Pernahkah aku
merasakan jatuh cinta? Jawabannya adalah tidak.
Aku adalah anak
perempuan yang paling aneh, begitulah setidaknya kata kakak perempuanku, Naomi.
“Kau ini wanita, masa
iya tidak ada satupun cowok yang kau taksir?” tanyanya setiap kali aku hanya membaca buku atau menonton televisi
bersama mum saat hari Jumat malam sementara dirinya selalu keluar berpesta
dengan para senior yang tampan.
Jawabanku biasanya
hanyalah mengangkat bahu, atau hanya memandangnya beberapa saat dari atas
kebawah, berusaha memberikannya tatapan sejijik mungkin kearahnya dan melengos
begitu saja sampai akhirnya Naomi memutar bola matanya dan berhenti
mengangguku.
Biasanya setelah itu,
mum hanya menoleh kearahku dan berkata, “Kalau kau ada acara pergi dengan
temanmu atau para lelaki, pergilah..” kata mum dengan senyum paling tulus yang
aku pernah lihat.
“Mum, aku tidak akan membiarkan mum sendirian..” ujarku
biasanya sambil menggenggam kedua tangannya. “Aku tidak akan membiarkanmu
sendirian, ayo kita nonton acara model yang terkenal itu. Siapa jagoanmu yang pirang itu?”
“Tifanny..”
“Oh ya,
Tifanny..”jawabku. aku benci dia, tambahku dalam hati.
[]
Seperti hari sekolah
biasa, Naomi dan aku pergi bersama-sama kesekolah. Aku agak risih sebenarnya
harus satu sekolah dengannya. Kebanyakan orang membandingkan kami. Disetiap
awal semester aku selalu mendengar “Oh, kau adik Naomi? Benarkah?” ugh.
Maksudku, aku tahu aku tidak seperti dia. Mengenakan make-up dan sepatu hak tinggi,
juga baju-baju berbelahan pendek yang bisa membuat para lelaki melihatmu tanpa
berkedip, tapi setidaknya aku tidak usah mengulang kelas aljabar tahun ini
seperti Naomi yang membuat dirinya satu kelas denganku tahun ini. Haha- aku
akan mempermalukannya.
“Oke, Haley- dengar,
kita tidak bicara dikelas. Kau tidak tahu siapa aku dan aku tidak tahu siapa
kau..”
“Tapi semua orang
tahu aku ini adikmu, dasar idiot..”ujarku datar. Naomi mengulum bibirnya
sendiri.
“Seperti orang ingat
kau saja—“ jawabnya sambil mengibaskan tangan lalu berjalan mendahuluiku
dikoridor. “Pokoknya, duduklah menjauh dariku—“ dia hanya menoleh sedikit
sambil mengatakannya lalu berlalu. Aku berdiri sendirian didepan pintu masuk
berusaha untuk mengatakan kepada diriku bahwa semua akan baik-baik saja. Aku
yakin, tidak.
Aku berjalan kedepan
loker baruku ditahun keduaku di sma dan mengelusnya. Cat-nya masih baru,
berwarna abu-abu muda dan ada nomor ‘23’ didepannya. Aku membuka lokerku
tersebut dengan kunciku dan isinya masih kosong, jadi kumasukan beberapa buku
dan bawaanku. Setelah itu aku hanya membawa beberapa buku hanya untuk pelajaran
pertama sampai istirahat makan siang.
“Oh astaga. Bisakah
aku mengganti jadwalku dengan kelas olahraga dihari pertama ini? Sungguh deh,
matematika?” aku mendengar dari kejauhan seorang anak lelaki mengomel dengan
gayanya yang serampangan kepada kepala sekolahku. Aku memperhatikan mereka
tanpa aku sadari. Si anak lelaki terus menerus menunjuk-nunjuk jadwal kelas
yang dipegangnya dan menuntut untuk menukar jadwalnya. Sang kepala sekolah
berkacak pinggang menjelaskan bahwa kelas sudah ditetapkan dan tidak bisa
diganti. Wajahnya sudah kelihatan tidak sabar, dan aku yakin beberapa menit
lagi jika anak lelaki itu tidak berhenti mengoceh, dia akan terkena hukuman.
“Tukar saja jadwalku
dengan siapapun. Demi Tuhan, aku tidak mau masuk kelas matematika! Setidaknya
tidak pada hari pertamaku! Ini tidak—“
“Jika aku mendengar
suaramu lagi berteriak kepadaku, kau akan terkena hukuman sepulang sekolah Tuan
Meyers!”Wow. dia benar-benar sudah jengkel rupanya dengan anak lelaki itu.
“Aku tidak
berteriak..” si lelaki itu memelankan suaranya, aku tak sengaja terkikik kecil,
dia berteriak sepanjang dia bicara sedari tadi- dan dia kelihatan agak takut
sekarang. “Aku hanya ingin minta kelasku dipindahkan. Bukankah siswa berhak
mendapatkan hak-nya untuk belajar dan menimba ilmu disekolah ini, Pak? Nah, aku
meminta hak-ku..”Sang kepala sekolah memijat keningnya, upaya-nya mengancam
untuk menghukum anak lelaki itu kelihatannya sia-sia. Entah mengapa aku jadi
tertarik. Aku bersandar dilokerku sambil mendekap buku-buku-ku dan
mendengarkan.
“Austin Jonathan
Meyers, ya- sebagai siswa anda berhak mendapat hak, tapi ini juga hak dari
sekolah untuk membuatmu tetap tinggal dikelas matematika pada jam pertama.
Percayalah, satu jam dan setelah itu kau bisa kekelas selanjutnya, yaitu kelas
yang kau mau, olahraga-“ aku mengecek kelasku. Olahraga adalah kelas kedua-ku
hari ini. Aku satu kelas dengannya.
“Aku mengerti hanya
berbeda satu jam, Pak- tapi ini masih pagi dan menurut yang aku tahu, olahraga
sangat penting dilakukan sebelum melakukan aktivitas lainnya..”
“Cukup!”Kepala
sekolah berteriak agak keras sehingga membuatku dan seluruh orang yang ada
disekitar kami menoleh dan tersadar bahwa dirinya dan lelaki itu ada diantara
mereka sedari tadi. Lelaki itu agak terlonjak dan terkejut. “Jika aku mendengar
satu kata lagi keluar dari mulutmu, maka kau akan bertemu denganku sepulang
sekolah Tuan Meyers. Ini hari pertamamu disekolah ini dan kau kira kau bisa seenaknya
saja mengatur apa yang sudah aku lakukan dengan sekolahku dan kurikulumku
selama bertahun-tahun?”lelaki itu terdiam, tapi wajahnya masih menatap sang
kepala sekolah dengan keras.
“Aku hanya meminta
hak-ku, pak..”
“Laksanakan dahulu
kewajibanmu kalau begitu. Masuk kekelas matematika, dan setelah itu kau bisa
olahraga- seperti yang ada dijadwalmu..”lelaki itu hanya menatap datar kertas
jadwal yang ada ditangannya. Bel sudah berbunyi dan aku terlonjak saat
mendengarnya. Rupanya aku terlalu asik memperhatikan mereka. Astaga, aku
benar-benar tidak punya kehidupan. Kulihat sang kepala sekolah akhirnya
membiarkan lelaki itu berdiri disana sendirian dan dia masuk keruangannya.
Orang-orang mulai sibuk mengambil buku mereka masing-masing dan mulai
berhamburan masuk kedalam ruangan kelas. Aku masih seperti terhipnotis ingin
tahu apa yang dipikirkan lelaki itu, diam sana, bersandar pada lokerku. Apakah
dia marah? Aku tidak terlalu pandai membaca mimik wajah seseorang. Kulihat dia
hanya memasukan kertas jadwal tersebut kedalam salah satu buku yang dibawanya
lalu membetulkan letak ranselnya dan mulai berjalan dengan enggan.
Aku masih tidak sadar
saat dia berjalan menuju kearahku sampai akhirnya dia melihatku sekilas dan
berhenti, tepat didepan wajahku.
“Menurutmu apa yang
akan kulakukan sekarang?” tanyanya tiba-tiba saat berada didepanku. Aku
mengerjap dan diam beberapa saat, terlalu terkejut untuk bergerak dan membuka
mulut. Aku hanya berdiri tegak disana dan menggigit bibir bawahku.
“Apa?”tanyaku masih
dengan suasana bingung.
“Kau mendengarkan
sedari tadi, aku melihatmu dari sudut mataku—“ dia menunjuk sudut matanya
sambil tersenyum jahil. “Jadi, bagaimana menurutmu- aku harus apa?” katanya.
“Ke..” aku berdehem
karena leherku tercekat. Apa yang aku lakukan? Aku sudah terlambat menuju kelas
pertamaku. “Kenapa kau bertanya kepadaku?”
“Karena kau terlihat
pintar- dan, kurasa kau sedikit peduli, karena kau mendengarkan perdebatanku dengan
Simon tadi-“ dia bahkan tidak memanggilnya dengan kata ‘Pak Simon’ astaga.
“Kau salah. Aku hanya
bosan..” jawabku datar. Dia mengangguk dan tersenyum menatapku.
“Bosan ya?”tanyanya.
aku mengangguk. Dia maju kearahku dan menunduk untuk menatapku lebih jauh. Ya
Tuhan, dari jauh dia terlihat biasa, tapi begitu sedekat ini, dia…
“Kau masih bosan
sekarang?”aku mengerutkan dahiku. “Karena, kau masih disini- sementara kelas
jam pertama sudah dimulai. Dan oh- sepertinya kau terlambat.. Lihat!”dia
menyodorkan jam tangannya kearahku. Seketika aku tersadar. Aku membelakakan
mataku dan berlari tanpa bilang apa-apa padanya.
“Sampai bertemu di
kelas hukuman nanti!”teriaknya. Kudengar dari belakangku dia tertawa. Sialan,
dia menertawaiku. Oh lebih menyebalkannya lagi, aku terlambat dihari pertamaku.
[]
Hukuman sepulang
sekolah. Brengsek, Naomi menertawaiku habis-habisan karena ini pertama kalinya
aku kena hukuman sepulang sekolah. Dan ini adalah hari pertamaku. Astaga. Bisa
kubayangkan dia pulang kerumah dan mengadu pada ibuku bahwa aku kena hukuman.
Dan tidak kemungkinan dia akan mengarang cerita mengapa aku bisa dihukum. Hah,
mum akan memarahiku- itu sudah pasti. Aku tidak mau mengecewakan mum.
Semenjak dad
meninggalkan mum untuk wanita lain yang lebih muda 2 tahun yang lalu aku
berjanji pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan pernah meninggalkan mum,
sedikitpun dan tidak akan pernah walau sekecil apapun membuat mum kecewa. Mum
wanita yang kuat, dia sudah tahu dad berselingkuh semenjak beberapa tahun yang
lalu dan memutuskan untuk berusaha tegar dan tidak peduli demi aku dan Naomi.
Aku dan Naomi
berhutang besar pada mum- karena itulah aku berjanji pada diriku sendiri bahwa
sebisa mungkin setiap hari aku menemaninya disetiap aku ada kesempatan, walau
aku lelah sekalipun.
“Dan kau terlambat
lagi, Haley-“ suara Thomas, guru jaga hukuman sepulang sekolah hari ini di
perpustakaan membuatku ingin berteriak kesal, tapi aku hanya berlalu dan
mencari tempat duduk terdekat. Thomas mendekatiku dan memberikanku sehelai
kertas penuh soal yang kurasa harus kujawab sebelum kelas ini selesai.
Entahlah, aku tidak pernah mengalami kelas hukuman.
“Kerjakan dengan
tenang, Nyonya Lydia yang akan mengawasi kalian..” aku melirik kearah Lydia,
perempuan paruh baya penjaga perpustakaan kami dan tersenyum. Tidak masalah,
aku kenal dengannya. Thomas meninggalkan ruangan. Kulihat sekeliling ada
sekitar 10 anak yang ada. Bagus, aku berada didalam daftar 10 anak ternakal
disekolah ini. Lydia membaca dengan tenang buku sejarah yang dipangkunya, sama sekali
tidak memperdulikan kami.
Aku mulai membaca
soalku dan tersenyum. Ini cukup mudah. Dengan cepat kutulis jawabanku dan
berpindah kenomor selanjutnya.
“Hei—“ seseorang
pindah kesebelahku dan begitu aku menoleh, ternyata anak lelaki tadi. Dia
seperti sehabis latihan basket, karena dia terlihat begitu berantakan dan
kausnya basah. Menjijikan, dia bahkan belum mandi. Aku menegakkan dudukku
begitu sadar dia duduk didekatku.
“Haha, kau kena
hukuman juga..” ujarnya sambil menunjukku. Dia terlihat begitu puas tahu bahwa
aku mengikuti kelas ini juga. Ini semua karenamu, ujarku dalam hati tapi aku
hanya menghela nafas berusaha mengabaikannya, dan mulai membaca soal
berikutnya. Lelaki itu ikutan membaca kertasku. “Wow, kau mengerti
itu?”tanyanya sambil menunjuk jawaban nomor 1 yang sudah kujawab. Dia lalu
menyalinnya.
“Hei!” aku menarik
kertasku dan menutupinya dengan lenganku supaya dia tidak bisa menyontek.
Lelaki itu kelihatan bingung. “Cari jawabanmu sendiri!” ujarku lagi lalu
bergeser menjauh darinya. Aku mulai menulis lagi. Kuperhatikan dari sudut
mataku lelaki itu memainkan pena dijari-jarinya sambil memandangku.
“Pelit sekali
sih..”katanya. aku tidak membalas. Aku masih sibuk menulis untuk jawaban nomor
2 dan memikirkan jawaban yang lebih pasti. Beberapa saat kemudian lelaki itu
menarik bangkunya dan mendekat kembali kepadaku.
“Kau tahu kan, ini
bukan ujian- jadi kau bisa memberikan jawabanmu juga kepadaku. Tidak akan ada
yang memeriksa jawaban kita. Ini hanya kelas hukuman..” katanya. aku berhenti
menulis untuk memandangnya. Apa dia serius? Kita mengerjakan ini hanya untuk
tidak diperiksa. “Kau tidak pernah mengikuti hukuman seperti ini ya?” dari raut
wajahku bisa ditebak bahwa aku memang tidak pernah. Dia tertawa pelan lalu
mengambil pena dari tanganku dan menaruhnya dimeja. “Santai saja, jawab saja
semaumu beberapa saat sebelum Thomas datang- kau lihat anak-anak lain..”lelaki
itu menoleh kebelakang, aku mengikutinya. Beberapa dari mereka malahan
kebanyakan sibuk bermain dengan ponsel mereka, melamun dan ada yang tertidur.
“Lihat, tidak ada yang peduli—“ katanya lalu meraih kertasku dan menumpuknya
jadi satu dengan miliknya. Aku tidak menjawab apa-apa, melainkan hanya menurut
saja. Sepertinya dia sudah sering mengikuti hukuman seperti ini. Dan
sepertinya, dia juga benar- tidak ada yang peduli.
“Ngomong-ngomong,
hei- kita bertemu lagi! Menyenangkan rasanya melihat wajah familiar dihari
pertamaku disekolah ini!”dia terlihat tulus mengucapkannya. Dia gembira.
Melihatku.
“Kau baru disini?”
tanyaku pelan. Dia mengangguk antusias.
“Aku murid pindahan,
kau tahu- kebanyakan sekolah tidak mau menerimaku karena- yeah, aku tidak mau
sok sih, tapi aku nakal..” dia berkedip. Aku bergidik. Ugh. “dan sepertinya
orangtuaku sudah putus asa, jadi mereka membiarkanku sekolah dimanapun yang aku
mau—dan aku memilih sekolah ini..”
“Kau memilih
Willand?”aku terkejut. “Kenapa? Maksudku, ini bukan sekolah paling oke dikota
ini, kenapa kau memilih Willand?”tanyaku. dia tersenyum. Senyum paling aneh
yang pernah aku lihat. Bibirnya mengerucut menjadi kecil dan aku hanya ingin
menarik bibirnya dengan tanganku. Sungguh lucu. Oh hentikan, Haley. Naomi akan
menertawakanku jika dia bisa membaca pikiran.
“Kudengar, cewek
disini cantik-cantik..” aku memutar bola mataku.
“Konyol sekali. Kau
pindah kesini karena itu?” dia hanya menyunggingkan senyumnya kearahku. “Kau
bodoh, sungguh- berikan kembali kertas dan penaku. Aku tidak mau mendengarkan
orang sepertimu!” aku merebut kembali pena dan kertasku dan mulai mau menulis
lagi.
“Terserah. Aku hanya akan
duduk santai disini, melihatmu begitu panik menyelesaikan semua pertanyaan itu
hanya untuk disia-siakan saja..”lelaki itu mengangkat kakinya keatas meja,
sepatunya tepat disampingku dan aku menghela nafas pelan, berusaha untuk
mengabaikan.
Menit-menit berlalu
dan pertanyaannya menjadi semakin susah seiring dengan suasana yang semakin
ramai. Siswa-siswi lain yang ada diruangan ini mulai mengobrol dan terkikik
satu sama lain sementara lelaki yang ada disebelahku masih menatapku dengan
jahil, berusaha menguji kesabaranku. Akhirnya pada pertanyaan nomor 10 aku
berhenti, lalu memandangnya.
“Sudah
menyerah?”tanyanya sambil mengangkat alis mengejekku. Aku mengulum bibirku
berusaha mengatakan sesuatu. Aku tidak mau dia berpikir aku menyerah setelah
apa yang aku katakan tadi bahwa aku tak ingin mendengarkan dia.
“Tidak- aku hanya
lupa jawaban nomor-nomor selanjutnya..” aku bangkit berdiri lalu mengambil
kertas dan penaku. “Aku mau mencarinya dibuku, permisi..”lalu aku berjalan
angkuh mendekati rak-rak buku, terlihat sibuk mencari jawaban padahal aku hanya
ingin membuatnya berpikir aku sibuk agar dia tidak lagi berada didekatku.
Tapi tidak berhasil.
Begitu aku mengambil salah satu buku acak, dia berdiri dibelakangku dengan
berkacak pinggang. Aku hampir terlonjak begitu melihatnya tiba-tiba disana. aku
bahkan tidak kepikiran dia akan mengikutiku.
“Buku setebal itu?
Untuk satu nomor? Sampai kapan kau akan selesai?”dia mendekatiku dan melihat
buku yang sedang kupegang.
“Setidaknya aku
mencoba!” aku melewatinya dengan kasar lalu duduk dilantai, membuka halaman
demi halaman, berharap aku menemukan sesuatu untuk pura-pura kutulis. Setelah
kulihat aku mengutuk diriku sendiri. Buku yang kuambil dan apa yang sedang
ditanyakan dikertas tidaklah ada hubungannya. Aku terus membalik halaman demi
halaman sementara lelaki itu berdiri didekatku, memperhatikan. Aku berdoa
supaya dia akhirnya bosan dan meninggalkanku namun tidak. Dia malahan ikut
duduk disebelahku dan melongok halaman yang sedang pura-pura kubaca. Aku bisa
mendengar suara nafasnya didekatku. Dari sudut mataku aku lihat dia melirikku
dan mengerutkan dahinya.
“Kau gila ya..
sudahlah..” ujarnya sambil terkekeh. aku hanya meliriknya lalu kembali membalik
halaman lagi. “Bagaimana kau mau mencari jawaban tentang sejarah perang dunia
kalau kau terus melihatnya didalam ensiklopedia tumbuhan..” dia membalik cover
buku yang kupegang untuk melihat judulnya. “Tumbuhan dihutan tropis. Ha..” dia
menaikkan alisnya, terlihat jahil ketika tahu aku hanya berpura-pura. Aku
menutup bukuku dengan kasar lalu menatapnya lelah. “Dengar, manis- dia tidak
akan memeriksa, jadi bagaimana kalau kau sedikit lebih tenang, hmm?” dia
memanggilku ‘manis’ astaga. Aku tidak bisa memikirkan balasan menyakitkan yang
tadinya mau aku siapkan begitu dia membuka mulutnya.
“Aku punya nama asal
kau tahu. Jangan memanggilku dengan sebutan itu lagi dengan bibirmu karena itu
menjijikan..”ujarku datar lalu menyelipkan beberapa helai rambut kebelakang
telinga, mulai melihat kertas soal tadi dan menjawab seadanya, seingatku saja.
“Kau belum
menyebutkannya, jadi bukan salahku aku memanggilmu begitu..” dia mengangkat
bahu
“Kau bisa bertanya..”
jawabku masih tidak melihatnya, masih mengira-ngira jawaban, aku hampir selesai
walau aku yakin hampir separuhnya jawabanku agak mengacau. Lelaki itu menggeser
duduknya mendekat kepadaku.
“Siapa namamu?”
tanyanya. Aku berhenti menulis lalu menatapnya. Dia menunggu jawabanku.
“Aku tidak mau
memberitahumu..” jawabku sambil tersenyum mengejek. Lelaki itu mengangkat
dagunya sambil menyunggingkan senyum ‘oke, jadi begitu ya’-nya kepadaku. Dia
lumayan, pikirku.
“Baiklah, sepertinya
kau lebih senang dipanggil manis daripada namamu sendiri—“ ujarnya sambil
menepuk pahanya sendiri. “Hei, apa namamu jelek sehingga kau malu
memberitahuku?” dia bertanya lagi. Astaga, lelaki ini benar-benar tidak tahu
bagaimana caranya diam.
“Lebih jelek dirimu-“
jawabku acuh tak acuh. Dia tertawa sendiri begitu mendengarku.
“Namaku Austin..”
ujarnya mengenalkan dirinya sendiri sambil menyodorkan tangannya kearahku. Aku
melihat tangannya lalu melihat kearah wajahnya. Dia menaikkan alisnya, mengirim
kode bahwa dia menunggu jabatan tanganku. Aku sudah hampir selesai dengan
jawabanku dan sejujurnya aku sudah tidak
tahu lagi harus menulis apa, jadi aku berhenti menulis dan menyambut tangannya.
“Lebih bagus namaku
daripada milikmu..”kataku sambil menjabat tangannya. Dia tersenyum, senyumnya
menular kepadaku dan aku juga ikutan tersenyum tanpa kusadari.
“Aku ragu. Kau tidak
mau menyebut siapa namamu, bagaimana aku bisa yakin?” dia memiringkan
kepalanya. Aku mengangkat bahu. “Eh kau sudah selesai dengan itu?” ujarnya
sambil menunjuk kertas jawabanku.
“Yep. Aku
menyelesaikannya, tidak peduli denganmu..”kataku sambil menjulurkan lidah
“Lihat saja nanti,
kau kepala batu benar-benar, sudah kubilang tidak akan diperiksa..”
“Kau tetaplah menjadi
anak nakal, aku- adalah anak baik..”
“Terserah..” Austin
mengangkat bahunya acuh tak acuh, tapi lebih kearah mengejek. Mungkin dia ada
benarnya, tugas ini tidak akan diperiksa, tapi tetap saja, aku tidak bisa
percaya padanya. Dia anak lelaki yang rebel, atau sok rebel- aku tidak tahu
yang mana, kemungkinan dia menganggap remeh semua masalah.
Aku melirik jam
diponselku dan sudah hampir pukul 5 sore. Sebentar lagi kami boleh pulang.
Mulai kurasakan perutku agak lapar karena aku tidak sempat makan sebelum
mengikuti kelas hukuman ini.
“Jadi, kenapa kau ada
disini?”tanyanya. Aku tersadar dia masih ada disini ketika dia mulai bicara
lagi. Selama beberapa menit tadi dia tidak bicara dan aku baru sadar, ini
adalah diam terlama yang pernah dia lakukan semenjak tadi.
“Semua gara-gara kau
ngomong-ngomong..”kataku, “Aku jadi terlambat masuk kelas karena aku bicara
denganmu..” aku mendorong bahunya sedikit dan dia goyah kesamping. Tapi dia
hanya tersenyum. Tanpa penyesalan. Seakan dia bangga dia yang membuatku disini.
“Hei, jangan salahkan
aku. Kau yang masih ada disana, diam seperti patung, tak bernyawa didepan
lokermu saat semua orang sudah berhamburan masuk kekelas masing-masing..” dia
membalasku. “Aku kan hanya berusaha sopan, mengajakmu bicara- dan lagi, kau
yang penasaran dengan masalahku sampai lupa waktu. Nah, bukan salahku!” dia
menjulurkan lidahnya kearahku. Aku hanya diam. Dia benar. Ini semua karena aku.
Bodoh sekali, gara-gara penasaran dengan perdebatannya dengan Pak Simon tadi
aku bahkan mengabaikan kelasku.
“Aku tetap akan
menyalahkanmu apapun alasanmu..”
“Dan walau kau tahu
aku benar?”katanya sambil nyengir.
“Aku tetap akan
menyalahkanmu..”jawabku mengabaikannya. Dia tertawa pelan, kelihatan tidak
keberatan dengan pernyataanku. “Jadi, kau tetap bolos mengikuti kelas
matematika ya?” ujarku lagi mengingat aku belum bertanya alasannya dia disini,
padahal hampir mungkin aku tahu alasannya.
“Kau masih ingat
rupanya. Ya, matematika membuatku pusing. Angka, garis-garis. Ugh, aku tidak
ingin menjadi ahli matematika. Itu membosankan..”
“Tidak begitu
membosankan kok-“ ujarku. “Kau hanya harus memperhatikan lebih keras..”
“Oh, jadi kau salah
satu anak jenius dan aneh disini, yang suka pada matematika- tidak punya teman
dan selalu menyendiri begitu..” ujarnya sambil tertawa. Aku diam. Aku memang
seperti itu. Beberapa saat aku tidak menjawab, Austin melihat kearahku dan raut
wajahnya berubah menjadi tidak enak.
“Selamat, Tuan sok
tahu. Tebakanmu benar..” jawabku datar setelah dia menatapku beberapa detik.
Suasana jadi agak canggung. Austin tidak bicara lagi. Dan ini lebih lama
daripada sebelumnya. Aku merasa damai saat aku tidak mendengar suaranya, walau
hatiku agak terasa sakit dia berkata seperti itu.
Aku tahu bahwa aku
memang aneh. Dan penyendiri, tapi begitu ada seseorang yang mengatakannya
langsung kepadaku rasanya berbeda. Itu menyakitkan. Naomi sering mengejekku
begitu, tapi aku tidak peduli, dia kakakku. Kami saudara dan aku tahu dia
sayang padaku. Tapi Austin orang lain, dia baru kenal denganku, walau dia
mengatakan yang sebenarnya tetap saja rasanya aneh.
“Oh..” setelah
beberapa menit selang waktu diam hanya itu yang dia katakan. Dia juga agak
kelihatan kaku jadinya. Tak lama Thomas masuk dan aku buru-buru bangkit dari
dudukku berlari kecil menyerahkan kertas yang tadi sudah kujawab kepadanya,
kulihat juga anak-anak lain dengan wajah tidak peduli memberikan kertas-kertas
mereka. Kulirik kertas mereka, hampir semuanya hanya menjawab sekitar 5 atau 6
nomor dan Thomas sama sekali tidak bicara apa-apa. Austin menyerahkan miliknya,
yang hanya diisi sampai nomor ketiga. Thomas meliriknya saat dia melihat kertas
jawaban Austin.
“Kau hanya mengisi 3
nomor, Tuan Meyers..”
“Yeah. Lalu?”Austin
mengerutkan dahinya. Aku mengambil tas dan buku-buku siap untuk keluar, tapi
sekali lagi aku terpaku ingin tahu. Thomas memberikan kembali kertas jawabannya
kepada Austin.
“Setidaknya kau harus
isi 5 sampai 6 nomor, seperti anak-anak lain. Tapi sekarang aku berubah pikiran,
selesaikan sampai selesai atau tidak kau tidak boleh pulang..” aku terkejut
saat Thomas berkata seperti itu. Austin dengan enggan mengambil kembali kertas
miliknya. Thomas duduk disalah satu bangku perpustakaan, menunggu Austin untuk
menyelesaikan pekerjaannya.
Kulirik Austin yang
hanya tersenyum kesal. Aku menyerahkan pena yang masih ada ditanganku
kepadanya.
“Selamat, manis.
Tebakanmu benar..” ujarnya berkedip sambil mengambil pena ditanganku. Dia lalu
berbalik dan duduk didepan Thomas dan mulai mengerjakan kertasnya.
- To Be Continued -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar