dan berjalan kedapur. Kulihat Kayla, Maria dan ibukku sedang asik membuat cupcake. Maria tampaknya senang menghabiskan waktu bersama kayla.
“ mom, lihat! Nenek mengajari kami membuat cupcake!” katanya sambil berseru girang dan mengacungkan kue yang tinggal dipanggang saja kearahku. Aku tersenyum dan duduk dikursi.
“ mom baik-baik saja?” kata kayla lalu menghampiriku menyadari aku diam saja.
“ agak pusing sedikit tadi, tapi sekarang sudah baikan.. ayo sana panggang kuenya..” kataku. kayla lalu tersenyum dan memasukkan baki-baki kedalam oven. Maria duduk didepanku.
“ hai maria.. kau senang membuat kue?” dia mengangguk senang. Ibuku lalu mengelap keringat didahinya dan berkacak pinggang. “oke, semua kue sudah dimasukkan! Tinggal tunggu beberapa jam lalu kita hias ya..” ujarnya. Kayla dan Maria bersorak.
“ mom, kami keatas dulu ya, mau main..” Kayla mencium pipiku lalu mencium pipi ibuku dan mereka berdua berlari keatas menaiki tangga. Ibuku tertawa kecil melihat mereka berdua.
“ aku ingat ketika kau kecil kau selalu seperti itu..” katanya, “senang jika aku membuat kue, membawa temanmu kerumah..” ujarnya. Aku tersenyum.
“ aku tidak punya saudara lagi.. jadi aku hanya bermain bersama temanku..”
“ yeah…” wajah ibuku murung mengingat aku hanya anaknya satu-satunya. Kandungan ibuku lemah. Orang-orang bilang dia tidak bisa hamil saat muda, tapi lahirlah aku dan mereka sangat bersyukur aku lahir. Melahirkan butuh perjuangan dan pengorbanan. Ibuku menghabiskan banyak darah dan konon katanya hampir tewas saat melahirkanku. Mulai dari situ, dokter memberi saran untuk tidak mempunyai anak lagi mengingat apa yang ibuku alami saat melahirkanku dan kondisinya yang lemah. Sampai sekarang ibuku masih merasa bersalah aku hidup dalam kesendirian, tidak mempunyai saudara seperti ini. Tapi aku selalu bilang aku baik-baik saja karena aku mempunyai mereka dan teman-temanku saat itu, dan sekarang ditambah dengan kendall dan kayla, juga keluarga besar kendall- aku baik baik saja. Aku terdiam sebentar. Kisahku tidak jauh berbeda dengan Kayla. Tanpa aku sadari, aku ingin memberikan Kayla adik dan berdoa supaya aku cepat-cepat hamil. Aku tidak mau anakku merasakkan apa yang aku rasakan saat aku kecil dulu. Sendirian.
“ sayang?” kata ibuku membuyarkan lamunanku. Aku terlonjak lalu memijat-mijat keningku
“ apa yang kau pikirkan? Kau mual lagi?” tanyanya, aku menggeleng
“ mom..” kataku dengan nada serius, “begini..” ujarku, aku melipat kedua tanganku diatas meja
“ belakangan ini, aku dan kendall sedang mencoba untuk punya anak lagi..” aku menunggu ekspresi ibuku berubah, tapi dia hanya kalem tersenyum mendengarkan.
“ lalu apa yang kau khawatirkan?” tanyanya. Aku menatapnya lalu menghela nafas
“ aku tidak tahu apakah ini keputusan yang tepat atau tidak..” ibuku tersenyum. Dia duduk disebelahku dan mendekatkan kursinya kearahku.
“ aku yakin ini keputusan yang tepat..” ujarnya membuat hatiku tenang
“ ya?” dia mengangguk
“ kayla sudah besar sekarang, sayang. Lihatlah dia.. dia butuh teman bermain.. kau ingat betapa menyesalnya aku tidak bisa memberimu adik sampai sekarang?”
“ mom…” aku menggenggam tangannya. Ibuku menggenggam tanganku lebih erat lagi.
“ kau dan kendall adalah orangtua yang sangat sempurna sayang.. kalau kau yakin… maka semuanya akan baik-baik saja.. kau tidak mau kayla sendirian kan?” aku menggeleng pelan. Dia mengecup keningku
“ kau dapat restuku sepenuhnya kalau soal ini..” aku tertawa kecil mendengarnya
“ mom..” ujarku lagi, “terimakasih..” dia tersenyum dan mengangguk. Tak lama kemudian pintu dibuka dan kendall masuk kedalam dapur. Ibuku dan aku bangkit dan memberinya pelukan. Kendall menciumku dibibir dan aku menepuknya, malu- didepan ibuku. Ibuku hanya tertawa melihat kami.
“ mana kayla?”
“ dia diatas bersama maria, menunggu untuk menghias cupcake..”
“ wow yey cupcake!” kendall bersorak girang seperti anak kecil. Dia membuka kulkas dan mengambil sebotol air mineral dan dia meneguknya sampai habis.
“ kau baikkan?”
“ yeah, lumayan..” ujarku. Kendall duduk disebelahku. Ibuku keluar sebentar dari ruangan, membiarkan kami berbincang.
“ bagaimana harimu?”
“ selesai semuanya, aku capek sekali..” katanya
“ aww. Kasihan..” aku memanjakannya sambil mengelus pipinya, dia tertawa
“ hei, aku sudah bilang keibuku rencana kita punya anak lagi..”
“ apa reaksinya?”
“ dia setuju..” aku tersenyum dan kendall ikutan tersenyum.

*

Besok paginya aku kembali tidak enak badan dan kendall menjagaku dirumah seharian. Ibuku datang tengah harinya untuk membawakanku makanan dan sebagainya. Dia bahkan menyuapiku bubur kali ini. Keadaanku jauh lebih buruk dari kemarin.
“ aku rasa kau harus kedokter, sayang..” kata ibuku
“ ergh, tidak perlu mom.. aku akan baik-baik saja..” kendall duduk tidak jauh dariku
“ aku rasa ibumu benar, sayang. Kau harus ke dokter..” ujarnya khawatir. Aku menoleh kearahnya lemas dan dia mengangkat kedua alisnya. Aku mengerang kesal. Aku tidak suka kedokter. Hawa rumah sakit membuatku takut. Aku tidak suka ketika dokter mendekatkan stetoskopnya ketubuhku dan mendengarkannya, atau dia menyuntikku. Tidak!
“ atau aku hanya akan minum obat saja.” Tawarku, tapi mom dan kendall sepertinya tidak sepakat denganku. Aku mengerang lagi. Kendall sudah mengambilkan jaketku dan ibuku sudah bangkit berdiri.
“ aku akan jaga kayla, kalian pergilah..” ibuku menciumku, lalu mencium kendall. Dengan langkah gontai kendall menggenggam tanganku untuk berjalan.
Sesampainya dirumah sakit, rumah sakitnya sepi karena masih siang- kurasa. Giliranku masuk. Aku duduk dibangku untuk menjelaskan apa yang kurasakan. Kendall tersenyum kearahku ketika aku sedang berbaring untuk diperiksa. Ugh, stetoskop.
“ well, sepertinya kau baik baik saja..” ujar dokter itu sambil melepaskan stetoskopnya dari lehernya. Aku menghela nafas lega. Aku turun dari ranjang periksa dan kembali duduk disebelah Kendall. Dokter itu menyuruhku untuk meminum vitamin dan terakhir dia bertanya,
“ mrs. Schmidt, maaf, sudah berapa bulan kau tidak dapat teratur?” tanyanya. Aku melongo lalu memandang kendall. Aku berdehem dan berpikir, juga menghitung. Well, sudah ada mungkin lebih 2 bulan kurasa. Dan barulah aku sadar selama ini aku tidak sadar dan selama kami berhubungan kami tidak memakai pengaman.
“ ehm, 2 bulan…. Mungkin..” aku menjawab ragu dan melihat kearah kendall. Dokter itu menatap kearahku, lalu menambahkan sesuatu kedalam resep obatnya.
“ oke..” katanya sambil menghela nafas lalu menyobek lembaran resep tersebut, aku menerimanya
“ kau harus berhati-hati untuk makan sekarang, mrs.schmidt.. kemungkinan ada bayi didalam kandunganmu..”

*

“kendall.. katakan sekali lagi apa yang dokter itu katakan..” kataku dalam perjalanan pulang
“ kemungkinan ada bayi didalam kandunganmu, mrs.schmidt..” ujar kendall dan dia tersenyum. Aku juga tersenyum. Aku senang, well- walau belum pasti memang aku sedang hamil atau belum. Tapi kemungkinan itu ada. Aku terus senyum sumringah sepanjang perjalanan pulang.
“ oh kendall..”
“ aku tahu, aku juga senang..” ujarnya, aku tertawa pelan dan memperhatikannya menyetir.
“ tapi dia bilang mungkin..” kataku
“ meh..” dia mengangkat bahu, “berdoa saja itu benar..” katanya.
Kami sampai didepan garasi rumah. Aku membuka pintu dan kendall berjalan kearahku. Dia menahanku untuk bergerak lalu menciumku perlahan.
“ aku berharap kau mengandung..” katanya. Aku melingkarkan tanganku dipinggangnya
“ aww, aku juga.. tapi jangan terlalu banyak berharap.. dokter bilang masih mungkin..”
“ ah, dokter itu tahu apa..” ujarnya sok pintar. Aku tertawa mendengarnya. Dia lalu meraih tanganku dan mengajakku duduk diatas kap mobil. Dia menggulung tangan sweaternya dan merangkulku.
“ tidakkah kita harus masuk terlebih dahulu? Kau tahu, mengabari ibuku dan kayla bahwa kita sudah pulang..” ujarku
“ kalau kita melakukannya, kita tidak bisa duduk seperti sekarang ini..” ujarnya. Aku merebahkan kepalaku dibahunya. Kami memandang jalanan kosong yang diterangi dengan lampu malam.
“ sudah lama kan kita tidak begini..”
“ yeah, ingat kau bolos latihan padahal besoknya kau konser hanya demi untuk duduk denganku seperti ini tanpa bicara pada kencan pertama kita?” kendall mengangguk dan tertawa malu
“ kita benar-benar tidak berbicara..”
“ hanya banyak dehemen dan siulan, dan gumaman-gumaman yang tidak jelas kudengar darimu..”
“ ergh, kau juga tidak bicara..”
“ kau lelaki, seharusnya kau memulai duluan!” ujarku
“ ha!” dia mencibir kearahku. Aku tersenyum kearahnya
“ but that’s really sweet, really.. the shy side of kendall schmidt..” ujarku
“ hmmm..” gumamnya. Aku menghela nafas.
“ itu kejadian berjuta-juta tahun yang lalu..” aku tertawa saat mengucapkannya
“ aku senang kau membeli tiket meet and greet dan bertemu denganku pertama kali..”
“ yeah. Kau ingat aku? Memakai atribut aneh dengan baju KENDALL MARRY ME!” ujarku
“ kau juga berteriak paling kencang saat aku keluar..” aku mengangguk
“ idiot bukan?”
“ sangat..” ujarnya, kami berdua tertawa. Aku meraih tangannya dan meremasnya
“ tapi bajuku berhasil kan?” tanyaku
“ totally.. look at us now!” ujarnya sambil memandangku hangat
“ hei boleh aku tanya sesuatu?” tanyaku. Dia mengangguk
“ since we’re married, there’s no secret between us right?” dia mengangguk lagi
“ oke..” aku menegakkan kepalaku, “apa yang kau pikirkan saat pertama kali melihatku?”
Kendall memanyunkan bibirnya dan dia terlihat berpikir. Aku menunggu.
“ you’re crazy..” ujarnya. Aku memukul bahunya cukup keras sambil tertawa dan dia meringis
“ and…” katanya sambil menangkupkan daguku. “ so beautiful.. perfect.. the one..” ujarnya. Wajahku bersemu merah mendengarnya.
“ benarkah?” tanyaku. “diotakku bahkan saat meet and greet aku tidak akan menarik perhatianmu sama sekali, kau lihat wanita yang datang. Woa! Semuanya jauh lebih baik daripadaku..” ujarku lagi.
“ kau mau tahu sesuatu?” aku mengangguk. “kau boleh tanya logan, tapi saat aku melihatmu sebelum aku keluar, aku bilang pada logan kalau aku ingin mendapatkanmu..” ujarnya. Aku melotot tidak percaya.
“ benarkah?” tanyaku pelan, dia mengangguk
“ yeah. Dan kau tahu, aku pemalu berat.. mungkin kalau aku tidak mengajakmu jalan duluan, logan akan..” katanya, aku mengerutkan dahiku.
“ logan?” tanyaku. Dia mengangguk. “kau tahu lah dia…” aku mengangguk.
“ jadi, kau berani hanya untukku..” kataku manja
“ oooh. Don’t get to cocky, missy!” katanya dengan angkuh membalasku. Aku tertawa
“ but, yeah.. kau boleh tanya yang lain- baru kali ini aku berani untuk mengajak keluar wanita duluan..” ujarnya. “biasanya, yang aku mau sudah diambil yang lain…” katanya. “atau aku tidak berani ngomong, jadi wanita itu pergi saja..” aku tertawa mendengarnya
“ waaw kendall, aku tidak pernah tahu kau melakukannya untukku..”
“ yepp. Like matt damon’s says ‘All you need is 20 seconds of insane courage and I promise you something great will come out of it’…” katanya mengutip quotes dari film dan aktor favoritku
“ oh kendall..”
“ dan lihat hasilnya sekarang..” ujarnya. “aku memilikimu, keluarga yang indah, kayla..” katanya, dia lalu menyentuh perutku pelan, “dan mungkin bayi kita berikutnya..” ujarnya sambil menunduk memandangku. Aku tersenyum simpul sambil memegang kedua wajahnya.
“ you’re great man..” kataku, dia menunduk tersenyum. “ you’re a great dad…” ujarku lagi
“ kayla, aku, seluruh dunia dan calon bayi ini akan bangga padamu..” kataku lagi
“ aku tidak akan begini kalau kau tidak ada disampingku..” ujarnya pelan setengah berbisik
“ kita berdua.. we’re a great team! That’s why I marry you..” katanya lagi. Aku berusaha untuk tidak meneteskan airmataku didepannya.
“ and because I love you. I want you beside me for the rest of my life.. have my kids, and being my number one supporter..” ujarnya
“ kendall..” aku menunduk menahan airmataku, kendall meremas kedua tanganku. Dia tahu aku akan menangis.
“ you’re the one (yn)…” ujarnya. Aku tersenyum kepadanya, dia mendekatkan wajahnya dan menempelkan bibirnya ke bibirku. aku sudah berkali kali mendengar dia bicara sangat romantis padaku, tapi kali inilah yang membuatku terharu setengah mati. Aku tidak pernah berharap saat kami pertama bertemu dia akan menjadi sesuatu yang berharga dihidupku, apalagi menjadi ayah anakku- tidak pernah sedikitpun. Dan aku boleh bilang, aku adalah wanita paling beruntung didunia karena memilikinya.
“ dan sekarang, kau mungkin sedang mengandung anak kedua kita- aku janji aku akan selalu ada disampingmu. Aku akan katakan pada logan dan semuanya aku akan off untuk sementara..”
“ jangan jangan jangan…” cegahku saat dia bilang akan off
“ kendall, kau lakukan tugasmu diluar sebagai ayah. Itu pekerjaanmu.. aku akan baik saja..”
“ aku akan berusaha sebanyak mungkin disampingmu..” ujarnya memperbaiki kalimatnya
“ yeah..” gumamku
“ oh!” aku berseru tiba-tiba, “aku akan membeli test pack dan akan kupakai besok agar aku bisa tahu apakah aku sedang hamil atau belum…” kataku.
“ kita beli sekarang, ayo..” kata kendall lalu loncat turun dari mobil dan menggendongku untuk turun dan menuntunku masuk lagi kedalam mobil.

*

Negative.
Aku melihat satu bar ditest pack-ku dan aku tidak tahu aku harus bagaimana. Aku menundukkan kepalaku, ingin menangis. Aku sudah sangat senang mengandung, dan hasilnya negative.
“ (yn)..” kendall mengetuk pintu kamar mandi. Aku sudah didalam beberapa menit dan kendall mengkhawatirkanku. Aku mengambil testpack-ku dan buru-buru merubah wajah kecewaku saat membuka pintu. Wajah kendall penuh rasa ingin tahu saat aku membuka pintu.
“ negative..” ujarku pelan. Kendall menarikku kedalam pelukannya
“ relax.. ini baru beberapa bulan, baby..” ujarnya. Aku mengangguk lemas. Harapanku rupanya sudah terlalu tinggi kali ini dan aku kecewa saat menemukan bahwa aku tidak mengandung. Dan mungkin sakitku kemarin hanya salah makan, aku hanya meminum beberapa obat dari dokter kemarin dan semuanya langsung hilang.
“ I’m sorry..” ujarku. Kendall menegakkan bahuku
“ untuk apa?” tanyanya tertawa
“ ergh..” aku malas menjelaskan dan kupikir dia sudah tahu. Kendall memegang kedua bahuku dan menunduk untuk berbicara padaku
“ hei, tidak apa-apa.. aku seharian dirumah, kita bisa coba lagi…” godanya. Mendengarnya mau tak maupun aku mengembangkan senyumku.
“ mungkin butuh waktu untuk prosesnya..” aku berusaha meyakinkan diriku sendiri. Kendall mengangguk meyakinkan.
“ yeah, jangan takut oke… nah sekarang, kita turun sarapan bersama kayla oke. Ini hari sabtu, kita sudah janji untuk pergi bersama ketaman kan?” katanya, aku mengangguk lemah
“ baiklah, aku ingin merapihkan diriku sebentar- kau turun saja duluan..” kendall mengecup keningku lalu dia turun kebawah.

*

Kami sampai ditaman. Kayla membawa sepedanya dan mulai bersepeda mengikuti jalur yang sudah dibuat khusus sepanjang taman. Aku dan kendall berjalan mengikutinya dibelakang. Kami sampai kearea bermain anak-anak dan kayla menitipkan sepedanya pada kami karena dia mau main mainan lain bersama anak lain ditaman. Ada komidi putar, bak pasir, seluncuran, jungkat- jungkit dan ayunan. Semuanya penuh dengan anak-anak.
Aku dan kendall membawa sepeda kayla dan duduk tidak begitu jauh dari dekat area taman itu. Banyak orang, sekumpulan anak-anak remaja menggelar tikar ditaman dan bermain gitar.
“ aku bisa main lebih baik daripada lelaki itu..” ujar kendall mendengar salah satu anak lelaki itu bermain
“ oke, sombong..” ledekku. Dia tertawa mendengarnya. Aku memandang sekitar dan ada satu keluarga memasuki taman bermain. Mereka bermain dibak pasir. Kedua orangtuanya juga ikut bermain menemani kedua anaknya yang sedang menancapkan sekop mainannya kedalam bak pasir. Aku memandang anaknya yang lelaki. Dia tampak senang sekali dan mata hijaunya sangat menyala, mengingatkanku akan kendall- dan mungkin anak kami kalau aku mengandung nanti.
“ aku bisa buat sebagus itu..” kata kendall tahu aku sedang mengamati anak kecil itu
“ hmm, kita bisa jauh lebih baik..” aku menambahkan. Kendall tertawa.
“ jangan dipikirkan masalah itu ya..” katanya, “jika saatnya tiba- kau akan hamil..”
Aku hanya mengangguk mendengarnya. Aku melihat kayla bergabung bermain bersama anak-anak dari keluarga tadi yang bermain di bak pasir. Mereka mengenalkan diri dan Kayla memperkenalkan dirinya lalu menunjuk kearah aku dan kendall. Kedua orangtua anak tersebut melambai kearah kami. Aku dan kendall balas melambai. Kedua orangtua tersebut akhirnya keluar dari bak pasir tersebut dan membiarkan anak-anak bermain, mereka menghampiri kami.
“ hai.. permisi, apakah kau kendall dari big time rush?” tanya sang suami
“ yeah..” kendall menegakkan tubuhnya, “yes, I am, sir..” kendall bangkit dan menjulurkan tangannya. Sang suami menjabat tangan kendall, lalu mengenalkan istrinya kepada aku dan kendall.
“ ah, aku tahu aku pernah melihatmu!” sang suami tertawa
“ namaku Joel, dan ini istriku Rachel.. dan disana, anak kami Monica dan Skylar..” katanya lalu menunjuk anak mereka.
“ oh ya, anakku yang sedang bermain denganmu namanya Kayla.. dan ini istriku (yn)..” kata kendall lalu aku melambai kearah mereka.
“ jadi, kalian sering ketaman ini?” kendall mulai duduk lagi, diikuti aku dan kedua pasangan itu disebelah kami.
“ yeah, terkadang- kayla suka sekali kemari.. untuk bermain.. atau bersepeda..” kataku
“ monica dan skylar juga seperti itu kok,” kata rachel
“ maaf, kayla anak kalian satu2nya?” tanya joel.
“ yeah..” jawabku singkat
“ kami ingin mempunyai anak lagi, dan sedang berusaha..” kendall menambahkan
“ ah.. don’t give up, honey..” kata rachel menyadari raut wajahku langsung berubah saat mereka bertanya. “kau bahkan dulu tidak tahu bagaimana susahnya aku memiliki anak..” ujar rachel
“ yeah.. awalnya kami divonis tidak bisa punya anak saat kami menikah..” joel mulai bercerita
“ kami hampir mengadopsi anak…” tambah rachel, mereka berdua berpandangan tersenyum
“ tapi, aku dan istriku tidak pernah mendengarkan apa kata orang. Kami terus berusaha, berdoa dan tidak kehilangan harapan..” ujar joel. Kendall memelukku dari belakang sambil mendengarkan cerita mereka.
“ dan beberapa tahun kemudian, lahirlah Monica..” ujar rachel sambil memandang terharu monica yang sedang bermain. Aku ikutan memandangnya.
“ dan Skylar..” tambah Joel. Aku dan kendall melongo menatapnya
“ yeah, mereka kembar..” kata Rachel. Aku menutup mulutkku terdengar bahagia untuk mereka
“ wow..” kataku, lalu berdehem, “ aku turut bahagia untuk kalian..” tambahku tulus. Rachel menggenggam tanganku dan menatapku serius. “(yn), jangan takut.. kau wanita hebat.. lihat kayla dan kendall.. mereka benar-benar wow!” ujarnya, aku tersenyum. “dan kalau kau takut kau tidak bisa hamil lagi, no way! Lihat kendall..” dia menunjuk kendall. Kendall mengangkat kedua alisnya
“ he’s a good man. Dan aku yakin, suatu saat nanti kalian bisa punya anak lagi.. jangan putus harapan..” ujar rachel. Aku terharu mendengarnya. Aku memeluk rachel dan dia mengelus pundakku.
“ terimakasih..” ujarku. Kami bercakap cakap sepanjang siang sampai sore hari, sampai akhirnya kami berpisah karena hari sudah semakin sore dan kami harus pulang. Joel dan Rachel mengundang kami untuk kerumahnya dan kami bilang kami akan kerumah mereka nanti.
“ kita bertemu mereka disaat yang tepat…” kata kendall saat dijalanan
“ yeah..” aku berdehem, “dan terimakasih untuk mereka, sekarang aku benar-benar baik baik saja..”
“ baguslah kalau begitu…” kendall tersenyum kearahku
“ jangan pernah berhenti berusaha, hah?” kendall mulai menggodaku. Aku memutar bola mataku
“ fokus kejalan kendall..”

*

“ (yn)! (yn)!” teriaknya saat memasuki kamar kayla. Wajahnya riang gembira dan ponselnya berada ditangan kanannya. Aku dan Kayla yang sedang menonton televisi berpaling dan kayla mematikan televisinya, ingin mendengar kendall berbicara. Dia duduk disebelahku dan memelukku tampak sangat gembira.
“ hello..” ujarku. “kenapa kau senang sekali?” tanyaku
“ manager kami telepon, dan guess what… big time rush masuk nominasi untuk grammy award tahun ini!” dia berteriak ketika menyebutkan kalimat terakhirnya. Aku dan kayla tertawa mendengarnya. Grammy award adalah penghargaan untuk musisi tertinggi disini. Mereka sudah lama mengidam-idamkan ingin menjadi nominator, dan kali ini mereka berhasil masuk.
Aku dan kayla memeluk kendall. Kayla duduk dipangkuan kendall sambil mengalungkan tangannya dilehernya.
“ wow..” kataku, “selamat kalau begitu.. aku janji akan memvote kau terus!” kataku
“ dan bukan hanya itu.. pemenangnya akan mendapat hadiah liburan ke hawaii selama seminggu!”
Kayla dan aku berseru girang. “ kau akan membawa kami kan, dad?” tanyanya. Kendall tertawa mendengar omongan kayla dan dia mengangguk. “tentu saja..” kata kendall.
“ oke, jadi aku harus sms untuk vote kalian atau..”
“ lewat situs.. kau bisa buka, nanti aku beritahu…”
“ aku akan suruh teman sekelasku juga semuanya untuk memvote daddy!” ujar kayla
“ yeah..” kendall tertawa, “suruh temanmu untuk memvote band daddy ya..” kayla mengangguk
“ kapan acaranya?” tanyaku
“ minggu depan.. semua punya kesempatan memvote sampai minggu depan..”
“ bagus! Kalau begitu aku harus tampil cantik, ke salon, ketoko baju, sepatu dan sebagainya untuk tampil diacara itu..” aku bersemangat. “aku juga mau!” kata kayla.
“ aku juga kalau begitu, dan kapan kau mau berbelanja? Biar aku dan yang lain juga sekalian berbelanja bersamamu..” kata kendall
“ hmmm, mungkin lusa? Atau hari minggu?” tanyaku
“ minggu kalau begitu.. aku akan memberitahu yang lain…” katanya lalu mengetik di handphonenya

*

Hari minggu pun tiba. Aku, kendall, kayla, logan james dan carlos pergi kesebuah pertokoan besar untuk berbelanja baju dan sebagainya. Saking senangnya, selama 5 hari ini aku tidak memikirkan tentang aku hamil atau tidak, dan aku juga tidak mengetestnya lagi. Kami sampai disebuah toko super besar, dimana menjual pakaian formal untuk lelaki dan wanita. Dibagi dalam dua lantai. Lantai pertama untuk perempuan, dan yang diatas untuk lelaki. Mereka juga menjual baju pengantin dan sebagainya. Kayla sudah hilang diantara deretan deretan baju dan sepatu, dia memang paling suka berbelanja baju. Aku masih memilih milih sementara kendall dan ketiga temannya sudah naik keatas.
Pelayan toko yang sudah menjadi langganan keluargaku datang untuk memberikan 2 gaun kepadaku untuk dicoba. Satunya berwarna merah selutut memakai tali yang diikat dileher dan satu lagi gaun berwarna hijau yang menutupi seluruh tanganku sampai bawah. Aku suka yang merah, jadi aku mengambil yang merah terlebih dahulu. Aku lalu menyusuri toko dan menemukan gaun berwarna putih, seperti yang biasa dewi-dewi yunani pakai. Berbahan flanel, tangan buntung, panjangnya menjuntai sampai bawah dan disekitar pinggan diberi aksesoris tali melingkar berwarna emas. Aku juga mengambil itu untuk dicoba. Aku lihat kayla sudah masuk ruang ganti. Aku masuk ruang ganti disebelahnya. Kucoba gaun merahku terlebih dahulu.
Setelah kukenakan gaunku aku membetulkan rambutku dan berkaca. Kayla tiba-tiba menyibakkan tirai dan melihatku. Dia sudah mengenakan gaun berwarna putih selutut dan terlihat sangat cantik ditubuhnya.
“ mom, aku tidak suka gaunmu..” katanya memandangku dikaca. Aku menoleh kearahnya.
“ aku juga.. btw, gaunmu bagus.. kau mau yang itu?” tanyaku. Dia mengangguk
“ oke sayang, tutup dulu tirainya- kau tunggu didepan. Aku mau mencoba satu baju lagi. Saat aku selesai, aku akan keluar dan aku meminta pendapatmu jujur, oke?” dia mengangguk lalu menutup tirainya.

*

*kendall point of view*
“ ini tux ketiga yang kucoba…” aku keluar dari ruang ganti dengan tux berwarna hitam bergaris pinggiran merah. Mereka semua mendesis tidak setuju ketika aku keluar. Aku melepas jasku dan duduk dikursi. Logan masuk keruang ganti.
“ aku tidak bisa menemukan apapun disini.. tidak ada yang terlihat bagus untukku..”
“ ini bagus untukku..” james sedang berkaca dengan tux hitamnya dan tersenyum narsis dikaca. Aku menggelengkan kepala.
“ ini, kau mungkin mau mencoba vest terlebih dahulu..” carlos memberikanku ves berwarna hitam, aku memakainya dan berjalan menuju kaca. Aku mengamati diriku dikaca. Lumayan, tapi aku nampak tidak berbentuk memakai vest seperti ini. Aku membukanya lagi dan menyerahkannya pada carlos. Dia sedang mencoba memakai kemeja putih dan menggulung lengannya.
“ aku tidak pernah berbelanja sendirian..” ujarku, “biasanya (yn) yang memilihkannya. Dan semuanya selalu aku suka..” kataku sambil duduk pasrah, carlos disebelahku duduk juga.
“ bagaimana menurutmu kemeja ini ditubuhku?” kata carlos
“ looking good..” aku tersenyum. Logan keluar dengan mengenakan vest hitamnya dan kemeja putihnya sambil berkacak pinggang.
“ aku agak susah bernafas memakai vest ini..” akunya, kami tertawa
“ mungkin aku harus diet..” ujarnya
“ ah.. kau terlihat oke logan, as always..” kataku. dia tertawa. Logan lalu berjalan kearah rak kemeja dan mengambil kemeja putih lalu tux berwarna putih dengan pinggiran hitam ditepian dada dan tangan, dan dasi kupu-kupu, ia menyerahkannya kepadaku.
“ pakai ini.. aku jamin akan bagus, percayalah..” katanya lalu menyerahkan semuanya kepadaku. Aku menghela nafas dan menerimanya. “terimakasih, aku coba dulu..” aku tidak punya pilihan lain. Aku masuk keruang ganti dan mencoba semuanya, lalu terakhir aku mengikat dasi kupu kupu-ku dan tersenyum kearah kaca. Aku keluar dan mereka semua melihatku tersenyum.
“ kau harus menunjukannya ke (yn)..” kata carlos, diikuti oleh anggukan senang yang lain.

*

Aku menyibakkan gorden dan aku keluar dengan pakaian ala dewi yunani putihku dan berkacang pinggang bak model didepan kayla. Kayla tertawa melihatku.
“ lady athena..” ujarnya sambil membungkuk dan memegang ujung roknya, mengembangkannya.
“ hello..” jawabku sambil ikutan membungkuk. Kami berdua tertawa.
“ mom, kau cantik sekali..” katanya senang, aku tersipu malu
“ menurutmu ini bagus?” dia mengangguk sambil mengacungkan jempolnya
Beberapa detik kemudian terdengar suara ribut dari tangga, aku menoleh dan melihat kendall- lengkap dengan tux putih dan dasi kupu-kupunya terperangah melihatku. Aku juga terperangah melihatnya. Dia memperlambat langkahnya untuk turun, aku memutar tubuhku menunggunya turun sambil tersenyum.
“ wow…” ujarnya ketika dia sudah didepanku
“ wow to you too..” kataku. kendall tertawa, dia membungkukan tubuhnya sama seperti kayla tadi, aku tertawa dan juga ikutan membungkuk kecil kearahnya. Kayla tertawa melihat kami berdua.
“ kau.. cantik.. sekali..” katanya pelan. Aku menyelipkan rambutku dibelakang telinga
“ kau juga..”
“ aku cantik?” godanya, aku mendorong bahunya sedikit.
“ sejujurnya, logan yang memilihkannya untukku. Kau tahu aku tidak bisa pilih baju..” katanya
“ yeah, sudah kuduga..” aku tertawa
“ ini yang akan kau kenakan?” tanyanya
“ well, ini yang akan kau kenakan?” aku berbalik bertanya. Dia mengangguk.
“ kalau begitu ya..” jawabku sambil mendekatkan diri kearahnya, berjinjit sedikit dan mencium kendall.

*

Aku duduk dikamar mandi, ingin menangis melihat testpack-ku. Aku tidak percaya atas apa yang aku lihat. Dua garis merah. Aku hamil. Aku bangkit dari dudukku dan keluar dari kamar mandi. Kulihat kendall masih tidur. Aku belum ingin memberitahunya soal ini, aku akan mengejutkannya nanti. Aku senang sekali. Ya Tuhan, aku benar benar menangis bahagia sesaat didepan pintu kamar mandi. Aku terisak pelan dan tertawa sendiri. Aku tidak mau membangunkan kendall pagi-pagi buta seperti ini.
Ini bermula saat hari rabu kemarin, saat kendall bilang dia masuk nominasi di grammy award. Aku mulai merasakan mual dan sebagainya. Aku berbicara kepada ibuku siangnya dan dia mengatakan mungkin hanya sakit. Mual ini kurasakan terus menerus, bahkan sampai saat minggu kemarin- ketika kami membeli baju. Maka, kuputuskan untuk berpikir positive dan aku mencoba testpack-ku beberapa hari setelahnya, hari ini. Kamis. Hari dimana grammy award diadakan. Sekarang masih pukul 4 subuh dan aku naik kembali keranjang. Aku mengamati wajah kendall yang sedang tidur. Aku tersenyum melihatnya, dan membayangkan reaksinya akan seperti apa ketika tahu aku hamil.

*

“mom, kau lihat sepatuku?” kayla teriak diatas saat aku sedang berbenah tasku dan mencari sepatuku
“ coba cari dirak sepatumu sayang..” balas kendall berteriak, tahu aku sedang kerepotan mencari sepatu
“ pakai sepatu putih saja..” kendall memberi usul
“ kendall, aku punya banyak heels putih dan aku tidak tahu apa yang akan aku pakai..”
“ aku bingung dengan kalian para wanita. Kalian punya berjuta juta sepatu dan masih tidak tahu apa yang harus kalian pakai dan lihat aku!” katanya sambil menunjuk sepatunya, aku ikutan melihat sepatunya. Sepatunya yang sama, favoritnya dari ayahnya sejak beberapa tahun lalu.
“ satu pasang, cukup..” katanya sambil mengambil tuxnya yang dia gantung, dia melipat dua tux yang masih dibungkus plastik dan tergantung itu disela tangannya lalu berjalan kedapur.
“ aha!” aku berteriak puas ketika berhasil mengambil kotak kedua dari bawah, sepatu yang aku duga ada disana dan akan perfect jika dipadankan dengan bajuku sekarang. Aku mengeluarkan pump heels 12cm ku lalu mengenakannya dan perlahan mencoba berjalan.
Kayla sudah turun dengan mengenakan gaunnya sambil menenteng sepatunya. Dia duduk disofa dan berusaha menjejalkan kakinya. Aku melihat kendall didapur sedang minum wine.
“ wow! Not wine, sir..” aku berjalan cepat lalu merebut gelasnya dari tangan kendall. Aku meneguknya sedikit dan kendall tertawa.
“ kau nervous?” tanyaku. Dia mengangkat bahu.
“ yeah…. Tidak…” jawabnya ragu. Aku merapihkan kerah kemejanya lalu menyentuh lengannya pelan.
“ you’ll be fine..” ujarku. Dia akan perform untuk pertama kalinya semenjak tour berakhir diatas panggung malam ini. Aku meraih tangannya dan mengajaknya berjalan keluar dari dapur. Kayla sudah mengenakan sepatunya dan siap pergi.
“ oke, let’s hit the red carpet..”

*

Aku turun dari limosin yang sengaja disiapkan untuk artis artis grammy. Carlos dan yang lain juga satu mobil bersama kami. Jepretan jepretan paparazzi sudah dimana-mana, dipinggiran sepanjang jalan red carpet. Kayla terlihat senang dia berjalan duluan. Diikuti logan yang menggandeng tangannya, lalu james dan carlos dibelakangnya- aku dan kendall berjalan paling belakang. Satu tangan kendall melingkar dipinggangku. Kami berjalan sementara jepretan kamera dan para fans memanggil dimana-mana. Logan dan yang lainnya sedang diinterview dan ada yang sedang menyapa fansnya. Kendall say hi sebentar dengan fansnya, sepanjang kendall berbicara bersama fansnya aku hanya tersenyum dan memamerkan gigi-gigiku. Aku tidak pernah melewati red carpet sebelumnya. Ini pertama kalinya untukku. Sering kulihat ditelevisi betapa menyenangkan rasanya berjalan disepanjang carpet tersebut, dan ya… menyenangkan- dan canggung untukku. Kayla berjalan disampingku, aku memegang tangannya dan setelah diinterview berkali-kali setiap langkah, akhirnya kami sampai pada gedung utama.
Aku menghela nafas. “wow, menyenangkan.. dan… sebenarnya jaraknya tidak terlalu jauh, tapi- kerumunan disekitar dan beberapa paparazzi sungguh membuatnya seperti traffic di new york..” ujarku saat kami sudah memasuki gedung dan berbelok memasuki ball room tempat acara diadakan.
Aku melongo dan terperangah saat kami memasuki tempat acaranya. Kau pernah melihat lapangan bola? Ya, dua kali lebih besarnya. Panggungnya sangat besar, mungkin setengah lapangan bola, dan didepannya disediakkan banyak kursi. Banyak artis berkeliaran, aku sepertinya melihat Justin Bieber dan beberapa artis lain yang tidak begitu kukenali, tapi mungkin itu Jason Mraz. Mungkin… dan Taylor Swift. Well, itu pasti dia.
“ (yn), ayo- bangku kita disebelah sana..” kata kendall sambil menuntunku untuk berjalan kekerumunan artis yang sudah duduk dibangku mereka dan aku berhenti.
“ oh my god, kendall- itu adam levine!!!” aku berbisik keras saat aku melihatnya
“ honey..” kendall mengingatkanku untuk tidak norak. Aku menghela nafas dan mengikutinya duduk, mataku masih menoleh memandangnya. Oh lord.
“ bisakah kita sekedar say hi padanya?” kataku berbisik. Kendall memutar bola matanya
“ later..” jawabnya, aku tersenyum dan mencium pipinya. Kayla sudah duduk disebelahku, diikuti logan carlos dan james. Disebelah james aku tidak begitu mengenalinya tapi kurasa itu………………….. entahlah.

*

Sudah sejam kami menunggu dan melihat performance begitu banyak artis. Dan saat kedua pembaca nominasi berjalan kedepan panggung sambil memegang trophy berbentuk mesin piringan hitam lama, kendall dan yang lain saling berpandangan karena mereka tahu, ini nominasi untuk mereka. Aku meremas tangan kendall saat nominasi dibacakan.
“ dan, pemenang untuk boyband paling legendaris tahun ini adalah..” sang artis perempuan membuka amplop. Ketegangan dimana-mana, aku juga bisa lihat wajah kendall mengeras.
“ BIG TIME RUSH!” teriak mereka kencang dan kendall meloncat dari tempat duduknya, juga carlos james dan yang lain. Aku ikut bangun dan memeluk mereka semua, begitu juga kayla. Kendall mencium bibirku sekilas lalu bersalaman dengan artis-artis lain dan mereka berempat jalan keatas panggung sambil berlari-lari dan terkadang melambai.
Begitu mereka sampai diatas panggung, kendall menerima piala tersebut dia menghela nafas dulu. Suaranya terdengar di mic dan wajahnya terpampang jelas ditv besar dibelakangnya dan diatasnya. Kayla naik kepangkuanku dan dia tersenyum senang sambil bertepuk tangan saat melihat kendall diatas panggung.
“ wow.. thank you guys, really..” kendall menghela nafas lagi sambil melirik teman-temannya dan pialanya
“ kami sangat senang menerima piala ini. Well, siapa yang tidak?” katanya diikuti oleh tertawaan kecil kerumunan artis yang lain.
“ oke, aku ingin berterimakasih kepada seluruh rusher didunia. Kalian sudah bersama kami, mensupport kami, sampai kami bisa seperti sekarang ini… dan terimakasih untuk teman-temanku juga, para manager, label rekaman kami…” katanya diikuti oleh anggukan yang lainnya.
“ dan terimakasih juga untuk istriku tercinta yang duduk disana, bersama dengan anak perempuanku, kayla..” kendall menunjuk kearahku dan kayla lalu tiba-tiba wajah kayla dan aku muncul dilayar, aku hanya tersenyum canggung sedangkan kayla melambai lambai senang melihat dirinya ada dilayar besar. Semua orang bertepuk tangan dan akhirnya mereka kebelakang panggung. Sebentar lagi mereka akan perform pasti. Dan… oh! Aku lupa menyampaikan berita pada kendall bahwa aku hamil. Ah, aku lemas dibangkuku. Aku sudah ingin bilang saat kami berjalan dired carpet td, tapi para fans dan wartawan terus-terusan menyapa kami dan akupun sampai lupa karenanya.

*

Mereka perform akhirnya diatas panggung membawakan lagu mereka yang lama, any kind of guy. Dan kulihat semua orang antusias mendengarkan. Begitu juga dengan kayla. Dia berjingkrak-jingkrak didekat kursinya. Saatnya acara penutupan dan tak lama kemudian acara selesai. Aku menghela nafasku saat balon-balon berjatuhan dimana-mana diantara penonton. Kayla menangkan balon berwarna merah dan dia memeluknya erat-erat. Aku membuka handphoneku dan dia mengirim pesan bahwa mereka ada diruangan sebelah- ruangan khusus untuk mereka. Aku mengenggam tangan kayla lalu keluar dari ruang utama dan pergi kebelakang mencari ruangan mereka.
Aku menyusuri pintu satu persatu. Didepannya ada bintang emas yg bertuliskan nama artis. Big time rush. Nah, ini dia ruangan mereka. Saat kubuka kulihat mereka sedang membuka botol wine dan saling bersulang atas kemenangan mereka. Managernya, juga produser label ada disana. kendall dengan botol wine ditangannya berjalan kearahku dan kayla. Dia memeluk pinggangku dengan satu tangan lalu menciumku.
“ selamat atas kemenanganmu..” kataku dia hanya tersenyum lalu melepas pelukanku dan menggendong kayla. Kayla menciumnya. Aku berbaur bersama yang lain, saling memberi salam dan selamat juga memberikan pelukan singkat kepada logan, james dan carlos. Logan mengambil sebuah gelas lagi dan menuangkan wine, lalu menyerahkannya kepadaku. Semuanya tanpa direksi membuat sebuah lingkaran besar.
“ untuk bertahun tahun bersama, melewati masa susah, masa senang, capai dan akhirnya semua terbayar juga….” Kendall mengangkat botol wine-nya, diikuti oleh semuanya yang ikutan mengangkat gelas mereka, aku juga ikut mengangkatnya.
“ cheers!” teriak kendall
“ cheers!” balas semua orang lalu kami menenggak wine kami dan berdesah. Mereka tertawa tawa dan saling bertukar cerita dan sebagainya. Kendall dan kayla mendekatiku, kayla masih memegang erat balon merahnya.
“ kau mau wine lagi?” tanyanya sambil menyodorkan botol yang ada ditangannya
“ tidak, aku cukup..” kataku sambil menunjuk sisa wine digelasku yang masih ada. Dia menepi kesebelahku, menaruh kayla dilantai dan merangkulku- kami dipinggiran ruangan memperhatikan yang lain duduk berjoget dan bercanda gurau. Kayla ikutan masuk kedalam kerumunan tersebut dan duduk dipangkuan logan yang nampaknya sedang bercerita.
“ siap siap mulai besok rumah kita bakal dibanjiri paparazzi..”
“ besok?” kendall mengangguk
“ pop tiger, people, dan mungkin kalau beruntung, ellen dan oprah akan mengundang kami keacaranya..” ujarnya. Wow. Kalau sampai oprah mengundangnya, itu akan sangat besar!
“ seberapa besar kau yakin kau diundang keacara oprah?” tanyaku
“ cukup besar.. tinggal tunggu telpon saja..”
Aku berencana ingin memberitahunya malam ini kalau aku sedang hamil. Tapi begitu mendengar ada kemungkinan besar dia akan ada diacara oprah, aku akan menunggunya. Dan siapa tahu kalau memang benar-benar dipanggil keacara oprah, aku akan memberitahunya didepan semua masyarakat.

*

Beberapa hari kemudian telpon dari oprah pun datang. Dan rumah kami memang ramai oleh para wartawan dan sebagainya. Aku menghabiskan siangku saat kendall dan yang lain diinterview diruang tamu untuk muntah dikamar mandi. Aku mengurut dadaku. Aku belum memberitahu Kendall sama sekali mengenai hal ini, dan dia tampaknya juga tidak curiga. Hanya saja belakangan ini aku ingin sekali makan ikan, dan setiap makan- sehari-harinya pasti ada ikan, walau hanya untukku doang. Aku mengelap mulutku lalu keluar dari kamar mandi dan turun kebawah. Aku lihat dari tangga para wartawan sudah mulai hilang dan hanya keempat lelaki itu sedang duduk mengobrol disofa.
“ bagaimana kabar (yn)? Apakah dia sudah mengandung?” kudengar sayup-sayup logan berbicara
“ aku tidak tahu.. kurasa belum.. dia tidak mengatakan apa-apa..” kata kendall. Aku duduk ditangga mendengarkan pembicaraan mereka.
“ I’m sorry man. Aku berharap istrimu akan mengandung..” kata carlos sambil menepuk bahu kendall
“ yeah…” kata kendall pelan, “mungkin belum waktunya..”
Aku nyengir sendiri mendengarnya. Dia akan sangat senang kalau aku beritahu nanti. Dan lusa, mereka akan hadir diacara talkshow oprah, aku akan mengejutkannya dengan mengumumkannya secara publik.

*

Kami sudah sampai distudio untuk wawancara big time rush di oprah kali ini. Aku ijin kebelakang sementara mereka sedang berias dan memilih baju untuk tampil. Kayla memilih tinggal bersama ayahnya diruang ganti. Aku berjalan kebelakang dan aku ingin mencari oprah-aku ingin memberitahu rencanaku. Aku menyibakkan gorden belakang layar dan kulihat dia sedang meminum kopinya sambil membaca skriptnya. Aku maju perlahan dan berdehem.
“ selamat sore, nyonya winfrey..” sapaku, dia menegakkan kepalanya dan memandangku tersenyum ramah. Dia menaruh skript dan kopinya lalu menghampiriku. Aku tidak percaya aku melihatnya langsung didepan mataku. Wanita dan pembawa acara paling terkenal didunia, dan wanita paling berpengaruh didunia ada didepan mataku dan tersenyum kepadaku.
“ hai, aku istri dari kendall schmidt.. big time rush! Yang akan kau wawancarai beberapa menit lg..”
“ hallo, kau terlihat cantik..” ujarnya ramah, aku tersenyum malu
“ begini, aku ingin sekali kalau boleh- memberikan kendall kejutan didepan umum, diacaramu mungkin kalau boleh hari ini…” dia mengerutkan alisnya
“ kau mau memberinya kejutan?” aku mengangguk
“ aku sedang mengandung..” kataku, dia mengangguk-ngangguk menunggu aku berbicara
“ kendall belum tahu..”
“ woa, apa ini anak kendall?” dia bercanda dan tertawa aku juga ikutan tertawa
“ yes, maam..” jawabku. “lanjutkan..” katanya ramah.
“ kendall belum tahu kalau aku sedang hamil.. aku ingin memberitahunya hari ini, kalau boleh diacaramu- saat sebelum closing..” kataku, oprah mengembangkan senyumnya
“ aku dan kendall sangat mengharapkan bayi ini, maam.. izinkan aku, kumohon?” dia berdehem sebentar lalu memandangku hangat.
“ oke, aku rasa aku akan mengundangmu keatas panggung kalau begitu..” aku memekik girang. Aku refleks ingin memeluknya tapi tidak jadi, aku hanya menutup mulutku senang, tapi oprah membuka tangannya lebar dan mengisyaratkan aku untuk memeluknya, aku pelan pelan maju untuk memeluknya erat, dan dia tertawa.
“ terimakasih, maam..”

*

Aku menunggu dengan gelisah dibalik layar, melihat percakapan mereka berjalan selama satu jam kurang, mereka bernyanyi dan sebagainya. Kayla duduk tenang disofa yang ada sambil memainkan psp milik kendall yang biasa dimainkan oleh kayla. Aku meremas-remas tanganku gelisah. Ini hampir segmen terakhir, dan aku akan maju untuk mengumumkannya.
“ kendall, setelah mempunyai kayla… dan dia sudah berumur 7 tahun, apa kau dan istrimu tidak berencana memiliki anak lagi?” tanya oprah yang kudengar melalui televisi kecil. Aku tersenyum melihat kendall tersenyum saat ditanya.
“ yeah, well- kami berusaha..” katanya, lalu melihat kearah penonton, “Setiap malam, kalau kalian mau tahu- tanpa absen..” ujarnya polos yang membuat semuanya tergelak, aku menggelengkan kepalaku merasa malu.
“ tapi mungkin aku rasa belum waktunya..” wajah kendall disorot dan aku bisa melihat raut wajah kecewa dimukanya. Aku ikutan iba melihatnya.
“ seberapa besar kau ingin mempunyai anak lagi?” tanya oprah sambil memandang kendall serius
“ kalau kau mau tahu seberapa besar rasaku ingin punya anak, begini kuilustrasikan..” dia membetulkan posisi duduknya. Aku meremas tanganku lagi menunggu jawaban kendall. Kayla masih asik bermain dengan pspnya.
“ kau pernah merasa menginginkan sesuatu amat sangat? Kalian pernah menginginkan sesuatu amat sangat?” kendall berbalik bertanya kepada para penonton, para penonton mengangguk.
“ kalian punya uang yang cukup untuk membeli apapun yang kalian inginkan, tapi kalian hanya ingin satu barang itu..” kata kendall, dia berdehem sebentar, “kalian punya semua barang diseluruh dunia. Apapun yang kalian inginkan sudah kalian capai, tapi satu ini- kalian belum bisa capai sampai sekarang..” dia diam sebentar. “ bagaimana rasanya?” dia bertanya pelan. Satu studio diam, dan kulihat wajah kendall mengeras memandang penonton dan wajahnya dishoot dekat satu layar.
“ seperti itulah bagaimana besarnya aku ingin punya anak lagi..” tambahnya pelan. Para penonton masih diam, entah berpikir atau terpukau aku tidak tahu. Aku melihat wajah kendall sudah agak mengendur dan dia menyandarkan tubuhnya kembali kesofa, seperti tidak apa-apa dan tersenyum kearah Oprah. Oprah bertepuk tangan, dan mengajak audience bertepuk tangan bersama.
“ oke, sebelum saya berpamitan- ada seseorang yang ingin saya undang naik keatas panggung..”
Aku buru-buru bangkit berdiri dan merapihkan bajuku. Salah satu orang belakang panggung membimbing aku melewati lorong yang agak panjang dan aku masuk area panggung. Semua orang bertepuk tangan riuh. Kendall bangkit berdiri kaget melihatku, dia menghampiriku dan menggenggam tanganku.
“ MRS. SCHMIDT EVERYBODY!” kata Oprah antusias saat aku dan kendall berpegangan tangan dan bertepuk tangan diikuti tepuk tangan riuh dari penonton.
“ (yn) apa yang kau lakukan..”
“ kendall, aku harus memberi suatu pengumuman dan aku mau semua orang dengar langsung dari mulutku..”
“ kau mau cerai?” kendall bercanda dan satu studio tertawa keras, kulihat oprah juga tergelak sedikit. Carlos james dan logan memandang kearah kami serius.
“ bukan..” kataku tertawa, aku membimbingnya mengikutiku kedepan. Kamera semua menyorot aku dan kendall.
“ kendall… semuanya..” kataku sehabis menghadap kendall, lalu penonton dan kamera
“ aku sedang mengandung anak kedua kami..”
Semua orang bertepuk tangan riuh dan bersiul kencang, kendall melongo lalu dengan reflek dia memelukku erat sampai aku terangkat dari lantai. Carlos james dan logan ikutan bangkit berdiri, begitu juga oprah, dia sudah berdiri dari duduknya.
“ kau mengandung?” aku mengangguk. Dia menempelkan hidungnya kearah hidungku dan tersenyum girang sekali seperti anak kecil. Aku memeluk pinggangnya. Ketiga temannya mendekati kami dan memberi selamat kepada kami, dan memeluk aku juga kendall- begitu juga dengan oprah. Penonton masih bertepuk tangan riuh.
“ kenapa kau tidak memberitahuku tadi pagi?”
“ aku sudah hamil saat kau mendapat penghargaan kendall..”
“ hah?” aku tersenyum menggodanya. Dia memelukku lagi dan mencium bibirku didepan publik, penonton makin riuh bertepuk tangan. Oprah tertawa melihat kami
“ Selamat untuk kehamilan anak kedua kalian… THE SCHMIDT EVERYBODY!” Oprah mengajak audience bertepuk tangan lagi. Lalu lagu ‘music sounds better with you’ berkumandang dan mereka mulai bernyanyi. Kendall merangkulku sepanjang dia bernyanyi, dia tidak ikut berjoget, dan sesekali tidak bernyanyi karena dia sibuk menciumku dan tertawa.
“ everything’s better with you..” kata kendall menyanyikan lirik terakhir lalu mencium pipiku lagi

*

*9 bulan kemudian*

“ IT’S THE ONLY LIFE YOU GOT SO YOU GOTTA LIVE IT BIG TIME!”
Lampupun redup dan para penonton berteriak dan perlahan bubar. Aku dengan susah payah bangkit dari dudukku, kayla membantuku untuk berdiri. Aku dan kayla menghadiri konser big time rush untuk promo album terbaru mereka dan acara sudah selesai. Sepanjang konser aku hanya duduk dan bernyanyi, tidak bisa seperti dulu- sambil berjingkrak jingkrak karena kandunganku sudah besar dan bulat sekali, mungkin sebentar lagi aku akan melahirkan. Dan aku harap bukan sekarang.
Kayla menuntunku untuk kebelakang panggung, aku berjalan pelan pelan karena sakit sesekali kurasakan bayiku menendang nendang. Kulihat kendall dan yang lain sedang berkumpul membuat lingkaran dan setelah mereka menyatukan tangan mereka dan berteriak mereka bertepuk tangan, saling menjabat tangan dan sesekali memeluk satu sama lain lalu bubaran.
Kendall berbalik dan tersenyum ketika melihatku. Dia berlari kecil kearahku dan kayla berlari kepelukannya. Kendall menggendong kayla lalu menciumku.
“ terimakasih sudah datang.. dengan kondisimu seperti ini, seharusnya kau diam saja dirumah..”
“ ah aku tidak apa-apa.. wanita hamil memang seperti ini..” aku tersenyum
“ mom apakah sakit?” tanya kayla sambil menunjuk perutku
“aku tidak apa-apa sayang..” kataku sambil mencubit pipinya. Kendall menurunkan kayla lalu berjongkok untuk berbicara dengan perutku.
“ hello, kau bisa dengar aku? Ini aku lagi, ayahmu- kendall schmidt oke.. saat ini daddy sudah selesai konser, dan lihat mommy- dia membawa untuk melihat daddy..” ujarnya dengan suara anak kecil. Aku dan kayla tertawa mendengarnya. Kendall lalu mencium perutku, “aku tidak sabar menunggumu keluar..” ujarnya, kayla ikutan mencium perutku, “aku juga..” sambung kayla. Kendall mengusap kepala kayla dan dia berdiri tegak lagi.
“oh oh.” Wajahku pucat dan aku mulai mual lagi, aku bersandar kepada kendall
“ kendall, my water just broke..”

*

Aku dibawa menggunakan ranjang jalan sepanjang koridor rumah sakit. Kayla bersama dengan kedua orangtuaku dan orangtua kendall. Kendall bersamaku sepanjang koridor, aku menahan rasa sakitku, kugenggam tangannya erat-erat.
“ kendall, aku tidak kuat…”
“ honey, you can do it.. okay…” dia memandangku iba melihatku menangis sambil meringis merasakan sakit yang amat sangat saat kontraksi. Kami sampai diruang operasi. Kulihat kayla dan kedua orangtuaku juga orangtua kendall mengikuti kami dibelakang tapi tidak boleh ikut masuk keruang lahiran. Dokter sudah ada disana. mereka langsung membawaku ketengah ruangan dan dokter sudah berada didepanku.
“ oke, mrs.schmidt… tarik nafas dalam-dalam..” aku melakukannya masih sambil menahan sakit dan berteriak saat kontraksi datang lagi. Kubuka kakiku selebar-lebarnya. Kendall disebelahku memegang tanganku erat sambil memberikan aku support.
“ lakukan lagi, nyonya.. ayo…”
“ kendall, aku tidak bisa lagi..”
“ kau bisa sayang, ayo… demi anak kita.. demi kita..”
“ eeeerghh!” aku mendorong lagi dengan sekuat tenaga, kuremas tangan kendall dan pinggiran ranjang erat erat. Aku menangis kencang karena rasa sakitnya.
“ ayo nyonya, dorong lebih kuat lagi…”
“ kau diam!!!” aku membentak kesal pada dokternya, dokternya kaget tersentak tapi dia tidak mengubrisku, malahan dia menyuruhku untuk menarik nafas dan mendorong lagi. Mungkin sudah banyak kejadian dia dibentak seperti ini. Aku mendorong lagi dengan sekuat tenaga dan berteriak, aku bisa mendengar suaraku melengking tajam diudara dan kendall masih memberikanku support.
“ ayo nyonya, kepalanya sudah hampir keluar..” kata sang dokter
“ ayo sayang, kau bisa..” kendall mengelap keringat diseluruh leher dan wajahku lalu aku mengambil napas dan mendorong lagi dengan sekuat tenaga, aku menangis kesakitan saat melakukannya. Aku berteriak sekuat tenaga.

“ ayo nyonya, sekali lagi, dorongan yang kuat..” sang dokter menyemangatiku
“ kendall aku tidak bisa lagi..”
“ tidak tidak dengar aku..” kendall menghardikku keras saat ini, air mataku masih berlinang memandangnya terisak. “sekali lagi sayang, dorong sekuat tenaga, aku berada disisimu oke? Ini untuk kita..” aku memandang matanya yang hijau yang memandang penuh harap kepadaku.
“ sekali lagi?” aku bertanya, dokter itu dan kendall sama-sama mengangguk
“ yang kuat..” tambah dokternya
“ ayo sayang, kau bisa..” aku menghela nafas dan mencengkram tangan kendall kuat-kuat lalu mendorong lagi sekuat tenaga, aku mendorongnya lagi- lebih kuat daripada sebelumnya dan aku tidak tahan, rasa sakitnya sangat sakit dan aku menangis kencang sambil berteriak kesakitan.
“ oek… oek…” terdengar setelah itu suara bayi menangis saat aku terakhir mendorong dan menangis. Aku membaringkan kepalaku dibantal dan melepaskan cengkraman tanganku. Didepanku kulihat bayi merah yang masih penuh darah diangkat dan buru-buru dibersihkan oleh suster dan dibawa keluar sebentar untuk dibersihkan. Aku menangis terisak-isak dan tersedu-sedu saat bayiku sudah keluar dan aku menatap kendall.
“ aku bisa..”
“ yeah..” kendall mencium keningku
“ oh kendall, aku pikir aku akan mati..”
“ jangan konyol, kau baik-baik saja…” kendall tersenyum bahagia sampai sampai ia menitikkan air mata
“ well, selamat nyonya dan tuan schmidt, kau melahirkan bayi lelaki yang sehat..” kata dokter itu tersenyum
“ terimakasih dok, maaf tadi aku berteriak kearahmu..” kataku malu
“ ini bukan pertama kalinya, nyonya..” dia tersenyum kepada kami lalu meninggalkan ruangan
Aku bernafas lega dan memandang kendall.
“ aku tidak mau melahirkan lagi..”
“ sesakit itukah?”
“ jangan banyak bicara kendall..” kendall tertawa mendengarku. Tak lama suster masuk dan mereka ingin memindahkanku kekamar inap. Aku melihat orangtua kami menangis terharu melihatku. Aku hanya melambai lemas kearah mereka. Kendall dan kayla disampingku saat aku dibawa memakai ranjang menuju kamar inap.
Sesampainya disana, sudah ada suster yang memegang bayi. Dan itu adalah bayiku, sudah diselimuti rapih dengan kain berwarna biru mudah dan kelihatan sangat rapuh. Aku duduk diatas ranjangku dan suster itu memberikan bayinya, dia tersenyum dan memberikan ucapan selamat lalu meninggalkan kami semua. Aku tertawa kecil melihat wajah bayi lelakiku. Ia terlihat sangat kecil, matanya belum terbuka- masih segaris dan hidungnya mancung mirip kendall. Tapi rambutnya hitam, seperti aku. Kedua orangtua kami mendekat dan melongok melihat bayiku. Ibuku bersandar didada ayahku yang memeluknya dan kulihat ibu kendall menutup mulutnya menahan rasa ingin menangis. Kendall duduk disebelahku dan kayla ada disebelah ibuku mengintip. Kendall mengelus pelan pipi bayinya dan dia tersenyum senang.
“ dia tampan..” mama schmidt berkomentar saat dia sudah bisa mengontrol air matanya
“ seperti anakmu, mama schmidt..” kataku tersenyum. Mama schmidt lalu mencium pipiku senang dan papa schmidt melongok melihat bayi kami dan tersenyum. Ibu dan ayahku mendekat untuk menciumku. Ibuku menciumku terharu lalu dia menatapku dalam.
“ aku senang kau melahirkan dengan sempurna..” katanya sambil berlinang air mata
“ mom..” aku tidak bisa berkata lagi. Ayahku berdiri disamping kendall dan merangkul bahunya
“ selamat menjadi ayah lagi, kendall..” katanya. Kendall tertawa kecil dan mengangguk. Kayla tersenyum kearahku lalu maju, kendall menggendongnya perlahan lalu meletakannya dipangkuannya. Kayla tertawa melihat sang bayi, dia menoel pipinya takut takut lalu buru-buru menjauhkan tangannya. Aku tertawa melihatnya.
“ kau mau menggedongnya, mom?” tanyaku. Mom melihat kearah mama schmidt, dan mama schmidt mengangguk- mengijinkannya untuk menggendong cucu keduanya terlebih dahulu. Aku dengan perlahan mengoper bayiku dan ibuku dengan hati hati menerimanya. Dia terisak saat dia menimang bayi itu. Mungkin teringat bagaimana dia menimangku dahulu.
“ hai… aku nenekmu, tampan..” katanya pelan. “dan ini kakekmu..” katanya sambil melirik kearah ayahku. Ayahku tersenyum. “kalau kau besar nanti, aku akan mengajarimu bermain bola, oke?” kata ayahku dan semuanya tertawa kecil mendengarnya. Ibuku menimang-nimang sebentar bayiku lalu memberikannya kepada mama schmidt. Mama schmidt menerimanya hati-hati lalu dia mendesah melihat cucu lelakinya ini. Dia terharu dan mengusap pipi cucunya sedikit dan setelah menimang-nimang, dia memberikannya lagi padaku.
“ berikan pada kendall..” kataku saat mama schmidt ingin memberikannya kepadaku. Kendall menurunkan kayla dari pangkuannya dan membetulkan posisi duduknya. Dia menerima bayinya perlahan lalu membetulkan posisi gendongannya. Dia menghela nafas saat menerima anak keduanya. Dia tersenyum memandangi bayi lelakinya lama dan menimang nimangnya sedikit.
“ hallo..” ujarnya pelan. Aku menatapnya. “hai, dengar… ini aku ayahmu oke, kendall schmidt..” ujarnya. “aku akan membuatmu menjadi anak paling bahagia didunia ini, oke..” ujarnya lagi. Aku iba mendengar dia bicara, mataku mulai berkaca-kaca. Aku membaringkan kepalaku dibahunya agar bisa melihat wajah bayiku.
“ kita akan menghabiskan waktu bersama.. banyak sekali waktu bersama… dengan ibumu, kedua kakek nenekmu, dan kakakmu- kayla..” kata kendall. Dia kelihatan susah berkata-kata selama beberapa detik. Hanya nafasnya saja yang kedengaran.
“ dan..” dia berdehem, “kau tidak tahu seberapa senangnya aku ketika kau lahir kedunia ini…” kendall kehilangan kata-katanya lagi. Aku mengelus lengannya pelan, kayla mendempetkan tubuhnya kearah ibuku.
“ kau tidak tahu seberapa senangnya…. Aku….” Kendall kehilangan kata-katanya dan dia menangis pelan dan tertawa seketika
“ kami sayang padamu…” dia tidak meneruskan perkataannya, dan memandang aku dan sekeliling
“ kenapa?” tanyaku
“ kita belum memberinya nama..” kata kendall. Dia memandang ayah dan ibuku juga kedua orangtuanya
“ kalian sudah menyiapkan nama?” tanya mama schmidt. Aku menggeleng lalu melihat kearah kedua orangtua kami dan mereka juga menggeleng.
“ kendall, kau yang beri nama..” kataku. kendall menghela nafas dan dia kelihatan berfikir. Lalu dia berdehem..
“ kami sayang padamu, Nathan..” ujarnya. Nathan. Nama inilah yang dipilih oleh kendall dan saat menyebutkan namanya dia melihat kearah kedua orangtua kami yang setuju lalu kearahku. Aku mencium bibirnya dan tersenyum.
“ aku suka nathan…” kataku sambil mengelus wajahnya. Kedua orangtua kami dan juga kayla tersenyum. Kayla maju kearah kami dan berdiri disebelah Kendall. Dia tersenyum melihat Nathan. Aku memandang nathan lagi dan merebahkan kepalaku dibahu kendall lagi. Kendall masih menggendongnya dan mengelus pipinya sesekali. Dia senang sekali, aku bisa lihat dari raut wajahnya.
“ you’re gonna be a great dad figure again..” bisikku, dia menoleh
“ we..” dia mengoreksi.. “are gonna be a great parent figure again for our kids..” katanya lalu dia mencium bibirku.

#END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar