You, Me and The Symphony [1]

curhat sebentar : ini saya lagi gak posting Happily (N)ever After dulu dan memang lagi gak mood untuk melanjutkan, tapi akan segera dilanjutkan, saat saya libur semester nanti- dan dijamin, akan sampai habis. nah saya lagi bengong gitu ceritanya ya, ini tiba-tiba muncul ide cerita singkat, walau belum selesai (seperti biasa akan dipost sedikit dulu) saya harus nulis, kalo gak nanti keburu lupa- lupa dan akhirnya males untuk ditulis, memang udah gatel pengen dituangin sih ceritanya. gatau ini kelihatannya gimana, tapi ini ada sedikit dulu goresan cerita dari saya, cuman sepenggal sih- tapi kalau yang baca, atau lihat atau apapun, boleh komen tentang cerita ini, apa harus dilanjutkan atau dihapus. kalaupun mau dilanjutkan, harap bersabar yaa- maklum saya orangnya mood-mood-an, hahaha. okeh, sekian - G




Gadis itu lagi.
Dia melewati rumahku setiap hari, dengan tas biola ditangan kananannya dan botol air ditangan kirinya. Begitu setiap hari. Aku memperhatikannya sudah seminggu belakangan ini. Menggunakan jaket kulit coklat dan celana hitam panjang dan syal yang terbelit dilehernya, rambutnya dikuncir kuda, pipinya merona bukan karena make-up, tapi karena memang seperti itu pipinya. Sesekali dia menoleh kekiri dan kenanan saat menyebrang, sehabis diantar oleh mobil limusin hitam dengan seorang supir paruh baya yang menunggunya sampai dimasuk kegedung tempat pertunjukkan kota diadakan. Dan dia hilang. Seiring dengan ditutupnya pintu gedung tersebut.

[]

“Nyonya Hilda!” aku terengah engah berlari kepanggung saat latihan sudah dimulai. Hilda memainkan tangannya, memandu sekitar sepuluh orang yang bermain musik didepannya. Wajahnya terlihat kesal melihatku. “Aku minta maaf, aku terlambat..” ujarku lalu buru-buru membuka tas biola-ku dan duduk dibangku-ku, disebelah seseorang yang dengan enggan menggeser posisinya memberiku ruang.
“Bisa kita mulai sekarang?” tanya Hilda tanpa peduli dengan omonganku. Yang lain mengangguk, begitu juga denganku. Dia memulai lagi dan aku menggesekan biolaku. Berusaha mengikuti irama, menenangkan diri.

[]

Kubereskan semuanya lalu aku menuruni tangga. Latihan hari ini berjalan cukup baik, walau aku tidak begitu mengikuti yang lain.
“Haley-“ Miss Hilda memanggilku, dia menuruni tempat dia berdiri lalu melipat kedua tangannya didepan dadanya. “Aku melihatmu bermain hari ini, dan aku tidak begitu puas..” aku mengangguk, tahu bahwa dia akan berkata begitu.
“Aku tahu- aku akan banyak latihan lagi—“
“Pertunjukan sebulan lagi, Haley Burton..” hardiknya dengan nada lebih keras. Aku mengangguk, menutup mulutku. “Aku ingin dikelas selanjutnya, kau menunjukkan progres lebih baik- mengerti?” aku mengangguk lagi. Lalu dia pergi dari hadapanku dan hanya sepatu hak tingginya yang terdengar terbentur dengan lantai panggung.
Begitu dia pergi aku menghela nafas lega. Dia selalu membuatku gugup, dan merasa kecil. Aku tidak suka akan hal itu, tapi aku suka bermain biola. Aku mememainkannya semenjak aku kecil- dan aku memulai konserku semenjak aku duduk disekolah dasar. Aku adalah anak dari keluarga terpandang dikota ini. Ayah dan Ibuku adalah orang yang mendirikan rumah sakit besar dipusat kota ini, dan juga sekaligus pemilik dari gedung pertunjukan tempat aku berlatih tadi. Hal ini yang menyebabkan aku selalu diantar kemana-mana, walau hanya untuk berbelanja sebentar. Alfred, supirku- adalah lelaki paruh baya yang selalu bersamaku. Dia sudah menjagaku sedari aku kecil, dia sudah seperti ayahku- hanya saja dia bukan ayahku. Terkadang aku ingin punya ayah yang bukan walikota. Hanya ayah biasa, yang bermain bersamaku, menemaniku, jalan-jalan bersamaku setiap hari.
“Hello, miss—“ Alfred tersenyum sambil membukakan pintu. “Bagaimana latihanmu?” aku masuk kedalam mobil lalu menunggunya masuk kedalam mobil dan menyalakan mesinnya.
“Tidak begitu bagus, Alfred- Hilda memarahiku lagi..” kataku murung. Dia melihatku dari kaca mobilnya.
“Oh, Haley- jangan sedih, aku yakin kau sudah bermain dengan bagus..” aku tersenyum singkat. “Nah, sekarang kemana? Pulang? Atau kau mau mampir ke café untuk membeli latte? Aku tidak akan bilang pada ayahmu…” dia terkekeh. Ayahku melarangku makan-makanan yang manis, dan daging. Menyebalkan bukan?
“Dan donat juga?” tanyaku
“Sekotak- tapi kau harus habiskan sebelum kita sampai dirumah!” aku tertawa pelan lalu memeluk lehernya dari belakang.
“Terimakasih, Alfred- kita makan bersama nanti..”

[]

“Man, kenapa kita harus kemari?” Arnold, teman satu rumahku menggerutu sepanjang perjalanan ke café tempat kami biasa membeli kopi dan kue, hanya saja dia memilih untuk membeli pizza dan menonton bola dirumah, tapi aku menyeretnya keluar. “Kau tahu, kita tinggal menelepon pizza loh, tidak usah jalan seperti ini!” katanya saat aku sedang memesan minum untukku dan dirinya. Aku tidak begitu mengacuhkannya.
“Kau bisa diam tidak? Sudah kubilang ini kubelikan..” kataku. dia hanya menatapku kesal. “Ini- dan pilih kue yang kau mau..” kataku lalu duduk disalah satu bangku. Arnold mengambil cup kopi yang aku serahkan padanya lalu melongo saat melihat aku duduk dibangku.
“Kita akan diam disini?” tanyanya sedikit berteriak. Aku mengangkat bahu.
“Oh Theo, aku bersumpah kalau aku ketinggalan gol-gol cantik..” aku tidak menghiraukannya- saat dia berkata demikian, bel pintu berbunyi, tanda seseorang memasuki ruangan. Aku hampir saja menjatuhkan kue yang baru saja aku masukan kedalam mulutku. Gadis itu. Tidak memakai syal kali ini, dan supirnya, lelaki tua itu- memasuki ruangan. Aku memperhatikan mereka memesan pesanan mereka, Arnold melihat kearah mana aku melihat. Arnold hanya melihatku yang tidak bergerak.
“Kau oke?” tanyanya sambil mendekatiku, ikutan duduk- dia tidak lagi mengoceh tentang pertandingan bolanya yang dia lewatkan itu. Aku mengerjap, sadar karena dia bicara.
“Ya, aku oke.” Kataku lalu memasukan kue yang tadi mau aku makan kedalam mulutku. Mataku tidak lepas dari dirinya yang memegang cup kopi dan dia duduk diseberangku, bersama dengan lelaki tua itu- sambil membuka kotak donat dan mulai memakannya. Wajahnya terlihat sungguh ceria- dan merona, seperti biasa.
“Kau kenal dia?” tanya Arnold ikut memandang. Aku menggeleng lalu menenggak minumanku. “Oh, man. Kalau mau kenalan, kenalan saja!” Arnold meninju bahuku.
“Jangan banyak bicara kau—“ kataku sambil tertawa. Arnold kembali meneliti gadis itu lagi. “Hei, jangan melihatnya terus!” hardikku.
“Apa? Kau boleh melihatnya tadi seperti itu!” dia mengerutkan wajahnya lalu melihat gadis itu lagi. Kami berdua melihatnya. Dia sedang tertawa sambil sesekali meniup cup-nya dan perlahan menyeruput minumannya. Dia begitu manis.
“Kau mau kenalan tidak?” tanya Arnold. Aku mengangkat bahu. “Kalau tidak ayo pulang! Demi Tuhan, nanti aku ketinggalan!” dia bangun dari kursinya dan menghambur keluar begitu saja tanpa mempedulikan aku.
Aku masih tidak bergerak melihatnya yang sedang mengelap bibirnya sendiri dengan tissue. Aku tersenyum melihatnya begitu polos melakukannya lagi memasukan donat lagi kedalam mulut kecilnya.
Aku bisa melihatnya dari jarak dekat hari ini. Cukup menyenangkan untukku.
Mungkin lain kali kami bisa berkenalan.

[]

Alfred menjemputku agak terlambat hari ini. Aku duduk dipinggir tangga masuk gedung sambil memangku tasku. Tas biolaku kutaruh disisi kananku. Hari sudah agak senja, tapi jalanan masih dipenuhi banyak orang dan mobil. Aku memandang kedepan, kesuatu rumah saat kulihat pintunya terbuka.
Seorang lelaki dengan kaus hitamnya, keluar dengan langkah malas dan berat, membawa kantong sampah besar- hendak membuangnya. Dia memasukannya secara kasar, dan karena tidak mau tertutup, lelaki itu hanya menaruh tutupnya dipinggiran. Dia berkacak pinggang melihat sampah yang berhasil dia masukkan lalu dengan sembarangan memandang kearahku, tidak sengaja. Dia mematung melihatku.
Aku membuang muka ketika dia mendapatiku sedang menatapnya. Kuperhatikan jalanan lagi dan saat aku menoleh dia masih melihatku, tapi raut wajahnya melunak- dia tersenyum. Aku perlahan juga mengembangkan senyumku kepadanya.
Dia lalu menunjuk dirinya sendiri lalu menunjuk diriku, mengisyaratkan dia mau ketempatku. Aku menegakan tubuhku terasa ragu. Dia masih menunggu jawabanku. Lama aku tidak menjawab dia akhirnya menoleh kekiri kekanan, menyebrang ketempatku. Saat dia sampai didepanku, aku bangun dari dudukku- buru-buru merapihkan rokku. Dia berdiri didepanku sekarang. Dia tinggi, tidak besar- tapi cukup berotot.
“Hei—“ ujarnya duluan. Suaranya sungguh dalam, benar-benar lelaki.
“Hallo..” kataku canggung. Dia menjulurkan tangannya kearahku. Aku menjabat tangannya yang hangat, kurasakan tangannya begitu hangat menyentuh tanganku.
“Theo..”
“Haley—“ dia tersenyum lalu melepaskan jabatan kami. Tangannya dimasukan kedalam saku, dia menatapku dengan mata malu-malu.
“Kau sendirian? Sudah hampir gelap..” katanya
“Ya, aku habis latihan-“ kataku sambil menunjuk gedung belakang dengan ibujariku. “Biasanya supirku menjemput, tapi hari ini sedang terlambat—“ dia mengangguk.
“Boleh kutemani?” tanyanya pelan. Aku agak merinding mendengar suaranya. Aku menatap wajahnya, dia bukan tipe lelaki jahat sepertinya- dan lagi, dia tinggal diseberang sana. Kalau dia macam-macam, orang bisa melihatnya dan mengetahuinya. “Aku tidak akan menculikmu—“ tambahnya lagi setelah aku tidak bicara. Aku tertawa mendengarnya lalu menyuruhnya untuk duduk disampingku. Aku merapihkan rokku lagi saat dia berhasil duduk disebelahku.
“Kau bermain musik?”
“Ya- biola. Kau bisa?” tanyaku. Dia menggeleng.
“Itu keren—“ ujarnya. Aku hanya mengangguk. Kami tidak banyak bicara lagi.
“Hei, Haley- ini kedengarannya agak menyeramkan, dan aku tidak bermaksud untuk menakutimu—“ katanya, aku mengangkat kedua alisku. “Tapi aku sering melihatmu, setiap hari- tepat pukul 3 sore, masuk kegedung ini. Lihat, rumahku diseberang sana—“ dia menunjuk keseberang. “Itu rumahku..” katanya lagi.
“Aku juga sering lihat rumahmu, tapi aku tidak sering melihatmu-“ dia tertawa pelan.
“Mungkin kau kurang memperhatikan karena kaca mobilmu dan ketergesa-gesaanmu saat menaiki tangga ini..” katanya. Aku menutup wajahku.
“Ah, kau sering melihatku seperti itu ya? Aku terlambat! Itu adalah kebiasaan burukku—“ ujarku setengah tertawa. “Ugh- orang asing melihatnya..” kataku sambil menggeleng-geleng. Dia hanya tersenyum melihatku. Kulihat warna matanya yang coklat muda begitu lembut sekaligus tajam memandangku.
“Senang bisa tahu namamu juga akhirnya—“ katanya. “Aku selalu ingin berkenalan denganmu, tapi melihat kau selalu tergesa-gesa seperti itu- dan setiap sore kau dijemput—aku tidak bisa..”
“Kau bisa mendatangiku. Aku tidak menggigit..” ujarku bercanda. theo hanya mengusap belakang lehernya sambil mengangguk-angguk.
Tak lama setelah itu, klakson mobil terdengar dan mobilku pun tampak. Aku buru-buru bangun dan kulihat Theo membawakan tas biolaku, kami berdiri dipinggiran sampai mobil itu berhenti. Dia menyerahkan tasnya kepadaku lalu mengulum bibirnya sendiri.
“Aku harus pulang..” kataku sambil memantapkan pegangan tas dijemariku. Dia mengangguk, tangannya kembali dimasukkan kedalam saku. Dia terlihat cukup manis ketika melakukannya.
“Oke..” jawabnya tersenyum. Aku membuka pintuku, dan masuk kedalam. Sampai kututup pintunya, dia masih melihatku, sedikit menunduk agar bisa melihatku lewat kaca. Dia mengeluarkan satu tangannya dari saku dan melambai. Aku juga balas melambai sambil tersenyum simpul kecil lalu mobilku berjalan.

[next? laters, baby..]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar