Gadis itu lagi.
Dia melewati rumahku setiap hari, dengan tas biola ditangan
kananannya dan botol air ditangan kirinya. Begitu setiap hari. Aku memperhatikannya
sudah seminggu belakangan ini. Menggunakan jaket kulit coklat dan celana hitam
panjang dan syal yang terbelit dilehernya, rambutnya dikuncir kuda, pipinya
merona bukan karena make-up, tapi karena memang seperti itu pipinya. Sesekali dia
menoleh kekiri dan kenanan saat menyebrang, sehabis diantar oleh mobil limusin
hitam dengan seorang supir paruh baya yang menunggunya sampai dimasuk kegedung
tempat pertunjukkan kota diadakan. Dan dia hilang. Seiring dengan ditutupnya
pintu gedung tersebut.
[]
“Nyonya Hilda!” aku terengah engah berlari kepanggung saat
latihan sudah dimulai. Hilda memainkan tangannya, memandu sekitar sepuluh orang
yang bermain musik didepannya. Wajahnya terlihat kesal melihatku. “Aku minta
maaf, aku terlambat..” ujarku lalu buru-buru membuka tas biola-ku dan duduk
dibangku-ku, disebelah seseorang yang dengan enggan menggeser posisinya
memberiku ruang.
“Bisa kita mulai sekarang?” tanya Hilda tanpa peduli dengan
omonganku. Yang lain mengangguk, begitu juga denganku. Dia memulai lagi dan aku
menggesekan biolaku. Berusaha mengikuti irama, menenangkan diri.
[]
Kubereskan semuanya lalu aku menuruni tangga. Latihan hari
ini berjalan cukup baik, walau aku tidak begitu mengikuti yang lain.
“Haley-“ Miss Hilda memanggilku, dia menuruni tempat dia berdiri
lalu melipat kedua tangannya didepan dadanya. “Aku melihatmu bermain hari ini,
dan aku tidak begitu puas..” aku mengangguk, tahu bahwa dia akan berkata
begitu.
“Aku tahu- aku akan banyak latihan lagi—“
“Pertunjukan sebulan lagi, Haley Burton..” hardiknya dengan
nada lebih keras. Aku mengangguk, menutup mulutku. “Aku ingin dikelas
selanjutnya, kau menunjukkan progres lebih baik- mengerti?” aku mengangguk
lagi. Lalu dia pergi dari hadapanku dan hanya sepatu hak tingginya yang
terdengar terbentur dengan lantai panggung.
Begitu dia pergi aku menghela nafas lega. Dia selalu
membuatku gugup, dan merasa kecil. Aku tidak suka akan hal itu, tapi aku suka
bermain biola. Aku mememainkannya semenjak aku kecil- dan aku memulai konserku
semenjak aku duduk disekolah dasar. Aku adalah anak dari keluarga terpandang
dikota ini. Ayah dan Ibuku adalah orang yang mendirikan rumah sakit besar
dipusat kota ini, dan juga sekaligus pemilik dari gedung pertunjukan tempat aku
berlatih tadi. Hal ini yang menyebabkan aku selalu diantar kemana-mana, walau
hanya untuk berbelanja sebentar. Alfred, supirku- adalah lelaki paruh baya yang
selalu bersamaku. Dia sudah menjagaku sedari aku kecil, dia sudah seperti
ayahku- hanya saja dia bukan ayahku. Terkadang aku ingin punya ayah yang bukan
walikota. Hanya ayah biasa, yang bermain bersamaku, menemaniku, jalan-jalan
bersamaku setiap hari.
“Hello, miss—“ Alfred tersenyum sambil membukakan pintu. “Bagaimana
latihanmu?” aku masuk kedalam mobil lalu menunggunya masuk kedalam mobil dan
menyalakan mesinnya.
“Tidak begitu bagus, Alfred- Hilda memarahiku lagi..” kataku
murung. Dia melihatku dari kaca mobilnya.
“Oh, Haley- jangan sedih, aku yakin kau sudah bermain dengan
bagus..” aku tersenyum singkat. “Nah, sekarang kemana? Pulang? Atau kau mau
mampir ke café untuk membeli latte? Aku tidak akan bilang pada ayahmu…” dia
terkekeh. Ayahku melarangku makan-makanan yang manis, dan daging. Menyebalkan bukan?
“Dan donat juga?” tanyaku
“Sekotak- tapi kau harus habiskan sebelum kita sampai
dirumah!” aku tertawa pelan lalu memeluk lehernya dari belakang.
“Terimakasih, Alfred- kita makan bersama nanti..”
[]
“Man, kenapa kita harus kemari?” Arnold, teman satu rumahku
menggerutu sepanjang perjalanan ke café tempat kami biasa membeli kopi dan kue,
hanya saja dia memilih untuk membeli pizza dan menonton bola dirumah, tapi aku
menyeretnya keluar. “Kau tahu, kita tinggal menelepon pizza loh, tidak usah
jalan seperti ini!” katanya saat aku sedang memesan minum untukku dan dirinya. Aku
tidak begitu mengacuhkannya.
“Kau bisa diam tidak? Sudah kubilang ini kubelikan..”
kataku. dia hanya menatapku kesal. “Ini- dan pilih kue yang kau mau..” kataku
lalu duduk disalah satu bangku. Arnold mengambil cup kopi yang aku serahkan
padanya lalu melongo saat melihat aku duduk dibangku.
“Kita akan diam disini?” tanyanya sedikit berteriak. Aku mengangkat
bahu.
“Oh Theo, aku bersumpah kalau aku ketinggalan gol-gol
cantik..” aku tidak menghiraukannya- saat dia berkata demikian, bel pintu
berbunyi, tanda seseorang memasuki ruangan. Aku hampir saja menjatuhkan kue
yang baru saja aku masukan kedalam mulutku. Gadis itu. Tidak memakai syal kali
ini, dan supirnya, lelaki tua itu- memasuki ruangan. Aku memperhatikan mereka
memesan pesanan mereka, Arnold melihat kearah mana aku melihat. Arnold hanya
melihatku yang tidak bergerak.
“Kau oke?” tanyanya sambil mendekatiku, ikutan duduk- dia
tidak lagi mengoceh tentang pertandingan bolanya yang dia lewatkan itu. Aku mengerjap,
sadar karena dia bicara.
“Ya, aku oke.” Kataku lalu memasukan kue yang tadi mau aku
makan kedalam mulutku. Mataku tidak lepas dari dirinya yang memegang cup kopi
dan dia duduk diseberangku, bersama dengan lelaki tua itu- sambil membuka kotak
donat dan mulai memakannya. Wajahnya terlihat sungguh ceria- dan merona,
seperti biasa.
“Kau kenal dia?” tanya Arnold ikut memandang. Aku menggeleng
lalu menenggak minumanku. “Oh, man. Kalau mau kenalan, kenalan saja!” Arnold
meninju bahuku.
“Jangan banyak bicara kau—“ kataku sambil tertawa. Arnold kembali
meneliti gadis itu lagi. “Hei, jangan melihatnya terus!” hardikku.
“Apa? Kau boleh melihatnya tadi seperti itu!” dia
mengerutkan wajahnya lalu melihat gadis itu lagi. Kami berdua melihatnya. Dia sedang
tertawa sambil sesekali meniup cup-nya dan perlahan menyeruput minumannya. Dia begitu
manis.
“Kau mau kenalan tidak?” tanya Arnold. Aku mengangkat bahu. “Kalau
tidak ayo pulang! Demi Tuhan, nanti aku ketinggalan!” dia bangun dari kursinya
dan menghambur keluar begitu saja tanpa mempedulikan aku.
Aku masih tidak bergerak melihatnya yang sedang mengelap
bibirnya sendiri dengan tissue. Aku tersenyum melihatnya begitu polos
melakukannya lagi memasukan donat lagi kedalam mulut kecilnya.
Aku bisa melihatnya dari jarak dekat hari ini. Cukup menyenangkan
untukku.
Mungkin lain kali kami bisa berkenalan.
[]
Alfred menjemputku agak terlambat hari ini. Aku duduk
dipinggir tangga masuk gedung sambil memangku tasku. Tas biolaku kutaruh disisi
kananku. Hari sudah agak senja, tapi jalanan masih dipenuhi banyak orang dan
mobil. Aku memandang kedepan, kesuatu rumah saat kulihat pintunya terbuka.
Seorang lelaki dengan kaus hitamnya, keluar dengan langkah
malas dan berat, membawa kantong sampah besar- hendak membuangnya. Dia memasukannya
secara kasar, dan karena tidak mau tertutup, lelaki itu hanya menaruh tutupnya
dipinggiran. Dia berkacak pinggang melihat sampah yang berhasil dia masukkan
lalu dengan sembarangan memandang kearahku, tidak sengaja. Dia mematung
melihatku.
Aku membuang muka ketika dia mendapatiku sedang menatapnya. Kuperhatikan
jalanan lagi dan saat aku menoleh dia masih melihatku, tapi raut wajahnya
melunak- dia tersenyum. Aku perlahan juga mengembangkan senyumku kepadanya.
Dia lalu menunjuk dirinya sendiri lalu menunjuk diriku,
mengisyaratkan dia mau ketempatku. Aku menegakan tubuhku terasa ragu. Dia masih
menunggu jawabanku. Lama aku tidak menjawab dia akhirnya menoleh kekiri
kekanan, menyebrang ketempatku. Saat dia sampai didepanku, aku bangun dari
dudukku- buru-buru merapihkan rokku. Dia berdiri didepanku sekarang. Dia tinggi,
tidak besar- tapi cukup berotot.
“Hei—“ ujarnya duluan. Suaranya sungguh dalam, benar-benar
lelaki.
“Hallo..” kataku canggung. Dia menjulurkan tangannya
kearahku. Aku menjabat tangannya yang hangat, kurasakan tangannya begitu hangat
menyentuh tanganku.
“Theo..”
“Haley—“ dia tersenyum lalu melepaskan jabatan kami. Tangannya
dimasukan kedalam saku, dia menatapku dengan mata malu-malu.
“Kau sendirian? Sudah hampir gelap..” katanya
“Ya, aku habis latihan-“ kataku sambil menunjuk gedung
belakang dengan ibujariku. “Biasanya supirku menjemput, tapi hari ini sedang
terlambat—“ dia mengangguk.
“Boleh kutemani?” tanyanya pelan. Aku agak merinding
mendengar suaranya. Aku menatap wajahnya, dia bukan tipe lelaki jahat
sepertinya- dan lagi, dia tinggal diseberang sana. Kalau dia macam-macam, orang
bisa melihatnya dan mengetahuinya. “Aku tidak akan menculikmu—“ tambahnya lagi
setelah aku tidak bicara. Aku tertawa mendengarnya lalu menyuruhnya untuk duduk
disampingku. Aku merapihkan rokku lagi saat dia berhasil duduk disebelahku.
“Kau bermain musik?”
“Ya- biola. Kau bisa?” tanyaku. Dia menggeleng.
“Itu keren—“ ujarnya. Aku hanya mengangguk. Kami tidak
banyak bicara lagi.
“Hei, Haley- ini kedengarannya agak menyeramkan, dan aku
tidak bermaksud untuk menakutimu—“ katanya, aku mengangkat kedua alisku. “Tapi
aku sering melihatmu, setiap hari- tepat pukul 3 sore, masuk kegedung ini. Lihat,
rumahku diseberang sana—“ dia menunjuk keseberang. “Itu rumahku..” katanya
lagi.
“Aku juga sering lihat rumahmu, tapi aku tidak sering
melihatmu-“ dia tertawa pelan.
“Mungkin kau kurang memperhatikan karena kaca mobilmu dan
ketergesa-gesaanmu saat menaiki tangga ini..” katanya. Aku menutup wajahku.
“Ah, kau sering melihatku seperti itu ya? Aku terlambat! Itu
adalah kebiasaan burukku—“ ujarku setengah tertawa. “Ugh- orang asing
melihatnya..” kataku sambil menggeleng-geleng. Dia hanya tersenyum melihatku. Kulihat
warna matanya yang coklat muda begitu lembut sekaligus tajam memandangku.
“Senang bisa tahu namamu juga akhirnya—“ katanya. “Aku
selalu ingin berkenalan denganmu, tapi melihat kau selalu tergesa-gesa seperti
itu- dan setiap sore kau dijemput—aku tidak bisa..”
“Kau bisa mendatangiku. Aku tidak menggigit..” ujarku
bercanda. theo hanya mengusap belakang lehernya sambil mengangguk-angguk.
Tak lama setelah itu, klakson mobil terdengar dan mobilku
pun tampak. Aku buru-buru bangun dan kulihat Theo membawakan tas biolaku, kami
berdiri dipinggiran sampai mobil itu berhenti. Dia menyerahkan tasnya kepadaku
lalu mengulum bibirnya sendiri.
“Aku harus pulang..” kataku sambil memantapkan pegangan tas
dijemariku. Dia mengangguk, tangannya kembali dimasukkan kedalam saku. Dia terlihat
cukup manis ketika melakukannya.
“Oke..” jawabnya tersenyum. Aku membuka pintuku, dan masuk
kedalam. Sampai kututup pintunya, dia masih melihatku, sedikit menunduk agar
bisa melihatku lewat kaca. Dia mengeluarkan satu tangannya dari saku dan
melambai. Aku juga balas melambai sambil tersenyum simpul kecil lalu mobilku
berjalan.
[next? laters, baby..]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar